Jangan “Mati Gaya” Di Hadapan Promotor Kemunkaran

Seringkali kita dihadapkan pada sebuah kenyataan dimana kemunkaran dipromosikan secara terbuka.
Kemunkaran yang oleh sebagian orang dipahami sebagai perbuatan yang kalaupun ada yang berani melakukannya, maka dia dilakukan secara tersembunyi, itupun masih panas dingin.

Namun kini mereka sudah menyatakan resmi menganut ideologi Iblis; “Kalo saya sesat, maka orang lain pun harus sesat!”

Jadilah dia promotor kemunkaran.

Di antara senjata ampuh yang sangat mereka andalkan sejak dahulu dan apalagi sekarang adalah membentuk opini yang dapat melemahkan daya pikir masyarakat dan akhirnya secara bertahap masyarakat digiring pada sikap dan keinginan yang mereka bentuk. Dibuatlah berbagai alibi dan teori yang sekilas tampak ilmiah dan solutif, padahal dibalik itu menyimpan kebusukan yang sangat menyengat.

Kekufuran mereka tawarkan atas nama kebebasan berfikir dan berkeyakinan, free seks mereka jajakan atas nama seks sehat dan pencegahan AIDS, kemusyrikan disuguhkan atas nama seni dan budaya, dll.
Sementara di sisi lain, secara sistematis dan massif dengan berbagai sarana media dan dukungan dana tak terbatas, mereka berupaya menyudutkan orang-orang yang ingin komitmen mengamalkan agamanya. Berbagai isu mereka angkat; Terorisme, islam militant, Islam arab, wahabi, Islam transnasional, Islam garis keras, Islam politik, dll.

Jika diperhatikan dengan seksama, semua itu tak lain upaya untuk ‘menggertak’ umat agar jangan ‘terlalu akrab’ dengan agamanya dan membelanya.

Di sisi lain, banyak di kalangan umat ini yang ‘terhenyak’ menyaksikan gempuran demi gempuran para promotor kemunkaran, sehingga mereka menjadi ‘mati gaya’, seperti tidak dapat berbuat apa-apa selain ‘ngelus-ngelus dada’.
Di sisi lain, ada sebagian pihak yang menempatkan sifat-sifat kelembutan dan sopan santun dalam masalah ini bukan pada tempatnya.

Maka lengkaplah sudah setting yang mereka inginkan, promotor kemungkaran tampak sangat militan dan di atas angin berhadapan dengan orang-orang baik yang lemah tanpa mau berbuat apa-apa selain keselamatan dirinya.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu yang terungkap dalam doanya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَلَدِ الْفَاجِرِ وَعَجْزِ الثِّقَةِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari militansi orang durhaka dan lemahnya orang-orang baik.”

Di alam bebas seperti ini dan saluran komunikasi dan informasi terbuka lebar, sudah tidak sepantasnya kita mengandalkan pengingkaran dalam hati sebagai langkah penolakan terhadap kemungkaran.

Selain itu merupakan gambaran selemah-lemahnya iman, juga karena Rasulullah saw melarang kita untuk tampak lemah di hadapan kekufuran dan kemungkaran.

Karena itu, saat pertama kali umrah, Rasulullah saw memerintahkan para shahabatnya untuk membuka pundak kanannya dan berlari-lari kecil saat thawaf, agar orang kafir melihat bahwa kaum muslimin kuat. Hal mana kemudian dikenal sebagai sunah dalam thawaf qudum bagi laki-laki.

Dalam peristiwa perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin terdesak akibat kelalaian pasukan pemanah dan Rasulullah saw terluka, orang-orang kafir ingin merontokkan mentalitas pasukan muslim.

Abu Sufyan yang ketika itu masih kafir berteriak, “Mana Muhamad, mana Abu Bakar, Mana Umar?”

Maka Umar berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah saya menjawabnya?” Jawab Rasulullah, “Ya”. Maka ketika Abu Sufyan berteriak,

اعْلُ هُبَل

“Hidup Hubal (berhala mereka)

Umar menjawab,

الله أَعْلَى وَأَجَل

“Allah lebih tinggi dan lebih mulia.”

Abu Sufyan balik berkata,

يَومُ بِيَومِ بَدْر، إِنَّ الأَيَّامَ دُوَل، وَإِنَّ الْحَرْبَ سِجَال

“Hari ini adalah pembalasan perang Badar, hari-hari silih berganti, perang kadang kalah kadang menang.”

Umar menjawab,

لاَ سَوَاءَ ، قَتْلاَنَا فِي الْجَنَّةِ ، وَقَتْلاَكُمْ فِي النَّارِ

“Tidak sama, orang yang terbunuh di antara kami masuk surga, orang yang terbunuh di antara kalian masuk neraka.” (dikutip dari riwayat Ahmad dan Hakim)

Lihatlah bagaimana Umar bin Khatab atas izin Rasulullah saw tidak diam menghadapi provokasi orang-orang kafir, bahkan di saat mereka terdesak sekalipun.

Lihat pula bagaimana pilihan kata-katanya yang singkat namun berbobot serta tidak menampakkan kelemahan sama sekali. Bahkan Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits tersebut mengatakan bahwa peristiwa tersebut sebagai kemenangan yang istimewa.

Harus kita bedakan antara orang yang berbuat maksiat karena kelalaian atau ketergelinciran. Kepada mereka hendaknya kita nasehati baik-baik, tersembunyi dan tidak dibongkar aibnya dan jangan dicela.

Tapi kepada mereka yang terang-terangan mempromosikan kemungkaran, kesesatan dan kekufuran di tengah masyarakat muslim dan sering mengolok-olok nilai-nilai syariat dan orang yang berusaha mengamalkannya, baik tersirat atau tersurat, tidak ada tempat untuk bersikap lemah lembut kepada mereka, tidak ada tempat untuk menutupi makar dan konspirasi mereka, bahkan seharusnya kedok mereka dibongkar, argument-argument mereka dipatahkan dan celotehan-celotehan mereka harus dibalas tegas.

Tidak perlu anarkis, tidak perlu angkat senjata, tapi bantahlah seruan kesesatan mereka, bergabunglah dalam poros-poros kebaikan, nyatakanlah sikap dan jangan lemah. Inilah medan “perang” kita!

Abu Bakar Ash-Shidiq yang terkenal kelembutannya dan air matanya selalu meleleh, tak dapat menahan amarahnya ketika harus berhadapan dengan para provokator dan promotor kemungkaran.
Saat beliau menjadi khalifah dan berhadapan dengan sekelompok masyarakat yang terang-terangan terang-terangan murtad, sebagian lagi terang-terangan menolak membayar zakat, sebagai pemimpin dia memutuskan untuk memerangi mereka. Ketika sebagian shahabat berusaha mencegahnya dengan asumsi bahwa mereka masih muslim, Abu Bakar Ash-Shidiq memberikan jawaban memuaskan hinggga para shahabat menerimanya.

kaderpks

Bahkan ketika Umar bin Khatab ikut-ikutan menasehati Abu Bakar Ash-Shiddiq agar bersikap lemah lembut terhadap mereka, maka dengan tegas Abu menjawab,

جَبَّارٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خَوَارٌ فِي اْلإِسْلاَمِ . بِمَاذَا أَتَأَلَّفُهُمْ ؟ بِشِعْرٍ مُفْتَعِلٍ أَمْ بِقَوْلٍ مُفْتَرِى ؟!

“(Apakah engkau) perkasa saat masih jahiliah, namun justeru lemah setelah masuk Islam, dengan apa aku berbaik-baik dengan mereka, dengan syair yang dibuat-buat atau dengan ucapan dusta?!”

(Tuhfatu Ash-Shiddiq Fi Fadhli Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Al-Maqdisi)

Jika promotor kemungkaran berkeliaran di tengah-tengah kita, sementara kita tidak terusik sama sekali untuk menghadangnya, periksalah kembali dimana iman kita diletakkan?!

“Selamat Berperang!” (Ustadz Abdullah Haidir Lc)

Tarbiyah dan Pemenangan Pemilu

Konsekuensi keislaman kita mengharuskan kita tunduk pada ajaran-ajaran Islam yang syumul, menyeluruh dan menyentuh segala lini kehidupan, baik dalam kehidupan kita sebagai satu individu muslim maupun kehidupan kita sebagai makhluk sosial dalam bingkai masyarakat.

22-mar14a
Masing-masing menuntut warna yang berbeda di atas warna-warna lainnya. Allah SWT mengistilahkannya dengan istilah Shibgatullah atau celupan Allah.

Istilah celupan sudah sangat cukup mengetahui makna yang terkandung dalam kata tersebut. Sering minum teh celup? apa jadinya jika teh celup dimasukkan ke dalam air panas dalam gelas, air yang ada dalam gelas, serentak terwarnai. Artinya bahwa ketika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka seluruh sisi kehidupan kita pun mesti ikut terwarnai dengan warna pilihan Allah, dengan celupan Allah. Baik dalam kehidupan kita sebagai individu, maupun dalam kehidupan kita sebagai bagian dari masyarakat.

Kewajiban individu kita sebagai hamba Allah adalah bagaimana kita mengabdi dan terus menjalin dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, membina diri kita untuk terus menumbuhkan keimanan dalam diri, menghidupkan hati, meningkatkan pemahaman keislaman kita, dan membina keluarga Islam.
Dan kewajiban sosial kita sebagai satu bagian dari masyarakat, adalah membawa warna-warna Islam tadi ke masyarakat luas, dan kitalah yang menjadi teladan dalam keislaman, merubah kebiasaan umum dengan warna Islam, melakukan langkah-langkah keshalihan sosial. Menciptakan masyarakat islami, membangun pemerintahan yang bersih, dan menjunjung nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Dan Tarbiyah telah menjadi tsawabit [bagian permanen] dalam dakwah sebagai alat utama untuk melakukan perubahan yang dicita-citakan dalam diri umat, sesuai dengan firman Allah Swt., “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, hingga ia merubah apa yang ada dalam dirinya”. Dan narasi perubahan yang kita cita-citakan adalah perubahan yang mencakup dua hal, pertama adalah individu-individu yang bekerja dalam masy’ru Al-Islami (proyek peradaban), dan kedua adalah kaum muslimin secara umum dalam masyarakat.

Dan bahwa pencapaian tujuan tarbiyah dalam diri kader dakwah yang bekerja untuk menegakkan proyek peradaban, tuntutannya jauh lebih besar dibanding dengan kaum muslimin secara umum. Namun kita sepakat benang merah di antara keduanya, bahwa tujuan-tujuan tarbiyah tidak mungkin diwujudkan, kecuali melalui sistem tarbawi dan bukan melalui kegiatan-kegiatan umum seperti ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, memberikan pelayanan, karena seluruh kegiatan-kegiatan ini tidak memiliki efek pengaruh yang kuat dan terus menerus, kecuali melalui system tarbawi, mari kita renungkan apa yang pernah dikatakan oleh tokoh pelopor pergerakan dari lembah sungai Nil, beliau mengatakan:
إن الخُطب والأقوال والمُكاتبات والدروس والمحاضرات وتشخيص الداء ووصف الدواء كل ذلك لا يُجدي وحده لها نفعًا، ولا يصل بالداعين إلى هدف من الأهداف؛ ولكن للدعوات وسائل لابد من الأخذ بها والعمل
لوسائل العامة للدعوات لا تتغير ولا تتبدل ولا تعدو هذه الأمور الثلاثة:
الإيمان العميق-
التكوين الدقيق-
العمل المتواصل-
“Sesungguhnya ceramah-ceramah, perpustakaan-perpustakaan, pengajian-pengajian, dan muhadharah, analisa penyakit dan menyebutkan nama obatnya, semua itu tidak banyak memberikan manfaat, dan tidak mengantarkan para penyeru perubahan sampai pada tujuan-tujuan yang dicitakan, akan tetapi dakwah itu memiliki tiga wasilah umum, yang tidak berubah-ubah, dan tidak berganti-ganti, tidak keluar dari tiga hal berikut:
1. Keimanan yang dalam (Al-Iman Al-Amiq)
2. Pembentukan yang jeli (At-Takwinul Ad-Daqiq)
3. Amal yang berkesinambungan (Al-Amal Al-Mutawashil)

Mengenai tujuan dakwah yang ingin dicapai, dengan itu para kader dakwah bekerja untuk mewujudkannya, baik dalam diri mereka maupun dalam masyarakatnya, beliau mengatakan:
“Sesungguhnya tujuan dakwah, terfokus pada pembentukan generasi baru dari orang-orang mukmin dengan ajaran Islam yang shahih, dan generasi ini bekerja mewarnai umat dengan warna dan celupan Islam dalam segala sisi kehidupan mereka “Dan celupan Allah, maka siapakah yang lebih baik celupannya selain dari celupan Allah” [QS. Al-Baqarah: 138].

Dan wasilah untuk itu adalah merubah kebiasaan umum, dan membina anshar dakwah (pendukung dakwah) dengan ajaran Islam, hingga mereka menjadi teladan pada yang lainnya dalam memegang teguh ajaran Islam, perhatian pada ajaran Islam, dan berhukum dengan ajaran tersebut”.

Celupan Tarbiyah
Maka dari sini, jelas bagi kita bahwa seluruh pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan, harus terwarnai dan tercelup dengan celupan dan warna tarbiyah. Yang kita maksud dengan celupan tarbiyah adalah pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan itu – apa pun bentuk dan jenisnya – memiliki kontribusi positif dalam salah satu sisi kepribadian kita atau dalam seluruh sisi kepribadian kita yang empat, yaitu [sisi ma’rifah atau pengetahuan, sisi Imaniyah atau keimanan, sisi nafsiyah atau kejiwaan, dan sisi sulukiyah atau perilaku dan atau attitude].

Satu contoh misalnya, pekerjaan-pekerjaan sosial, bisa jadi pekerjaan-pekerjaan, sifatnya sosial semata, yang hanya bertujuan untuk mengurangi beban penderitaan orang lain tanpa melihat sisi lain, namun bisa juga pekerjaan sosial ini menjadi wasilah menanamkan pengaruh positif dan perubahan yang berkesinambungan dalam diri mereka.

Saat ini, kita baru saja memutuskan untuk berjuang dalam gelanggang politik, mengusung salah satu kader dakwah untuk berjuang melalui jalur konstitusi, ya benar kita terjun untuk menang dan bukan untuk kalah, hari-hari ke depan adalah hari-hari yang penuh perjuangan dengan perhelatan dan aktivitas politik dalam pemilu. Masa-masa dalam pemilu ini bisa jadi hanya mengumpulkan jumlah suara sebanyak-banyaknya, namun bisa juga menjadi wasilah tarbiyah yang memberikan pengaruh positif bagi diri kader, yang melahirkan perubahan positif dalam diri kader, walau hanya satu sisi kecil dalam kepribadian kader, agar kader setelah musim pemilu ini, menjadi kader yang lebih sensitive dan lebih ijaby, kader yang lebih banyak memiliki pengaruh di masyarakat, menggandeng tangan masyarakat untuk terus meniti tangga keislaman dan berkomitmen dengan Islam yang shahih dengan bertahap.

Mewarnai Pemilu dengan Celupan Tarbiyah
Ada banyak cara dan faktor agar aktivitas-aktivitas dalam pemilu ini, memberikan kontribusi – dengan izin Allah SWT – secara tarbiyah, di antaranya:
Pertama adalah kekuatan hubungan dengan Allah Azza wa Jalla (Quwwatu Shilah billah), dan meningkatkan mutu keimanan yang hakiki dalam hati, yang dengannya seorang kader diharapkan berada dalam kondisi jernih, kader memiliki kedisiplinan syar’i [Indhibath Syar’i], lebih positif [ijaby].
Perlu kita sadari bahwa factor penting, kita dapat mewujudkan cita-cita tarbiyah dan kemenangan dakwah adalah factor kekuatan ini, faktor Quwwatu shilah billah, kekuatan hubungan dengan Allah Swt., maka kadar kekuatan hubungan kita dengan Allah Swt., itulah yang mendatangkan pertolongan, dukungan, bantuan, dan perlindungan dari Allah Azza wa Jalla’, Allah SWT berfirman: “Dan Dia-lah yang melindungi orang-orang shalih” [QS. Al-A’raf: 196], “Allah Pelindung orang-orang yang beriman” [QS. Al-Baqarah: 256].
Sujud di pertengahan malam, disertai linangan air mata, itulah yang meruntuhkan benteng yang kokoh dan mengguncang arsy dengan pertolongan Allah Swt.

Maka tidak benar, jika ada seorang kader yang beralasan dengan kesibukannya dalam aktivitas politik dalam masa-masa pemilu, lantas menyebabkan ia kurang disiplin dan meremehkan pelaksanaan shalat berjamaah di masjid, atau melupakan wirid-wirid hariannya. Ketahuilah wahai saudaraku, tiada kebaikan dalam amal yang menyepelekan shalat.

fb_img_1441024983939

Jika seandainya mobilitas yang besar, bisa dijadikan alasan untuk meremehkan amalan-amalan keimanan, tentulah generasi awal umat ini, tak perlu lagi melakukan shalat-shalat malam dalam peperangan yang mereka ikuti. Renungkanlah surat yang ditulis oleh Pemimpin pasukan kaum Muslimin, Saad bin Waqqash saat akan menaklukkan Qadisiyah – kepada Umar bin Al-Khattab – yang memberikan kabar gembira akan kemenangan pasukan kaum muslimin, dalam suratnya, Saad bin Waqqash menceritakan kondisi kaum muslimin: “Mereka – pasukan kaum muslimin – membaca Al-Qur’an dan jika malam tiba, mereka seperti gema lebah dan di siang hari mereka seperti singa yang tidak ada yang menyerupainya”.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/25/20056/tarbiyah-dan-pemenangan-pemilu/

Edisi Bikin Akta Kelahiran

Hari ini saya berkesempatan berkunjung ke pemda, tepatnya ke disdukcapil.

