Bocah yang Sudah Gede

Perbedaan umur saya dengan adik-adik saya cukup jauh. Jarak usia antara saya dan adik yang nomor dua saja 7 tahun, dengan adik nomor 3 berjarak 11 tahun apalagi adik yang nomor 4, 5 dan 6.

Ketika  saya memasuki SMA, adik yang nomor 4 baru lahir ke dunia ini. Jarak kelahiran saya dengan adik yang bungsu apalagi sekitar 24 tahun. Panjang bukan?

Maka tidak heran jika dalam beberapa hal kadang kami tidak nyambung dan ada kesenjangan dalam memahami berbagai persoalan.

Malah kadang, saya melihat adik-adik saya sebagai ‘bocah’ yang tidak perlu diambil hati manakala melakukan sebuah kesalahan.

Hal ini dikarenakan perbedaan dalam hal kedalaman ilmu dan pengalaman hidup yang tergambar dalam setiap pensikapan atas berbagai masalah dalam pergaulan sosial.

Dengan demikian, saya  harus lebih arif lagi dalam memahami berbagai perbedaan pandangan khususnya dalam pergaulan keluarga.

 

SDIT Wirausaha Indonesia: Dasar Pemikiran Pendirian dan Realitasnya

Dasar Pemikiran

Pemikiran yang mendasari saya mendirikan SDIT Wirausaha Indonesia adalah banyaknya keluhan dari teman-teman (termasuk saya hehe) yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang muatan keIslamannya baik, tetapi biayanya cukup tinggi untuk ukuran karyawan swasta.

Sementara, menyekolahkan anak di sekolah negeri muatan agamanya sangat kurang. Waktu belajar sangat singkat, contoh: kelas I masuk pukul 07.00 pulang pukul 09.00.

Akhirnya, teman-teman (termasuk juga saya) dengan sangat terpaksa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Sebuah pilihan yang tidak mudah dan bikin sedih.

Dari sanalah, saya mulai memikirkan bagaimana mendirikan sekolah Islam yang berkualitas, tetapi dengan biaya yang relatif bisa dijangkau oleh komunitas teman-teman.

Akhirnya, saya beserta tiga orang lainnya (Dadang Muhtari, Lartono dan Sufajar Butsianto) mendirikan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia (YSWI) pada tahun 2011. Melalui yayasan inilah kami mendirikan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wirausaha Indonesia pada tahun 2012. Sekolah ini mulai menerima siswa pada Tahun Pelajaran 2012/2013.

Gedung Sekolah?

Sekolah ini awalnya belum memiliki gedung sendiri. Kami menyewa ruko (alhamdulillah) dengan harga sewa murah. Perlu diketahui bahwa, sekolah ini didirikan bukan oleh kumpulan pengusaha kaya atau orang-orang yang memiliki aset yang banyak. Seperti sekolah tetangga, yang gedung sekolahnya sudah berdiri megah, baru menerima siswa.

TAHUN 2012
Gedung sekolah yang pertama kali, Sewa Ruko dengan biaya murah

Sekolah ini didirikan oleh kami, orang-orang biasa yang berpenghasilan rata-rata. Upaya kami adalah, sekolah ini mendapatkan siswa dahulu, baru sedikit-demi sedikit membangun dan memiliki gedung yang representatif.

20-okt16c
Gedung sekolah saat ini, penyempurnaan fisik berlanjut

Sekalipun secara ekonomi kami memiliki kemampuan finansial yang rendah, tetapi kami memiliki tekad dan kemauan yang kuat yakni: “Harus ada lembaga pendidikan Islam berkualitas berbiaya relatif terjangkau”. Itulah motto yang selalu saya tanamkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang menjadi impian saya, yaitu sekolah ini menjadi tempat membangun dan bersemainya fikrah anak-anak kami, ternyata tidak semudah yang diangankan.

Kenapa?

Ternyata banyak teman-teman saya yang tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Mereka lebih suka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang memiliki gedung megah, sekalipun secara fikroh masih dipertanyakan.

Apa sebabnya? Seribu alasan bisa dengan mudah dicari. Mulai dari keterbatasan sarana-prasarana, manajemen pengelolaan sekolah dan lain-lain, yang sesungguhnya hal itu bisa dimusyawarahkan jika ada kemauan dari para pihak.

Ternyata tidak mudah mengumpulkan teman-teman satu fikroh untuk membangun komunitas bersama dalam suka dan duka. Mungkin inilah gambaran umat Islam pada umumnya. Sangat sulit untuk bersatu dan memiliki impian bersama. Kita lebih suka nafsi-nafsi dan lebih sering mengikuti kemauan individual dibanding membangun kepentingan dan kebersamaan ikhwah. Walloohu a’lam.

