Dirgahayu PKS

DIRGAHAYU PKS

Tidak terasa… 18 tahun sudah.

Teringat ketika menghadiri deklarasi Partai Keadilan di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Lama…

IMG_20160215_120340-1

Aku naik bus PPD tingkat no 508 dari Kayumanis. Ketika itu aku masih kuliah semester 7.

Engkau mampu menjungkir-balikkan adagium: “politik itu kotor”. Adagium yg sengaja dihembuskan oleh kaum sekuler agar orang baik dan ulama menjauhi panggung pengelolaan negara.

Ada yg berharap, ada pula yg berusaha membusukkan partai ini.

Semoga tetap istiqomah…

#dirgahayupks, 20 hari lagi

Aku dan PKS

Saya bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sejak masih kuliah, yaitu sejak tahun 1998. Alhamdulillah sampai sekarang masih setia. Sudah 18 tahun, tidak terasa.

ais1

Saya tidak pernah terpikir dan tergoda untuk pindah ke partai lain yang baru dideklarasikan, sekalipun ada iming-imingnya.

Di partai ini, saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah seorang jundi yang siap menerima perintah tanpa reserve dari para qiyadah.

Saya hanya salah satu batu-bata dari sekian juta batu-bata yg menopang kokoh berdiri tegaknya PKS.

Bagi saya, partai hanya salah satu cara menegakkan Islam di Indonesia. Banyak cara lain, tetapi untuk bisa berkesempatan mengelola negara di Indonesia, hanya dengan mesin partai.

Banyak produk Undang-undang, Peraturan Daerah dan peraturan lainnya, adalah hasil negosiasi dengan para aktivis Islam yang masuk dalam partai dakwah ini.

Selamat milad ke 18 tahun. Semoga PKS tetap berkhidmad untuk rakyat.

Ais Zakiyudin
Sekretaris DPC Cikarang Utara Periode  2015-2018

Editor : Zaenuri

Sumber Air Mata Keinsyafan

Mari kita mengambil air dari sumber mata air keinsafan agar hidup semakin tergugah.
Ketika airmata menderas membasahi wajah dan hati kita, ini pertanda hadirnya saraf insaf.

Pertobatan dan kesadaran yang puncak. Maka, di saat inilah segala sesuatu yang selama ini telah menggembok jiwa menjadi terbuka, menghasilkan ‘kekuatan’ yang siap untuk melejitkan potensi yang diri.

Sebijak mata air keinsafan, mari kita belajar dari pengalaman. Lantaran pengalaman mengajarkan. Menyajikan sesuatu yang terbaik untuk kita. Meski kita menjadi bodoh jika selalu menyimpan anggapan bahwa untuk mengambil pelajaran dari suatu pengalaman kita harus mengalaminya.

Bukankah Allah telah menjelaskan kisah masa lalu untuk kita jadikan pengajaran. Dan ketika Allah mengabarkan apa yang akan terjadi esok, bukankah itu rambu-rambu sekaligus cita yang diharapkan manusia?

Seperti kisah Umar bin Khaththab masuk Islam. Berwatak keras dan bertubuh tegap, ciri khas Umar. Tak heran sebelum masuk Islam kaum Muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya perang batin itu bergemuruh selalu, antara mengagungkan ajaran nenek moyang, senang hiburan dan mabuk-mabukan, dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum Muslimin dalam mempertahankan keyakinan.

Sejernih mata air keinsafan. Melihat adik perempuannya Fatimah dan sang suami Sa’ad bin Zaid memeluk Islam, naik pitamlah Umar. Namun dari sikap beringas Umar kepada dua anggota keluarganya itu pula tak lama kemudian pintu hidayah terbuka untuknya. Hatinya tergetar membaca kalam Ilahi yang lembarannya dipegang oleh Fatimah.

Umar bergegas seraya menggenggam pedang menemui Muhammad Saw. Setelah berada di hadapannya, bertanyalah Rasulullah seraya memegang baju dan gagang pedang Umar.
“Engkau, wahai Umar, akankah terus begini hingga kehinaan dan azab Allah diturunkan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ? Ya Allah inilah Umar bin Khaththab, kokohkanlah Islam dengannya.”