 

Kesan saya: gedung semegah itu tdk mampu membuat nyaman warga yg akan membuat KTP, KK, Akta kelahiran dll.

Antrian dan pelayanan tdk beraturan. Antrian warga yg mau bikin dokumen kependudukan seperti antrian org yg ngantri zakat. Orang yg baru dtg dibuat bingung harus kemana dulu trus kemana berikutnya.

Begitu susahnya kah bikin sistem yg teratur???

Boleh donk komplain… kan kite bayar pajak. Kalo nggak bayar pajak dipenjara.

PR buat Bupati yg keren.

Kuliah?… BSI Aja

Saat ini saya mengajar di sebuah lembaga pendidikan tinggi dg total mahasiswa kurang lebih sekitar 70 ribuan yg tersebar di lebih dari 45 kampus di seluruh Indonesia.

bsi1

Hayo perguruan tinggi yg mana yg bisa menyaingi jumlah mahasiswa kami.

Perguruan tinggi ini berdiri sekitar tahun 1989 an. Belum lama dan didirikan ketika ownernya masih kuliah. Keren kan?

Yg menurut saya luar biasa, sistem yg berbasis IT-nya membuat perguruan tinggi ini berjalan dg sangat teratur dan terrencana dg baik. Ini tentunya terlepas dari segala kekurangan yg dikarenakan kelemahan manusia.

Keren BSI…
Kuliah?… BSI aja

Berpolitik = Menebar Jala Kebaikan

Saya kenal dunia politik praktis tahun 1998, yakni sejak saya menjadi simpatisan PKS. Ketika itu masih kuliah di Universitas Yarsi semester VII an.

IMG_20433725245961

Ada yg nanya: “Apa hasilnya setelah masuk PKS?” Saya katakan, hasil dlm pengertian aset duniawi TIDAK ADA, sering berkorban iya.

Tapi, saya mendapatkan pencerahan ruhani yg amat luar biasa. Di PKS itu keren. Kita tdk dengan serta merta melupakan asal organisasi sblmnya. Saya yg berasal dari NU, tetap tdk hilang warna NU nya, begitu juga teman2 yg berasal dari Muhammadiyah, Persis, Alwasliyah dll.

Proses tarbiyah (pendidikan) yg ada dlm sistem di PKS membuat saya dan teman2 menjd org yg tdk saja kenal dg politik praktis, tapi juga menjd org yg sedikit demi sedikit mengenal agamanya dg baik dan menyeluruh.

Di PKS, kita dilarang jumud, dilarang menginginkan apalagi memperebutkan jabatan, dilarang mencari duit dg jabatannya, dilarang mengumbar konflik keluar dan kita dipecut utk selalu berusaha melakukan amal apapun sesuai kemampuan.

Jika kita masuk politik semata utk mencari uang atau aset, maka CELAKA lah kita.

Berpolitik itu adalah salah satu sarana berbuat kebaikan utk masyarakat.

#berkhidmat utk rakyat

Ajaibnya Rasa Sakit

Saudaraku…

Kritik kadang membuat rasa hati ini sakit. Tetapi, dengan sakit itu kita bisa memperbaiki kualitas diri.

Masalah2

Perumpamaan, seandainya kaki terantuk batu terjal dan berdarah, maka kita akan buru-buru mencari obat dan dokter dikarenakan kita merasakan sakit.

Andai kita tidak merasakan sakit atas luka di kaki, maka kita tidak akan berusaha mencari obat dan dokter. Pada akhirnya, kaki kita perlahan membusuk dan dengan terpaksa diamputasi agar tdk menjalar ke bagian tubuh yg lain.

Disitulah ajaibnya rasa sakit, bisa memperbaiki kualitas hidup kita.

Jadi… jangan alergi apalagi gengsi dengan setiap kritikan, apalagi kritik itu datangnya dari saudara kita.

Buku “Akuntansi Tingkat Dasar, Dilengkapi dg Akuntansi bagi Organisasi Pengelola Zakat”

Cover1

Judul Buku: AKUNTANSI TINGKAT DASAR, Dilengkapi dg Akuntansi bagi Organisasi Pengelola Zakat
Karya: Ais Zakiyudin, SE, MM
Investasi: Rp.55.000,- (ongkir jabodetabek hanya + 10 ribu)
Tebal buku: 172 halaman.