Realitas Saat Ini

Saya realisitis saja, bagaimanapun sekolah ini memerlukan siswa dalam jumlah yang cukup agar bisa beroperasi secara mandiri tanpa menggantungkan dari pihak lain. Sekolah ini harus menjadi tempat bersemainya fikroh kebaikan anak-anak, siapapun orang tuanya, yang penting dia muslim dan tentunya mau menyekolahkan anaknya di sekolah ini.

Program unggulan

Saat ini kami sedang mengikhtiarkan sebuah PROGRAM UNGGULAN, yang insya Alloh dengannya kita semua yang terlibat mewujudkan program ini, akan ketularan keberkahan dan ridho-Nya, yaitu:

  • Program Tahfidz Al-Qur’an Khusus. Program tahfidz kelas khusus ini memiliki target hafalan 1.5 juz setiap tahun setiap siswanya. Jadi, jika siswa kelas 5 mengikuti program ini, maka pada saat lulus insya Alloh siswa memiliki hafalan 4-6 juz. Jika siswa kelas 4 mengikuti program ini, akan lebih banyak lagi hafalan yang bisa dicapai.
  • Program Mentoring. Program ini bertujuan untuk menguatkan akidah, ibadah dan akhlak siswa. Output dari program ini insya Alloh terwujud dalam 10 karakteristik siswa SDIT Wirausaha Indonesia.
  • Program Pembibitan Wirausaha sejak dini. Program ini sudah sejak awal berdirinya sekolah ini digulirkan. Tujuan dari program ini adalah membangun jiwa wirausaha pada diri anak-anak dan diharapkan menjadi pengusaha muslim yang hafidz akan menjadi paradigma yang utama dalam mencari ma’isyah nantinya setelah dewasa.

Yaa Alloh, berikanlah kekuatan kepada kami untuk mewujudkan cita-cita luhur ini. Aamiin.

 

 

Seminar Parenting: “Mengenali dan Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak”

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) menggelar seminar parenting secara berkala untuk membekali para orang tua murid cara mendidik anak-anak mereka, khususnya cara mengenali dan mengatasi kesulitan belajar, Sabtu (15/10/16) Jam 08 – 10 pagi.

dscn3644

Seminar dilaksanakan di kampus SWI, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, Bekasi, diikuti oleh 150 orang tua murid. Hadir sebagai pemateri, Zahra Zakaria, S.Pd, MM (Orthopaedagog dan Konsultan Pendidikan Anak).

Dalam kata sambutannya, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia, Nur Komariah, S.Pd.I, MM, menegaskan bahwa mengenali dan mencari sebab kesulitan belajar anak sangat penting.

“Orang tua harus bisa menggali kendala yang dihadapi oleh anak-anak kita ketika dalam masa-masa usia sekolah, dengan mengerti permasalahan mereka kita akan tergerak untuk mencarikan solusi,” katanya.

“Seminar yang kita adakan sebulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda ini sebagai upaya membantu para orang tua, agar mereka memahami hal tersebut,” pungkas kepsek SWI.

Kegiatan seminar parenting diawali dengan pentas siswa SDIT Wirausaha Indonesia, antara lain penampilan Tahfidz Al-Quran, baris-berbaris, tilawah Al-Quran, sambutan oleh Kepala Sekolah, acara inti dan diakhiri deng an pembagian doorprize dan doa penutup.

Amal Usaha dan Kontribusinya untuk Lingkungan

Ketika sekolah ini pindah ke lokasi baru, yakni di blok C, sekolah ini langsung memberikan kontribusi aktif bagi warga sekitar sekolah. Hal yang pertama kami lakukan adalah melaksanakan program Tebar Qurban Sekolah di lingkungan sekitar sekolah. Ketika itu tahun 2012, yaitu jauh sebelum adanya masjid di lingkungan.

Di lingkungan sekolah ini, saya memprakarsai pembentukan empat rukun tetangga (RT). Warga merasa sangat bersyukur karena saya memiliki inisiatif mengundang warga untuk membentuk kepengurusan RT. Karena selama ini mereka saling menunggu adanya musyawarah warga untuk membentuk kepengurusan RT. Setelah kepengurusan RT terbentuk, mereka secara mandiri melakukan pemilihan Ketua RW dan membentuk kepengurusan RW.

Setelah terbentuknya kepengurusan RT dan RW, warga semakin bisa memberdayakan diri.

Dikarenakan di lingkungan blok C belum ada masjid, atas inisiatif saya dan keinginan warga untuk memiliki sarana ibadah, mereka melakukan musyawarah untuk membentuk kepanitiaan pembangunan masjid.

