Mahal dan Capek

Mendirikan partai itu mahal dan capek banget loh. Mengikuti kontestasi Pilkada itu mahal dan capek loh. Kenapa sih kita bikin partai dan mengikuti perlombaan pilkada?

Sedangkan masyarakat lebih suka disuap 10 rebu – 15 rebu untuk memilih di TPS. Sedangkan masyarakat tidak percaya program dan kepribadian. Sedangkan masyarakat hanya tahu bahasa uang yang ada di depan mata?

Apa lebih baik kita bubarkan saja partai dan mengelola ormas, sebagaimana yang sudah kita lakukan sejak dulu hingga kini?

Jika kita mau mencari aman, tentu cukuplah kita mengelola amal-amal usaha pendidikan dan perdagangan. Mengelola seminar dan workshop tentang mengelola negara cara islami sambil memaki harokah lain: “hei nggak nyunah lo, hai nggak ngikutin nubuwah lo, woi demokrasi haram lo.. bla bla bla”.

Jika kita mau cari nikmat, maka lebih baik kita menikmati kemapanan di singgasana kesejahteraan sembari ikut menonton ketidakadilan, ketidakberdayaan rakyat di tengah-tengah pengelola negara yang semakin merajalela jahatnya.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang hanya ingin memperkaya diri dan kelompoknya. Dengan cara apapun, tidak peduli etika, tidak peduli cara halal atau cara haram, tidak peduli bangsa dan rakyat semakin sekarat.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang rela menjadi kacung negara asing yang ingin mengeruk kekayaan negeri ini yang begitu berlimpah.

Maka tidak heran, korupsi semakin merajalela disaat lembaga anti korupsi dibentuk. Narkoba semakin merajalela disaar lembaga anti narkoba dibuat. Jual beli jabatan merajalela disaat lembaga pengelola badan usaha dibikin.

Yuuk kita tutup mata, tutup telinga dan tidak peduli dengan semua jeritan dan tangisan rakyat yang semakin menggema di seantero negeri ini.

Memaknai Sebuah Kekalahan

Pendahuluan

Kekalahan dalam sebuah pertandingan bukan hal yang memalukan, apalagi merasa “kelar hidup lo”. Sebab, satu fase kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses yang akan melahirkan kemenangan, kesuksesan dan kejayaan.

Pahami Ilmu Input-Output

Kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses. Sebab, kekalahan merupakan output atas input-input yang selama ini kita lakukan. Inputnya “apa” akan menghasilkan output “apa” pula. Output akan melahirkan sekecil atau sebesar input yang dilakukan. Dengan kata lain, besarnya output yang dihasilkan bergantung besar atau kecilnya input.

Menariknya adalah, output merupakan sebuah kepastian yang Alloh SWT berikan kepada hambaNya. Hukum sebab akibat atau sunnatullah berlaku tetap dan pasti. Jika inputnya itu-itu saja, maka bisa diPASTIkan outputnya juga itu-itu saja. Contoh1: jika kita melempar bola bekel sebesar tekanan tertentu ke lantai, maka akan menghasilkan lentingan sebesar lepasan tertentu ke atas. Contoh2: jika kita menjatuhkan sebuah benda, pasti jatuhnya ke bawah bukan ke atas.

Input

Mari kita berhitung, apa saja input yang selama PKS ini berdiri dilakukan? Baksos, peduli kebakaran, peduli banjir, pengobatan gratis, bazar murah kebutuhan pokok, bazar pakaian baru/layak pakai. Apalagi? Ini belum termasuk pola rekrutmen kader yang cenderung stagnan dan pemeliharaan kader yang begitu-begitu saja.

Output

Sejak pemilu tahun 2004, suara PKS secara nasional cenderung mengalami stagnasi, bahkan turun secara prosentase. Jika pun ada kenaikan secara kuantitas suara, jumlahnya tidak signifikan. Sejak PKS mengikuti kontestasi pemilukada Kabupaten Bekasi tahun 2007 sampai hari ini, suara PKS (dan koalisi) cenderung stagnan, dua kali mengalami kekalahan.

Yang kita butuhkan dari sebuah kekalahan adalah bukan justifikasi dan apologi, bahwa kita partai dakwah, yang kita cari bukan semata suara, tetapi bla bla bla… Raihlah kemenangan sejati, yaitu pahala dari Alloh SWT. Truus, kalau kita bukan cari kemenangan pada kontestasi pemilu atau pilkad,a ngapain kita repot-repot ikut pemilu?

Yang dibutuhkan dari sebuah kekalahan adalah evaluasi secara menyeluruh atas input-input yang selama ini kita lakukan, yang hasil akhir dari evaluasi itu adalah: LOMPATAN BESAR yang akan dilakukan sebagai input-input baru ke depan. Inputan lama tetap dilakukan dengan porsi tertentu, tetapi LOMPATAN BESAR harus dilakukan dengan porsi besar dan terukur.