Isi buku diantaranya:
1. Bgmn membuat laporan keuangan perusahaan jasa
2. Akuntansi bagi perusahaan dagang
3. Akuntansi perusahaan manufaktur
4. Cara membuat jurnal khusus
5. Buku besar pembantu
6. Membuat neraca lajur
7. Membuat laporan keuangan
8. Akuntansi bagi organisasi pengelola zakat, dll

Insya Alloh kerajaan bisnis anda maju pesat, krn telah membantu membiayai pendidikan anak yatim.

Seluruh keuntungan penjualan buku ini akan didonasikan utk anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia.

Saat ini ada 5 anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia dan dijamin GRATIS FULL sampai lulus Kelas 6.

Pemesanan, hubungi: Ais 081289584947 (WA)

Buku “Manajemen Bisnis”

Cover depan

Judul Buku: MANAJEMEN BISNIS
Karya: Ais Zakiyudin, SE, MM
Investasi: Rp.65.000,- (ongkir jabodetabek hanya + 10 ribu)
Tebal buku: 204 halaman.

Isi buku diantaranya:
1. Fungsi manajemen
2. Bentuk perusahaan
3. Tantangan organisasi
4. Kewirausahaan
5. Syarat sukses wirausaha
6. Melatih jiwa wirausaha sejak dini
7. Manajemen keuangan bisnis
8. Pengelolaan sdm
9. Strategi pemasaran
10. Menghadapi persaingan bisnis
11. Strategi pengembangan bisnis
12. Manajemen usaha ritel, dll.

Insya Alloh kerajaan bisnis anda maju pesat, krn telah membantu membiayai pendidikan anak yatim.

Seluruh keuntungan penjualan buku ini akan didonasikan utk anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia.

Saat ini ada 5 anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia dan dijamin GRATIS FULL sampai lulus Kelas 6.

Pemesanan, hubungi: Ais 081289584947 (WA)

Jujur dalam Bermuamalah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkannya ke dalam surga.
Dan seseorang yang senantiasa berlaku jujur, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan (sebaliknya) sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkannya pada kejahatan.
Sementara kejahatan tersebut akan mengantarkan nya masuk ke dalam neraka. Dan seseorang yang selalu berkata kata dusta, maka ia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari)

Hikmah Hadits :

❣1. Pentingnya bertutur kata yang benar dan jujur serta keharusan menghindarkan diri dari perkataan yang kotor dan dusta. Karena ternyata kejujuran merupakan pintu gerbang menuju segala bentuk kebaikan. Sementara kebaikan, merupakan jembatan untuk menuju surga.

❣2. Sebaliknya, dusta merupakan salah satu bentuk dosa besar, yang oleh karenanya harus ditinggalkan dan dihindarkan sejauh-jauhnya dalam segala aspek kehidupan. Karena ternyata kedustaan merupakan pintu gerbang menuju pada kejahatan.

Sementara kejahatan merupakan jembatan yang
akan mengantarkan pelakunya menuju ke dalam kobaran api neraka, na’udzu billahi min dzalik.

❣ 3. Predikat, apakah seseorang itu sebagai orang yang jujur atau ataupun orang yang dusta (pendusta), adalah tergantung perilaku dan kebiasaan orang tersebut. Jika ia terbiasa jujur dalam setiap perkataannya dan di setiap kesehariannya, maka ia akan “di cap” sebagai orang yang jujur.

Sebaliknya, jika ia terbiasa bertuturkata kasar dan dusta dalam kehidupan dan kesehariannya, maka ia akan “di cap” sebagai pendusta.

Mudah-mudahan Allah Swt memasukkan kita semua ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang jujur (shiddiqin)… (Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag)

Amiiin Ya Rabbal Alamin..

Wallahu A’lam bis Shawab

Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com

Tantangan Organisasi

Pertumbuhan Organisasi

Sebuah perusahaan (corporate growth) dapat tumbuh setidaknya melalui dua pintu, yaitu tumbuh secara internal melalui efisiensi operasional yang lebih tinggi sehingga mengalami perkembangan yang diinginkan, atau melalui cara menguasai atau mengakuisisi perusahaan-perusahaan lain, biasanya perusahaan-perusahaan yang menjadi pesaingnya.

Dua macam pertumbuhan yang semakin penting adalah merger dan konglomerat.

  • Merger. Adalah pembelian sebuah bisnis oleh sebuah bisnis lain yang serupa, di mana perusahaan pembeli mempertahankan independensi dan dominasinya. Kalau sebagian besar atau seluruh saham dari sebuah perusahaan lainnya, disebut anak perusahaan (subsidiary) dari perusahaan lain, sedangkan perusahaan yang memiliki disebut perusahaan induk (parent company).

