Bocah yang Sudah Gede

Perbedaan umur saya dengan adik-adik saya cukup jauh. Jarak usia antara saya dan adik yang nomor dua saja 7 tahun, dengan adik nomor 3 berjarak 11 tahun apalagi adik yang nomor 4, 5 dan 6.

Ketika  saya memasuki SMA, adik yang nomor 4 baru lahir ke dunia ini. Jarak kelahiran saya dengan adik yang bungsu apalagi sekitar 24 tahun. Panjang bukan?

Maka tidak heran jika dalam beberapa hal kadang kami tidak nyambung dan ada kesenjangan dalam memahami berbagai persoalan.

Malah kadang, saya melihat adik-adik saya sebagai ‘bocah’ yang tidak perlu diambil hati manakala melakukan sebuah kesalahan.

Hal ini dikarenakan perbedaan dalam hal kedalaman ilmu dan pengalaman hidup yang tergambar dalam setiap pensikapan atas berbagai masalah dalam pergaulan sosial.

Dengan demikian, saya  harus lebih arif lagi dalam memahami berbagai perbedaan pandangan khususnya dalam pergaulan keluarga.

 

SDIT Wirausaha Indonesia: Dasar Pemikiran Pendirian dan Realitasnya

Dasar Pemikiran

Pemikiran yang mendasari saya mendirikan SDIT Wirausaha Indonesia adalah banyaknya keluhan dari teman-teman (termasuk saya hehe) yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang muatan keIslamannya baik, tetapi biayanya cukup tinggi untuk ukuran karyawan swasta.

Sementara, menyekolahkan anak di sekolah negeri muatan agamanya sangat kurang. Waktu belajar sangat singkat, contoh: kelas I masuk pukul 07.00 pulang pukul 09.00.

Akhirnya, teman-teman (termasuk juga saya) dengan sangat terpaksa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Sebuah pilihan yang tidak mudah dan bikin sedih.

Dari sanalah, saya mulai memikirkan bagaimana mendirikan sekolah Islam yang berkualitas, tetapi dengan biaya yang relatif bisa dijangkau oleh komunitas teman-teman.

Akhirnya, saya beserta tiga orang lainnya (Dadang Muhtari, Lartono dan Sufajar Butsianto) mendirikan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia (YSWI) pada tahun 2011. Melalui yayasan inilah kami mendirikan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wirausaha Indonesia pada tahun 2012. Sekolah ini mulai menerima siswa pada Tahun Pelajaran 2012/2013.

Gedung Sekolah?

Sekolah ini awalnya belum memiliki gedung sendiri. Kami menyewa ruko (alhamdulillah) dengan harga sewa murah. Perlu diketahui bahwa, sekolah ini didirikan bukan oleh kumpulan pengusaha kaya atau orang-orang yang memiliki aset yang banyak. Seperti sekolah tetangga, yang gedung sekolahnya sudah berdiri megah, baru menerima siswa.

TAHUN 2012
Gedung sekolah yang pertama kali, Sewa Ruko dengan biaya murah

Sekolah ini didirikan oleh kami, orang-orang biasa yang berpenghasilan rata-rata. Upaya kami adalah, sekolah ini mendapatkan siswa dahulu, baru sedikit-demi sedikit membangun dan memiliki gedung yang representatif.

20-okt16c
Gedung sekolah saat ini, penyempurnaan fisik berlanjut

Sekalipun secara ekonomi kami memiliki kemampuan finansial yang rendah, tetapi kami memiliki tekad dan kemauan yang kuat yakni: “Harus ada lembaga pendidikan Islam berkualitas berbiaya relatif terjangkau”. Itulah motto yang selalu saya tanamkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang menjadi impian saya, yaitu sekolah ini menjadi tempat membangun dan bersemainya fikrah anak-anak kami, ternyata tidak semudah yang diangankan.

Kenapa?

Ternyata banyak teman-teman saya yang tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Mereka lebih suka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang memiliki gedung megah, sekalipun secara fikroh masih dipertanyakan.

Apa sebabnya? Seribu alasan bisa dengan mudah dicari. Mulai dari keterbatasan sarana-prasarana, manajemen pengelolaan sekolah dan lain-lain, yang sesungguhnya hal itu bisa dimusyawarahkan jika ada kemauan dari para pihak.

Ternyata tidak mudah mengumpulkan teman-teman satu fikroh untuk membangun komunitas bersama dalam suka dan duka. Mungkin inilah gambaran umat Islam pada umumnya. Sangat sulit untuk bersatu dan memiliki impian bersama. Kita lebih suka nafsi-nafsi dan lebih sering mengikuti kemauan individual dibanding membangun kepentingan dan kebersamaan ikhwah. Walloohu a’lam.

Realitas Saat Ini

Saya realisitis saja, bagaimanapun sekolah ini memerlukan siswa dalam jumlah yang cukup agar bisa beroperasi secara mandiri tanpa menggantungkan dari pihak lain. Sekolah ini harus menjadi tempat bersemainya fikroh kebaikan anak-anak, siapapun orang tuanya, yang penting dia muslim dan tentunya mau menyekolahkan anaknya di sekolah ini.