Ingat! Kekalahan tidak membutuhkan justifikasi atau apologi, tetapi membutuhkan sebuah langkah nyata yang berbeda dan besar dari yang selama ini kita lakukan. Langkahnya apa, besarnya seperti apa, silahkan dimusyawarahkan pada level qiyadah.

Jika kita gagal dalam mengidentifikasi LOMPATAN BESAR, maka bersiap-siaplah partai ini bubar, karena di luar sana banyak pihak yang siap membumihanguskan partai ini dengan segudang alasan yang kita sama-sama mengetahuinya. KITA AKAN MENDAPATKAN SEBESAR IMPIAN KITA.

Tempe Mendoan

Sehabis pulang ngisi liqoan, mencari-cari makanan di tempat lauk. Mata ini spontan tertuju pada tempe mendoan. Saya tanya istri, dari umam kata istriku.

tempe

Jadi teringat kebiasaan 6 tahun silam, tepatnya tahun 2010.

Ketika itu saya rutin beberapa hari dalam seminggu menjemput istri yang pulang ngajar dari BSI sekitar pukul 19 an sekalian beli mendoan.

Faiq selalu pesan ke saya ketika saya mau menjemput uminya. “Abi beli mentoan ya”. Dia bilang mendoan bkn dg “d” tapi dg “t”.

Ada dua kebahagiaan ketika membeli mendoan pada saat itu. Pertama, bahagia karena sebentar lagi ketemu istri. Kedua, bahagia karena sebentar lagi kita akan makan makanan yg paling nikmat, mendoan.

Kami sekeluarga seolah tak sabar ingin segera menikmati tempe mendoan yg barusan dibeli.

Nikmaat sekali rasanya.

Sengsara Membawa Nikmat

Ada kejadian yg menyedihkan kami saat itu.

Istriku tetiba dipecat sebagai guru di suatu SDIT dibilangan pondok ungu.

Istriku dipecat tanpa ada selembar SP pun diterimanya. Kami bingung dan sedihh. Kenapa istriki dipecat? Apa karena sedang hamil?

Mungkinkah istriku buru-buru dipecat agar hilang kewajiban yayasan untuk memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan dengan tetap memberikan upah?

Sejak saat itu, timbul tekad saya utk mendirikan sekolah. Dimana di sekolah itu istri saya bukan saja menjadi guru, tetapi menjadi kepala sekolahnya.

Alhamdulillah wa syukurilah… Setahun kemudian cita-cita tersebut terwujud. Alloohu Akbar.

Aksi Bela Islam Jilid 4

Setelah 3 periode melakukan Aksi Bela Islam, kemarin kami berkumpul kembali di masjid Pondok Indah, mendengarkan tausiah dari Ustad Bachtiar Nasir. Tausiah kali ini tidak biasa. Semacam konferensi pers dari beliau menceritakan tentang before dan after Aksi Bela Islam.

20161104_144124

Saat beliau flash back menggambarkan kisah-kisah perjuangan yang dialami peserta dari berbagai kota, rasanya seperti berada didalam suasana itu kembali. Mesin waktu seolah diputar dan saya tiba-tiba masuk didalam kerumunan massa yang berteriak Allah akbar.. dan menangis lagi.. saat dibacakan sholawat Badar. Jamaah bergemuruh.

Berceritalah ustad tentang bagaimana perjuangan orang-orang Ciamis, yang sudah dipesankan bis-bis ditengah perjalanan agar mereka tidak kelelahan, tetapi mereka menolak. Alasannya, biarlah ini menjadi inspirasi bagi bangsa, menjadi energi bagi siapa saja untuk semakin semangat berjuang.

Berbeda dengan teman-teman dari Madura, saat mereka sudah membayar DP bis2 yang banyak, tiba-tiba ketika akan berangkat, pemilik bis mengembalikan uang DP dan membatalkan secara sepihak karena ditekan oleh penguasa setempat dan polisi.

Apa yang dilakukan rombongan bis asal Madura ini? Mereka bilang, “Kalo sampean ndak berangkat, bisnya kami bakar..”
Akhirnya bis-bis pun tetap berangkat seperti akad semula.

Itulah gaya yang berbeda sesuai daerah saat menghadapi tekanan penguasa. Namun intinya semua punya semangat sama. Bela agama..

Kini, semua itu telah berlalu. Perlakuan adil yang diharapkan masih belum nampak tanda-tandanya.
“Lalu apa yang harus kami lakukan ya ustad..?”
Ini yang menjadi pertanyaan para jamaah. Kami sudah siap jihad. Bahkan ada yang sudah memberikan surat wasiat kepada keluarganya, sekiranya harus mati.

