Mendidikkan Sikap Adil

Ayah, sering kali kedekatan dengan sanak kerabat, menjadikan kita berlaku tidak adil. Dari situlah muncul kekacauan dalam keluarga dan akhirnya merambah ke ranah yang lebih luas. Kita mesti berhati-hati.
Sekali salah kemudian terulang akan menjadi rekam jejak yang sulit dihapuskan.

Nabi Saw mengajari kita berlaku adil meski kepada seorang anak kecil.

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., Rasulullah Saw pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang bocah dan di sebelah kiri beliau duduk orang tua.

Beliau bertanya kepada si bocah, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?”

Si Bocah menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku dari Tuan.”

Rasulullah Saw meletakkan minuman tersebut ke tangan bocah kecil itu. (H.r. Bukhari Muslim)

Ayah, sebagai pemimpin besar Rasulullah Saw mendidikkan nilai-nilai luhur dengan rela berkumpul dengan anak-anak kecil dan orantua dalam suatu tempat.

Inilah nilai ketawadhuan sekaligus keadilan yang menjadi jembatan menuju kecintaan.

Tanpa jarak, rasa cinta itu tumbuh sekaligus merekahkan berkah berjamaah.

Bahkan hak seorang bocah kecil terlindungi dalam naungan cinta. Nabi memberi ruang dengan bertanya kepadanya.

Prolog Nabi ini membangun rasa aman, menumbuhkan rasa hormat, menambahkan rasa cinta dan menghadirkan moralitas yang luhur akan pentingnya menanamkan nilai keadilan di tengah umat, terhadap siapa pun.

Namun bagaimana bila Ayah dihadapkan pada orang-orang yang begitu dekat dan begitu cinta yang hendak melakukan upaya mencederai keadilan seperti yang dilakukan Usamah, orang yang dicintai Nabi.

Usamah diutus menjadi perantara bagi keluarga Bani Makhzum yang kedapatan melakukan tindak kriminal untuk meminta keringanan hukuman.

Namun, sikap tegas Nabi menjadi sebuah monumen bersejarah, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya.”

Itulah keadilan Nabi.

Akhirnya Siapa pun tak bermain-main untuk mempermainkan hukum.

Ayah, ujian terbesar bagi seorang ayah adalah ketika yang terlibat kasus hukum adalah anaknya sendiri sedangkan ayah dituntut menegakkan keadilan itu. Inilah saat-saat integritas harus benar-benar ditegakkan.

Bagaimana mampu berlaku adil terhadap darah dagingnya sendiri, orang-orang yang dicintai. Lebih-lebih bila hal itu akan berimplikasi kepada harta, jabatan, kehormatan. Bagaimana seorang Ayah harus bersikap?

Syuraih dikenal sebagai hakim yang adil dan piawai dalam menyelesaikan masalah-masalah pelik. Kini beliau harus memutuskan kasus hukum yang menimpa anaknya.

Syuraih yang terkenal keadilannya didatangi oleh putranya.

Dia berkata, “Ayah, saya punya masalah dengan seseorang. Tolong Ayah dengar dulu permasalahannya. Jika menurut Ayah saya yang benar, maka saya bermaksud membawanya ke pengadilan. Namun jika sebaliknya, saya akan menyelesaikannya secara damai.”

Setelah mendengar pemaparan permasalahannya, hakim Syuraih tahu bahwa putranya berada di pihak yang salah. Namun dia tidak memberitahukannya secara terus terang.

Bahkan sebaliknya dia mendorong putranya untuk maju ke pengadilan. “Perkarakan saja ke pengadilan,” begitu kata Qadhi Syuraih kepada putranya.

Ketika sidang digelar, putranya tidak menyangka ternyata ayahnya, Qadhi Syuraih sebagai hakim menyatakan putranya kalah dalam perkara tersebut.

Anak itu marah dan kecewa. Dia merasa ditipu oleh ayahnya sendiri. Setelah keduanya sama-sama di rumah, sang anak melampiaskan kekecewaan kepada ayahnya.

Syuraih pun menjelaskan, “Dengarlah, wahai anakku. Di dunia ini kamu adalah orang yang paling aku cintai. Namun, Allah jauh lebih aku cintai.

Seandainya aku berterus terang bahwa kamu berada di pihak yang salah sebelum kamu maju ke pengadilan, aku khawatir kamu akan berdamai dengan cara menyuap orang yang punya masalah denganmu. Bila itu kamu lakukan, itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, wahai anakku.”

Sikap adil Qadhi Syuraih telah melahirkan rasa aman bagi lawan hukum anaknya. Pada saat yang sama sikap ini mengajarkan kepada anaknya rasa aman bagi yang lain. Rasa aman karena tidak melanggar hukum apalagi menyuap orang lain. Inilah pendidikan tentang keluhuran jiwa agar anak-anak berani bertanggung jawab.

Ayah, memang anak-anak kita tidak harus selalu berhasil dalam semua hal, namun pastikan bahwa mereka harus bertanggung jawab menjadi dirinya sendiri.

