Mencari Kebahagiaan

Seorang pemuda duduk dengan tatapan kosong di samping telaga. Dia sedang galau dan tidak bahagia.

“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.

Mencari kebahagiaan
Kebahagiaan

Anak muda itu menoleh sambil berkata. “Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berusaha mencari kebahagiaan, tapi tak kunjung ku dapatkan.” Keluh si anak muda dengan wajah muram.

“Di depan sana ada sebuah taman. Coba ke sana dan tangkap seekor kupu-kupu. Setelah itu aku jawab pertanyaanmu,” jawab si kakek.

Meski ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk.

Tiba di sana, dia takjub melihat taman indah dan kupu-kupu yang beterbangan.

Si pemudah mengendap-endap menuju sasarannya. Hap…! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap…! Lagi-lagi gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rumput, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.

Si kakek berkata, “Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari kesana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?”

“Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan kecantikannya memenuhi alam semesta ini. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.”

“Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan. Ia tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah baik-baik, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.”

Kakek itu mengangkat tanggannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Kebahagiaan sesungguhnya tidak jauh, dia ada di setiap hati yang selalu bersyukut. Tidak perlu mencari biarkan dia “datang” sendiri.

 

Kisah Inspiratif dari Teman UGM

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang begiku sangat inspiratif.

Guru / dosen sedang mengajar
Guru / dosen sedang mengajar

Tahun 90 an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan, sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak”, jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak”.

“Tapi jadi dosen itu kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub”. Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.”

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas  guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi”.

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati”.

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna “Tidak ada Ilah selain Alloh” yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Wakaf Tunai Pembangunan Gedung SDIT Wirausaha Indonesia

Kasih Sayang Ibu kepada Anaknya

Seorang anak marah dengan ibunya dan meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karen lapar.

Ibu dan anak
Ibu dan anak

Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya,

“Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”

“Ya, tetapi aku tidak membawa uang”, jawab anak itu dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan memberimu gratis semangkuk bakmi”, jawab di pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nak?” Tanya di pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yang baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri membuatkau marah hingga aku pergi meninggalkan rumah, karena sepertinya ibuku sudah tidak peduli lagi padaku. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku”.

Pemilik kedai itu berkata, “Nak, mengapa kau berfikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu… Ibumu telah memasak bakmi, nasi, merawatmu dan lain-lain sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya”.

Anak itu kaget mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berfikir tentang hal itu?”

Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam”.

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Hikmah cerita…

Kadang kita akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya pada kita. Namun, kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja…

Mengapa Aku Menjadi Orang yang Sangat Miskin?

Ada seorang yang miskin bertanya pada sang guru bijak, “Mengapa aku menjadi orang yang sangat miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup?”

Berdoa Agar Hutang Lunas
Berdoa

Sang guru menjawab, “Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi kepada orang lain”.

“Tapi saya tidak punya apapun untuk diberikan kepada orang lain?”

“Sebenarnya engkau masih punya banyak untuk engkau berikan pada orang lain.”

“Apakah itu, guru bijak?”

Sadang guru menjawab:

  1. Dengan mulut yang engkau punya, engkau bisa berikan senyuman dan pujian
  2. Dengan mata yang engkau punya, engkau bisa memberikan tatapan yang lembut
  3. Dengan telinga yang engkau punya, engkau bisa memberikan perhatian
  4. Dengan wajah yang engkau punya, engkau bisa memberikan kerahaman
  5. Dengan tangan yang engkau punya, engkau bisa memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain yang membutuhkan dan masih banyak lagi.

Jadi sesungguhnya kamu bukanlah miskin, hanya saja engkau tidak pernah mau memberi pada orang lain.

Itulah yang menyebabkan orang lain juga tidak pernah mau memberikan apapun pada dirimu. Engkau akan terus seperti ini jika engkau tidak mau memberi dan berbagi pada orang lain dan siapapun.

Pulanglah dan berbagilah pada orang lain dari apa yang masih engkau punya, agar orang lain juga mau berbagi denganmu”.

Memberi tidak ditentukan oleh seberapa besar atau kecil, tapi berdasarkan kebutuhan. Kebencian tidak ditentukan oleh seberapa dalam atau dangkalnya, tapi berdasarkan seberapa terlukanya orang tersebut.