Apa mau buat Aksi Bela Islam jilid 4 yang sama?
“Tidak..” kata ustad Bachtiar.
Kali ini beda..
Kita akan melakukan Revolusi!!
Sudah siapkah melakukan Revolusi?
Jamaah kembali bergemuruh. SIAAAPPP..!
Siap mati?
SIAPPP!!

“Yang mengatakan siap, saya minta berdiri..”
Semua jamaah berdiri! Tidak ada yang duduk.

Bulu kuduk saya berdiri. Merinding. Airmata terus berderai..

Ini luar biasa. Jamaah yang hadir di Masjid Pondok Indah ini bukan orang bodoh, bukan orang miskin. Rata2 jamaahnya orang kaya dan punya pangkat. Tapi mereka mau merelakan diri.

Ustad, seperti acara Closing On The Stage di acara2 seminar marketing, telah melakukan selling dengan sempurna, pikir saya.
Dan kemudian, beliau meminta jamaah duduk kembali.

“Revolusi kita kali ini tidak dengan kekerasan. Revolusi kita kali ini adalah dengan akhlaq dan menggalang kekuatan Islam melalui pembangunan.
Siapa saja yang mau menyumbangkan ide, tenaga dan harta. Seperti beberapa lalu saya didatangi oleh perkumpulan notaris Islam yang siap membantu para UKM mengurus usahanya, persatuan kru media film dan televisi untuk membuat film2 Islam, tontonan2 yang membangun, dll.
Inilah revolusi. Boikot semua yang berusaha merusak akhlaq bangsa hanya karena motif uang. Kembalikan pada khitohnya, sebagai mayoritas umat beragama yang ada di Indonesia…”

Ustad terus memberikan tausiahnya, motivasinya yang membakar.. sementara saya yang duduk dibelakang, telah mulai merenungi diri, “apa yang bisa aku sumbangkan untuk perjuangan ini..?”

Sofie Beatrix
Ibu rumah tangga
Writerpreneur

Konsep Manajemen Sekolah

A. Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama.

Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa :

“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.

Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa:

“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.

Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam’an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien”. Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal”.

Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.

B. Fungsi Manajemen

Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut:

Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) actuating (pelaksanaan); dan (4) controlling (pengawasan).

Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) commanding (pengaturan); (4) coordinating (pengkoordinasian); dan (5) controlling (pengawasan).

Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan); dan (5) controlling (pengawasan).

Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan); (5) coordinating (pengkoordinasian); (6) reporting (pelaporan); dan (7) budgeting (penganggaran).

Untuk memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan (controlling).

1. Perencanaan (planning)

Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.”

Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha dan dana.

Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu :

  1. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan.
  2. Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.
  3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.

Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis.

Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi yang sangat pesat, pekerjaan manajerial yang semakin kompleks, dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya. Pada bagian lain, T. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah-langkah dalam penyusunan perencanaan strategik, sebagai berikut:

  1. Penentuan misi dan tujuan, yang mencakup pernyataan umum tentang misi, falsafah dan tujuan. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Nilai-nilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika, atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan.
  2. Pengembangan profil perusahaan, yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang, serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya -sumber daya perusahaan yang tersedia. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang.
  3. Analisa lingkungan eksternal, dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. Disamping itu, perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus, seperti para penyedia, pasar organisasi, para pesaing, pasar tenaga kerja dan lembaga-lembaga keuangan, di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan.

Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis, namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan, khususnya pada tingkat persekolahan, karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri.

2. Pengorganisasian (organizing)

Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa : “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”.

Lousie E. Boone dan David L. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian : “… as the act of planning and implementing organization structure. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and acommplishment organizational obtective”.

Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya.

Berkenaan dengan pengorganisasian ini, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi, diantaranya adalah: (a) organisasi harus profesional, yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan; (b) pengelompokan satuan kerja harus menggambarkan pembagian kerja; (c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab; (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol; (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah; dan (f) organisasi harus fleksibel dan seimbang.

Ernest Dale seperti dikutip oleh T. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian, yaitu : (a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi; (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang; dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

3. Pelaksanaan (actuating)

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi

Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan, (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak, (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

4. Pengawasan (controlling)

Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : “… the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”.

Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa : “Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”

Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu : (a) penetapan standar pelaksanaan; (b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; (c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata; (d) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan (e) pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.

Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu dengan lainnya, sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen. Dengan demikian, proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen.

Dalam perspektif persekolahan, agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik, boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi, yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya.

Dengan demikian, setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis, pengorganisasian yang efektif dan efisien, pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya, dan pengawasan secara berkelanjutan.