 Merger dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. Merger Horizontal, yaitu merger yang dilakukan dengan cara membeli perusahaan-perusahaan pesaing dalam industri yang sama sebagai langkah untuk menjadi perusahaan berskala besar. Salah satu tujuan dari merger semacam ini adalah untuk mengurangi persaingan.
  2. Merger Vertikal, adalah merger yang dilakukan dengan cara membeli perusahaan lain yang menjadi pemasok (suppliers) atau pelanggannya (customers). Merger dengan cara ini bertujuan untuk mengamankan jalur bahan baku dan pasar dari produk perusahaan.
  • Konglomerat. Konglomerasi merupakan hasil dari penggabungan (merging) dari dua atau lebih perusahaan yang beroperasi dalam industri-industri yang sepenuhnya berbeda dan tidak berkaitan satu sama lain.

Menuju Keberhasilan Usaha

Untuk menuju tangga keberhasilan, sampai pada tingkatan tertentu setiap perusahaan memiliki jalan atau cara yang khas yang digunakan untuk mencapai keberhasilan. Akan tetapi, ternyata ada beberapa kesamaan atau kemiripan pada cara yang dilewati oleh semua perusahaan yang berhasil.

Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang produknya unggul dibandingkan dengan produk kompetitornya. Keunggulan tersebut haruslah bertahan dalam waktu yang lama atau dalam jangka waktu yang panjang. Manajer pada setiap perusahaan harus membuat keputusan yang mendasarkan pertimbangan-pertimbangan yang cermat mengenai apa yang harus ditempuh agar berhasil dan lingkungan bisnis yang dihadapi oleh perusahaan.

Jalan menuju keberhasilan usaha setidaknya ada lima unsur, yaitu :

  • Visi dan Misi perusahaan. Adalah sebuah grand design perusahaan yang dengannya pemimpin perusahaan berupaya untuk memberikan potret besar mengenai apa yang sesungguhnya akan dikerjakan dan akan menjadi seperti apa yang diharapkan. Pemimpin harus menginventarisir mengenai kemungkinan masa depan perusahaan yang dikehendaki. Dengan memiliki visi, pemimpin kemudian menyatakan mengapa perusahaan harus eksis ditengah persaingan sengit dan apa yang akan dikerjakan oleh perusahaan. Selain menetapkan sifat dan arah dari bisnis, visi dan misi juga mengindikasikan fokus relatif dari kelima indikator kunci keberhasilan perusahaan.

Gambar 9.1

  • Indikator Keberhasilan. Pembuat keputusan haruslah melihat hasil yang diinginkan atau indikator keberhasilan perusahaan. Pada gambar di bawah ini menunjukkan setidaknya ada lima macam indikator utama atau dengan kata lain sesuatu yang harus diperjuangkan untuk dicapai para pemimpin perusahaan. Setiap indikator dipandang penting karena sebuah perusahaan tidak bisa disebut berhasil apabila tidak mampu mencapai hasil-hasil yang memadai dari lima bidang tersebut. Kelima indikator tersebut adalah : kinerja keuangan, kebutuhan pelanggan, kualitas produk, kreativitas dan inovasi produk dan komitmen karyawan.

Gambar 9.2

 

Indikator-indikator keberhasilan tersebut merupakan indikator yang penting bagi perusahaan. Namun demikian, setiap perusahaan umumnya memiliki skala prioritas atau penekanan pada beberapa bidang indikator tertentu dibandingkan dengan indikator lainnya.

  • Identifikasi Pasar yang akan Dimasuki. Tahap selanjutnya ialah mengidentifikasi pasar yang akan menjadi segmen pasar yang akan dimasuki dengan cara melakukan penelitian dan pengkajian lingkungan perusahaan. Setiap informasi mengenai lingkungan bisnis dan dampaknya diperlukan manajer dalam pengambilan keputusan yang komprehensif. Kelima kekuatan kunci lingkungan pasar adalah : trend keinginan pelanggan, kekuatan ekonomi, globalisasi, hukum dan peraturan yang berlaku dan struktur industri, sebagaimana dilihat pada Gambar 9-3.

Gambar 9.3

bisnis yang merupakan pasar potensial terdiri dari faktor-faktor yang amat dapat mempengaruhi bisnis di mana perusahaan sedikit sekali dapat mengendalikannya. Para pengambil keputusan harus memahami sifat lingkungan di mana perusahaan beroperasi. Mereka harus menyadari variabel-variabel kritis dalam trend pasar dan memahami pergeseran serta pola yang terjadi.