Oleh karena itu, kita mesti berhati-hati terhadap apa yang kita ucapkan, apa yang kita perbuat sehari-hari, jangan pernah meremehkan perbuatan baik yang kecil, namun jangan melakukan perbuatan buruk sekecil apapun.

Muhammad ‘Imaduddin Badi’uzzaman, Anakku yang ke-5

Hari Rabu tanggal, 23 Desember 2015 bertepatan dengan tanggal, 11 Rabiul Awal 1437 Hijriyah anakku yang ke-5 lahir ke dunia fana ini. Muhammad ‘Imaduddin Badi’uzzaman kami beri nama.

Badi bersama Abinya
Badi bersama Abinya
Keluarga Bahagiaku, 26 Desember 2015
Keluarga Bahagiaku, 26 Desember 2015

Arti nama: ‘Imaduddin = tiang agama, Badi’uzzaman = masa keindahan.

Semoga anak ini menjadi pemimpin kaum muslimin, penghafal Al-Qur’an dan penerang kubur kedua orang tuanya. Amin yaa Robbal ‘Aalamiin.

Bukan Engkau yang Mencari Rezeki, tapi Rezekilah yang Mencarimu

Pulang kantor, mampir dulu beli titipan orang rumah. Kali ini dititipin ketoprak. Akhrnya ketemu gerobak ketoprak, kok ini gerobak kosong ga ada orang yang jaga.

Gerobak Ketoprak
Gerobak Ketoprak

“Pak, ini tukangnya mana pak?” Tanyaku ke tukang kue cucur di sebelahnya.

“Oh, lagi sholat maghrib Pak. Dah dari tadi, bentar lagi datang”, jawabnya.

Sehubungan ini pesanan orang rumah, terpaksalah menunggu agak lama, kalo untuk diri sendiri mah sudah saya tinggal langsung.

Tak berapa lama datanglah tukang ketoprak tersebut. “Beli ketoprak Pak satu”. Ucapku. Entah mengapa, tiba-tiba berubah pikiran, “dua deh Pak”.

Kemudian datanglah beberapa orang yang antri ngin beli ketoprak. Entah darimana mereka, tadi saya menunggu sendiri ga ada orang lain, tiba-tiba mereka datang memesan ketoprak.

Masya Allah, tidak sedikit pedagang yang rela meninggalkan sholat demi menjaga dagangannya yang belum tentu ada orang yang beli. Apalagi jika pelanggan sedang ramai. Atau mungkin pegawai-pegawai kantoran, rela menunda-nunda sholat bahkan meninggalkan sholat hanya karena alasan sibuk kerja, meeting dan lain sebagainya. Mereka (dan juga kita) seakan lupa kalo Allah lah yang mengatur rezeki.

Tukang ketoprak ini, dengan yakinnya meninggalkan jualannya untuk sholat, seakan-akan ia lari meninggalkan rezekinya, sekembalinya dari sholat ternyata rezeki datang bak lebah mengerumuni bunga. Bahkan Allah pun menggerakkan hati saya sendir untuk membeli lebih dari yang seharusnya.

Berdoa Agar Hutang Lunas
Berdoa

Sungguh benar perkataanmu wahai Nabi ku: “Kalau anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya” (HR. Ibnu Hibban No.1084)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hambaNya yang selalu bertakwa, yang selalu mengutamakanNya di atas dunia dan seisinya. Amiin.

Wakaf Tunai Pembangunan Gedung SDIT Wirausaha Indonesia

Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia

Kebersamaan Itu, Tidak Sekedar Retorika

Suatu ketika, adak kawan yang keceplosan. Beliau mengatakan: “Ah, saya mau nyekolahin anakku di SWI nanti ajah kalo gedungnya sudah megah”.

Gedung sekolah SWI
Gedung sekolah SWI

Saya bilang : “Kalau sekolah ini gedungnya sudah megah, mungkin anak ente tidak diterima di sini. Kenapa? Jangankan nanti, sekarang saja dalam kondisi gedung sekolah yang masih sederhan murid sudah penuh. Bagaimana nanti kalau gedung sudah megah, sangat mungkin rebutan untuk masuk sekolah ini. Hanya siswa yang memenuhi kualifikasi tertentu yang bisa diterima di sekolah ini, karena keterbatasan kelas”.