C. Bidang Kegiatan Pendidikan

Berbicara tentang kegiatan pendidikan, di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan. Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu :

  1. Administrasi material, yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/ benda-benda, seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.
  2. Administrasi personal, mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah, juga administrasi murid. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang sangat penting.
  3. Administrasi kurikulum, seperti tugas mengajar guru-guru, penyusunan sylabus atau rencana pengajaran tahunan, persiapan harian dan mingguan dan sebagainya.

Hal serupa dikemukakan pula oleh M. Rifa’i (1980) bahwa bidang-bidang administrasi pendidikan terdiri dari :

  1. Bidang kependidikan atau bidang edukatif, yang menyangkut kurikulum, metode dan cara mengajar, evaluasi dan sebagainya.
  2. Bidang personil, yang mencakup unsur-unsur manusia yang belajar, yang mengajar, dan personil lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar.
  3. Bidang alat dan keuangan, sebagai alat-alat pembantu untuk melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan pendidikan sebaik-baiknya.

Sementara itu, Thomas J. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2002) mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan, mencakup : (1) instruction and curriculum development; (2) pupil personnel; (3) community school leadership; (4) staff personnel; (5) school plant; (6) school trasportation; (7) organization and structure dan (8) School finance and business management.

Di lain pihak, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah, yang didalamnya mengetengahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan, meliputi: (1) manajemen kurikulum; (2) manajemen personalia; (3) manajemen kesiswaan; (4) manajemen keuangan; (5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah.

Dari beberapa pendapat di atas, agaknya yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J. Sergiovani. Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, pandangan Thomas J. Sergiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan, terutama dalam bidang school transportation dan business management. Dengan alasan tertentu, kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. Kendati demikian, dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan, ke depannya pemikiran ini sangat menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia.

Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah, berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang bidang-bidang kegiatan pendidikan di sekolah, yang mencakup :

1. Manajemen kurikulum

Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan; (b) pengorganisasian dan koordinasi; (c) pelaksanaan; dan (d) pengendalian.

Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap :

  1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis kebutuhan; (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis; (3) menentukan disain kurikulum; dan (4) membuat rencana induk (master plan): pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian.
  2. Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional atau dasar pemikiran; (2) perumusan visi, misi, dan tujuan; (3) penentuan struktur dan isi program; (4) pemilihan dan pengorganisasian materi; (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran; (6) pemilihan sumber, alat, dan sarana belajar; dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar.
  3. Tahap implementasi atau pelaksanaan; meliputi langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus, RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan); (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran; (4) penyediaan sumber, alat, dan sarana pembelajaran; (5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar; dan (6) setting lingkungan pembelajaran
  4. Tahap penilaian; terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan, baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks, input, proses, produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan peluang. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem, strategi pencapaian tujuan, implementasi design dan cost benefit dari rancangan. Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif)

2. Manajemen Kesiswaan

Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar, yaitu : (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka; (b) kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal; (c) siswa hanya termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan; dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif, dan psikomotor.

3. Manajemen personalia

Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu : (a) dalam mengembangkan sekolah, sumber daya manusia adalah komponen paling berharga; (b) sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik, sehingga mendukung tujuan institusional; (c) kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah; dan (d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah.

Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia, hal yang amat penting dalam manajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di sekolah. Oleh karena itu, upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan.

4. Manajemen keuangan

Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan.

Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.

5. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah

Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti gedung, mebeler, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana, membuat daftar sarana dan pra saran, menyiapkan jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah.

Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana, mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana, menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah, dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah.(Akhmad Sudrajat, M.Pd)

Sumber: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/03/konsep-manajemen-sekolah/

Hukum Menabung di Bank Konvensional (Ribawi)

Majelis Ulama Indonesia, Melalui Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Bunga (Intersat/Fa’idah), tanggal 24 Januari 2004, menjelaskan bahwa:

Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di per-hitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.

Sementara, riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang di perjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.

Sehingga, praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.  Praktik penggunaan tersebut hukumnya adalah haram,baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Bagi kaum Muslimin, diatur cara bermuamalah dengan lembaga keuangan konvensional sebagi berikut:

  1. Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah dan mudah di jangkau,tidak di bolehkan melakukan transaksi yang di dasarkan kepada perhitungan bunga.
  2. Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah,diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat/hajat.

Dasar Keharaman Bunga (Riba)

Dalil yang digunakan oleh Majelis Ulama Indonesia untuk mengharamkan bunga (riba) adalah:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, antara lain, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya,lalu terus berhenti (darimengambil riba), maka baginya maka yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran,dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman,mengerjakan amal shaleh,mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum di pungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.Dan jika (orang-orang berhutang itu) dalam kesukaran,mereka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu,lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Ali’Immran [3]: 130).

Hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, antara lain:
Dari Abdullah Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memakan orang yang memakan (mengambil) dan memberikan riba.” Rawi berkata: saya bertanya:”(apakah Rasulullah melaknat juga) orang yang menuliskan dan dua orang yang menjadi saksinya?” Ia (Abdullah) menjawab, “Kami hannya menceritakan apa yang kami dengar.” (HR.Muslim).

Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anh,ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikn, menuliskan, dan dua orang yang menyaksikan.” Ia berkata, “mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Akan dating kepada umat manusia suatu masa dimana mereka (terbiasa) memakan riba. Barang siapa tidak memakan (mengambilnya)-nya,ia akan terkena debunya.”(HR.al-Nasa’i).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Riba adalah tujuh puluh dosa; dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa orang yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibn Majah).

Dari Abdullah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Riba mempunyai tujuh puluh tiga pintu (cara,macam).” (HR. Ibn Majah).

Dari Abdullah bin Mas’ud, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, dua orang yang menyaksikannya.” (HR. Ibn Majah)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sungguh akan datang kepada umat manusia suatu masa dimana tak ada seorang pun diantara mereka kecuali (terbias) memakan riba. Barang siapa tidak memakan (mengambil)-nya,ia akan terkena debunya.”(HR. Ibn Majah).

Juga ijma’ ulama tentang keharaman riba dan bahwa riba adalah salah satu dosa besar (kaba’ir).

Pendapat para Ulama ahli fiqh bahwa bunga yang dikenakan dalam transaksi pinjaman (utang piutang, al-qardh wa al-iqtiradh) telah memenuhi kriteria riba yang di haramkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti dikemukakan,antara lain, oleh An Nawawi berkata:

AlMawardi berkata: Sahabat-sahabat kami (ulama mazhab Syafi’I) berbeda pendapat tentang pengharaman riba yang ditegaskan oleh al-Qur’an, atas dua pandangan.Pertama, pengharaman tersebut bersifat mujmal (global) yang dijelaskan oleh sunnah. Setiap hukum tentang riba yang dikemukakan oleh sunnah adalah merupakan penjelasan (bayan) terhadap kemujmalan al Qur’an, baik riba naqad maupun riba nasi’ah.

Kedua, bahwa pengharaman riba dalam al-Qur’an sesungguhnya hanya mencakup riba nasa’yang dikenal oleh masyarakat Jahiliah dan permintaan tambahan atas harta (piutang) disebabkan penambahan masa (pelunasan). Salah seorang di antara mereka apabila jatuh tempo pembayaran piutangnya dan pihang berhutang tidak membayarnya,ia menambahkan piutangnya dan menambahkan pula masa pembayarannya. Hal seperti itu dilakukan lagi pada saat jatuh tempo berikutnya.

Itulah maksud firman Allah : “… janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda… “ kemudian Sunnah menambahkan riba dalam pertukaran mata uang (naqad) terhadap bentuk riba yang terdapat dalam al-Qur’an.

Fatwa Ulama dan Lembaga yang Lain

Selain MUI, ulama dan organisasi Islam lain juga memberikan fatwa keharaman bunga:

  1. Ibn al-‘Araby dalam Ahkam al-Qur’an
  2. Al-Aini dalam ‘Umdah al-Qary
  3. Al-Sarakhsyi dalam Al-Mabsuth
  4. Ar-Raghib al-Isfani dalam Al-Mufradat Fi Gharib al-Qur;an
  5. Muhammad Ali al-Shabuni dalam Rawa-I’ al-Bayan
  6. Muhammad Abu Zahrah dalam Buhuts fi al-Riba
  7. Yusuf al-Qardhawy dalam Fawa’id al-Bunuk
  8. Wahbah al-Zuhaily dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh
  9. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga tidak sesuai dengan Syari’ah.
  10. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammdiyah tahun 1968 di Sidoarjo yang menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi system perekonomian khususnya Lembaga Perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam.
  11. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung yang mengamanatkan berdirinya Bank Islam dengan system tanpa Bunga.
  12. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/fa’idah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.
  13. Majma’ul Buhuts al-Islamy di Al-Azhar Mesir pada Mei 1965
  14. Majma’ al-Fiqh al-Islamy Negara-negara OKI Yang di selenggarakan di Jeddah tgl 10-16 Rabi’ul Awal 1406 H/22 28 Desember 1985.
  15. Majma’ Fiqh Rabithah al-Alam al-Islamy, keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di makkah tanggal 12-19 Rajab 1406 H.
  16. Keputusan Dar Al-Itfa, kerajaan Saudi Arabia,1979
  17. Keputusan Supreme Shariah Court Pakistan 22 Desember 1999.
  18. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga tidak sesuai dengan Syari’ah.
  19. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammdiyah tahun 1968 di Sidoarjo yang menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi system perekonomian khususnya Lembaga Perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam.
  20. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung yang mengamanatkan berdirinya Bank Islam dengan system tanpa Bunga.
  21. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/fa’idah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.

Fatwa MUI Tentang Bunga Bank

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 1 Tahun 2004
Tentang
BUNGA (INTERSAT/FA’IDAH)

Majelias Ulama Indonesia,
MENIMBANG :

  1. bahwa umat Islam Indonesia masih mempertanyakan status hukum bunga (interst/fa’idah) yang dikenakan dalam transaksi pinjaman (al-qardh) atau utang piutang (al-dayn), baik yang dilakukan oleh lembaga keuangan,individu maupun lainnya;
  2. bahwa Ijtima’Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia pada tanggal 22 Syawal 1424 H./16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang status hukum bunga;
  3. bahwa karena itu, Majelis Ulama Indonesia memnadang perlu menetapkan fatwa tentang bunga dimaksud untuk di jadikan pedoman.

MENGINGAT :

  1. Firman Allah SWT, antara lain :
    Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya,lalu terus berhenti (darimengambil riba), maka baginya maka yang telah diambilnya dahulu (sebelum dating larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tiadak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran,dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman,mengerjakan amal shaleh,mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tidakada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum di pungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.Dan jika (orang-orang berhutang itu) dalam kesukaran,mereka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu,lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (Ali’Immran [3]: 130).
  2. Hadis-hadis Nabi s.a.w., antara lain :
    Dari Abdullah r.a., ia berkata : “Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang memakan orang yang memakan (mengambil) dan memberikan riba.” Rawi berkata: saya bertanya:”(apakah Rasulullah melaknat juga) orang yang menuliskan dan dua orang yang menajdi saksinya?” Ia (Abdullah) menjawab : “Kami hannya menceritakan apa yang kami dengar.” (HR.Muslim).
    Dari Jabir r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikn, menuliskan, dan dua orang yang menyaksikan.” Ia berkata: “mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim).
    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Akan dating kepada umat manusia suatu masa dimana mereka (terbiasa) memakan riba. Barang siapa tidak memakan (mengambilnya)-nya,ia akan terkena debunya.”(al-Nasa’I).
    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Riba adalah tujuh puluh dosa; dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa orang yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibn Majah).
    Dari Abdullah, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Riba mempunyai tujuh puluh tiga pintu (cara,macam).” (HR. Ibn Majah).
    Dari Abdullah bin Mas’ud: “Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, dua orang yang menyaksikannya.” (HR. Ibn Majah)
    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sungguh akan datang kepada umat manusia suatu masa dimana tak ada seorang pun diantara mereka kecuali (terbias) memakan riba. Barang siapa tidak memakan (mengambil)-nya,ia akan terkena debunya.”(HR. Ibn Majah).
  3. Ijma’ ulama tentang keharaman riba dan bahwa riba adalah salah satu dosa besar (kaba’ir) (lihat antara lain: al-Nawawi, al-Majmu’Syarch al-Muhadzdzab, [t.t.: Dar al-Fikr,t.th.],juz 9,h 391)

MEMPERHATIKAN :

  1. Pendapat para Ulama ahli fiqh bahwa bunga yang dikenakan dalam transaksi pinjaman (utang piutang, al-qardh wa al-iqtiradh) telah memenuhi kriteria riba yang di haramkan Allah SWT., seperti dikemukakan,antara lain,oleh :
    Al-Nawawi berkata, al-Mawardi berkata: Sahabat-sahabat kami (ulama mazhab Syafi’I) berbeda pendapat tentang pengharaman riba yang ditegaskan oleh al-Qur’an, atas dua pandangan.Pertama, pengharaman tersebut bersifat mujmal (global) yang dijelaskan oleh sunnah. Setiap hukum tentang riba yang dikemukakan oleh sunnah adalah merupakan penjelasan (bayan) terhadap kemujmalan al Qur’an, baik riba naqad maupun riba nasi’ah.
    Kedua, bahwa pengharaman riba dalam al-Qur’an sesungguhnya hanya mencakup riba nasa’yang dikenal oleh masyarakat Jahiliah dan permintaan tambahan atas harta (piutang) disebabkan penambahan masa (pelunasan). Salah seorang di antara mereka apabila jatuh tempo pembayaran piutangnya dan pihang berhutang tidak membayarnya,ia menambahkan piutangnya dan menambahkan pula masa pembayarannya. Hal seperti itu dilakukan lagi pada saat jatuh tempo berikutnya. Itulah maksud firman Allah : “… janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda… “ kemudian Sunnah menambahkan riba dalam pertukaran mata uang (naqad) terhadap bentuk riba yang terdapat dalam al-Qur’an.

