Dua Keimanan

Pada dasarnya, baik kami maupun umat kami, sama-sama beriman pada prinsip ini. Bedanya, keimanan mereka terbius dan tertidur lelap dalam jiwa mereka. Mereka tidak ingin menaati hukumnya dan melaksanakan tuntutannya. Sebaliknya, keimanan Ikhwan selalu bergelora, berkobar, kuat dan hidup dalam jiwa.

Bermunajad kepada Alloh

Kami dan orang lain dapat merasakan sebuah fenomena psikologis mengagumkan dalam jiwa kita -orang-orang Timur, yaitu bahwa kita sering mengimani sebuah fikrah, yang ketika dibicarakan dengan orang lain, terkesan seolah-olah fikrah itu dapat menghancurkan gunung, mengurus jiwa dan harta, membuat tahan uji menghadapi berbagai kesulitan dan berani melawan berbagai tantangan hingga kita mendapat kemenangan bersamanya atau ia menang bersama kita.

Tetapi, ketika gelora retorika itu reda dan semua orang lupa terhadap keimanannya dan lalai pada fikrahnya. Ia tidak berfikir untuk mengamalkannya dan tidak berniat jihad di jalanny, meski dengan selemah-lemah jihad. Bahkan terkadang kelalaian itu bertambah, hingga membuatnya melakukan hal yang bertabrakan dengan fikrahnya, baik sadar atau tidak sadar.

Bukankah anda akan tertawa heran, ketika melihat seorang tokoh pemikir, aktivis, dan ilmuan, yang dalam rentang waktu dua jam menjadi atheis bersama orang-orang atheis, sekaligus ahli ibadah bersama ahli ibadahnya.

Sikap pengecut, kealpaan, kelengahan, tidur, atau katakan apa saja yang anda mau, adalah pemicu kami untuk berupaya menghidupkan “prinsip kami”. Yaitu prinsip yang telah diterima oleh jiwa kaum yang kami cintai.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 23-24

Tingkatan dan Peranan Manajemen

Tingkatan Manajemen

Teoretikus manajemen, Robert N.Antony memberikan nama untuk pembagian tiga tingkat manajemen utama, yaitu puncak, menengah dan rendah. Para mananjer di puncak hierarki organisasi, seperti presiden dan wakil presiden seringkali disebut berada pada tingkat perencanaan strategis (strategic planning level), mengakui adanya fakta bahwa keputusan mereka seringkali akan memiliki dampak pada keseluruhan organisasi selama bertahun-tahun kemudian.

Membangun sistem
Membangun sistem

Manajer tingkat menengah meliputi manajer regional, direktur produk dan kepala divisi. Pada tingkatan ini disebut tingkat kendali manajemen (management control level). Hal ini dikarenakan manajer tingkat menengah memiliki tanggung jawab untuk menjalankan rencana dan memastikan tercapainya tujuan. Manajemen tingkat ini disebut juga tingkat taktis.

Manajer tingkat rendah meliputi kepala departemen, penyelia dan pimpinan proyek. Tingkat terendah ini disebut tingkat kendali operasional (operational control level). Hal ini dikarenakan di sinilah operasi perusahaan benar-benar terjadi.

 Peranan Manajemen

Agar organisasi dapat survive dan berkembang, maka ia harus mencapai tujuan-tujuannya. Memproduksi barang dan jasa memenuhi permintaan pasar melibatkan usaha bersama dari banyak orang. Usaha bersama ini harus dikoordinasikan dan dikelola pada banyak tingkatan yang berbeda, yaitu di dalam organisasi, antar organisasi, pada tingkatan nasional dan internasional.

Sebuah usaha bisnis dengan akses ke bahan baku, mesin, dana dan tenaga kerja akan gagal apabila tidak disertai unsur terpenting, yaitu kemampuan untuk menggunakan sumber daya tersebut secara efisien. Tidak sedikit perusahaan yang mengalami kegagalan sebagai akibat dari salah urus atau mismanajemen. Kondisi tersebut sebagian disebabkan karena tidak mumpuninya perencanaan, kurangnya wawasan atau pandangan masa depan dan mungkin saja nasib yang tidak mujur. Namun, kunci dari semua itu adalah sumber daya hanya bisa digunakan secara proporsional oleh manajer yang efektif.

Oleh karenanya, peranan dari manajemen senantiasa dipandang penting dan menonjol dalam bisnis dan masyarakat. Semua organisasi bertanggung jawab kepada orang atau pihak tertentu, apakah para pemilik (pemegang saham), kalangan masyarakat tertentu atau masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, dipastikan akan ada orang atau pihak yang pada akhirnya menilai baik atau tidaknya kinerja suatu organisasi.

Manajer puncak dari suatu organisasi tentunya dengan bantuan manajer umum dan para ahli mengendalikan arah dari organisasi agar dapat mencapai tujuan dengan sebaik mungkin. Hal ini terutama sekali ketika organisasi sedang menghadai masa-masa sulit. Manajemen memiliki peranan amat penting karena ia merupakan kunci bagi tercapainya keberhasilan organisasi. Kualitas dari manajemen  menjadi pertimbangan penting pada saat dilakukan penilaian atas kelayakan usaha, tingkat kepercayaan dan prospek sebuah organisasi bisnis. Harga saham merupakan salah satru cerminan keberhasilan sebuah manajemen perusahaan publik.

Manajemen, sebuah Prinsip yang Mendunia

Tidak berlebihan kiranya apabila dikataka bahwa prinsip-prinsip yang diterapkan dalam manajemen merupakan prinsip yang bersifat universal. Ia dapat diterapkan pada semua jenis organisasi, baik organisasi yang berorientasi pada laba seperti perusahaan maupun organisasi yang bersifat nirlaba seperti organisasi olahraga, lembaga keagamaan, rumah sakit, atau yayasan sosial dan juga untuk berbagai tingkatan organisasi.

Tugas-tugas manajer berbeda dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Hal ini dikarenakan setiap organisasi membutuhkan penggunaan pengetahuan tertentu, berada dalam lingkungan kerja dan lingkungan politik yang berlainan dan penggunaan atau kebutuhan teknologi yang berbeda. Henry Fayol, seorang perintis bidang ilmu manajemen menyatakan bahwa “semua manajer harus memiliki karakteristik tertentu, seperti kualitas fisik dan mental yang positif serta pengetahuan tertentu yang berhubungan pekerjaan yang khusus”. BC.Forbes menekankan pentingnya persyaratan atau kualifikasi pribadi yang lebih khusus. Faktor-faktor semangat, kesungguhan maksud, kepercayaan diri, dan keyakinan akan manfaat diri merupakan karakteristik pokok dari para manajer yang meraih keberhasilan dalam karier mereka. Fayol dan Forbes sepakat bahwa unsur-unsur dasar dari keberhasilan manajemen dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi.