Berpolitik = Menebar Jala Kebaikan

Saya kenal dunia politik praktis tahun 1998, yakni sejak saya menjadi simpatisan PKS. Ketika itu masih kuliah di Universitas Yarsi semester VII an.

Ada yg nanya: “Apa hasilnya setelah masuk PKS?” Saya katakan, hasil dlm pengertian aset duniawi TIDAK ADA, sering berkorban iya.

Tapi, saya mendapatkan pencerahan ruhani yg amat luar biasa. Di PKS itu keren. Kita tdk dengan serta merta melupakan asal organisasi sblmnya. Saya yg berasal dari NU, tetap tdk hilang warna NU nya, begitu juga teman2 yg berasal dari Muhammadiyah, Persis, Alwasliyah dll.

Proses tarbiyah (pendidikan) yg ada dlm sistem di PKS membuat saya dan teman2 menjd org yg tdk saja kenal dg politik praktis, tapi juga menjd org yg sedikit demi sedikit mengenal agamanya dg baik dan menyeluruh.

Di PKS, kita dilarang jumud, dilarang menginginkan apalagi memperebutkan jabatan, dilarang mencari duit dg jabatannya, dilarang mengumbar konflik keluar dan kita dipecut utk selalu berusaha melakukan amal apapun sesuai kemampuan.

Jika kita masuk politik semata utk mencari uang atau aset, maka CELAKA lah kita.

Berpolitik itu adalah salah satu sarana berbuat kebaikan utk masyarakat.

#berkhidmat utk rakyat

Ajaibnya Rasa Sakit

Saudaraku…

Kritik kadang membuat rasa hati ini sakit. Tetapi, dengan sakit itu kita bisa memperbaiki kualitas diri.

Perumpamaan, seandainya kaki terantuk batu terjal dan berdarah, maka kita akan buru-buru mencari obat dan dokter dikarenakan kita merasakan sakit.

Andai kita tidak merasakan sakit atas luka di kaki, maka kita tidak akan berusaha mencari obat dan dokter. Pada akhirnya, kaki kita perlahan membusuk dan dengan terpaksa diamputasi agar tdk menjalar ke bagian tubuh yg lain.

Disitulah ajaibnya rasa sakit, bisa memperbaiki kualitas hidup kita.

Jadi… jangan alergi apalagi gengsi dengan setiap kritikan, apalagi kritik itu datangnya dari saudara kita.

Buku “Akuntansi Tingkat Dasar, Dilengkapi dg Akuntansi bagi Organisasi Pengelola Zakat”

Cover1

Judul Buku: AKUNTANSI TINGKAT DASAR, Dilengkapi dg Akuntansi bagi Organisasi Pengelola Zakat
Karya: Ais Zakiyudin, SE, MM
Investasi: Rp.55.000,- (ongkir jabodetabek hanya + 10 ribu)
Tebal buku: 172 halaman.

Isi buku diantaranya:
1. Bgmn membuat laporan keuangan perusahaan jasa
2. Akuntansi bagi perusahaan dagang
3. Akuntansi perusahaan manufaktur
4. Cara membuat jurnal khusus
5. Buku besar pembantu
6. Membuat neraca lajur
7. Membuat laporan keuangan
8. Akuntansi bagi organisasi pengelola zakat, dll

Insya Alloh kerajaan bisnis anda maju pesat, krn telah membantu membiayai pendidikan anak yatim.

Seluruh keuntungan penjualan buku ini akan didonasikan utk anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia.

Saat ini ada 5 anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia dan dijamin GRATIS FULL sampai lulus Kelas 6.

Pemesanan, hubungi: Ais 081289584947 (WA)

Buku “Manajemen Bisnis”

Cover depan

Judul Buku: MANAJEMEN BISNIS
Karya: Ais Zakiyudin, SE, MM
Investasi: Rp.65.000,- (ongkir jabodetabek hanya + 10 ribu)
Tebal buku: 204 halaman.

Isi buku diantaranya:
1. Fungsi manajemen
2. Bentuk perusahaan
3. Tantangan organisasi
4. Kewirausahaan
5. Syarat sukses wirausaha
6. Melatih jiwa wirausaha sejak dini
7. Manajemen keuangan bisnis
8. Pengelolaan sdm
9. Strategi pemasaran
10. Menghadapi persaingan bisnis
11. Strategi pengembangan bisnis
12. Manajemen usaha ritel, dll.

Insya Alloh kerajaan bisnis anda maju pesat, krn telah membantu membiayai pendidikan anak yatim.

Seluruh keuntungan penjualan buku ini akan didonasikan utk anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia.

Saat ini ada 5 anak yatim yg bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia dan dijamin GRATIS FULL sampai lulus Kelas 6.

Pemesanan, hubungi: Ais 081289584947 (WA)

Jujur dalam Bermuamalah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkannya ke dalam surga.
Dan seseorang yang senantiasa berlaku jujur, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan (sebaliknya) sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkannya pada kejahatan.
Sementara kejahatan tersebut akan mengantarkan nya masuk ke dalam neraka. Dan seseorang yang selalu berkata kata dusta, maka ia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari)

Hikmah Hadits :

❣1. Pentingnya bertutur kata yang benar dan jujur serta keharusan menghindarkan diri dari perkataan yang kotor dan dusta. Karena ternyata kejujuran merupakan pintu gerbang menuju segala bentuk kebaikan. Sementara kebaikan, merupakan jembatan untuk menuju surga.

❣2. Sebaliknya, dusta merupakan salah satu bentuk dosa besar, yang oleh karenanya harus ditinggalkan dan dihindarkan sejauh-jauhnya dalam segala aspek kehidupan. Karena ternyata kedustaan merupakan pintu gerbang menuju pada kejahatan.

Sementara kejahatan merupakan jembatan yang
akan mengantarkan pelakunya menuju ke dalam kobaran api neraka, na’udzu billahi min dzalik.

❣ 3. Predikat, apakah seseorang itu sebagai orang yang jujur atau ataupun orang yang dusta (pendusta), adalah tergantung perilaku dan kebiasaan orang tersebut. Jika ia terbiasa jujur dalam setiap perkataannya dan di setiap kesehariannya, maka ia akan “di cap” sebagai orang yang jujur.

Sebaliknya, jika ia terbiasa bertuturkata kasar dan dusta dalam kehidupan dan kesehariannya, maka ia akan “di cap” sebagai pendusta.

Mudah-mudahan Allah Swt memasukkan kita semua ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang jujur (shiddiqin)… (Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag)

Amiiin Ya Rabbal Alamin..

Wallahu A’lam bis Shawab

Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com

Tantangan Organisasi

Pertumbuhan Organisasi

Sebuah perusahaan (corporate growth) dapat tumbuh setidaknya melalui dua pintu, yaitu tumbuh secara internal melalui efisiensi operasional yang lebih tinggi sehingga mengalami perkembangan yang diinginkan, atau melalui cara menguasai atau mengakuisisi perusahaan-perusahaan lain, biasanya perusahaan-perusahaan yang menjadi pesaingnya.

Dua macam pertumbuhan yang semakin penting adalah merger dan konglomerat.

  • Merger. Adalah pembelian sebuah bisnis oleh sebuah bisnis lain yang serupa, di mana perusahaan pembeli mempertahankan independensi dan dominasinya. Kalau sebagian besar atau seluruh saham dari sebuah perusahaan lainnya, disebut anak perusahaan (subsidiary) dari perusahaan lain, sedangkan perusahaan yang memiliki disebut perusahaan induk (parent company).

 Merger dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. Merger Horizontal, yaitu merger yang dilakukan dengan cara membeli perusahaan-perusahaan pesaing dalam industri yang sama sebagai langkah untuk menjadi perusahaan berskala besar. Salah satu tujuan dari merger semacam ini adalah untuk mengurangi persaingan.
  2. Merger Vertikal, adalah merger yang dilakukan dengan cara membeli perusahaan lain yang menjadi pemasok (suppliers) atau pelanggannya (customers). Merger dengan cara ini bertujuan untuk mengamankan jalur bahan baku dan pasar dari produk perusahaan.
  • Konglomerat. Konglomerasi merupakan hasil dari penggabungan (merging) dari dua atau lebih perusahaan yang beroperasi dalam industri-industri yang sepenuhnya berbeda dan tidak berkaitan satu sama lain.

Menuju Keberhasilan Usaha

Untuk menuju tangga keberhasilan, sampai pada tingkatan tertentu setiap perusahaan memiliki jalan atau cara yang khas yang digunakan untuk mencapai keberhasilan. Akan tetapi, ternyata ada beberapa kesamaan atau kemiripan pada cara yang dilewati oleh semua perusahaan yang berhasil.

Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang produknya unggul dibandingkan dengan produk kompetitornya. Keunggulan tersebut haruslah bertahan dalam waktu yang lama atau dalam jangka waktu yang panjang. Manajer pada setiap perusahaan harus membuat keputusan yang mendasarkan pertimbangan-pertimbangan yang cermat mengenai apa yang harus ditempuh agar berhasil dan lingkungan bisnis yang dihadapi oleh perusahaan.

Jalan menuju keberhasilan usaha setidaknya ada lima unsur, yaitu :

  • Visi dan Misi perusahaan. Adalah sebuah grand design perusahaan yang dengannya pemimpin perusahaan berupaya untuk memberikan potret besar mengenai apa yang sesungguhnya akan dikerjakan dan akan menjadi seperti apa yang diharapkan. Pemimpin harus menginventarisir mengenai kemungkinan masa depan perusahaan yang dikehendaki. Dengan memiliki visi, pemimpin kemudian menyatakan mengapa perusahaan harus eksis ditengah persaingan sengit dan apa yang akan dikerjakan oleh perusahaan. Selain menetapkan sifat dan arah dari bisnis, visi dan misi juga mengindikasikan fokus relatif dari kelima indikator kunci keberhasilan perusahaan.

Gambar 9.1

  • Indikator Keberhasilan. Pembuat keputusan haruslah melihat hasil yang diinginkan atau indikator keberhasilan perusahaan. Pada gambar di bawah ini menunjukkan setidaknya ada lima macam indikator utama atau dengan kata lain sesuatu yang harus diperjuangkan untuk dicapai para pemimpin perusahaan. Setiap indikator dipandang penting karena sebuah perusahaan tidak bisa disebut berhasil apabila tidak mampu mencapai hasil-hasil yang memadai dari lima bidang tersebut. Kelima indikator tersebut adalah : kinerja keuangan, kebutuhan pelanggan, kualitas produk, kreativitas dan inovasi produk dan komitmen karyawan.

Gambar 9.2

 

Indikator-indikator keberhasilan tersebut merupakan indikator yang penting bagi perusahaan. Namun demikian, setiap perusahaan umumnya memiliki skala prioritas atau penekanan pada beberapa bidang indikator tertentu dibandingkan dengan indikator lainnya.

  • Identifikasi Pasar yang akan Dimasuki. Tahap selanjutnya ialah mengidentifikasi pasar yang akan menjadi segmen pasar yang akan dimasuki dengan cara melakukan penelitian dan pengkajian lingkungan perusahaan. Setiap informasi mengenai lingkungan bisnis dan dampaknya diperlukan manajer dalam pengambilan keputusan yang komprehensif. Kelima kekuatan kunci lingkungan pasar adalah : trend keinginan pelanggan, kekuatan ekonomi, globalisasi, hukum dan peraturan yang berlaku dan struktur industri, sebagaimana dilihat pada Gambar 9-3.

Gambar 9.3

bisnis yang merupakan pasar potensial terdiri dari faktor-faktor yang amat dapat mempengaruhi bisnis di mana perusahaan sedikit sekali dapat mengendalikannya. Para pengambil keputusan harus memahami sifat lingkungan di mana perusahaan beroperasi. Mereka harus menyadari variabel-variabel kritis dalam trend pasar dan memahami pergeseran serta pola yang terjadi.

Di sinilah sebenarnya para manajer diuji. Mereka tidak hanya dituntut untuk sadar akan kekuatan-kekuatan lingkungan pasar saja, tetapi juga harus mampu menilai dan mengambil potensi dari lingkungan tersebut terhadap bisnis.

  • Memberikan keunggulan produk. Pemikiran yang strategis harus mulai dilakukan oleh manajer, karena bagaimanapun arah strategis perusahaan tidak terjadi dengan serta merta. Arah ini harus dirumuskan melalui analisis lingkungan yang cermat dan seyogyanya tetap berpijak pada indikator-indikator keberhasilan bisnis. Dengan landasan strategis ini manajer dapat memfokuskan perhatiannya pada penciptaan nilai atas setiap produk atau jasa yang dijual kepada pelanggan. Para pemimpin harus mempelajari kebutuhan dan keinginan para pelanggan agar dapat menghasilkan produk atau jasa yang dapat memberikan kepuasan tertinggi kepada pelanggan.