    1. Ibn al-‘Araby dalam Ahkam al-Qur’an :
    2. Al-Aini dalam ‘Umdah al-Qary :
    3. Al-Sarakhsyi dalam Al-Mabsuth :
    4. Ar-Raghib al-Isfani dalam Al-Mufradat Fi Gharib al-Qur;an :
    5. Muhammad Ali al-Shabuni dalam Rawa-I’ al-Bayan :
    6. Muhammad Abu Zahrah dalam Buhuts fi al-Riba :
    7. Yusuf al-Qardhawy dalam fawa’id al-Bunuk :
    8. Wahbah al-Zuhaily dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh :
  2. Bunga uang atas pinjaman (Qardh) yang berlaku di atas lebih buruk dari riba yang di haramkan Allah SWT dalam Al-Quran,karena dalam riba tambahan hanya dikenakan pada saat jatuh tempo. Sedangkan dalam system bunga tambhan sudah langsung dikenakan sejak terjadi transaksi.
  3. Ketetapan akan keharaman bunga Bank oleh berbagai forum Ulama Internasional, antara lain:
    1. Majma’ul Buhuts al-Islamy di Al-Azhar Mesir pada Mei 1965
    2. Majma’ al-Fiqh al-Islamy Negara-negara OKI Yang di selenggarakan di Jeddah tgl 10-16 Rabi’ul Awal 1406 H/22 28 Desember 1985.
    3. Majma’ Fiqh Rabithah al-Alam al-Islamy, keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di makkah tanggal 12-19 Rajab 1406 H.
    4. Keputusan Dar Al-Itfa, kerajaan Saudi Arabia,1979
    5. Keputusan Supreme Shariah Court Pakistan 22 Desember 1999.
  4. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga tidak sesuai dengan Syari’ah.
  5. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammdiyah tahun 1968 di Sidoarjo yang menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan terwujudnya konsepsi system perekonomian khususnya Lembaga Perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam.
  6. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung yang mengamanatkan berdirinya Bank Islam dengan system tanpa Bunga.
  7. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/fa’idah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.
  8. Keputusasn Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqa’idah 1424/03 Januari 2004;28 Dzulqa’idah 1424/17 Januari 2004;dan 05 Dzulhijah 1424/24 Januari 2004.

Dengan memohon ridha Allah SWT
MEMUTUSKAN

MEMUTUSKAN : FATWA TENTANG BUNGA (INTERST/FA`IDAH):
Pertama : Pengertian Bunga (Interest) dan Riba

  1. Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di per-hitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.
  2. Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang di perjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.

Kedua : Hukum Bunga (interest)

  1. Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW, Ya ini Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.
  2. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram,baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Ketiga : Bermu’amallah dengan lembaga keuangan konvensional

  1. Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah dan mudah di jangkau,tidak di bolehkan melakukan transaksi yang di dasarkan kepada perhitungan bunga.
  2. Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah,diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat/hajat.

Jakarta, 05 Djulhijah 1424H
24 Januari 2004 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA,
KOMISI FATWA

Ketua / Sekretaris

K.H. Ma’ruf Amin / Drs. Hasanudin ,M.Ag.

Bocah yang Sudah Gede

Perbedaan umur saya dengan adik-adik saya cukup jauh. Jarak usia antara saya dan adik yang nomor dua saja 7 tahun, dengan adik nomor 3 berjarak 11 tahun apalagi adik yang nomor 4, 5 dan 6.

Ketika  saya memasuki SMA, adik yang nomor 4 baru lahir ke dunia ini. Jarak kelahiran saya dengan adik yang bungsu apalagi sekitar 24 tahun. Panjang bukan?

Maka tidak heran jika dalam beberapa hal kadang kami tidak nyambung dan ada kesenjangan dalam memahami berbagai persoalan.

Malah kadang, saya melihat adik-adik saya sebagai ‘bocah’ yang tidak perlu diambil hati manakala melakukan sebuah kesalahan.

Hal ini dikarenakan perbedaan dalam hal kedalaman ilmu dan pengalaman hidup yang tergambar dalam setiap pensikapan atas berbagai masalah dalam pergaulan sosial.

Dengan demikian, saya  harus lebih arif lagi dalam memahami berbagai perbedaan pandangan khususnya dalam pergaulan keluarga.

 

SDIT Wirausaha Indonesia: Dasar Pemikiran Pendirian dan Realitasnya

Dasar Pemikiran

Pemikiran yang mendasari saya mendirikan SDIT Wirausaha Indonesia adalah banyaknya keluhan dari teman-teman (termasuk saya hehe) yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang muatan keIslamannya baik, tetapi biayanya cukup tinggi untuk ukuran karyawan swasta.

Sementara, menyekolahkan anak di sekolah negeri muatan agamanya sangat kurang. Waktu belajar sangat singkat, contoh: kelas I masuk pukul 07.00 pulang pukul 09.00.

Akhirnya, teman-teman (termasuk juga saya) dengan sangat terpaksa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Sebuah pilihan yang tidak mudah dan bikin sedih.

Dari sanalah, saya mulai memikirkan bagaimana mendirikan sekolah Islam yang berkualitas, tetapi dengan biaya yang relatif bisa dijangkau oleh komunitas teman-teman.

Akhirnya, saya beserta tiga orang lainnya (Dadang Muhtari, Lartono dan Sufajar Butsianto) mendirikan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia (YSWI) pada tahun 2011. Melalui yayasan inilah kami mendirikan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wirausaha Indonesia pada tahun 2012. Sekolah ini mulai menerima siswa pada Tahun Pelajaran 2012/2013.

Gedung Sekolah?

Sekolah ini awalnya belum memiliki gedung sendiri. Kami menyewa ruko (alhamdulillah) dengan harga sewa murah. Perlu diketahui bahwa, sekolah ini didirikan bukan oleh kumpulan pengusaha kaya atau orang-orang yang memiliki aset yang banyak. Seperti sekolah tetangga, yang gedung sekolahnya sudah berdiri megah, baru menerima siswa.

TAHUN 2012
Gedung sekolah yang pertama kali, Sewa Ruko dengan biaya murah

Sekolah ini didirikan oleh kami, orang-orang biasa yang berpenghasilan rata-rata. Upaya kami adalah, sekolah ini mendapatkan siswa dahulu, baru sedikit-demi sedikit membangun dan memiliki gedung yang representatif.

20-okt16c
Gedung sekolah saat ini, penyempurnaan fisik berlanjut

Sekalipun secara ekonomi kami memiliki kemampuan finansial yang rendah, tetapi kami memiliki tekad dan kemauan yang kuat yakni: “Harus ada lembaga pendidikan Islam berkualitas berbiaya relatif terjangkau”. Itulah motto yang selalu saya tanamkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang menjadi impian saya, yaitu sekolah ini menjadi tempat membangun dan bersemainya fikrah anak-anak kami, ternyata tidak semudah yang diangankan.

Kenapa?

Ternyata banyak teman-teman saya yang tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Mereka lebih suka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang memiliki gedung megah, sekalipun secara fikroh masih dipertanyakan.

Apa sebabnya? Seribu alasan bisa dengan mudah dicari. Mulai dari keterbatasan sarana-prasarana, manajemen pengelolaan sekolah dan lain-lain, yang sesungguhnya hal itu bisa dimusyawarahkan jika ada kemauan dari para pihak.

Ternyata tidak mudah mengumpulkan teman-teman satu fikroh untuk membangun komunitas bersama dalam suka dan duka. Mungkin inilah gambaran umat Islam pada umumnya. Sangat sulit untuk bersatu dan memiliki impian bersama. Kita lebih suka nafsi-nafsi dan lebih sering mengikuti kemauan individual dibanding membangun kepentingan dan kebersamaan ikhwah. Walloohu a’lam.

Realitas Saat Ini

Saya realisitis saja, bagaimanapun sekolah ini memerlukan siswa dalam jumlah yang cukup agar bisa beroperasi secara mandiri tanpa menggantungkan dari pihak lain. Sekolah ini harus menjadi tempat bersemainya fikroh kebaikan anak-anak, siapapun orang tuanya, yang penting dia muslim dan tentunya mau menyekolahkan anaknya di sekolah ini.

Program unggulan

Saat ini kami sedang mengikhtiarkan sebuah PROGRAM UNGGULAN, yang insya Alloh dengannya kita semua yang terlibat mewujudkan program ini, akan ketularan keberkahan dan ridho-Nya, yaitu:

  • Program Tahfidz Al-Qur’an Khusus. Program tahfidz kelas khusus ini memiliki target hafalan 1.5 juz setiap tahun setiap siswanya. Jadi, jika siswa kelas 5 mengikuti program ini, maka pada saat lulus insya Alloh siswa memiliki hafalan 4-6 juz. Jika siswa kelas 4 mengikuti program ini, akan lebih banyak lagi hafalan yang bisa dicapai.
  • Program Mentoring. Program ini bertujuan untuk menguatkan akidah, ibadah dan akhlak siswa. Output dari program ini insya Alloh terwujud dalam 10 karakteristik siswa SDIT Wirausaha Indonesia.
  • Program Pembibitan Wirausaha sejak dini. Program ini sudah sejak awal berdirinya sekolah ini digulirkan. Tujuan dari program ini adalah membangun jiwa wirausaha pada diri anak-anak dan diharapkan menjadi pengusaha muslim yang hafidz akan menjadi paradigma yang utama dalam mencari ma’isyah nantinya setelah dewasa.

Yaa Alloh, berikanlah kekuatan kepada kami untuk mewujudkan cita-cita luhur ini. Aamiin.