Sehingga, setiap anak akan belajar untuk menghormati hukum, peraturan, dan menjunjung nilai-nilai keadilan. Ini adalah kerja iman yang tertanam dalam jiwa dan hati anak-anak kita. Iman yang menghidupkan. Iman yang melahirkan keluhuran jiwa.

Bagaimana memulainya?
Keteladanan ayah dalam menegakkan keadilan pada setiap permasalahan keluarga akan menjadi bekal yang mahal bagi ananda tercinta.

Mereka yang akan merekam sikap ayah dalam file fitrah yang akan diputar saat mereka menghadapi masalah.

Keadilan sikap ini perlu dikomunikasikan agar tidak disalahtafsirkan oleh anak-anak kita. Sebab, jika tidak dikomunikasikan akan bisa menimbulkan permasalahan yang lebih besar.

Qadhi Syuraih telah mengajarkan komunikasi itu dengan indah sehingga putranya bisa menerimanya dan masyarakat merasa aman karenanya.

Semoga kita bisa meneladani kisah ini dan menerapkannya dalam membersamai anak-anak kita agar berintegritas, berkeadilan, tidak mendompleng kepada kebesaran ayahnya dalam soal hukum dan keadilan. (Ustadz Solikhin)

Sumber: www.iman-islam.com

Mencari Kedudukan yang Tinggi (AL Manzilatul ‘Ulya)

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq. (Q.S. At-Taubah: 24).

Beban kehidupan dunia yang kita hadapi, apapun bentuknya, jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan dan kesigapan memenuhi seruan dakwah dan jihad. Masalah-masalah yang menhampiri pun jangan membuat merasa enggan menapaki jalan kebaikan yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Mereka tak kenal lelah, mereka pantang menyerah, dan mereka tak pernah mudah berkeluh kesah.

Maka kita patut bertanya dan mengevaluasi diri. Seberapa kuatkah hakikat kehidupan abadi di akhirat telah tertanam dalam hati sehingga kita berhak mendapatkan ri’ayah rabbaniyyah tersebut yang membuat ruhul istijabah menjadi karakter dalam diri kita?

Seberapa kuat hakikat ini mewarnai atau men-shibghah (QS 2:138) diri dan perilaku kita sehingga segala resiko duniawi dalam dakwah dan jihad fi sabililillah menjadi kecil di mata kita?

Tak mudah kita berkaca dari sejarah di masa lalu. Perjuangan para sahabat yang selalu sigap dalam menjalankan amanah dakwah dan jihad. Juga para salafusshalih yang senantiasa menghabiskan waktunya untuk berkarya demi agama ini.

Waktu demi waktu dijalani tanpa sebuah kesia-siaan. Usia mereka memanjang lantaran kiprah besarnya di jalan dakwah ini. Jasad mereka telah tiada namun kebaikan yang mereka renda akan ada hingga dunia tutup usia.

Kehidupan mereka menjadi amat berarti dan berharga karena mereka sigap menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Kesigapan itu bukanlah suatu hal yang muncul begitu saja, melainkan adalah buah keimanan kepada Allah sebagai Pemberi dan Pencipta kehidupan, buah keimanan yang kokoh kepada hari akhir saat terwujudnya kehidupan dan kebahagiaan hakiki. Kesigapan itu lahir dari hati yang tidak lalai dari hakikat ini berkat taufiq dan ri’ayah rabbaniyah.

Oleh sebab itu, Allah SWT berfirman: “…dan ketahuilah bahwa Allah membentengi antara seseorang dengan hatinya, dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (di mahsyar).

Dakwah dan jihad adalah dua kata yang selamanya harus ada dan terpatri dalam diri seorang Muslim yang menghendaki al-manzilah al-‘ulya (kedudukan tinggi) di sisi Allah SWT.

Setiap mukmin yang memahami dan menghayati hakikat kehidupan pasti akan menempuh jalan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT. Ia akan mendekat, berlari, dan terbang menuju keridhaan-Nya “fafirruu ilallaah” (Q.S. Adz-Dzaariyaat/51/50).

Dan setiap diri yang di dalam relung hatinya terhunjam keyakinan bahwa kematian itu kepastian yang cuma terjadi sekali, maka ia akan memilih seni kematian yang paling mulia di sisi Allah.

Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengungkapkan bahwa umat yang dapat memilih seni kematian dan memahami bagaimana mencapai kematian yang mulia, maka pasti Allah berikan kepada mereka kemuliaan hidup di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat (Risalah Jihad-Majmu’ah Rasail Al-Banna).

Adakah jalan yang lebih mulia dan dapat membawa kita menuju puncak kebahagiaan selain jalan dakwah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan yang beliau nyatakan menjadi jalan pengikutnya?

Dan adakah kematian yang lebih terpuji di sisi-Nya yang selalu didambakan oleh hamba-hamba yang beriman sejak dulu hingga hari kiamat selain mati dalam jihad fii sabiililllah?

TIDAK!!!

Jalan menuju surga hanya ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan dalam dakwah dan jihad. (Ustadzah Rochma Yulika)

Sumber: www.iman-islam.com