Gambar 9.4

Fokus dalam pengembangan produk adalah kualitas produk dan proses yang memadai. Pengembangan kualitas produk ini amat penting artinya bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan menentukan akan kemampuan untuk bersaing secara efektif. Setelah proses peningkatan kualitas produk sudah dilakukan, maka tugas selanjutnya para manajer adalah melakukan komunikasi intensif dengan pelanggan agar mereka mengetahui perkembangan baik atas produk yang selama ini mereka pakai. Pengkomunikasian kepada pelanggan ini penting karena, produk akan gagal pasar sekalipun produk tersebut sangat bagus manakala para pelanggan tidak mengetahui akan peningkatan mutu produk.

Selanjutnya, perusahaan harus mendapatkan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan produk atau jasa. Perusahaan harus secara efektif untuk mendapatkan sumber daya tersebut. Umumnya, setidaknya ada empat jenis sumber daya atau faktor produksi bagi perusahaan, yaitu: tenaga manusia, fisik, finansial dan sumber informasi.

Untuk menggunakan sumber daya yang ada atau apapun jenis produk atau jasa yang dihasilkan dan jenis sumber daya yang masuk dalam proses produksi, keseluruhan proses harus dikelola secara secara efektif dan efisien. Karena bagaimanapun, dengan sumber daya yang terbaik pun apabila berujung pada pemborosan, akan terjadi pengelolaan yang tidak efektif dan efisien.

  • Melakukan evaluasi dan perubahan. Setiap stakeholder perusahaan tentunya menginginkan umur perusahaannya awet sepanjang waktu, bahkan dapat diwariskan kepada anak, cucu, cicit dan seterusnya. Bahkan semakin lama umur perusahaan, akan semakin banyak pihak yang merasakan kualitas dari produknya. Kunci dari survive nya perusahaan sepanjang waktu adalah adanya evaluasi dan penerimaan perusahaan terhadap setiap perubahan yang terjadi.

 Para manajer harus secara kontinyu melakukan evaluasi atas hasil-hasil kinerja dan secara gradual mengadakan perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan hasil-hasil tersebut dan memenuhi tuntutan yang baru. Manajer harus secara terus menerus mengetahui bagaimana kinerja perusahaan sehinggan dengan demikian manajer dapat mengambil langkah-langkah korektif jika diperlukan.

Gambar 9.5

 

Seringkali manajer menemukan keadaan di mana perusahaan sudah sesuai dengan target indikator keberhasilan. Akan tetapi, lingkungan bisnis amat bersifat kompleks dan secara terus menerus berubah. Sementara para kompetitor selalu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan, standar kualitas terus menerus ditingkatkan dan pengharapan karyawan terus meningkat.

Sebagai akibatnya, penyesuaian harus secara terus menerus dilakukan. Pengukuran merupakan hal yang sangat penting karena dengan pengukuran yang tepat, kita akan dapat menunjukkan di mana dilakukan penyesuaian.

Namun demikian, perubahan tidak dengan mudah dilakukan. Salah satu tantangan perusahaan adalah ketika ingin mengubah kebutuhan akan perubahan menjadi tindakan. Ada banyak pihak yang akan melakukan perubahan manakala perubahan dan pembaharuan dicanangkan. Dengan demikian diperlukan langkah kritis dalam merencanakan bagaimana perusahaan mendekati perubahan. Perubahan merupakan sebuah proses, hal inilah yang harus dipahami oleh pelaksana perusahaan.

Pengaruh Disiplin Terhadap Kinerja Karyawan

 

ABSTRAK

Perusahaan dituntut untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan. Oleh karenanya, daya saing, kinerja dan mutu yang baik dari semua sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, khususnya sumber daya manusia (SDM) yang bermutu. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia. Manusia mempunyai daya pikir, analisa dan kreatifitas untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasi-kan, dan mengontrol segala sesuatu sesuai dengan fungsinya dalam manajemen.

Perusahaan memiliki tantangan agar dapat menggerakkan dan mengendalikan karyawan agar mau bekerja sesuai dengan harapan perusahaan. Pekerjaan ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Karena faktanya banyak perusahaan mengalami kesulitan dalam membangun sumber daya manusianya untuk bergerak sesuai dengan keinginan perusahaan. Hal ini dikarenakan manusia adalah mahluk yang memiliki preferensi, keinginan, mempunyai perasaan, cita-cita dan harapan yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Disiplin pada dasarnya adalah mencerminkan sejauh mana tanggung jawab yang dimiliki seseorang dalam menjalankan tugas-tugasnya yang diberikan kepadanya. Disiplin kerja diartikan antara lain jika karyawan selalu datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu, melaksanakan perintah atasan, dan mematuhi semua peraturan perusahaan dan norma-norma yang berlaku.

Karyawan sebagai sumberdaya utama perusahaan dituntut untuk memberikan kinerja yang optimal untuk perusahaan. Sumber daya manusia memiliki peranan yang besar terhadap kesuksesan perusahaan dalam pencapaian tujuannya. Sumber daya manusia mempunyai fungsi mengelola input yang dimiliki perusahaan secara maksimal untuk mendapatkan hasil yang diharapkan oleh perusahaan.

ABSTRACT

Companies are required to be able to survive and win the competition . Therefore , the competitiveness , performance and good quality from all sources owned by the company , particularly the human resources ( HR ) quality . Humans are creatures of God’s most perfect in the world . Humans have the power of thought , analysis and creativity to plan , organize , actualize , and controls everything according to function in management .

 The company has a challenge in order to move and control the employees to want to work in accordance with the company’s expectations . This work is not something very easy to do . Due to the fact that many companies have difficulty in building human resources to move in accordance with the wishes of the company . This is because humans are creatures who have preferences , desires , have feelings , ideals and expectations that differ between human beings with each other .

 Discipline is basically reflects the extent of responsibility that one has to carry out tasks assigned to him . Labor discipline is defined , among others, if the employee always come and go home on time , doing all the job well and on time, carrying out orders from superiors, and comply with all company rules and norms apply .

Employees as a major resource companies are required to provide optimal performance for the company . Human resources has a major role to the company’s success in achieving its objectives. Human resources function has to manage the company’s input to the maximum to get the results expected by the company.


  1. PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia. Manusia mempunyai daya pikir, analisa dan kreatifitas untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasi-kan, dan mengontrol segala sesuatu sesuai dengan fungsinya dalam manajemen. Sehingga perusahaan dapat berkembang dengan optimal yang selalu melakukan perbaikan dan pengembangan secara efektif dan efisien dalam segala hal untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan pada era persaingan bebas.

