Ikhtiar Memaksimalkan Potensi Kreatif dan Inovatif Siswa

Pendidikan memiliki tugas besarnya, yaitu yang pertama, pendidikan menyiapkan generasi yang mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Yang kedua pendidikan menyiapkan agar mereka mampu mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dengan cara-cara yang baru.

Melalui hal yang pertama, siswa belajar untuk memahami kondisi dan pola yang ada disekitar mereka. Sedangkan yang kedua mendorong siswa untuk berkreasi dan berinovasi. Dua fungsi tersebut harus dioperasikan secara seimbang. Pengembangan pendidikan melalui model entrepreneur menjadi alternatif yang sesuai dengan dua fungsi pendidikan tersebut karena sangat menekankan pada pembentukan perilaku untuk menciptakan dan berinovasi.

Pendidikan entrepreneur akan menjadi jalur baru bagi siswa untuk mempunyai potensi dalam berkreasi dan berinovasi. Siswa akan mempunyai jiwa eksplorasi untuk mencari peluang dan berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal baru. Di masyarakat sudah ada contoh nyata kalau ada orang-orang biasa yang dapat menciptakan sesuatu dan hasil ciptaannya diakui oleh masyarakat.
Oleh karena itu salah satu kegiatan yang bisa mengasah potensi kreasu dan inovasi adalah Entrepreneurs Day yang digagas dan diselenggarakan oleh SDIT Wirausaha Indonesia.

Mensyukuri Nikmat Umur ke 45

Alhamdulillaah… Usiaku kemarin genap 45 tahun. Seperempat populasi rambutku sdh mulai bersinar putih.

Saya berupaya selalu belajar, belajar & belajar dlm meniti hidup ini. Sekalipun dlm proses pembelajaran itu bnyk ketidaksempurnaan.

Ketika mengalami fase kebangkrutan, kami belajar untuk tetap bersyukur. Ketika mengalami fase kelaparan, kami belajar. Ketika mengalami kebangkitan dari keterpurukan, kami jg belajar. Ketika mengalami kebahagiaan, kami jg belajar berbagi dg sesama.

Dalam hidup, kita bukan menunggu badai utk segera berlalu, tetapi, kita harus bisa menari ditengah gemuruh badai. Kita harus pandai bersyukur & menikmati ujian hidup yg Alloh SWT berikan.

Alloh sungguh Maha bijak dan Maha tahu kebutuhan manusia.

Di usiaku yg mulai berjalan 46 tahun ini, saya tetap berupaya utk tetap belajar menjadi manusia yg berguna bagi manusia lainnya.

Dg belajar, insya Alloh kita akan terhindar dari kebodohan, kesombongan, keangkuhan, dan perasaan merasa pintar sendiri.

#terimakasih_yaa_Allooh

Kewirausahaah Untuk Anak, Perlukah?

Tidak sedikit yg menanyakan: “Sekolah tingkat dasar kok diajarin kewirausahaan, anak2 diajari dagang donk, emang perlu dan sudah waktunya?”

Saya jawab: Kewirausahaan itu banyak dimensinya, diantaranya kreatifitas, inovasi dan perdagangan.
Kewirausahaan utk siswa level SD adalah membangun kemandirian pada anak dan menumbuhkan kreatifitas pada setiap perilaku anak.
Jadi, pada level ini anak tdk diajari berdagang, ilmu berdagang ada bab tersendiri khususnya pada level SMA atau sederajat.
Fokus pelajaran kewirausahan pada anak adalah: bagaimana agar anak bisa menciptakan sesuatu, dimana sesuatu itu bisa berguna bagi diri dan lingkungannya.
Insya Alloh, walloohu a’lam.

Persekusi Ibadah

Fenomena penolakan yang dilakukan berkali-kali oleh ormas tertentu sepertinya bukan hal yang baru. Kenapa?

Dalam banyak kejadian pada level yang lebih kecil, seringkali suatu masjid dilarang oleh jamaah tertentu ketika mau mengadakan acara tertentu. Ini hal yang sudah amat biasa. Padahal kegiatannya juga kegiatan yang bersifat umum, misalnya kajian Al-Qur’an, kajian tauhid dan lain-lain.