Kawans…

  • Kalau merasa kita adalah orang-orang yang memiliki fikroh yang sama, kenapa rasa kebersamaan itu tidak kita semaikan sejak sesuatu itu belum sempurna?
  • Rasa kebersamaan itu justru harus ditumbuhkan sejak awal, bukan ketika sesuatu itu sudah dianggap melewati keadaan susah payah.
  • Kebersamaan itu harus dibuktikan. Bukan sekedar retorika pidato, slogan pemanis ceramah mabit atau kajian gabungan.

Semoga kita makin cerdas dalam berjamaah…

–Selamat menerima raport bagi Siswa SDIT Wirausaha Indonesia

Wahai Orang Tua, Berhentilah Memanjakan Anak

Suatu ketika, kami kedatangan beberapa orang tua murid yang mengaku perwakilan dari beberapa orang tua murid lainnya. Mereka protes berjamaah.

Anak kreatif
Anak kreatif

Apa pasal?

Ternyata anak-anaknya ngambek dan menangis, karena tidak mendapatkan piala lomba agustusan yang diselenggarakan oleh sekolah. Padahal semua siswa sudah mendapatkan snack dan minum yang dibungkus rapi layaknya hadiah ulang tahun.

Tapi masih tetap meminta piala seperti temannya yang juara lomba. Mereka mengusulkan: bagaimana kalau sekolah membuatkan piala untuk seluruh siswa, kami siap membayar ongkos pembuatan piala tersebut.

Akhirnya, dengan bijak saya katakan kepada orang tua:

  • Memangnya kenapa kalau anak-anak kita menangis hanya gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?
  • Bukankah sangat baik mendidik kepada anak-anak kita bahwa, tidak semua keinginannya tercapai dengan sangat mudah?
  • Segala sesuatu harus diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang tidak ringan
  • Lebih baik anak menangis sekarang, daripada menangis setelah dewasa karena mengalami kegagalan hidup yang disebabkan oleh kebiasaan orang tua memanjakan anak-anaknya dari waktu ke waktu.

Sesungguhnya, dengan memanjakannya, kita sudah merampas masa depan anak-anak kita.

Biarlah anak-anak kita bisa menikmati susah payah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali waktu biarkan anak-anak kita hanya menonton temannya jajan.

Yang terpenting adalah, ketika dewasa kelak, anak-anak kita menjadi orang sukses yang bertanggung jawab. Dia paham kewajiban sosial atas lingkungan di sekitarnya.

Di Rumahku Ada Cinta

“Taman punya kita berdua. Tak lebar luas, kecil saja. Satu tak kelihatan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah”.

Itulah penggalan puisi Chairil Anwal, 1943, tentang rumahnya yang disebut taman. Taman hati. Taman hidup. Sempit ruangnya, tapi cinta membuatnya jadi teras cukup lapang dalam dada. Cinta membuatnya nyaman dihuni.

Rumah cinta
Rumah cinta

Kenyamanan. Itu rahasia jiwa yang diciptakan cinta: maka kita mampu bertahan memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh.

Cinta menciptakan kenyamanan yang bekerja menyerap semua emosi negatif masuk ke dalam serat-serat jiwa melalui himpitan peristiwa kehidupan. Luka-luka emosi yang kita alami sepanjang jalan kehidupan ini hanya mungkin dirawat di sana: dalam rumah cinta.

Dalam rumah cinta itu kita menemukan sistem perlindungan emosi yang ampuh. Mary Carolyn Davies mengungkapkannya dengan manis:

“Ada sebuah tembok yang kuat di sekelilingku yang melindungiku, dibangun dari kata-kata yang kau ucapkan padaku”.

Jiwa yang terlindung akan cepat bertumbuh dan berbuah. Sederhana saja. Karena hakikat cinta selamanya hanya satu: memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa. Melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika kita terus menerus memberi maka kita akan terus menerus menerima.

Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Seperti pohon: pada mulanya ia menyerap matahari dan air, untuk kemudian mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya: buahnya keindahan.

Dalam rumah yang penuh cinta itu kita menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh. Itu sebabnya rumah yang begitu seperti menghadirkan syurga dalam kehidupan kita. Rumah itu pasti utuh dan abadi. Adakah doa cinta yang lebih agung daripada apa yang diajarkan sang Rasul kepada kita di malam pertama saat kita meletakkan dasar bangunan hubungan jiwa yang abadi? Letakkan tangan kananmu di atas ubun-ubun istrimu, lalu ucapkan doa ini dengan lebut:

“Ya Allah, aku mohon kepada Mu kebaikan perempuan ini dan semua kebaikan yang tercipta bersama penciptanya”.