Menggerakkan dan mengendalikan manusia agar mau bekerja sesuai dengan harapan perusahaan bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini dikarenakan manusia adalah mahluk yang memiliki preferensi, keinginan, mempunyai perasaan, cita-cita dan harapan yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Berbagai cara ditempuh oleh perusahaan untuk mengatur manusia agar mau bekerja dengan harapan perusahaan yaitu melalui penegakkan disiplin atas karyawan-karyawannya.
Disiplin pada dasarnya adalah mencerminkan sejauh mana tanggung jawab yang dimiliki seseorang dalam menjalankan tugas-tugasnya yang diberikan kepadanya. Disiplin kerja diartikan jika karyawan selalu datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu, melaksanakan perintah atasan, dan mematuhi semua peraturan perusahaan dan norma-norma yang berlaku. Disiplin kerja yang tinggi akan meningkatkan produktivitas kerja seorang karyawan. Jika perusahaan memiliki karyawan yang mempunyai disiplin tinggi tetapi tidak menunjukkan kinerja yang baik maka teknologi maju yang dimiliki perusahaan tidak akan menghasilkan produk yang bermutu secara optimal. Perusahaan menginginkan tenaga kerja yang berkualitas dan produktif sehingga perusahaan dapat maju dengan pesat dan mampu bersaing di era persaingan bebas.

Perusahaan melakukan beberapa langkah untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Salah satu langkah yang diambil perusahaan yaitu dengan membangun program pelatihan karyawan secara berkesinambungan dan sistematis. Program yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis konseptual dan moral karyawan agar produktivitas kerja menjadi baik dan mencapai hasil yang maksimal.

Setelah program pelatihan dilaksanakan,  perusahaan  melakukan penilaian secara berkala atas kinerja karyawan, apakah produktivitas kerja yang dicapai oleh seorang karyawan telah memenuhi standar perusahaan.  Dengan adanya penilaian kerja tersebut, tidak menutup kemungkinan karyawan tersebut akan dipromosikan bahkan tidak menutup kemungkinan diberhentikan. Tujuannya adalah terutama dalam rangka mendorong karyawan agar lebih giat dalam bekerja sehingga dapat memenuhi kebutuhannya.
Untuk menghadapi persaingan bebas yang semakin ketat dituntut disiplin karyawan untuk meningkatkan produktifitas secara optimal, setiap sumber daya manusia dituntut untuk dapat melaksanakan semua tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin, bekerja dengan cepat, tepat sesuai harapan yang dituju dan bermanfaat bagi perkembangan perusahaan. Sehingga menghasilkan kinerja karyawan yang baik dan mempercepat pencapaian tujuan perusahaan secara efektif dan efisien.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

Disiplin diri adalah sikap patuh kepada waktu dan peraturan yang ada. Dari pengertian diatas kita  dapat menyimpulkan bahwa disiplin itu mengandung  dua makna yaitu patuh waktu dan juga peraturan atau tata tertib. Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar.

Dari kata ini timbul kata “Disciplina” yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.

Disiplin menurut Hasibuan, Dasar dan Kunci Keberhasilan (1997:212) sebagai berikut : “Disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku”. Kesadaran adalah sikap seseorang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggug jawabnya, jadi ia akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik, bukan dengan paksaan. Kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang sesuai dengan peraturan perusahaan baik tertulis maupun tidak tertulis. Jadi seseorang akan bersedia mematuhi semua peraturan serta melaksanakan tugas-tugasnya baik secara sukarela maupun karena terpaksa.

Goerge F. Terry mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata.

Menurut James AF. Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Sedangkan menurut Mary Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut definisi ini, manajer mencapai tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaanya. Manajer tidak mengerjakan sendiri semua tugas-tugasnya (Ais Zakiyudin, 2012:17).

Sumber daya manusia (SDM) merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi.

Manajemen sumber daya manusia menurut AA. Anwar Prabumangkunegara (2000:129) adalah suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.
Manajemen sumber daya manusia dapat pula didefinisikan sebagai suatu pengelolaan, dan pendayagunaan tersebut dikembangkan secara maksimal didalam dunia kerja untuk mencapai tujuan organisasi dan pengembangan individu pegawai.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen, (1) mempunyai tujuan yang ingin dicapai, (2) merupakan perpaduan antara ilmu dan seni, (3) merupakan proses yang sistematis, terkoordinasi, kooperatif, dan terintegrasi dalam memanfaatkan unsur-unsumya, (4) dapat diterapkan jika ada dua orang atau lebih melakukan kerjasama dalam suatu organisasi, (5) didasarkan pada pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab, (6) manajemen alat untuk mencapai tujuan.

Kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000:67) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sedangkan  menurut Ambar Teguh Sulistiyani (2003:223) “Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”. Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34) mengemukakan “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.

Barry Cushway (2002:1998) mengatakan “Kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah ditentukan”. Veitzal Rivai (2004:309) mengemukakan kinerja adalah “merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan”.

  III. METODE PENELITIAN

 Studi literatur. Dilakukan dengan membaca buku literatur tentang bagaimana menumbuhkan jiwa kewirausahaan terutama kaitannya dengan menumbuhkan jiwa wirausaha secara berkelanjutan yang dimulai sejak masa kanak-kanak.

  1. Observasi dilakukan dalam bentuk observasi non perilaku yaitu dengan mengambil data-data sekunder yang terdapat di buku-buku dan internet yang ada dan kemudian menganalisa data tersebut.
  2. Pengambilan kesimpulan. Setelah proses analisa telah selesai dilakukan, maka dilakukan pengambilan kesimpulan dengan cara menarik kesimpulan dari analisa data dilakukan sebelumnya.
  1. HASIL PEMBAHASAN

Sebagai suatu ilmu dan seni daripada perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengontrolan dalam hal pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian dan pemeliharaan sumber daya manusia secara terpadu sehingga sumber daya manusia yang ada bisa ditingkatkan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencapai efektifitas dan efisiensi perusahaan sehingga tujuan perusahaan, individu karyawan dan masyarakat bisa terwujud dengan baik.