Mereka tidak peduli, apakah suatu kegiatan itu mendatangkan pahala. Yang mereka pedulikan adalah manakalah kegiatan itu bukan kelompoknya yang mengadakan, maka harus dibubarkan.

Repot yah… Trus apa sebenarnya apa yang mereka cari di dunia ini? Bukannya pahala yang dicari?

Pentingnya Peran Mahasiswa Dalam Mewujudkan Perubahan Bangsa

Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memilki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreatifitas dalam rangka mewujudkan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI Yakni; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, Pengabdian pada masyarakat.Sungguh menarik memang jika kita kembali memperbincangkan persoalan kampus dan dinamikannya yang sangat dinamis. Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerah.

 

Dengan sifat keintelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.

Dengan kata lain, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan beragam ide, pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Menjadi agen bagi perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik masyarakat secara luas. Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus.

Gerakan perlawanan mahasiswa sesungguhnya merupakan gerakan perlawanan yang dinamis. Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah diawali dengan konsep membaca, sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, menelaah, meriset, merenungkan , bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa beragam persoalan yang ada dimasyarakat. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan bahkan persoalan etika dan moralitas.Paradigma mahasiswa dikampus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komperhensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran yang konstruktif.Oleh karena itu, gerakan mahasiswa diharapkan mampu memberikan jawaban atas kondisi zaman yang terus berubah.

Karena pada hakikatnya mahasiswa memiliki peran pengabdian masyarakat yaitu sebagai agent of change, Iron stock, dan Social Control.Dalam aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan perubahan tersebut. Berdasarkan kondisi kampus sudah dipersiapkan dalam bidang kajian yang berbeda-beda dapat diklasifikasikan meliputi: keteknologian, sosial budaya, hukum dan plitik, serta perekonomian.

Mulai dari keteknologian, mahasiswa teknik harus mengambil peran sebagai pioner dalam pengembangan teknologi bangsa. Misalkan dalam tata ruang kota, mahasiswa dapat menjadi pioner pengembangan kota tropis dana dapat mengembangkan pola arsitektur yang bersifat tradidioanal. Selain itu, kajian dalam bidang keteknologian ini memiliki peran yang luas, baik dalam teknologi bangsa, maupun untuk menganalisis permasalahan yang terdapat di negara kita, seperti ROB, kemacetan, energi listrik, dan lain-lain.

Dalam bidang ekonomi, mahasiswa tentunya harus mampu menganalisa sistem ekonomi yang ideal untuk bangsa kita. Salah satunya adalah sistem ekonomi syariah. Selanjutnya dalam bidang hukum dan politik, mahasiswa harusnya memiliki idealisme tinggi untuk menciptakan sistem hukum yang baik dalam pemerintahan di Indonesia. Semua bidang kajian itu ternyata dapat disatu padukan untuk menganalisis permasalahan bangsa dilihat dalam berbagai sudut pandang. Dan yang perlu diingat di sini adlah bahwa mahasiswa maupun pemuda harus memiliki dasar moral yang baik dan jiwa religius agar langkahnya benar-benar terarah. Hal tersebut akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa menuju bangsa yang cerdas dan didasari religiusitas.

Sumber: http://www.kompasiana.com/ismi_retno/pentingnya-peran-mahasiswa-dalam-mewujudkan-perubahan-bangsa_550d7b5b813311c62bb1e45b

Mahasiswa: Roda Perubahan Bangsa

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika berbicara tentang “mahasiswa”? Dulu, jika berbicara tentang mahasiswa berarti berbicara tentang perubahan, berbicara tentang perubahan berarti berbicara tentang mahasiswa.

Hal tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat berbagai gelar dan status yang disandangkan kepadanya, yaitu sebagai agen perubahan (agent of change), iron stock dan social control.

Mahasiswa sebagai agent of change memiliki artian bahwasanya ia terbuka dengan segala perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sekaligus menjadi subjek dan atau objek perubahan itu sendiri. Dengan kata lain mahasiswa adalah aktor dan sutradara dalam sebuah pagelaran bertitelkan perubahan.

Selain itu, mahasiswa pun diharapkan dan menjadi harapan untuk menjadi seorang pemimpin di masa depan yang memiliki kemampuan intelektual, tangguh dan berakhlak mulia. Itulah yang dimaksud mahasiswa sebagai iron stock, sebagai tonggak penentu bangsa.

Peran mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, dan social control mengharuskan mahasiswa untuk melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga ia akan mudah menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Karena bagaimanapun, hanya mahasiswa yang sadar dengan keadaanlah yang mampu dan layak mengusung perubahan.

Sejarah telah mengukirkan banyak cerita tentang bagaimana peran mahasiswa dalam perubahan kondisi bangsa dan negaranya mulai dari zaman kenabian, zaman kolonialisme hingga zaman reformasi.

Di Indonesia pun untuk merubah orde baru menjadi reformasi, menumbangkan rezim Soeharto siapa yang memegang kendali? Tentu mahasiswa. Disamping itu mahasiswa pun memiliki berbagai ilmu yang bisa dijadikan sebagai tonggak intelektual. Dengan ilmu yang dimilikinya, mahasiswa sebenarnya mampu untuk menjadi tonggak masa depan bangsa.

Lain dulu lain sekarang. Kini, ketika berbicara tentang mahasiswa yang terbayang adalah sosok individualis dan self centered yang hanya memikirkan diri pribadi saja.

Boro-boro menjadi aktor perubahan, melek keadaan sekitar pun tidak! Bisa dibilang, mahasiswa telah berubah wujud menjadi sosok autis nan apolitis yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Mahasiswa adalah kaum terpelajar, kaum intelektual. Kaum yang bisa dibilang memiliki intelegensi diatas rata-rata, sehingga dapat memberikan kontribusi positif demi peubahan dan kemajuan di tengah masyarakat.

Lagi-lagi sangat disayangkan, ilmu yang mati-matian dikejar pun, bukan karena tuntunan keilmuannya, bukan pula untuk diaplikasikan dalam kehidupan, tapi semata untuk mengejar-ngejar “nilai dan karir”. Sehingga apa yang terjadi? Ilmu hanyalah sebatas angin lalu karena tidak diresapi esensi dari ilmu itu sendiri.

Jika mahasiswa nya saja tidak bisa menjadi tonggak masa depan bangsa, bagaimana jadinya nasib bangsa ini? Ketika mahasiswa mempunyai peran yang lebih yaitu peran intelektual dan tonggak perubahan, seharusnya mahasiswa memfungsikan peran itu.

Sebagai kaum intelektual berarti menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan menjadikan menimba ilmu itu sebuah kewajiban dan ibadah kepada Sang Pencipta. ketika sebagai tonggak perubahan artinya mahasiswa harus peduli dengan lingkungan sekitar dan mampu untuk melakukan perubahan ditengah-tengah umat.

Karena sesungguhnya umat saat ini membutuhkan mutiara-mutiaranya untuk bisa menerangi mereka dalam kegelapan. Siapa mutiara-mutiara umat itu? Mahasiswa!

Perubahan apa yang seharusnya layak diusung oleh mahasiswa. Ingat mahasiswa juga manusia. Itu artinya mahasiswa pun adalah makhluk dari Sang Kholik yang mempunyai peran juga sebagai hamba-Nya untuk melakukan setiap perbuatan sesuai dengan perintah Pencipta-Nya.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Namun saat ini kesempurnaan islam tidak bisa dirasakan karena tidak diterapkannya islam dalam kehidupan. Sehingga yang terjadi hanyalah kerusakan. Oleh karena itu perubahan yang seharusnya diusung mahasiswa adalah mengembalikan kehidupan islam untuk bisa dirasakan oleh masyarakat.

Ketika islam diterapkan bukan dirasakan efek sampingnya saja seperti kesejahteraan, perdamaian dan lain sebagainya namun konsekuensi keimanan kita kepada Allah untuk bisa terikat dengan hukum Allah. Jika kita benar-benar mengaku beriman kepada Allah, apakah kita pantas untuk melanggar semua perintah-Nya dengan cara meninggalkan islam dalam kehidupan? Dimanakah letak keima nan kita?