Program unggulan

Saat ini kami sedang mengikhtiarkan sebuah PROGRAM UNGGULAN, yang insya Alloh dengannya kita semua yang terlibat mewujudkan program ini, akan ketularan keberkahan dan ridho-Nya, yaitu:

  • Program Tahfidz Al-Qur’an Khusus. Program tahfidz kelas khusus ini memiliki target hafalan 1.5 juz setiap tahun setiap siswanya. Jadi, jika siswa kelas 5 mengikuti program ini, maka pada saat lulus insya Alloh siswa memiliki hafalan 4-6 juz. Jika siswa kelas 4 mengikuti program ini, akan lebih banyak lagi hafalan yang bisa dicapai.
  • Program Mentoring. Program ini bertujuan untuk menguatkan akidah, ibadah dan akhlak siswa. Output dari program ini insya Alloh terwujud dalam 10 karakteristik siswa SDIT Wirausaha Indonesia.
  • Program Pembibitan Wirausaha sejak dini. Program ini sudah sejak awal berdirinya sekolah ini digulirkan. Tujuan dari program ini adalah membangun jiwa wirausaha pada diri anak-anak dan diharapkan menjadi pengusaha muslim yang hafidz akan menjadi paradigma yang utama dalam mencari ma’isyah nantinya setelah dewasa.

Yaa Alloh, berikanlah kekuatan kepada kami untuk mewujudkan cita-cita luhur ini. Aamiin.

 

 

Seminar Parenting: “Mengenali dan Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak”

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) menggelar seminar parenting secara berkala untuk membekali para orang tua murid cara mendidik anak-anak mereka, khususnya cara mengenali dan mengatasi kesulitan belajar, Sabtu (15/10/16) Jam 08 – 10 pagi.

dscn3644

Seminar dilaksanakan di kampus SWI, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, Bekasi, diikuti oleh 150 orang tua murid. Hadir sebagai pemateri, Zahra Zakaria, S.Pd, MM (Orthopaedagog dan Konsultan Pendidikan Anak).

Dalam kata sambutannya, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia, Nur Komariah, S.Pd.I, MM, menegaskan bahwa mengenali dan mencari sebab kesulitan belajar anak sangat penting.

“Orang tua harus bisa menggali kendala yang dihadapi oleh anak-anak kita ketika dalam masa-masa usia sekolah, dengan mengerti permasalahan mereka kita akan tergerak untuk mencarikan solusi,” katanya.

“Seminar yang kita adakan sebulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda ini sebagai upaya membantu para orang tua, agar mereka memahami hal tersebut,” pungkas kepsek SWI.

Kegiatan seminar parenting diawali dengan pentas siswa SDIT Wirausaha Indonesia, antara lain penampilan Tahfidz Al-Quran, baris-berbaris, tilawah Al-Quran, sambutan oleh Kepala Sekolah, acara inti dan diakhiri deng an pembagian doorprize dan doa penutup.

Amal Usaha dan Kontribusinya untuk Lingkungan

Ketika sekolah ini pindah ke lokasi baru, yakni di blok C, sekolah ini langsung memberikan kontribusi aktif bagi warga sekitar sekolah. Hal yang pertama kami lakukan adalah melaksanakan program Tebar Qurban Sekolah di lingkungan sekitar sekolah. Ketika itu tahun 2012, yaitu jauh sebelum adanya masjid di lingkungan.

Di lingkungan sekolah ini, saya memprakarsai pembentukan empat rukun tetangga (RT). Warga merasa sangat bersyukur karena saya memiliki inisiatif mengundang warga untuk membentuk kepengurusan RT. Karena selama ini mereka saling menunggu adanya musyawarah warga untuk membentuk kepengurusan RT. Setelah kepengurusan RT terbentuk, mereka secara mandiri melakukan pemilihan Ketua RW dan membentuk kepengurusan RW.

Setelah terbentuknya kepengurusan RT dan RW, warga semakin bisa memberdayakan diri.

Dikarenakan di lingkungan blok C belum ada masjid, atas inisiatif saya dan keinginan warga untuk memiliki sarana ibadah, mereka melakukan musyawarah untuk membentuk kepanitiaan pembangunan masjid.

Hanya saja, setahun setelah pembentukan kepanitiaan, sarana ibadah warga belum juga terwujud. Mereka kesulitan mencari dukungan dana untuk keperluan pembangunan masjid tersebut. Dalam kurun satu tahun, kas panitia menunjukkan angka Rp. 6 jutaan.

Saya mengajak musyawarah panitia pembangunan masjid dan jajaran pengurus Rt Rw dan saya kembali berinisiatif untuk: memindahkan lokasi masjid (semula musholla) dari lokasi yang kurang strategis ke lokasi yang cukup strategis, yakni posisinya di depan sekolah saya dan saya menawarkan diri untuk mencari donatur timur tengah untuk membantu mempercepat terwujudnya sarana ibadah idaman warga.