Manajemen kepegawaian dan sumber daya manusia sangat penting bagi perusahaan dalam mengelola, mengatur dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi secara produktif dalam rangka tercapainya tujuan perusahaan.
Sumber daya manusia perlu dikelola secara profesional agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan pegawai dengan tuntutan dan kemampuan organisasi perusahaan. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama perusahaan agar dapat berkembang secara produktif dan wajar. Perkembangan usaha dan organisasi sangatlah bergantung pada produktivitas tenaga kerja yang ada di perusahaan.
Manajemen sumber daya manusia menurut A.A, Anwar Prabumangkunegara
(2000:129) adalah merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Manajemen sumber daya manusia dapat pula didefinisikan sebagai suatu pengelolaan, dan pendayagunaan tersebut dikembangkan secara maksimal dalam dunia kerja untuk mencapai tujuan organisasi dan pengembangan individu pegawai.
Kita dapat mengambil kesimpulan dari berbagai pendapat mengenai manajemen sumber daya manusia bahwa manajemen sumber daya manusia adalah  suatu ilmu atau seni yang merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan, pemberian kompensasi dan mengawasi terhadap pengadaan, pengembangan dan pemeliharaan sumber daya manusia, agar dapat ditingkatkan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencapai efektivitas dan efisiensi para karyawan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

Dengan pengaturan sumber daya manusia secara profesional, diharapkan pegawai bekerja secara produktif. Pengelolaan pegawai secara professional tentunya harus dimulai sejak perekrutan pegawai, penyeleksian, pengklasifikasian, penempatan pegawai sesuai dengan kemampuan, penataran dan pengembangan karirnya.

Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang telah diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja dan mendukung terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Disiplin dapat diartikan bilamana karyawan selalu datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, mematuhi semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.

Peraturan sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi karyawan, dalam menciptakan tata tertib yang baik di perusahaan, karena dengan tata tertib maka semangat kerja, moral kerja, efisiensi dan efektivitas kerja karyawan akan meningkat. Hal ini akan mendukung tercapainya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Jelasnya perusahaan sulit mencapai tujuan jika karyawan tidak mematuhi peraturan-peraturan perusahaan tersebut. Kedisiplinan suatu perusahaan dikatakan balk jika sebagian besar karyawan mentaati peraturan-peraturan yang ada.

Hukuman atau sanksi diperlukan dalam meningkatkan kedisiplinan. Hal ini dikarenakan hukuman merupakan salah satu cara untuk mendidik para karyawan agar berperilaku mentaati semua peraturan perusahaan. Peraturan yang diberlakukan tanpa dibarengi pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punish) yang tegas bagi pelanggarnya tidak akan menjadi alat pendidik yang efektif bagi karyawan.

Perlu diperhatikan juga bahwa, dalam rangka menegakkan disiplin tidak cukup hanya dengan memberikan ancaman-ancaman tetapi perlu diimbangi dengan tingkat kesejahteraan yang cukup, baik gaji yang sesuai maupun bonus-bonus bagi karyawan agar kehidupan mereka lebih sejahtera yang pada akhirnya karyawan akan melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Kedisiplinan pada hakikatnya pembatasan kebebasan dari karyawan dengan kata lain disiplin bukan hanya untuk kedisiplinan kerja saja tetapi pada intiya untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan.
Faktor yang Mempengaruhi Disiplin

Sesungguhnya banyak faktor yang dapat  mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan suatu perusahaan. Di antara faktor tersebut adalah:

  1. Tujuan dan Kemampuan

Tujuan yang ingin dicapai perusahaan harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan harus sesuai dengan kemampuan karyawan yang bersangkutan agar karyawan dapat bekerja sungguh-sungguh dan berdisiplin baik untuk mengerjakannya.

 

  1. Teladan Pimpinan

Pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh karyawan oleh karena itu pimpinan harus memberi contoh yang baik dan berdisiplin tinggi, jujur, adil, dan bekerja keras.

  1. Ba1as Jasa

Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan karyawan, karena balas jasa akan memberi kepuasan dan kecintaan terhadap perusahaan atau pekerjaan. Jika kecintaan terhadap pekerjaan semakin baik maka kedisiplinan akan semakin tinggi.

  1. Keadilan

Sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan ingin diperlakukan sama dengan manusia lainnya menjadikan keadilan sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan disiplin kerja. Pimpinan yang baik selalu berusaha bersikap adil terhadap semua karyawannya. Hal ini dikarenakan pimpinan sangat menyadari kaitan langsung antara keadilan yang diterima karyawan akan mencptakan kedisiplinan kerja yang baik.

  1. Pengawasan

Pengawasan merupakan tindakan yang nyata dan efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan yang bertujuan untuk memastikan adanya kedisiplinan yang dimiliki karyawan. Dalam hal ini pimpinan harus secara aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja karyawannya. Pengawasan yang efektif akan menjadi stimulus adanya kedisiplinan dan moral kerja karyawan. Hal ini dikarenakan karyawan akan merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk, pengarahan, dan pengawasan dari pimpinannya. Pengawasan juga bertujuan untuk mencari sistem-sistem kerja yang lebih efektif untuk mencapai tujuan perusahaan.
f . Sanksi Hukum

Dengan adanya sanksi hukuman, karyawan akan berfikir ulang untuk melanggar peraturan-peraturan perusahaan sehingga sikap dan perilaku indisipliner karyawan akan berkurang.

 

  1. Ketegasan Pemimpin

Pemimpin harus berani bertindak tegas untuk menghukum atau memberi sanksi kepada siapapun  karyawan yang bersikap indisipliner.

  1. Menciptakan Hubungan Kemanusiaan

Membangun hubungan kemanusiaan yang harmonis antar sesama karyawan dan pimpinan ikut menciptakan disiplin kerja yang baik pada suatu perusahaan. Pimpian harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun horizontal diantara semua karyawan.

 

Disiplin yang terbaik adalah disiplin diri, yaitu disiplin yang muncul dari dalam diri manusia itu sendiri. Karena sebagian besar orang memahami apa yang diharapkan dan dirinya di pekerjaan, dan biasanya karyawan diberi kepercayaan untuk menjalankan pekerjaannya secara efektif. Namun demikian tidak sedikit karyawan memerlukan disiplin dari ekstemal untuk membantu memacu disiplin diri mereka. Filosofi ini telah menghasilkan perkembangan pendekatan disiplin positif.
Pendekatan disiplin positif adalah pendekatan yang dibangun berdasarkan filosofi bahwa pelanggaran merupakan tindakan yang biasanya dapat dikoreksi secara konstruktif tanpa perlu adanya hukuman.

Langkah-langkah Disiplin

 

  1. Konseling

Pimpinan mengidentifikasi gangguan perilaku kerja karyawan dan mendiskusikan solusinya. Tujuan konseling ini adalah untuk meningkatkan kesadaran karyawan terhadap kebijakan dan peraturan perusahaan. Kadangkala orang hanya perlu disadarkan akan peraturan perusahaan.

  1. Dokumentasi Tertulis

Jika konseling belum efektif maka tahap kedua diberlakukan. Pada tahap ini karyawan dan pimpinan menyusun solusi tertulis untuk mencegah munculnya persoalan yang lebih jauh.