Derai airmata keinsafan terus mengalir di sudut-sudut mata Umar mendengar kalimat-kalimat yang terhunus untuknya. Hatinya terus bergejolak memastikan kebenarannya karena ia tahu yang berucap adalah Muhammad sang al-amin.

Sederas airmata keinsafan, Umar lalu berucap, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah.”

Sejernih mata air keinsafan. Sekasar tamparan dan tendangan Umar kepada orang-orang yang dicintainya tak mampu menundukkan keimanannya, bahkan ia sendiri tersadarkan. Sekeras Umar akhirnya luluh mendengar firman-Nya.

Maka dalam setiap perubahan yang terjadi pada manusia keinsafan adalah pintunya. Adapun airmata keinsafan menandainya. Inilah momentum seseorang akan bangkit dari keterpurukannya.

Seperti Khalid bin Walid tersadar dengan masa lalunya. Seperti ketertarikan para tukang sihir raja Fir’aun yang akhirnya beriman mengikuti Musa.

Seperti kita yang akan mengambil hikmah atas kesalahan-kesalahan masa lalu.

Kesalahan yang Berhikmah
Dalam aroma keinsafan, apa pun airmata yang menetes di jalan Tuhan ini terasa melegakan hati kita. Airmata apa pun di jalan Tuhan begitu berarti. Lantaran Tuhan menjadi sumber mata air kehidupan kita. Setetes tetapi bermakna. Setetes tetapi melepaskan dahaga.

Setetes tetapi membangkitkan jiwa. Membangunkan mereka yang tertidur makin tak terasa. Mendorong gairah mereka yang sedang gontai keletihan di jalan Tuhan. Bisa menghibur mereka yang sedang dirundung duka. Atau mengingatkan saat-saat seseorang mulai lengah dari tugasnya. Bahkan, bisa menjadi tempat rehat orang-orang yang sehat. Obat bagi yang sakit.

Tafsir jalan lain menuju kesuksesan dunia, berdampak akhirat yang sesungguhnya.
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.s. Ali Imran [3]: 139)

Sebijak mata air keinsafan, luka itu tetap ada, meski kesalahan harus bisa diambil hikmahnya.

Bukan saja untuk pelakunya, bahkan untuk kita semuanya. Bahwa kesalahan‐kesalahan kecil itu tidak selalu kecil. Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka, kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

Jangan menangisi kesalahan. Menangislah lantaran kita terlambat mengambil sikap dalam menghadapi kesalahan.

Bertaubat dan segera menuju ampunan itulah jalan terbaik meraih kemuliaan.  (Ustadz Umar Hidayat M. Ag.)

Sumber: www.iman-islam.com

Makna Hidayah dan Berdoa Memohon Hidayah

Doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى

Ya Allah, aku mohon; Hidayah, takwa, kesucian diri dan kecukupan

Dalam hadits riwayat muslim sebelumnya, Nabi saw memohon 4 perkara; Hidayah, takwa, kesucian diri dan kecukupan.

Hidayah, sebagaimana dikatakan para ulama ada dua bentuk;

Pertama, berarti petunjuk,
Kedua, berarti tunduk dan taat mengikuti petunjuk tersebut.

Hidayah dalam arti petunjuk artinya kita diberi pemahaman yang benar dan lurus, tidak bengkok dan menyimpang, terkait ajaran Allah. Sehingga kita tahu, mana yang Allah perintahkan, mana yang dilarang. Mana yang Allah cintai, mana yang dibenci. Ini hidayah dalam arti pemahaman agama.

Karena itu, memohon hidayah semestinya berbanding lurus dengan upaya kita yang tak kenal henti untuk terus belajar memahami ajaran Islam.

Jika setiap hari kita meminta hidayah kepada Allah, melalui surat Al-Fatihah, mestinya itu berbanding lurus dengan semangat kita memahami Islam.