Ketika kita mengusung perubahan ke arah islam, ini artinya kita pun harus mengetahui islam lebih dalam dengan senantiasa mengkaji islam. Dan kita bisa menemukan bahwasanya islam bukanlah hanya mengatur hubungan kita kepada Allah saja seperti shalat, puasa, zakat dan naik haji namun islam adalah solusi kehidupan yang bisa menjawab permasalahan manusia dengan tepat dan tuntas.

Mahasiswa pun harus memiliki identitas, yakni dengan memegang teguh islam. Perubahan akan menjadi jelas jika perubahan yang diusung adalah perubahan ke arah islam. Oleh karena itu yang pantas untuk dijadikan sebagai perubahan bukan perubahan yang ecek-ecek tapi perubahan untuk mengembalikan kembali kehidupan islam di tengah-tengah masyarakat.

Karena itu adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Siapa yang bisa menjadi mutiara-mutiara umat, pengusung perubahan? Jawabannya tentu KITA, MAHASISWA.

*Ayu Sushanti : Penulis adalah Anggota Divisi An-nisaa’ KALAM Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumber: http://www.suarapembangunan.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1229&Itemid=3

Mahal dan Capek

Mendirikan partai itu mahal dan capek banget loh. Mengikuti kontestasi Pilkada itu mahal dan capek loh. Kenapa sih kita bikin partai dan mengikuti perlombaan pilkada?

Sedangkan masyarakat lebih suka disuap 10 rebu – 15 rebu untuk memilih di TPS. Sedangkan masyarakat tidak percaya program dan kepribadian. Sedangkan masyarakat hanya tahu bahasa uang yang ada di depan mata?

Apa lebih baik kita bubarkan saja partai dan mengelola ormas, sebagaimana yang sudah kita lakukan sejak dulu hingga kini?

Jika kita mau mencari aman, tentu cukuplah kita mengelola amal-amal usaha pendidikan dan perdagangan. Mengelola seminar dan workshop tentang mengelola negara cara islami sambil memaki harokah lain: “hei nggak nyunah lo, hai nggak ngikutin nubuwah lo, woi demokrasi haram lo.. bla bla bla”.

Jika kita mau cari nikmat, maka lebih baik kita menikmati kemapanan di singgasana kesejahteraan sembari ikut menonton ketidakadilan, ketidakberdayaan rakyat di tengah-tengah pengelola negara yang semakin merajalela jahatnya.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang hanya ingin memperkaya diri dan kelompoknya. Dengan cara apapun, tidak peduli etika, tidak peduli cara halal atau cara haram, tidak peduli bangsa dan rakyat semakin sekarat.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang rela menjadi kacung negara asing yang ingin mengeruk kekayaan negeri ini yang begitu berlimpah.

Maka tidak heran, korupsi semakin merajalela disaat lembaga anti korupsi dibentuk. Narkoba semakin merajalela disaar lembaga anti narkoba dibuat. Jual beli jabatan merajalela disaat lembaga pengelola badan usaha dibikin.

Yuuk kita tutup mata, tutup telinga dan tidak peduli dengan semua jeritan dan tangisan rakyat yang semakin menggema di seantero negeri ini.

Memaknai Sebuah Kekalahan

Pendahuluan

Kekalahan dalam sebuah pertandingan bukan hal yang memalukan, apalagi merasa “kelar hidup lo”. Sebab, satu fase kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses yang akan melahirkan kemenangan, kesuksesan dan kejayaan.

Pahami Ilmu Input-Output

Kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses. Sebab, kekalahan merupakan output atas input-input yang selama ini kita lakukan. Inputnya “apa” akan menghasilkan output “apa” pula. Output akan melahirkan sekecil atau sebesar input yang dilakukan. Dengan kata lain, besarnya output yang dihasilkan bergantung besar atau kecilnya input.

Menariknya adalah, output merupakan sebuah kepastian yang Alloh SWT berikan kepada hambaNya. Hukum sebab akibat atau sunnatullah berlaku tetap dan pasti. Jika inputnya itu-itu saja, maka bisa diPASTIkan outputnya juga itu-itu saja. Contoh1: jika kita melempar bola bekel sebesar tekanan tertentu ke lantai, maka akan menghasilkan lentingan sebesar lepasan tertentu ke atas. Contoh2: jika kita menjatuhkan sebuah benda, pasti jatuhnya ke bawah bukan ke atas.