  1. Peringatan Terakhir

Ketika kedua tahap diatas belum juga mengubah perilaku karyawan maka akan diberikan peringatan terakhir yang menekankan kepada karyawan tentang pentingnya koreksi terhadap tindakan karyawan yang tidak tepat. Beberapa perusahaan membuat keputusan satu hari (decision-day off) dimana karyawan diberikan satu hari libur dengan tetap menerima gaji dan diberikan rencana kerja perusahaan secara tertulis untuk memberi kesan kepada si pelanggar tentang seriusnya persoalan dan ketetapan hati manajemen untuk melihat perilaku karyawan tersebut dapat berubah sesuai kepentingan perusahaan.

  1. Pemberhentian

Jika karyawan gagal mengikuti rencana kerja perusahaan yang telah disusun, maka pihak manajemen berhak memberhentikan karyawan tersebut.
Kekuatan pendekatan positif dalam disiplin ini fokusnya adalah pada pemecahan masalah, juga karena karyawan merupakan partisipasi aktif dalam kegiatan perusahaan, maka perusahaan yang menggunakan pendekatan ini cenderung memenangkan tuntutan hukum jika karyawan mengajukan tuntutan. Sedangkan kelemahan dalam pendekatan ini adalah diperlukannya jumlah waktu yang sangat lama untuk melatih para pimpinan agar bisa menjadi konselor yang efektif.

 

Kinerja
Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

 

Kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000:67) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sedangkan  menurut Ambar Teguh Sulistiyani (2003:223) “Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”. Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34) mengemukakan “kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.

 

Barry Cushway (2002:1998) mengatakan “Kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah ditentukan”. Veitzal Rivai (2004:309) mengemukakan kinerja adalah “merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan”.

Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu kebijakan operasional. Individu yang memiliki kinerja yang tinggi memiliki beberapa karakteristik, yaitu diantaranya: (a) berorientasi pada prestasi, (b) memiliki percaya diri, (c) berpengendalian diri, (d) kompetensi.

Keberhasilan perusahaan tidak akan pernah bisa lepas dari sistem manajemen yang baik. manajemen itu sendiri merupakan sistem pengontrol yang akan mengarahkan kemana tujuan perusahaan akan di bawa. Jika sistem manajemen organisasi adalah sistem yang baik, maka pastinya akan membanwa keberhasilan untuk organisasi atau perusahaan itu sendiri. Itulah sebabnya perusahaan sangat membutuhkan pengembangan manajemen kinerja yang efektif untuk membantu mewujudkan visi dan misi perusahaan. Tujuan dari pengembangan manajemen kinerja yang efektif itu sendiri diharapkan akan mampu memperbaiki sistem manajemen yang kurang baik. Selain itu pengembangan manajemen ini juga bertujuan untuk membantu memperbaiki kinerja karyawan yang mungkin kurang maksimal.

 

Padahal dibalik bakat yang dimiliki oleh para karyawan sangat mungkin menghasilkan inovasi yang besar hingga akhirnya mampu mengantarkan perusahaan menuju keberhasilan tertinggi.  Bagaimanpun juga karyawan merupakan bagian penting yang akan menjalankan manajemen perusahaan. Pentingnya peran manajemen itulah, pengembangan manajemen kinerja yang efektif sangat dieprlukan. Dengan harapan, karyawan yang dimiliki oleh perusahaan adalah sumber daya manusia yang memiliki motivasi dan kinerja yang bagus, sehingga pada akhirnya apa yang menjadi tujuan perusahaan bisa tercapai dengan baik.

 

Ada beberapa bagian yang terjadi pada pengembangan manajemen kinerja yang efektif, diantaranya adalah :

 

  1. Evaluasi

Evaluasi ini dibutuhkan untuk mepersiapkan manajer yang mampu menjalankan tugasnya secara maksimal.

Dalam hal ini manajer dengan penilaian multi umpan balik dengan mengamati orang-orang penting dalam organisasi akan menjadi motivasi tersendiri bagi setiap manajer. Misalnya ketika mereka mengamati karyawan, atasan, atau mungkin rekan kerja lainnya akan menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam membuat keputusan. Jadi jika selama ini sang manajer merasa kinerjanya kurang bagus maka akan termotivasi untuk berubah ketika melihat orang-orang yang ada di sekitarnya.

 

  1. Analisa

Sedangkan analisis ini merupakan tahapan yang harus dilakukan oleh seorang manajer untuk mengetahui kondisi individu atau mungkin anggota organisasi. Analisa ini merupakan motivator yang sangat efektif untuk perusahaan khususnya para manager dalam mewujudkan kinerja manajer dan karyawan yang labih baik. Melalui proses analisa ini juga akan membantu mempererat hubungan dan komunikasi antara manager dan anggotanya yang pastinya akan mempererat hubungan kerja mereka.

 

Dengan demikan, suatu organisasi akan terjalin lebih erat untuk bersama-sama membangun organisasi atau perusahaan menuju yang lebih baik.

 

Pengembangan Manajemen

Program manajemen yang terorganisir dengan baik akan memperbaiki kinerja secara lebih efektif. Pengembangan manajemen ini memang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja dengan harapan perusahaan bisa mencapai hasil yang lebih baik. Bagaimanapun juga praktek manajemen kinerja yang tidak efektif akan berdampak pada kinerja yang buruk. Akibatnya, kondisi ini bisa berdampak negatif untuk perkembangan perusahaan. Hal-hal yang perlu dinilai dalam membangun kinerja secara efektif diantaranya adalah : komunikasi, tugas manajemen, efisiensi, pengembangan pribadi, motivasi dan lain sebagainya.

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2001:82) faktor-faktor yang memengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu: 1.Kemampuan mereka, 2.Motivasi, 3.Dukungan yang diterima, 4.Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan 5.Hubungan mereka dengan organisasi. Berdasarkaan pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi. menurut Mangkunegara (2000) menyatakan bahwa faktor yang memengaruhi kinerja antara lain : a.

Faktor kemampuan Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu dtempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahlihannya. b. Faktor motivasi Motivasi terbentuk dari sikap (atitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situasion) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal. David C. Mc Cleland sebagaimana dikutip Mangkunegara (2001 : 68), berpendapat bahwa “Ada hubungan yang positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kerja”. Motif berprestasi dengan pencapaian kerja. Motif berprestasi adalah suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.

Selanjutnya Mc. Clelland, mengemukakan 6 karakteristik dari seseorang yang memiliki motif yang tinggi yaitu : 1) Memiliki tanggung jawab yang tinggi 2) Berani mengambil risiko 3) Memiliki tujuan yang realistis 4) Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuan. 5) Memanfaatkan umpan balik yang kongkrit dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukan 6) Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogamkan Menurut Gibson (1987) ada 3 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja : 1)Faktor individu : kemampuan, ketrampilan, latar belakang keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi seseorang. 2)Faktor psikologis : persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja 3)Faktor organisasi : struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan, sistem penghargaan (reward system).