Hidayah yang kedua, adalah hidayah dalam bentuk ketundukan dan ketaatan kita kepada petunjuk Allah yang telah kita ketahui. Biasanya disebut taufiq.

Kalau sering ditanyakan, apa perbedaan antara hidayah dan taufiq, maka makna hidayah disini bermakna pemahaman atas petunjuk Allah, Sedangkan taufiq adalah kesiapan diri untuk mengikuti dan mena’ati ajaran-ajaran dan petunjuk-Nya.

Tahu wajibnya shalat, menutup aurat, haramnya homoseksual, riba, itu hidayah dalam arti pemahaman. Apakah dia taati semua itu? Itulah taufiq.

Maka ketika kita memohon hidayah kepada Allah, artinya kita memohon diberikan pemahaman yang benar terhadap agama, dan juga kekuatan dan kemauan untuk mentaatinya.

Sebagaimana doa Umar bin Khattab;

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Allahumma arinal haqqa haqqaa warzuqnattibaa’ah, wa arinal baathila baathilaa warzuqnajtinaabah.

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami yang haq itu haq dan kuatkan kami untuk selalu mengikutinya. Tunjukkan kepada kami yang batil itu batil dan kuatkan kami untuk selalu menjauhinya.”

Hidayah taufiq ini sangat mahal. Inilah penentunya. Tidak cukup seseorang bangga mempunyai ilmu yang melimpah tentang Islam, masalahnya dia mendapat taufiq tidak…?

Jika apa yang dia ketahui tidak berbuah ketaatan dan ketundukan, tapi justeru pembangkangan, bahkan mempengaruhi orang dengan dalihnya, itu musibah!

Sekedar bangga mampu membaca kitab kuning, alumni pesantren ini itu, anggota ini itu, semua itu tak ada gunanya jika tidak tunduk pada syari’at Allah.

Jangnkan mereka, Iblis yang sudah tinggal di surga, hidup bersama malaikat mulia, dan menyaksikan secara langsung kebesaran Allah, tetapi ketika ingkar, langsung Ditendang dari surga!

Maka, memohon hidayah kepada Allah artinya adalah, memohon diberikan pemamahan yang benar terhadap syariat-Nya, dan juga memohon dikuatkan untuk mentaati-Nya.

Dari sini kita dapat membedakan dua ayat yang sepintas bertentangan. Dalam surat Asy-Syura: 52

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya engkau (maksudnya Rasulullah) sungguh memberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Dengan ayat dlm surat Al-Qashash: 56

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء

Dalam ayat ini Allah menyatakan, “Engkau (maksudnya Rasulullah) sungguh tidak dapat memberi hidayah sekalipun kepada orang yang engkau cintai….”

Ayat yang pertama, maksudnya adalah bahwa Rasulullah saw tugasnya menyampaikan ajaran Allah dan menjelaskan syari’at-Nya.

Ayat kedua menjelaskan bahwa masalah seseorang menerima atau tunduk kepada yang Rasulullah saw sampaikan, itu bukan wewenangnya, tetapi wewenang Allah Ta’ala. (Ustadz Abdullah Haidir Lc)

Wallahu a’lam.

Sumber: www.iman-islam.com

Mendidikkan Sikap Adil

Ayah, sering kali kedekatan dengan sanak kerabat, menjadikan kita berlaku tidak adil. Dari situlah muncul kekacauan dalam keluarga dan akhirnya merambah ke ranah yang lebih luas. Kita mesti berhati-hati.
Sekali salah kemudian terulang akan menjadi rekam jejak yang sulit dihapuskan.

Nabi Saw mengajari kita berlaku adil meski kepada seorang anak kecil.

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., Rasulullah Saw pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang bocah dan di sebelah kiri beliau duduk orang tua.

Beliau bertanya kepada si bocah, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?”

Si Bocah menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku dari Tuan.”

Rasulullah Saw meletakkan minuman tersebut ke tangan bocah kecil itu. (H.r. Bukhari Muslim)

Ayah, sebagai pemimpin besar Rasulullah Saw mendidikkan nilai-nilai luhur dengan rela berkumpul dengan anak-anak kecil dan orantua dalam suatu tempat.