Di sinilah sebenarnya para manajer diuji. Mereka tidak hanya dituntut untuk sadar akan kekuatan-kekuatan lingkungan pasar saja, tetapi juga harus mampu menilai dan mengambil potensi dari lingkungan tersebut terhadap bisnis.

  • Memberikan keunggulan produk. Pemikiran yang strategis harus mulai dilakukan oleh manajer, karena bagaimanapun arah strategis perusahaan tidak terjadi dengan serta merta. Arah ini harus dirumuskan melalui analisis lingkungan yang cermat dan seyogyanya tetap berpijak pada indikator-indikator keberhasilan bisnis. Dengan landasan strategis ini manajer dapat memfokuskan perhatiannya pada penciptaan nilai atas setiap produk atau jasa yang dijual kepada pelanggan. Para pemimpin harus mempelajari kebutuhan dan keinginan para pelanggan agar dapat menghasilkan produk atau jasa yang dapat memberikan kepuasan tertinggi kepada pelanggan.

Gambar 9.4

Fokus dalam pengembangan produk adalah kualitas produk dan proses yang memadai. Pengembangan kualitas produk ini amat penting artinya bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan menentukan akan kemampuan untuk bersaing secara efektif. Setelah proses peningkatan kualitas produk sudah dilakukan, maka tugas selanjutnya para manajer adalah melakukan komunikasi intensif dengan pelanggan agar mereka mengetahui perkembangan baik atas produk yang selama ini mereka pakai. Pengkomunikasian kepada pelanggan ini penting karena, produk akan gagal pasar sekalipun produk tersebut sangat bagus manakala para pelanggan tidak mengetahui akan peningkatan mutu produk.

Selanjutnya, perusahaan harus mendapatkan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan produk atau jasa. Perusahaan harus secara efektif untuk mendapatkan sumber daya tersebut. Umumnya, setidaknya ada empat jenis sumber daya atau faktor produksi bagi perusahaan, yaitu: tenaga manusia, fisik, finansial dan sumber informasi.

Untuk menggunakan sumber daya yang ada atau apapun jenis produk atau jasa yang dihasilkan dan jenis sumber daya yang masuk dalam proses produksi, keseluruhan proses harus dikelola secara secara efektif dan efisien. Karena bagaimanapun, dengan sumber daya yang terbaik pun apabila berujung pada pemborosan, akan terjadi pengelolaan yang tidak efektif dan efisien.

  • Melakukan evaluasi dan perubahan. Setiap stakeholder perusahaan tentunya menginginkan umur perusahaannya awet sepanjang waktu, bahkan dapat diwariskan kepada anak, cucu, cicit dan seterusnya. Bahkan semakin lama umur perusahaan, akan semakin banyak pihak yang merasakan kualitas dari produknya. Kunci dari survive nya perusahaan sepanjang waktu adalah adanya evaluasi dan penerimaan perusahaan terhadap setiap perubahan yang terjadi.

 Para manajer harus secara kontinyu melakukan evaluasi atas hasil-hasil kinerja dan secara gradual mengadakan perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan hasil-hasil tersebut dan memenuhi tuntutan yang baru. Manajer harus secara terus menerus mengetahui bagaimana kinerja perusahaan sehinggan dengan demikian manajer dapat mengambil langkah-langkah korektif jika diperlukan.

Gambar 9.5

 

Seringkali manajer menemukan keadaan di mana perusahaan sudah sesuai dengan target indikator keberhasilan. Akan tetapi, lingkungan bisnis amat bersifat kompleks dan secara terus menerus berubah. Sementara para kompetitor selalu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan, standar kualitas terus menerus ditingkatkan dan pengharapan karyawan terus meningkat.

Sebagai akibatnya, penyesuaian harus secara terus menerus dilakukan. Pengukuran merupakan hal yang sangat penting karena dengan pengukuran yang tepat, kita akan dapat menunjukkan di mana dilakukan penyesuaian.

Namun demikian, perubahan tidak dengan mudah dilakukan. Salah satu tantangan perusahaan adalah ketika ingin mengubah kebutuhan akan perubahan menjadi tindakan. Ada banyak pihak yang akan melakukan perubahan manakala perubahan dan pembaharuan dicanangkan. Dengan demikian diperlukan langkah kritis dalam merencanakan bagaimana perusahaan mendekati perubahan. Perubahan merupakan sebuah proses, hal inilah yang harus dipahami oleh pelaksana perusahaan.