Hanya saja, setahun setelah pembentukan kepanitiaan, sarana ibadah warga belum juga terwujud. Mereka kesulitan mencari dukungan dana untuk keperluan pembangunan masjid tersebut. Dalam kurun satu tahun, kas panitia menunjukkan angka Rp. 6 jutaan.

Saya mengajak musyawarah panitia pembangunan masjid dan jajaran pengurus Rt Rw dan saya kembali berinisiatif untuk: memindahkan lokasi masjid (semula musholla) dari lokasi yang kurang strategis ke lokasi yang cukup strategis, yakni posisinya di depan sekolah saya dan saya menawarkan diri untuk mencari donatur timur tengah untuk membantu mempercepat terwujudnya sarana ibadah idaman warga.

Setidaknya, jika donatur timur tengah bisa kami gandeng, maka kami bisa secepatnya mulai melaksanakan pembangunan masjid. Hal ini dikarenakan bantuan dari donatur sekitar 65 persen dari total biaya pembangunan masjid.

Masjid pun sudah mulai jadi, tetapi belum tersambung listrik. Sedangkan kondisi keuangan panitia sangat menipis, belum lagi panitia memiliki hutang material. Ketua panitia meminta kepada saya untuk menghibahkan salah satu sambungan listrik sekolah untuk masjid. Saya pun mengiyakan. Setelah itu saya juga menyerahkan tiga gulung sajadah panjang dan uang sebesar Rp. 4 juta untuk membantu pembelian material yang masih kurang.

Akhirnya, warga blok C kini memiliki masjid sendiri. Yang tadinya warga harus pergi ke masjid yang cukup jauh untuk melakukan shalat berjamaah, kini masjid selangkah dari rumah.

Ujian

Alloh SWT berkehendak lain dari apa yang saya bayangkan selama ini. Ternyata ada beberapa elemen warga yang amat membenci saya dan sekolah ini. Saya tidak tahu, kenapa mereka amat membenci saya dan sekolah ini.

Terbersit dalam pikiran saya: apa salah saya? apa salah sekolah ini? apakah sekolah ini keberadaannya merepotkan warga?

Walloohu a’lam. Padahal, sejak awal keberadaan sekolah ini sudah aktif memberikan kontribusi positif untuk lingkungan. Dari mulai penggunaan sarana sekolah untuk keperluan rapat warga, penggunaan sarana sekolah untuk keperluan pelaksanaan pemilu, sumbangan berupa tatakan lampu tiang dan lain-lain.

Ternyata, Alloh memiliki kehendak yang belum tentu sama dengan kehendak kita. Saya yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa kehendak Alloh SWT pasti jauh lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan kehendah hamba-Nya yang teramat lemah.

 

 

 

 

Uniknya Bermu’amalah dengan Ikhwah

Bermuamalah dengan ikhwah itu unik. Bagaimana tidak unik, Harga minta semurah-murahnya, diskon minta sebesar-besarnya. Masih tidak puas, pembayaran minta selambat-lambatnya.

Coba saja jika bermuamalah dengan orang lain. Semakin tinggi harga semakin bonafid, semakin besar diskon semakin merasa terhina, semakin cepat melunasi pembayaran semakin merasa terpercaya.

Ternyata banyak ikhwah yang TIDAK MENDUKUNG usaha ikhwah lainnya. Kok tidak mendukung? Bukannya harusnya mendukung demi kemaslahatan bersama? Iya tidak mendukung, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Contoh, ketika seorang ikhwah membuka warung, ikhwah lainnya tidak merasa berkewajiban untuk membeli di warung tersebut. Padahal jika seorang ikhwah membaik perekonomiannya, maka akan membantu ikhwah lainnya yang dalam kesulitan.

Contoh lainnya. Ketika seorang ikhwah mendirikan sekolah yang tujuannya adalah untuk menyemaikan dan menjaga fikroh anak-anak ikhwah, justru banyak ikhwah yang tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Alasannya? Klasik. Dari mulai keterbatasan sarana dan prasarana, pengelolaan yang dianggap kurang profesional dan alasan lainnya.

Jika kita telisik lebih jauh, keterbatasan sarana-prasarana… ya iyyalah, namanya juga sekolah baru, masih banyak yang harus dibenahi dari sebuah sekolah yang dibangun ditengah berbagai keterbatasan pemiliknya. Pengelolaan yang dianggap kurang professional… ya iyyalah, namanya juga baru mengelola sekolah, masih banyak ilmu yang belum dimiliki untuk mengelola sebuah sekolah.

Bukankan kita juga sering membuat permakluman jika bermuamalah dengan orang lain? Kenapa kita kehabisan alasan untuk memberikan pemakluman lebih kepada sekolah atau bisnis ikhwah lainnya?

Allah SWT menjadi saksi… sekalipun dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas, sekolah milik ikhwah telah mendukung keberadaan dakwah dan jamaah. Sekolah ikhwah menjadi saksi bertumbuh, berkembang dan menggeliatnya dakwah. Mulai dari pelaksanaan halaqoh rutin, musran, syuro-syuro dpra, syuro-syuro dpc dan syuro-syuro pemenangan dakwah lainnya. Memang belum besar kontribusi sekolah ikhwah untuk dakwah ini, tapi sudah memberikan warna, ketimbang hanya mengeluh.

Di sinilah sesungguhnya ikhwah diuji untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama bertahun-tahun ditarbiyah. Justru di sinilah ikhwah seharusnya tertantang untuk membesarkan lembaga sekolah yang keberadaannya menjadi lembaga dakwah yang mampu menyemaikan “Muwashofat Tarbawiyah”.

Apakah jika sekolah ini terus membesar, ikhwah akan rugi? Sangat naïf jika ada yang mengatakan demikian, karena faktanya, sejak lembaga ini lahir sudah memberikan kontribusi terbaiknya untuk dakwah.

Coba dech dicek… sekalipun sarana dan prasarana sekolah idaman ikhwah ini sudah sangat memadai, apakah kita bisa menggunakannya untuk halaqoh, syuro dpra, syuro dpc, syuro pemenangan pemilu, pelatihan saksi? Tentu tidak. Karena pemilik sekolah ini bukanlah pihak yang mendukung dakwah dan jamaah ini. Yang dia kenal hanyalah berbisnis. Anak antum sekolah, bayar, beres.

Ilustrasi manfaat sekolah

  • Sekolah milik umum :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah (itu saja)
  • Sekolah milik ikhwah :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah. Apa benefit lainnya? -Benefit lainnya adalah:  anak tertarbiyah sejak dini, -sarana sekolah bisa digunakan untuk keperluan musyawarah-musyawarah untuk kemenangan dakwah

Keterbatasan sarana dan prasarana seharusnya tidak membuat ikhwah patah arang, karena sunnatulloh sebuah perjuangan tentu membutuhkan proses. Toh, keterbatasan sarana-prasarana ini tidak berpengaruh terhadap prestasi siswa yang belajar di dalamnya. Toh keterbatasan sarana-prasarana tidak mengkerdilkan potensi-potensi kebaikan yang dimiliki siswa.

Justru siswa sejak dini sudah dikenalkan dengan taribiyah, sebuah sarana dakwah yang sudah dirasakan manisnya oleh para ikhwah. Jika kita mau bersabar sedikiiit saja, insya Alloh sarana dan prasarana sekolah semakin tahun semakin baik. Jadi ruginya di mana jika menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ikhwah?

Jika ikhwah saja tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah milik ikhwah, siapa dong yang akan percaya dengan sekolah ini. Siapa dong yang akan membesarkan sekolah ikhwah? Akan sebegitu beruntungnyakah ikhwah, jika sekolah milik ikhwah bubar?

Hanya untuk direnungkan bagi yang mau berfikir… bukan hanya befikir untuk diri sendiri, tetapi berfikir dalam kerangka keummatan.

Jangan “Mati Gaya” Di Hadapan Promotor Kemunkaran

Seringkali kita dihadapkan pada sebuah kenyataan dimana kemunkaran dipromosikan secara terbuka.
Kemunkaran yang oleh sebagian orang dipahami sebagai perbuatan yang kalaupun ada yang berani melakukannya, maka dia dilakukan secara tersembunyi, itupun masih panas dingin.

Namun kini mereka sudah menyatakan resmi menganut ideologi Iblis; “Kalo saya sesat, maka orang lain pun harus sesat!”

Jadilah dia promotor kemunkaran.

Di antara senjata ampuh yang sangat mereka andalkan sejak dahulu dan apalagi sekarang adalah membentuk opini yang dapat melemahkan daya pikir masyarakat dan akhirnya secara bertahap masyarakat digiring pada sikap dan keinginan yang mereka bentuk. Dibuatlah berbagai alibi dan teori yang sekilas tampak ilmiah dan solutif, padahal dibalik itu menyimpan kebusukan yang sangat menyengat.

