Zulfikar, Meraih Mimpi dengan Keterbatasan Fisik & Ejekan

Namanya Zulfikar Rakhmat, mahasiswa Indonesia berusia 22 tahun yang tengah melakukan penelitian doktoral di Universitas Manchester tentang dampak perkembangan negara Asia terhadap perkembangan politik di Timur Tengah.

FB_IMG_1449921455856

FB_IMG_1449921466789FB_IMG_1449921449795

Zulfikar sejak lahir mengalami “Ashpyxia Neonatal”, yaitu gangguan yang menyebabkannya tidak bisa lancar dan tidak dapat menggunakan kedua tangan untuk sejumlah hal termasuk menulis.

Sebelum melanjutkan S-2 dan kemudian saat ini S-3 di Manchester, Zulfikar meraih gelar sarjananya dengan predikat terbaik di Universitas Qatar.

“Karena saya tidak bisa menulis dengan tangan, saya harus bawa laptop kemana-mana. Tapi saya tidak pernah menganggap ini sebagai beban, jalani saja -pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membebani hambaNya melebihi kemampuan mereka”, kata Zulfikar.

“Mungkin terkadang gaya bicara saya yang gagap membuat orang yang baru saya temui agak kesulitan memahami, tetapi lagi-lagi selalu ada jalan untuk mengatasinya seperti mengulanginya atau menjelaskannya melalui email setelah pertemuan.”

“Saya mengalami berbagai macam bullying, seperti ditertawakan, diejek, dikunci di kamar mandi, gerakan tangan saya yang ‘aneh’ diperagakan di depan kelas dan lain-lain”, cerita Zulfikar tentang ejekan dan cemoohan yang ia terima saat masih tinggal di Indonesia.

Ejekan yang paling parah dialami adalah, “Ketika seseorang mempertanyakan kemampuan saya untuk mencapai mimpi yang saya miliki. Saat itu sempat memang saya malas untuk sekolah karena ‘takut’. Tetapi ayah saya selalu berpesan bahwa jika saya nggak mau sekolah, berarti saya membiarkan keterbatasan saya menang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah membuktikan bahwa kita tidak seperti apa yang mereka katakan dan lebih beraharga dari apa yang mereka tertawakan.

Pada usia 15 tahun, keluarganya pindag ke Qatar dan sejak itu “Tidak ada ‘bullying’ seperti yang saya dapati di Indonesia. Semua saling memberi dukungan dan tidak ada ‘rasa tidak percaya’ terhadap mimpi yang dimiliki seseorang. Mereka percaya bahwa dalam kondisi apapun seseorang bisa menggapai mimpinya jika ada semangat dan kerja keras.”

Selain politik Timur Tengah dan Asia, Zulfikar juga tertarik pada ilmu komputer dan jurnalistik, dengan pengalaman menulis artikel di sejumlah media.

Memiliki Impian yang ‘Gila’ 2

Ketika mendirikan sekolah ini, kami dalam kondisi ekonomi yang sangat minus. Jadi kalau ada orang mengatakan: “Saya memulai dari nol”, itu masih sangat mendingan.

Saya memulai bangkit dari keterpurukan bukan dari “nol” lagi tapi dari “minus” besar. Tahun 2008 saya menjual rumah di Perumahan Wahana Harapan sebesar 85 juta. Rumah tersebut saya jual buru-buru karena khawatir keburu dilelang bank karena sudah tidak sanggup membayar cicilan bank BRI. Sehingga harganya pun jauh dari harga normal. Ketika itu harga pasaran rumah saya sekitar 120 jutaan.

Pada tahun 2009 rumah saya yang sudah saya tempati sejak tahun 2000, atau hampir 10 tahun. Rumah itu menyimpan saksi dimulainya sejarah kehidupan keluarga kecil saya. Di rumah itu pula kami mulai memiliki anak, yaitu Hafshah, Rahman dan Faiq. Rumah dan lingkungannya sudah seperti kampung halaman, 10 tahun gitu lho.

Rumah itu juga saya jual dengan terburu-buru karena sudah tidak punya lagi sumber pendapatan untuk membayar angsuran Bank BPR. Pada tahun yang sama, saya juga sudah menjual motor saya, sehingga tersisa motor Honda Legenda 2 yang menemani dan membantu kami┬ádalam melakukan aktifitasnya, dari mulai mengantar Hafshah sekolah di SDIT Attaqwa, mengantar Rahman sekolah di SD Negeri Setiaasih, mengantar istriku tercinta bekerja di SDIT Mentari Indonesia dan menemaniku ‘jalan-jalan’ mencari pekerjaan yang tidak pernah kunjung datang panggilannya atas puluhan surat lamaran yang sudah saya layangkan.

Tiap hari saya mengantar dan menjemput istri tercinta ke tempat kerjanya yaitu sebagai guru di SDIT Mentari Indonesia. Ketika itu saya suka berkhayal untuk memiliki SDIT.

Gila nggak sih, dalam kondisi ekonomi yang carut marut, saya berani mengimpikan untuk memiliki sesuatu yang bagi orang kaya pun belum tentu berani sekdar berangan-angan. Jangankan orang miskin, orang kaya saja sangat jarang yang memiliki keinginan untuk memiliki sekolah. Jangankan mengurus perizinan, mengelola sekolah apalagi modal yang harus digelontorkan pun gila-gilaan harus besar.

Lha saya, miskin, jobless, anak tiga, hutang banyak dan dalam kondisi keputus asaan yang cukup dalam, tapi masih sempat-sempatnya mengimpikan untuk memiliki sekolah…

Lanjut ya…