Menurut Kopelman (1988), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah: individual characteristics (karakteristik individual), organizational charasteristic (karakteristik organisasi), dan work characteristics (karakteristik kerja). Lebih lanjut oleh Kopelman dijelaskan bahwa kinerja selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan juga sangat tergantung dari karakteristik individu seperti kemampuan, pengetahuan, keterampilan, motivasi, norma dan nilai. Dalam kaitannya dengan konsep kinerja, terlihat bahwa karakteristik individu seperti kepribadian, umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan suku bangsa, keadaan sosial ekonomi, pengalaman terhadap keadaan yang lalu, akan menentukan perilaku kerja dan produktivitas kerja, baik individu maupun organisasi sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepuasan bagi pelanggan atau pasien.

Karakteristik individu selain dipengaruhi oleh lingkungan, juga dipengaruhi oleh: (1) karakteristik orgnisasi seperti reward system, seleksi dan pelatihan, struktur organisasi, visi dan misi organisasi serta kepemimpinan; (2) karakteristik pekerjaan, seperti deskripsi pekerjaan, desain pekerjaan dan jadwal kerja.

Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja (performance appraisal) pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien, karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi. Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan.

Penilaian kinerja adalah cara mengukur konstribusi individu (karyawan) kepada organisasi tempat mereka bekerja. Penilaian kinerja merupakan sebuah gambaran atau deskripsi yang sistematis tentang kekuatan dan kelemahan yang terkait dari seseorang atau suatu kelompok”. Menurut Bambang Wahyudi (2002 : 101) “penilaian kinerja adalah suatu evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis tentang prestasi kerja / jabatan seorang tenaga kerja, termasuk potensi pengembangannya”. Menurut Henry Simamora ( 338 : 2004 ) “ penilaian kinerja adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu karyawan”.

Tujuan Penilaian Kinerja

Menurut Syafarudin Alwi ( 2001:187 ) secara teoritis tujuan penilaian dikategorikan sebagai suatu yang bersifat evaluation dan development yang bersifat efaluation harus menyelesaikan : 1.Hasil penilaian digunakan sebagai dasar pemberian kompensasi 2.Hasil penilaian digunakan sebagai staffing decision 3.Hasil penilaian digunakan sebagai dasar meengevaluasi sistem seleksi. Sedangkan yang bersifat development penilai harus menyelesaikan : 1.Prestasi riil yang dicapai individu 2.Kelemahan- kelemahan individu yang menghambat kinerja 3.Prestasi- pestasi yang dikembangkan.

Manfaat Penilaian Kinerja

Kontribusi hasil-hasil penilaian merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi perencanaan kebijakan organisasi adapun secara terperinci penilaian kinerja bagi organisasi adalah : 1.Penyesuaian-penyesuaian kompensasi 2.Perbaikan kinerja 3.Kebutuhan latihan dan pengembangan 4.Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian dan perencanaan tenaga kerja. 5.Untuk kepentingan penelitian pegawai 6.Membantu diagnosis terhadap kesalahan desain pegawai

Kinerja yang baik adalah kinerja yang mengikuti tata cara atau prosedur sesuai standar yang telah ditetapkan. Akan tetapi didalam kinerja tersebut harus memiliki beberapa kriteria agar meningkatkan produktifitas sehingga apa yang diharapkan bisa berjalan sesuai apa yang di inginkan.
Untuk meningkatkan kinerja yang baik harus introspeksi diri demi tercapainya kinerja yang lebih baik kedepannya, bekerja sesuai posisi, porsi, dan jobnya masing-masing.

 

 

  1. KESIMPULAN

 

Untuk menghadapi persaingan bebas yang semakin ketat dituntut disiplin karyawan untuk meningkatkan produktifitas secara optimal, setiap sumber daya manusia dituntut untuk dapat melaksanakan semua tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin, bekerja dengan cepat, tepat sesuai harapan yang dituju dan bermanfaat bagi perkembangan perusahaan. Sehingga menghasilkan kinerja karyawan yang baik dan mempercepat pencapaian tujuan perusahaan secara efektif dan efisien.

 

Keberhasilan perusahaan tidak akan pernah bisa lepas dari sistem manajemen yang baik. manajemen itu sendiri merupakan sistem pengontrol yang akan mengarahkan kemana tujuan perusahaan akan di bawa. Jika sistem manajemen organisasi adalah sistem yang baik, maka pastinya akan membanwa keberhasilan untuk organisasi atau perusahaan itu sendiri. Itulah sebabnya perusahaan sangat membutuhkan pengembangan manajemen kinerja yang efektif untuk membantu mewujudkan visi dan misi perusahaan. Tujuan dari pengembangan manajemen kinerja yang efektif itu sendiri diharapkan akan mampu memperbaiki sistem manajemen yang kurang baik.

Penilaian kinerja (performance appraisal) pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien, karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi. Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alma, Buchari, Dr. 2003. Pengantar Bisnis, Edisi

Revisi. Bandung : CV.Alfabeta.

Alwi, Syafaruddin. 2001. Manajemen Sumber Daya

Manusia. Strategi Keunggulan Kompetitif. BPFE. Yogyakarta.

Cushway Barry. 2002. Human Resource Mana-

gement. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Djamin, Awaloedin, MPA,Prof.Dr dkk. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia Terpadu Cetakan Pertama. Jakarta :

Gibson, James L. 1987. Fundamentals of Mana-

gement. Richard D. Irwin.

Handoko, T.Hani. 2003. Manajemen, Cetakan Kedelapanbelas Edisi 2. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta

J.S. Newhouse & R. Kopelman.  1988.  Steady-state

Chemical Kinetics on Surface Clusters and Islands:  egregation of Reactants.

Lewis, Richard D. 1997. Menjadi Manajer Era Global, Kiat Komunikasi Bisnis Lintas Budaya. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya Bandung.

Mangkunegara, AA. Anwar Prabu, 2000. Mana-

jemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Malayu, S.P Hasibuan, 1997, Manajemen Sumber

Daya Manusia Jakarta : Gunung Agung.

Mathis, dan Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya

Manusia, Edisi pertama, Cetakan Pertama. Yogyakarta : Salemba Empat.

Michaelson, Gerald A. 2004. Sun Tsu : The Art of War for Managers (Seni Perang untuk Manager). Terjemahan Drs.Arvin Saputra. Batam : Interaksara.

Nawawi, Hadari. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Puspopranoto, Sawaldjo. 2006. Manajemen Bisnis; Konsep, Teori dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit PPM.

Schultz, Howard dan Dori Jones Yang. 2002. Pour Your Heart Into It ; Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir demi Secangkir. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.

Simamora, Henry. 2004. Manajemen Sumber Daya

Manusia. Edisi I. Cetakan Pertama. Yogyakarta: STIE YKPN Yogyakarta.

Siswanto, HB, M.Si, Dr. 2010. Pengantar Manajemen, Cetakan keenam. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Stapleton, James J. 2003. Executive’s Knowledge Management, Puncak Keunggulan Kompetitif. Jakarta : Erlangga.

Sulistyawati, Ambar Teguh dan Rosida. 2003.

Manajemen SDM. Graha Ilmu : Yogyakarta.

Terry, George F. dan Leslie W.Rue. 2001. Dasar-dasar Manajemen Cetakan Kedelapan. Jakarta : PT.Bumi Aksara.

Waitzkin, Josh. 2009. The Art of Learning, Sebuah Perjalanan dalam Pencarian Menggapai Puncak Prestasi. Yogyakarta : PT.Pustaka Pelajar.

Weiner, Edie dan Arnold Brown. 2007. Future Think (Berfikir ke Masa Depan) Cara Berfikir Jernih di Suatu Era Perubahan. Jakarta : PT.Indeks.

Veithzal Rivai. 2004. Manajemen Sumber Daya

Manusia Untuk Perusahaan. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Wahyudi, Bambang. 2008, Manajemen Konflik

dalam Organisasi, Bandung : Alfabeta

Zakiyudin, Ais. 2012. Sistem Informasi Manajemen Edisi 2. Jakarta : Mitra Wacana Media.

Zakiyudin, Ais. 2013. Teori dan Praktek Manajemen, Sebuah Konsep yang Aplikatif Disertai Profil Wirausaha Sukses. Jakarta : Mitra Wacana Media.

Adab-Adab Pergaulan dalam Islam

Adab – adab pergaulan dalam islam :
Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. 24:30)

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah mata ini agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda,

“Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).

Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman,

Dan Katakanlah kepada perempuan-perempuan Yang beriman supaya menjaga pandangan mereka (daripada memandang Yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali Yang zahir dari padanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya Dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka Yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka Yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki Yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak Yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa Yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Wahai orang-orang Yang beriman, supaya kamu berjaya. (An-Nuur : ayat 31).

Batasan aurat bersama bukan mahram (ajnabi)
1. Lelaki – antara pusat ke lutut
2. Wanita – seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan

• Berpakaian sopan menurut syara’, yaitu tidak tipis sehingga menampakkan warna kulit, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk badan dan kerudung dipanjangkan melebihi dada. Tidak salah berpakaian asalkan menepati standar pakaian Islam.

• Maknai pemakaian busana untuk sholat Sebagaimana kita berpakaian sempurna semasa mengadap Allah, mengapa tidak kita praktikkan dalam kehidupan di luar? Sekiranya mampu, bermakna solat yang didirikan berkesan dan berupaya mencegah kita daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar.

• Jangan memakai pakaian yang tidak menggambarkan identitas kita sebagai seorang Islam. Hadith Nabi SAW menyebutkan : “Barangsiapa yang memakai pakaian menjolok mata, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat kelak..” ( Riwayat Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)

Ketiga, tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad).

Keempat, menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan syahwat’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah,

“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31).

Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lembut sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)
Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti perempuan Yang lain kalau kamu tetap bertaqwa. oleh karena itu janganlah kamu berkata-kata Dengan lembut manja (semasa bercakap Dengan lelaki asing) kerana Yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang Yang ada penyakit Dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah Dengan kata-kata Yang baik (sesuai dan sopan). (Al-Ahzaab : 32).
Melembutkan suara berbeda dengan merendahkan suara. Lembut,mendayu-dayu diharamkan, manakala merendahkan suara adalah dituntut. Merendahkan suara bermakna kita berkata-kata dengan suara yang lembut, tidak keras, tidak meninggi diri, sopan dan sesuai didengar oleh orang lain. Ini amat bertepatan dan sesuai dengan nasihat Luqman AL-Hakim kepada anaknya yang berbunyi

:“Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan, juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), ‘ Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Surah Luqman : ayat 19). Penggunaan perkataan yang baik ini perlu dipraktekkan dalamkeseharian kita baik secara langsung tidak langsung , contohnya melalui SMS, Yahoo Messengger ataupun apa yang ditulis di dalam Facebook karenanya menggambarkan keperibadian penuturnya.

Berkaitan dengan ungkapan yang baik ini, di dalam Al-Quran ada beberapa bentuk ungkapan yang wajar kita praktikkan dalam komunikasi seharian yaitu:
1. Qaulan Sadida (An-Nisa’ :9) : Isi pesanan jujur dan benar, tidak ditambah atau dibuat-buat
2. Qaulan Ma’rufa (An-Nisa : 5) :Menyeru kepada kebaikan dan kebenaran
3. Qaulan Baligha (An-Nisa’ : 63) : Kata-kata yang membekas pada jiwa
4. Qaulan Maisura (Al-Isra’ : 28) : Ucapan yang layak dan baik untuk dibicarakan
5. Qaulan Karima (Al-Isra’: 23) : Perkataan-perkataan yang mulia.

sehingga menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga sikap perilaku supaya diri ini tidak menjadi sebab timbulnya fitnah.
Wa Allahu a’lam

MAU DIBAWA KEMANA KELUARGA KITA?

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita?
Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul. Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin. Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.

Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya. Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan. Tidak saling menyalahkan. Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.

Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”

Ayat ini memakai kalimat تنظر dari kata نظر yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya :
1. Terbebas dari siksa api neraka (QS At Tahrim : 6)
2. Masuk surga sekeluarga (QS Ath Thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al Qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai ‘rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (QS Al Ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga. Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin. (Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN)

Sumber:

Dirgahayu PKS

DIRGAHAYU PKS

Tidak terasa… 18 tahun sudah.

Teringat ketika menghadiri deklarasi Partai Keadilan di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Lama…

IMG_20160215_120340-1

Aku naik bus PPD tingkat no 508 dari Kayumanis. Ketika itu aku masih kuliah semester 7.

Engkau mampu menjungkir-balikkan adagium: “politik itu kotor”. Adagium yg sengaja dihembuskan oleh kaum sekuler agar orang baik dan ulama menjauhi panggung pengelolaan negara.

Ada yg berharap, ada pula yg berusaha membusukkan partai ini.

Semoga tetap istiqomah…

#dirgahayupks, 20 hari lagi