Kekufuran mereka tawarkan atas nama kebebasan berfikir dan berkeyakinan, free seks mereka jajakan atas nama seks sehat dan pencegahan AIDS, kemusyrikan disuguhkan atas nama seni dan budaya, dll.
Sementara di sisi lain, secara sistematis dan massif dengan berbagai sarana media dan dukungan dana tak terbatas, mereka berupaya menyudutkan orang-orang yang ingin komitmen mengamalkan agamanya. Berbagai isu mereka angkat; Terorisme, islam militant, Islam arab, wahabi, Islam transnasional, Islam garis keras, Islam politik, dll.

Jika diperhatikan dengan seksama, semua itu tak lain upaya untuk ‘menggertak’ umat agar jangan ‘terlalu akrab’ dengan agamanya dan membelanya.

Di sisi lain, banyak di kalangan umat ini yang ‘terhenyak’ menyaksikan gempuran demi gempuran para promotor kemunkaran, sehingga mereka menjadi ‘mati gaya’, seperti tidak dapat berbuat apa-apa selain ‘ngelus-ngelus dada’.
Di sisi lain, ada sebagian pihak yang menempatkan sifat-sifat kelembutan dan sopan santun dalam masalah ini bukan pada tempatnya.

Maka lengkaplah sudah setting yang mereka inginkan, promotor kemungkaran tampak sangat militan dan di atas angin berhadapan dengan orang-orang baik yang lemah tanpa mau berbuat apa-apa selain keselamatan dirinya.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu yang terungkap dalam doanya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَلَدِ الْفَاجِرِ وَعَجْزِ الثِّقَةِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari militansi orang durhaka dan lemahnya orang-orang baik.”

Di alam bebas seperti ini dan saluran komunikasi dan informasi terbuka lebar, sudah tidak sepantasnya kita mengandalkan pengingkaran dalam hati sebagai langkah penolakan terhadap kemungkaran.

Selain itu merupakan gambaran selemah-lemahnya iman, juga karena Rasulullah saw melarang kita untuk tampak lemah di hadapan kekufuran dan kemungkaran.

Karena itu, saat pertama kali umrah, Rasulullah saw memerintahkan para shahabatnya untuk membuka pundak kanannya dan berlari-lari kecil saat thawaf, agar orang kafir melihat bahwa kaum muslimin kuat. Hal mana kemudian dikenal sebagai sunah dalam thawaf qudum bagi laki-laki.

Dalam peristiwa perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin terdesak akibat kelalaian pasukan pemanah dan Rasulullah saw terluka, orang-orang kafir ingin merontokkan mentalitas pasukan muslim.

Abu Sufyan yang ketika itu masih kafir berteriak, “Mana Muhamad, mana Abu Bakar, Mana Umar?”

Maka Umar berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah saya menjawabnya?” Jawab Rasulullah, “Ya”. Maka ketika Abu Sufyan berteriak,

اعْلُ هُبَل

“Hidup Hubal (berhala mereka)

Umar menjawab,

الله أَعْلَى وَأَجَل

“Allah lebih tinggi dan lebih mulia.”

Abu Sufyan balik berkata,

يَومُ بِيَومِ بَدْر، إِنَّ الأَيَّامَ دُوَل، وَإِنَّ الْحَرْبَ سِجَال

“Hari ini adalah pembalasan perang Badar, hari-hari silih berganti, perang kadang kalah kadang menang.”

Umar menjawab,

لاَ سَوَاءَ ، قَتْلاَنَا فِي الْجَنَّةِ ، وَقَتْلاَكُمْ فِي النَّارِ

“Tidak sama, orang yang terbunuh di antara kami masuk surga, orang yang terbunuh di antara kalian masuk neraka.” (dikutip dari riwayat Ahmad dan Hakim)

Lihatlah bagaimana Umar bin Khatab atas izin Rasulullah saw tidak diam menghadapi provokasi orang-orang kafir, bahkan di saat mereka terdesak sekalipun.

Lihat pula bagaimana pilihan kata-katanya yang singkat namun berbobot serta tidak menampakkan kelemahan sama sekali. Bahkan Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits tersebut mengatakan bahwa peristiwa tersebut sebagai kemenangan yang istimewa.

Harus kita bedakan antara orang yang berbuat maksiat karena kelalaian atau ketergelinciran. Kepada mereka hendaknya kita nasehati baik-baik, tersembunyi dan tidak dibongkar aibnya dan jangan dicela.

Tapi kepada mereka yang terang-terangan mempromosikan kemungkaran, kesesatan dan kekufuran di tengah masyarakat muslim dan sering mengolok-olok nilai-nilai syariat dan orang yang berusaha mengamalkannya, baik tersirat atau tersurat, tidak ada tempat untuk bersikap lemah lembut kepada mereka, tidak ada tempat untuk menutupi makar dan konspirasi mereka, bahkan seharusnya kedok mereka dibongkar, argument-argument mereka dipatahkan dan celotehan-celotehan mereka harus dibalas tegas.