Input

Mari kita berhitung, apa saja input yang selama PKS ini berdiri dilakukan? Baksos, peduli kebakaran, peduli banjir, pengobatan gratis, bazar murah kebutuhan pokok, bazar pakaian baru/layak pakai. Apalagi? Ini belum termasuk pola rekrutmen kader yang cenderung stagnan dan pemeliharaan kader yang begitu-begitu saja.

Output

Sejak pemilu tahun 2004, suara PKS secara nasional cenderung mengalami stagnasi, bahkan turun secara prosentase. Jika pun ada kenaikan secara kuantitas suara, jumlahnya tidak signifikan. Sejak PKS mengikuti kontestasi pemilukada Kabupaten Bekasi tahun 2007 sampai hari ini, suara PKS (dan koalisi) cenderung stagnan, dua kali mengalami kekalahan.

Yang kita butuhkan dari sebuah kekalahan adalah bukan justifikasi dan apologi, bahwa kita partai dakwah, yang kita cari bukan semata suara, tetapi bla bla bla… Raihlah kemenangan sejati, yaitu pahala dari Alloh SWT. Truus, kalau kita bukan cari kemenangan pada kontestasi pemilu atau pilkad,a ngapain kita repot-repot ikut pemilu?

Yang dibutuhkan dari sebuah kekalahan adalah evaluasi secara menyeluruh atas input-input yang selama ini kita lakukan, yang hasil akhir dari evaluasi itu adalah: LOMPATAN BESAR yang akan dilakukan sebagai input-input baru ke depan. Inputan lama tetap dilakukan dengan porsi tertentu, tetapi LOMPATAN BESAR harus dilakukan dengan porsi besar dan terukur.

Ingat! Kekalahan tidak membutuhkan justifikasi atau apologi, tetapi membutuhkan sebuah langkah nyata yang berbeda dan besar dari yang selama ini kita lakukan. Langkahnya apa, besarnya seperti apa, silahkan dimusyawarahkan pada level qiyadah.

Jika kita gagal dalam mengidentifikasi LOMPATAN BESAR, maka bersiap-siaplah partai ini bubar, karena di luar sana banyak pihak yang siap membumihanguskan partai ini dengan segudang alasan yang kita sama-sama mengetahuinya. KITA AKAN MENDAPATKAN SEBESAR IMPIAN KITA.

Tempe Mendoan

Sehabis pulang ngisi liqoan, mencari-cari makanan di tempat lauk. Mata ini spontan tertuju pada tempe mendoan. Saya tanya istri, dari umam kata istriku.

tempe

Jadi teringat kebiasaan 6 tahun silam, tepatnya tahun 2010.

Ketika itu saya rutin beberapa hari dalam seminggu menjemput istri yang pulang ngajar dari BSI sekitar pukul 19 an sekalian beli mendoan.

Faiq selalu pesan ke saya ketika saya mau menjemput uminya. “Abi beli mentoan ya”. Dia bilang mendoan bkn dg “d” tapi dg “t”.

Ada dua kebahagiaan ketika membeli mendoan pada saat itu. Pertama, bahagia karena sebentar lagi ketemu istri. Kedua, bahagia karena sebentar lagi kita akan makan makanan yg paling nikmat, mendoan.

Kami sekeluarga seolah tak sabar ingin segera menikmati tempe mendoan yg barusan dibeli.

Nikmaat sekali rasanya.

Sengsara Membawa Nikmat

Ada kejadian yg menyedihkan kami saat itu.

Istriku tetiba dipecat sebagai guru di suatu SDIT dibilangan pondok ungu.

Istriku dipecat tanpa ada selembar SP pun diterimanya. Kami bingung dan sedihh. Kenapa istriki dipecat? Apa karena sedang hamil?

Mungkinkah istriku buru-buru dipecat agar hilang kewajiban yayasan untuk memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan dengan tetap memberikan upah?

Sejak saat itu, timbul tekad saya utk mendirikan sekolah. Dimana di sekolah itu istri saya bukan saja menjadi guru, tetapi menjadi kepala sekolahnya.

Alhamdulillah wa syukurilah… Setahun kemudian cita-cita tersebut terwujud. Alloohu Akbar.