— Anis Matta–

 

 

Amerika Itu Negeri Muslim yang Hilang (2)

Colombus, Sang Pewaris Templar

Christopher Colombus sebenarnya bukan penemu daratan besar ini, pun bukan pula Laksamana Cheng Ho yang 70 tahun tiba lebih dulu di Amerika ketimbang Colombus.

Lima abad sebelum Colombus tiba, para pelaut Islam dari Granada dan Afrika Barat, sudah menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali suku-suku asli yang tersebar di beberapa bagiannya.

Suku Indian
Suku Indian

Imigran Muslim pertama di daratan ini tiba sekira tahun 900 hingga setengah abad kemudian pada masa Dinasti Umayyah. Salah satunya bernama Khasykhasy Ibn Sain Ibnu Aswad dari Cordoba. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pertama kalipada suku-suku asli Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam saat itu. Suku-suku itu antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.

Suku Cherokee
Suku Cherokee

Stelah jatuhnya Granada pada 1492, disusul inquisition yang dilakukan terhadap kaum Muslimin dan Yahudi di Spanyol, maka imigran gelombang kedua tiba di Amerika pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Raja Spanyol, Carlos V, di tahun 1539 sempat mengeluarkan larangan bagi Muslim Spanyol untuk hijrah ke Amerika.

Bahkan, menurut prasasti berbahasa Arab  yang ditemukan di Mississipi Valey dan Arizona, dikatakan jika orang-orang Islam datang ke daratan ini juga membawa gajah dari Afrika.

Colombus sendiri baru datang ke “Amerika” di akhir abad ke-15 Masehi ketika benua itu sudah didiami Muslimin Indian. Dalam ekspedisi pertamanya, Colombus dibantu dua nahkoda Muslim bersaudara: Martin Alonzo Pizon yang memimpin kapal Pinta dan Vicente Yenez Pizon yang ada di kapal Nina. Keduanya kerabat sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abuzayan Muhammad II (1362-1366).

Bahkan, Colombus sendiri, di dalam catatan perjalanannya, menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika berlayar di dekat Gibara di tenggara pantai Kuba, dia mengaku melihat sebuah masjid dengan menaranya yang tinggi yang berdiri di atas puncak bukit yang indah.

Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan jika berabad sebelum Colombus tiba di Amerika, sekolah-sekolah Islam sudah tersebar di banyak wilayah, antara lain di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Mesa Verde di Colorado, Hickison, Summit Pass di Nevada, Mimbres Valley di Mexico, dan Tipper Canoe-Indiana.

Hal ini dikuatkan dengan temuan nama-nama Islam di berbagai kota besar di Amerika Serikat. Di tengah kota Los Angeles terdapat daerah bernama Alhambra, juga nama Teluk El-Morro dan Alamitos. Juga nama-nama seperti Andalusia, Aladdin, Alla, Albani, Alameda, Almansor, Almar, Amber, Azure dan La Habra.

Di tengah Amerika, dari selatan hingga Illionis, terdapat nama-nama kota kecil seperti Albany, Atalia, Andalusia, Tullahoma dan Lebanon. Di negara bagian Washington juga ada nama daerah Salem. Di Karibia, kata yang juga berasal dari kata Arab., terdapat nama Jamaika dan Kuba, yang berasal dari bahasa Arab “Quba”. Ibukota Kuba, Havana juga berasal dari bahasa Arab “La Habana”.

Seorang sejarawan bernama Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada 484 dan di Kanada ada 81.

Dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, nama keduanya juga telah ditorehkan para pionir Muslim di tanah Amerika jauh sebelum Colombus lahir. Nama Mecca ada di Indiana, lalu Medina ada di Idaho, Tenesse, Texas, Ontario-Canada. Bahkan, di Illionis, ada kota kecil bernama Mahomet yang berasal dari nama Muhammad.

Sequoyah
Sequoyah

 

Suku-suku asli Amerika pun, kaum Muslim Indian, banyak yang nama sukunya berasal dari nama Arab, seperti: Apache, Anasazi, Arawak, Cherokee, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mohican, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Bahkan, kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Se-quo-yah, yang menciptakan silabel huruf Indian yang disebut Cherokee Syllabari pada 1821 adalah seorang Muslim yang senantiasa mengenakan sorban, bukan ikat kepala dari bulu burung. (Riski Ridyasmara)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/amerika-itu-negeri-muslim-yang-hilang-1.htm