Inilah nilai ketawadhuan sekaligus keadilan yang menjadi jembatan menuju kecintaan.

Tanpa jarak, rasa cinta itu tumbuh sekaligus merekahkan berkah berjamaah.

Bahkan hak seorang bocah kecil terlindungi dalam naungan cinta. Nabi memberi ruang dengan bertanya kepadanya.

Prolog Nabi ini membangun rasa aman, menumbuhkan rasa hormat, menambahkan rasa cinta dan menghadirkan moralitas yang luhur akan pentingnya menanamkan nilai keadilan di tengah umat, terhadap siapa pun.

Namun bagaimana bila Ayah dihadapkan pada orang-orang yang begitu dekat dan begitu cinta yang hendak melakukan upaya mencederai keadilan seperti yang dilakukan Usamah, orang yang dicintai Nabi.

Usamah diutus menjadi perantara bagi keluarga Bani Makhzum yang kedapatan melakukan tindak kriminal untuk meminta keringanan hukuman.

Namun, sikap tegas Nabi menjadi sebuah monumen bersejarah, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya.”

Itulah keadilan Nabi.

Akhirnya Siapa pun tak bermain-main untuk mempermainkan hukum.

Ayah, ujian terbesar bagi seorang ayah adalah ketika yang terlibat kasus hukum adalah anaknya sendiri sedangkan ayah dituntut menegakkan keadilan itu. Inilah saat-saat integritas harus benar-benar ditegakkan.

Bagaimana mampu berlaku adil terhadap darah dagingnya sendiri, orang-orang yang dicintai. Lebih-lebih bila hal itu akan berimplikasi kepada harta, jabatan, kehormatan. Bagaimana seorang Ayah harus bersikap?

Syuraih dikenal sebagai hakim yang adil dan piawai dalam menyelesaikan masalah-masalah pelik. Kini beliau harus memutuskan kasus hukum yang menimpa anaknya.

Syuraih yang terkenal keadilannya didatangi oleh putranya.

Dia berkata, “Ayah, saya punya masalah dengan seseorang. Tolong Ayah dengar dulu permasalahannya. Jika menurut Ayah saya yang benar, maka saya bermaksud membawanya ke pengadilan. Namun jika sebaliknya, saya akan menyelesaikannya secara damai.”

Setelah mendengar pemaparan permasalahannya, hakim Syuraih tahu bahwa putranya berada di pihak yang salah. Namun dia tidak memberitahukannya secara terus terang.

Bahkan sebaliknya dia mendorong putranya untuk maju ke pengadilan. “Perkarakan saja ke pengadilan,” begitu kata Qadhi Syuraih kepada putranya.

Ketika sidang digelar, putranya tidak menyangka ternyata ayahnya, Qadhi Syuraih sebagai hakim menyatakan putranya kalah dalam perkara tersebut.

Anak itu marah dan kecewa. Dia merasa ditipu oleh ayahnya sendiri. Setelah keduanya sama-sama di rumah, sang anak melampiaskan kekecewaan kepada ayahnya.

Syuraih pun menjelaskan, “Dengarlah, wahai anakku. Di dunia ini kamu adalah orang yang paling aku cintai. Namun, Allah jauh lebih aku cintai.

Seandainya aku berterus terang bahwa kamu berada di pihak yang salah sebelum kamu maju ke pengadilan, aku khawatir kamu akan berdamai dengan cara menyuap orang yang punya masalah denganmu. Bila itu kamu lakukan, itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, wahai anakku.”

Sikap adil Qadhi Syuraih telah melahirkan rasa aman bagi lawan hukum anaknya. Pada saat yang sama sikap ini mengajarkan kepada anaknya rasa aman bagi yang lain. Rasa aman karena tidak melanggar hukum apalagi menyuap orang lain. Inilah pendidikan tentang keluhuran jiwa agar anak-anak berani bertanggung jawab.

Ayah, memang anak-anak kita tidak harus selalu berhasil dalam semua hal, namun pastikan bahwa mereka harus bertanggung jawab menjadi dirinya sendiri.

Sehingga, setiap anak akan belajar untuk menghormati hukum, peraturan, dan menjunjung nilai-nilai keadilan. Ini adalah kerja iman yang tertanam dalam jiwa dan hati anak-anak kita. Iman yang menghidupkan. Iman yang melahirkan keluhuran jiwa.

Bagaimana memulainya?
Keteladanan ayah dalam menegakkan keadilan pada setiap permasalahan keluarga akan menjadi bekal yang mahal bagi ananda tercinta.

Mereka yang akan merekam sikap ayah dalam file fitrah yang akan diputar saat mereka menghadapi masalah.

Keadilan sikap ini perlu dikomunikasikan agar tidak disalahtafsirkan oleh anak-anak kita. Sebab, jika tidak dikomunikasikan akan bisa menimbulkan permasalahan yang lebih besar.

Qadhi Syuraih telah mengajarkan komunikasi itu dengan indah sehingga putranya bisa menerimanya dan masyarakat merasa aman karenanya.

Semoga kita bisa meneladani kisah ini dan menerapkannya dalam membersamai anak-anak kita agar berintegritas, berkeadilan, tidak mendompleng kepada kebesaran ayahnya dalam soal hukum dan keadilan. (Ustadz Solikhin)

Sumber: www.iman-islam.com

Mencari Kedudukan yang Tinggi (AL Manzilatul ‘Ulya)

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. (Q.S. At-Taubah: 24).

Beban kehidupan dunia yang kita hadapi, apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Masalah-masalah yang menhampiri pun jangan membuat merasa enggan menapaki jalan kebaikan yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Mereka tak kenal lelah, mereka pantang menyerah, dan mereka tak pernah mudah berkeluh kesah.

Maka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita?

Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah (QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Tak mudah kita berkaca dari sejarah di masa lalu. Perjuangan para sahabat yang selalu sigap dalam menjalankan amanah dakwah dan jihad. Juga para salafusshalih yang senantiasa menghabiskan waktunya untuk berkarya demi agama ini.

Waktu demi waktu dijalani tanpa sebuah kesia-siaan. Usia mereka memanjang lantaran kiprah besarnya di jalan dakwah ini. Jasad mereka telah tiada namun kebaikan yang mereka renda akan ada hingga dunia tutup usia.

Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan ri’ayah rabbaniyah.

Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar).

Dakwah dan jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang Muslim yang menghendaki al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT.

Setiap mukmin yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya “fafirruu ilallaah” (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51/50).

Dan setiap diri yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah.

Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmu’ah Rasail Al-Banna).

Adakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya?

Dan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah?

TIDAK!!!

Jalan menuju surga hanya ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam dakwah dan jihad. (Ustadzah Rochma Yulika)

Sumber: www.iman-islam.com

Sumber Ungkapan “Pemimpin Kafir Yang Adil Lebih Baik Dari Pemimpin Muslim Yang Zalim”

Akhir-akhir ini beredar ungkapan yang sangat disukai suatu ‘kaum’ demi memuluskan jalan bagi seorang kafir untuk memimpin negerinya.

Mereka menyebar perkataan yang mereka klaim sebagai perkataan Ali ra, yaitu, “Pemimpin kafir yang adil lebih utama dari pemimpin muslim yang zalim.”

Siapa muslim yang tidak mengormati Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu?!

Semua mencintai dan memuliakannya. Maka akan tampak sekali betapa kata-kata tersebut akan memberikan pengaruh kaum muslimin, terutama yang awam.

Tahukah anda, dibalik kata-kata itu ada racun syiah? Jangan marah dulu…. sini saya jelaskan.

Ungkapan itu bukan perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, tapi perkataan seorang tokoh ulama (baca: pendeta) syiah yang bernama Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus, dikenal dengan sebutan Sayyid Ibnu Thawus, Tokoh ulama Syiah asal Irak yang lahir tahun 589. Lengkapnya silakan lihat Wikipedia.

Pintarnya mereka (baca: liciknya) adalah ketika menyebut sumber ungkapan tersebut hanya menulis Ali ra saja, tidak menyebut nasabnya dengan lengkap, agar para pembaca mengira bahwa itu adalah ungkapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, tentu tujuannya agar mudah diterima masyarakat.

Kapan kata-kata itu diucapkan?

Anda ingat sejarah kelam yang menimpa dunia Islam saat keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad?

Yap, itu terjadi pada tahun 656 H = 1258 M. Saat itu pasukan Tatar yang dipimpin panglima kafir dan bengis yang bernama Hulagu Khan, menyerbu Baghdad dan menaklukkannya.

Baghdad luluh lantak dan porak poranda, perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan kitab-kitab berharga mereka musnahkan, penduduknya mereka bantai, sehingga ada yang memperkirakan satu juta warga Baghdad terbunuh. Kelam sekali.

Nah, suatu kali, Hulagu Khan mengumpulkan para ulama Baghdad untuk meminta fatwa mereka (hebat, orang kafir minta fatwa), mana yang lebih utama, pemimpin kafir yang adil atau pemimpin muslim yang zalim? Para ulama saat itu diam tak berfatwa. Sangat boleh jadi karena kondisinya sangat dilematis, karena di hadapan mereka ada pemimpin kafir yang kejam sedang berkuasa dan dapat berbuat apa saja, sementara mereka yakin bahwa seorang kafir tidak boleh diangkat sebagai pemimpin.

Namun akhirnya Ali bin Thawus ini berani mengeluarkan fatwanya dengan menyatakan bahwa pemimpin kafir yang adil lebih utama dari pemimpin muslim yang zalim.

Kisah ini tercatat dalam kitab-kitab karangan kaum Syiah sendiri, di antaranya; Al-Adab As-Sulthaniyah, karangan Ibnu Thaqthaqi.

Ini teks arabnya dari kitab tersebut:

لما فتح السلطان هولاكو بغداد في سنة ست وخمسين وستمائة أمر أن يستفتى العلماء أيهما أفضل: السلطان الكافر العادل أم السلطان المسلم الجائر ؟ ثم جمع العلماء بالمستنصرية لذلك ، فلما وقفوا على الفتيا أحجموا عن الجواب وكان رضيُّ الدين علي بن طاووس حاضراً هذا المجلس وكان مقدماً محترماً ، فلما رأى إحجامهم تناول الفتيا ووضع خطه فيها بتفضيل العادل الكافر على المسلم الجائر ، فوضع الناس خطوطهم بعده. -الآداب السلطانية لابن الطقطقي/-2

Jadi ucapan tersebut tidak bersumber dari Al-Quran, hadits, perkataan shahabat dan para ulama salaf dari kalangan Ahlussunah wal jamaah. Tapi dari mulut seorang syiah yang memang berkepentingan dengan ucapan tersebut saat itu.

Mengapa? Karena mereka sedikit atau banyak termasuk yang berperan atas kejatuhan Khilafah Abbasiah, tentu disamping faktor-faktor lain. Karena kelompok syiah terus merongrong penguasa Bani Abbasiah.

Tercatat dalam sejarah ada perdana menteri pada masa akhir Khilafah Bani Abbasiah yang bernama Ibnu Alqami yang secara diam-diam berkonspirasi dengan Hulagu Khan untuk menyerang Baghdad dan meruntuhkan kekhalifahan Bani Abbasiah, dengan harapan setelah itu dia diserahkan kekuasaan atas Baghdad.

Namun setelah pasukan Hulagu Khan menguasa Baghdad, kekuasaan itu tak diberikan kepadanya dan bahkan dia sendiri dibunuh. Kematian tragis seorang pengkhianat. (Ustadz Abdullah Haidir, Lc)

Sumber: www.iman-islam.com

Tugas Berat Siap Menanti (QS. Al-Muzammil)

Setelah itu tugas yang berat pun tidak akan membebani atau menjadi tanggungan yang berlebihan. karena pemikul amanahnya benar-benar telah siap, baik dalam menerima atau menyampaikan risalah, ataupun menanggung resiko yang akan ditemuinya sebagai konsekuensi dakwah tersebut.’’sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat’.(QS.73:5) Qatadah berpendapat,bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah hukuman-hukum Allah.sebagian ahli tafsir yang lainnya menerjemahkannya dengan janji dan ancaman Allah [10].

‘’Sebutlah nama tuhanmu,dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunan’’(QS.73:8)

Tugas berat selain di atas, perlu penambahan bekal lagi.berdzikir.dengan mengingat Allah selalu,juga akan menguatkan mental Rasulullah dalam menjalankan misi risalahnya,bahwa Allah maha kuat, maka siapapun takkan mampu melawannya. Allah lah sebaik-baik penolong. Allah maha mendengar, sebaik hamba-nya. Allah maha penyayang, dan kisahnya takkan pernah memiliki batas.

Dengan berdzikir, kita akan semakin mengenal Allah.Semakin menatapkan keimanan dan keyakinan kita sebagai penerus risalah Nabi saw.Itulah yang dikehendaki Allah dalam membekali kekasihnya, Muhammad saw.

‘’(Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrhib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah dia sebagai Pelindung’’. (QS.73:9)

Karena dzikir ini merupakan salah satu sumber kekuatan seorang mukmin dalam kondisi apapun. Senada dengan pesan arif Ibnu ‘Atha illah as-Sakandary[11], ‘’Jangan tinggalkan berdzikir. Sebab kelalaianmu saat berdzikir. Semoga allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh kesadaran. Dan dari dzikir yang penuh kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit” [12]. Hanya tinggal kita membiasakannya dan mau terus berusha.

Sikap Terbaik Dalam Menghadapi Rintangan Dakwah

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik’’. (QS. 73:10)

Kenilaian kelembutan Allah dengan bersabar. Dengan kesabaran ini akan semakin membuat seseorang dekat dengan Allah.Dan semakin membuatnya kokoh serta istiqomah. Keyakinan terhadap takdir Allah, juga akan membantu kita dalam bersabar dan membuat segala rintangan menjadi sebuah bumbu kehidupan. Justru akan terasa lebih manis [13].

Sabar merupakan salah satu bentuk kepasrahan yang positif.Bukan sikap menyerah atau apatis dalam merespon sebuah masalah. Maka siakap sabar seperti ini akan semakin membuat seseorang kuat. Dan akan semakin dewasa dalam mengambil sikap. Karena ia telah mengalahkan ego dan perasaannya.

Bagaimana tidak, bukankah yang memerintah bersikap sabar telah memberikan jaminan. Dia akan membuat perhitungan terhadap orang-orang yang selalu menyakiti dan menghalangi Rasulullah saw. Mendustakan risalahnya dan memandangkan permusuhan terhadap risalah yang diembannya. Maka biarlah Allah yang mengurusi mereka.

“Dan biarkan Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar”. (QS. 73: 11)

Allah tangguhkan mereka. Sebenarnya agar mereka mau berpikir untuk bertaubat dan menyadari kekeliruannya. Kemudian segera memperbaiki kesalahannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka semakin menjadi-jadi, memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya. Menindas dan menyakiti mereka, baik secara fisik ataupun dengan tekanan dan teror psikis yang mereka terus lancarkan. (Dr. Saiful Bahri, M.A)

Sumber: www.iman-islam.com

 

Larangan Jual Beli Najsyi

Ibnu Bathal mengemukakan bahwa para ulama sepakat menetapkan bahwa bai’ najsyi merupakan perbuatan maksiat. Dan jual beli yang dilakukan secara najsyi adalah batal menurut madzhab Dzhahiri dan Hambali.

Sementara Madzhab Maliki berpendapat bahwa jika terjadi bai’ Najsyi, pembeli berhak melakukan khiyar, yaitu berhak membatalkan jual beli tersebut, apabila kemudian ia mengetahui bahwa ia telah tertipu.