Tidak perlu anarkis, tidak perlu angkat senjata, tapi bantahlah seruan kesesatan mereka, bergabunglah dalam poros-poros kebaikan, nyatakanlah sikap dan jangan lemah. Inilah medan “perang” kita!

Abu Bakar Ash-Shidiq yang terkenal kelembutannya dan air matanya selalu meleleh, tak dapat menahan amarahnya ketika harus berhadapan dengan para provokator dan promotor kemungkaran.
Saat beliau menjadi khalifah dan berhadapan dengan sekelompok masyarakat yang terang-terangan terang-terangan murtad, sebagian lagi terang-terangan menolak membayar zakat, sebagai pemimpin dia memutuskan untuk memerangi mereka. Ketika sebagian shahabat berusaha mencegahnya dengan asumsi bahwa mereka masih muslim, Abu Bakar Ash-Shidiq memberikan jawaban memuaskan hinggga para shahabat menerimanya.

kaderpks

Bahkan ketika Umar bin Khatab ikut-ikutan menasehati Abu Bakar Ash-Shiddiq agar bersikap lemah lembut terhadap mereka, maka dengan tegas Abu menjawab,

جَبَّارٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خَوَارٌ فِي اْلإِسْلاَمِ . بِمَاذَا أَتَأَلَّفُهُمْ ؟ بِشِعْرٍ مُفْتَعِلٍ أَمْ بِقَوْلٍ مُفْتَرِى ؟!

“(Apakah engkau) perkasa saat masih jahiliah, namun justeru lemah setelah masuk Islam, dengan apa aku berbaik-baik dengan mereka, dengan syair yang dibuat-buat atau dengan ucapan dusta?!”

(Tuhfatu Ash-Shiddiq Fi Fadhli Abi Bakar Ash-Shiddiq, Ali Al-Maqdisi)

Jika promotor kemungkaran berkeliaran di tengah-tengah kita, sementara kita tidak terusik sama sekali untuk menghadangnya, periksalah kembali dimana iman kita diletakkan?!

“Selamat Berperang!” (Ustadz Abdullah Haidir Lc)

Tarbiyah dan Pemenangan Pemilu

Konsekuensi keislaman kita mengharuskan kita tunduk pada ajaran-ajaran Islam yang syumul, menyeluruh dan menyentuh segala lini kehidupan, baik dalam kehidupan kita sebagai satu individu muslim maupun kehidupan kita sebagai makhluk sosial dalam bingkai masyarakat.

22-mar14a
Masing-masing menuntut warna yang berbeda di atas warna-warna lainnya. Allah SWT mengistilahkannya dengan istilah Shibgatullah atau celupan Allah.

Istilah celupan sudah sangat cukup mengetahui makna yang terkandung dalam kata tersebut. Sering minum teh celup? apa jadinya jika teh celup dimasukkan ke dalam air panas dalam gelas, air yang ada dalam gelas, serentak terwarnai. Artinya bahwa ketika kita memilih Islam sebagai jalan hidup, maka seluruh sisi kehidupan kita pun mesti ikut terwarnai dengan warna pilihan Allah, dengan celupan Allah. Baik dalam kehidupan kita sebagai individu, maupun dalam kehidupan kita sebagai bagian dari masyarakat.

Kewajiban individu kita sebagai hamba Allah adalah bagaimana kita mengabdi dan terus menjalin dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, membina diri kita untuk terus menumbuhkan keimanan dalam diri, menghidupkan hati, meningkatkan pemahaman keislaman kita, dan membina keluarga Islam.
Dan kewajiban sosial kita sebagai satu bagian dari masyarakat, adalah membawa warna-warna Islam tadi ke masyarakat luas, dan kitalah yang menjadi teladan dalam keislaman, merubah kebiasaan umum dengan warna Islam, melakukan langkah-langkah keshalihan sosial. Menciptakan masyarakat islami, membangun pemerintahan yang bersih, dan menjunjung nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Dan Tarbiyah telah menjadi tsawabit [bagian permanen] dalam dakwah sebagai alat utama untuk melakukan perubahan yang dicita-citakan dalam diri umat, sesuai dengan firman Allah Swt., “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, hingga ia merubah apa yang ada dalam dirinya”. Dan narasi perubahan yang kita cita-citakan adalah perubahan yang mencakup dua hal, pertama adalah individu-individu yang bekerja dalam masy’ru Al-Islami (proyek peradaban), dan kedua adalah kaum muslimin secara umum dalam masyarakat.

Dan bahwa pencapaian tujuan tarbiyah dalam diri kader dakwah yang bekerja untuk menegakkan proyek peradaban, tuntutannya jauh lebih besar dibanding dengan kaum muslimin secara umum. Namun kita sepakat benang merah di antara keduanya, bahwa tujuan-tujuan tarbiyah tidak mungkin diwujudkan, kecuali melalui sistem tarbawi dan bukan melalui kegiatan-kegiatan umum seperti ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, memberikan pelayanan, karena seluruh kegiatan-kegiatan ini tidak memiliki efek pengaruh yang kuat dan terus menerus, kecuali melalui system tarbawi, mari kita renungkan apa yang pernah dikatakan oleh tokoh pelopor pergerakan dari lembah sungai Nil, beliau mengatakan:
إن الخُطب والأقوال والمُكاتبات والدروس والمحاضرات وتشخيص الداء ووصف الدواء كل ذلك لا يُجدي وحده لها نفعًا، ولا يصل بالداعين إلى هدف من الأهداف؛ ولكن للدعوات وسائل لابد من الأخذ بها والعمل
لوسائل العامة للدعوات لا تتغير ولا تتبدل ولا تعدو هذه الأمور الثلاثة:
الإيمان العميق-
التكوين الدقيق-
العمل المتواصل-
“Sesungguhnya ceramah-ceramah, perpustakaan-perpustakaan, pengajian-pengajian, dan muhadharah, analisa penyakit dan menyebutkan nama obatnya, semua itu tidak banyak memberikan manfaat, dan tidak mengantarkan para penyeru perubahan sampai pada tujuan-tujuan yang dicitakan, akan tetapi dakwah itu memiliki tiga wasilah umum, yang tidak berubah-ubah, dan tidak berganti-ganti, tidak keluar dari tiga hal berikut:
1. Keimanan yang dalam (Al-Iman Al-Amiq)
2. Pembentukan yang jeli (At-Takwinul Ad-Daqiq)
3. Amal yang berkesinambungan (Al-Amal Al-Mutawashil)

Mengenai tujuan dakwah yang ingin dicapai, dengan itu para kader dakwah bekerja untuk mewujudkannya, baik dalam diri mereka maupun dalam masyarakatnya, beliau mengatakan:
“Sesungguhnya tujuan dakwah, terfokus pada pembentukan generasi baru dari orang-orang mukmin dengan ajaran Islam yang shahih, dan generasi ini bekerja mewarnai umat dengan warna dan celupan Islam dalam segala sisi kehidupan mereka “Dan celupan Allah, maka siapakah yang lebih baik celupannya selain dari celupan Allah” [QS. Al-Baqarah: 138].

Dan wasilah untuk itu adalah merubah kebiasaan umum, dan membina anshar dakwah (pendukung dakwah) dengan ajaran Islam, hingga mereka menjadi teladan pada yang lainnya dalam memegang teguh ajaran Islam, perhatian pada ajaran Islam, dan berhukum dengan ajaran tersebut”.

Celupan Tarbiyah
Maka dari sini, jelas bagi kita bahwa seluruh pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan, harus terwarnai dan tercelup dengan celupan dan warna tarbiyah. Yang kita maksud dengan celupan tarbiyah adalah pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan itu – apa pun bentuk dan jenisnya – memiliki kontribusi positif dalam salah satu sisi kepribadian kita atau dalam seluruh sisi kepribadian kita yang empat, yaitu [sisi ma’rifah atau pengetahuan, sisi Imaniyah atau keimanan, sisi nafsiyah atau kejiwaan, dan sisi sulukiyah atau perilaku dan atau attitude].

Satu contoh misalnya, pekerjaan-pekerjaan sosial, bisa jadi pekerjaan-pekerjaan, sifatnya sosial semata, yang hanya bertujuan untuk mengurangi beban penderitaan orang lain tanpa melihat sisi lain, namun bisa juga pekerjaan sosial ini menjadi wasilah menanamkan pengaruh positif dan perubahan yang berkesinambungan dalam diri mereka.

Saat ini, kita baru saja memutuskan untuk berjuang dalam gelanggang politik, mengusung salah satu kader dakwah untuk berjuang melalui jalur konstitusi, ya benar kita terjun untuk menang dan bukan untuk kalah, hari-hari ke depan adalah hari-hari yang penuh perjuangan dengan perhelatan dan aktivitas politik dalam pemilu. Masa-masa dalam pemilu ini bisa jadi hanya mengumpulkan jumlah suara sebanyak-banyaknya, namun bisa juga menjadi wasilah tarbiyah yang memberikan pengaruh positif bagi diri kader, yang melahirkan perubahan positif dalam diri kader, walau hanya satu sisi kecil dalam kepribadian kader, agar kader setelah musim pemilu ini, menjadi kader yang lebih sensitive dan lebih ijaby, kader yang lebih banyak memiliki pengaruh di masyarakat, menggandeng tangan masyarakat untuk terus meniti tangga keislaman dan berkomitmen dengan Islam yang shahih dengan bertahap.