Adapun Ibnu Abi Aufa berkata, bahwa pelaku bai’ Najsyi adalah pemakan riba dan pengkhianat.

Jadi, kesimpulannya bahwa ulama sepakat, jual beli najsyi merupakan perubatan yang buruk dan dilarang oleh syariat dan oleh karenanya haram dilakukan.

Hukum Mempromosikan Dagangan

Secara umum, mempromosi kan barang dagangan atau produk tertentu adalah boleh saja, selama dilakukan dengan benar dan jujur serta tidak berlebih-lebihan (tidak bohong dan tidak ada unsur tipuan).

Adapun apabila iklan dilakukan dengan cara berbohong dan atau berlebihan, sehingga “menipu” image pembeli, maka hukumnya menjadi haram dan jual belinya menjadi tidak sah.

Oleh karenanya, dalam segala hal yang terkait dengan aspek marketing, hendaknya dilakukan dengan hati-hati, agar jangan sampai mengejar target penjualan tertentu sehingga kita mengorbankan ketaatan terhadap syariat dan hukum Allah SWT.

Dalam konteks muamalah kontemporer, bai’ najsyi bisa terjadi dalam praktek sebagai berikut :

Tender fiktif, dimana sesama pemasok yang mengikuti tender saling bersekongkol dalam masalah harga, untuk kemudian “menipu” perusahaan (calon pembeli) sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.

Penawaran fiktif terhadap objek tertentu, supaya harganya tinggi, sehingga barang tersebut dapat dibeli dengan harga yang tinggi.

Permintaan fiktir terhadap barang tertentu, sehingga pasar meresponnya dengan membeli barang-barang tersebut. Namun setelah para pedagang membelinya, ternyata tidak ada pembeli sesungguhnya di pasaran.

Bentuk Bai’ Najsyi Dalam Konteks Kekinian

Iklan terhadap suatu produk yang berlebihan, tidak sesuai dengan barang atau produk yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi dalam produk barang maupun jasa :

Produk Barang : batu akik, barang-barang seni, barang antik, dengan mengatakan misalnya batu-batuan tersebut bersumber dari barang yang langka. Atau karyawan seni tersebut merupakan karya seni yang bernilai sangat tinggi, dsb.

Produk Jasa : seperti asuransi, saham, yang dilakukan dengan cara promosi berlebihan, menutupi kekurangan dari produk tersebut, yang ditampilkan hanya kebaikan-kebaikan saja . Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Sumber: www.iman-islam.com

Ais: Masyarakat berhak mendapatkan pemimpin amanah

PKSCITRA-(BCL Waluya, 9/3/2016) BAPILU DPC PKS Citra adakan pelatihan kepemimpinan lingkungan guna meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kader dalam memimpin masyarakat.

PKL, 8 Maret '16

Pelatihan ini diisi oleh bapak Ais Zakiyudin, Sekum DPC, yang berbagi teori dan praktik selama menjabat ketua  Rt dan Rw.

Dalam pengantar pelatihannya bapak Ais menuturkan alasan mengapa kader pks harus menjadi ketua lingkungan?, “pertama, masyarakat berhak mendapat pemimpin yang amanah. Kedua, memberikan kontribusi kepada lingkungan secara optimal.” Ucap beliau.

Sambung ketua FKM GCC, “ketiga, belajar mengelola berbagai persoalan persoalan kemasyarakatan. Keempat, belajar memimpin orang orang dari berbagai latar belakang. Terakhir, benteng penjaga praktek money politik.”

Acara yang dihadiri oleh 35 orang yang perwakilan 10 dpra di kecamatan cikarang utara berjalan interaktif. Pemateri juga memberikan tips dan trik selama menjalankan amanah pimpinan lingkungan. Misalnya, ketika menghadapi warga yang ‘cerewet’ sampai cara membuat laporan keuangan secara periodik.

by NS

Sumber: http://pkscikarangutara.com/beritautama/ais-masyarakat-berhak-mendapatkan-pemimpin-amanah/