Mewarnai Pemilu dengan Celupan Tarbiyah
Ada banyak cara dan faktor agar aktivitas-aktivitas dalam pemilu ini, memberikan kontribusi – dengan izin Allah SWT – secara tarbiyah, di antaranya:
Pertama adalah kekuatan hubungan dengan Allah Azza wa Jalla (Quwwatu Shilah billah), dan meningkatkan mutu keimanan yang hakiki dalam hati, yang dengannya seorang kader diharapkan berada dalam kondisi jernih, kader memiliki kedisiplinan syar’i [Indhibath Syar’i], lebih positif [ijaby].
Perlu kita sadari bahwa factor penting, kita dapat mewujudkan cita-cita tarbiyah dan kemenangan dakwah adalah factor kekuatan ini, faktor Quwwatu shilah billah, kekuatan hubungan dengan Allah Swt., maka kadar kekuatan hubungan kita dengan Allah Swt., itulah yang mendatangkan pertolongan, dukungan, bantuan, dan perlindungan dari Allah Azza wa Jalla’, Allah SWT berfirman: “Dan Dia-lah yang melindungi orang-orang shalih” [QS. Al-A’raf: 196], “Allah Pelindung orang-orang yang beriman” [QS. Al-Baqarah: 256].
Sujud di pertengahan malam, disertai linangan air mata, itulah yang meruntuhkan benteng yang kokoh dan mengguncang arsy dengan pertolongan Allah Swt.

Maka tidak benar, jika ada seorang kader yang beralasan dengan kesibukannya dalam aktivitas politik dalam masa-masa pemilu, lantas menyebabkan ia kurang disiplin dan meremehkan pelaksanaan shalat berjamaah di masjid, atau melupakan wirid-wirid hariannya. Ketahuilah wahai saudaraku, tiada kebaikan dalam amal yang menyepelekan shalat.

fb_img_1441024983939

Jika seandainya mobilitas yang besar, bisa dijadikan alasan untuk meremehkan amalan-amalan keimanan, tentulah generasi awal umat ini, tak perlu lagi melakukan shalat-shalat malam dalam peperangan yang mereka ikuti. Renungkanlah surat yang ditulis oleh Pemimpin pasukan kaum Muslimin, Saad bin Waqqash saat akan menaklukkan Qadisiyah – kepada Umar bin Al-Khattab – yang memberikan kabar gembira akan kemenangan pasukan kaum muslimin, dalam suratnya, Saad bin Waqqash menceritakan kondisi kaum muslimin: “Mereka – pasukan kaum muslimin – membaca Al-Qur’an dan jika malam tiba, mereka seperti gema lebah dan di siang hari mereka seperti singa yang tidak ada yang menyerupainya”.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/25/20056/tarbiyah-dan-pemenangan-pemilu/

Edisi Bikin Akta Kelahiran

Hari ini saya berkesempatan berkunjung ke pemda, tepatnya ke disdukcapil.

 

Kesan saya: gedung semegah itu tdk mampu membuat nyaman warga yg akan membuat KTP, KK, Akta kelahiran dll.

Antrian dan pelayanan tdk beraturan. Antrian warga yg mau bikin dokumen kependudukan seperti antrian org yg ngantri zakat. Orang yg baru dtg dibuat bingung harus kemana dulu trus kemana berikutnya.

Begitu susahnya kah bikin sistem yg teratur???

Boleh donk komplain… kan kite bayar pajak. Kalo nggak bayar pajak dipenjara.

PR buat Bupati yg keren.

Kuliah?… BSI Aja

Saat ini saya mengajar di sebuah lembaga pendidikan tinggi dg total mahasiswa kurang lebih sekitar 70 ribuan yg tersebar di lebih dari 45 kampus di seluruh Indonesia.

bsi1

Hayo perguruan tinggi yg mana yg bisa menyaingi jumlah mahasiswa kami.

Perguruan tinggi ini berdiri sekitar tahun 1989 an. Belum lama dan didirikan ketika ownernya masih kuliah. Keren kan?

Yg menurut saya luar biasa, sistem yg berbasis IT-nya membuat perguruan tinggi ini berjalan dg sangat teratur dan terrencana dg baik. Ini tentunya terlepas dari segala kekurangan yg dikarenakan kelemahan manusia.

Keren BSI…
Kuliah?… BSI aja