Setidaknya, jika donatur timur tengah bisa kami gandeng, maka kami bisa secepatnya mulai melaksanakan pembangunan masjid. Hal ini dikarenakan bantuan dari donatur sekitar 65 persen dari total biaya pembangunan masjid.

Masjid pun sudah mulai jadi, tetapi belum tersambung listrik. Sedangkan kondisi keuangan panitia sangat menipis, belum lagi panitia memiliki hutang material. Ketua panitia meminta kepada saya untuk menghibahkan salah satu sambungan listrik sekolah untuk masjid. Saya pun mengiyakan. Setelah itu saya juga menyerahkan tiga gulung sajadah panjang dan uang sebesar Rp. 4 juta untuk membantu pembelian material yang masih kurang.

Akhirnya, warga blok C kini memiliki masjid sendiri. Yang tadinya warga harus pergi ke masjid yang cukup jauh untuk melakukan shalat berjamaah, kini masjid selangkah dari rumah.

Ujian

Alloh SWT berkehendak lain dari apa yang saya bayangkan selama ini. Ternyata ada beberapa elemen warga yang amat membenci saya dan sekolah ini. Saya tidak tahu, kenapa mereka amat membenci saya dan sekolah ini.

Terbersit dalam pikiran saya: apa salah saya? apa salah sekolah ini? apakah sekolah ini keberadaannya merepotkan warga?

Walloohu a’lam. Padahal, sejak awal keberadaan sekolah ini sudah aktif memberikan kontribusi positif untuk lingkungan. Dari mulai penggunaan sarana sekolah untuk keperluan rapat warga, penggunaan sarana sekolah untuk keperluan pelaksanaan pemilu, sumbangan berupa tatakan lampu tiang dan lain-lain.

Ternyata, Alloh memiliki kehendak yang belum tentu sama dengan kehendak kita. Saya yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa kehendak Alloh SWT pasti jauh lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan kehendah hamba-Nya yang teramat lemah.

 

 

 

 

Uniknya Bermu’amalah dengan Ikhwah

Bermuamalah dengan ikhwah itu unik. Bagaimana tidak unik, Harga minta semurah-murahnya, diskon minta sebesar-besarnya. Masih tidak puas, pembayaran minta selambat-lambatnya.

Coba saja jika bermuamalah dengan orang lain. Semakin tinggi harga semakin bonafid, semakin besar diskon semakin merasa terhina, semakin cepat melunasi pembayaran semakin merasa terpercaya.

Ternyata banyak ikhwah yang TIDAK MENDUKUNG usaha ikhwah lainnya. Kok tidak mendukung? Bukannya harusnya mendukung demi kemaslahatan bersama? Iya tidak mendukung, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Contoh, ketika seorang ikhwah membuka warung, ikhwah lainnya tidak merasa berkewajiban untuk membeli di warung tersebut. Padahal jika seorang ikhwah membaik perekonomiannya, maka akan membantu ikhwah lainnya yang dalam kesulitan.

Contoh lainnya. Ketika seorang ikhwah mendirikan sekolah yang tujuannya adalah untuk menyemaikan dan menjaga fikroh anak-anak ikhwah, justru banyak ikhwah yang tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Alasannya? Klasik. Dari mulai keterbatasan sarana dan prasarana, pengelolaan yang dianggap kurang profesional dan alasan lainnya.

Jika kita telisik lebih jauh, keterbatasan sarana-prasarana… ya iyyalah, namanya juga sekolah baru, masih banyak yang harus dibenahi dari sebuah sekolah yang dibangun ditengah berbagai keterbatasan pemiliknya. Pengelolaan yang dianggap kurang professional… ya iyyalah, namanya juga baru mengelola sekolah, masih banyak ilmu yang belum dimiliki untuk mengelola sebuah sekolah.

Bukankan kita juga sering membuat permakluman jika bermuamalah dengan orang lain? Kenapa kita kehabisan alasan untuk memberikan pemakluman lebih kepada sekolah atau bisnis ikhwah lainnya?

Allah SWT menjadi saksi… sekalipun dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas, sekolah milik ikhwah telah mendukung keberadaan dakwah dan jamaah. Sekolah ikhwah menjadi saksi bertumbuh, berkembang dan menggeliatnya dakwah. Mulai dari pelaksanaan halaqoh rutin, musran, syuro-syuro dpra, syuro-syuro dpc dan syuro-syuro pemenangan dakwah lainnya. Memang belum besar kontribusi sekolah ikhwah untuk dakwah ini, tapi sudah memberikan warna, ketimbang hanya mengeluh.

Di sinilah sesungguhnya ikhwah diuji untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama bertahun-tahun ditarbiyah. Justru di sinilah ikhwah seharusnya tertantang untuk membesarkan lembaga sekolah yang keberadaannya menjadi lembaga dakwah yang mampu menyemaikan “Muwashofat Tarbawiyah”.

Apakah jika sekolah ini terus membesar, ikhwah akan rugi? Sangat naïf jika ada yang mengatakan demikian, karena faktanya, sejak lembaga ini lahir sudah memberikan kontribusi terbaiknya untuk dakwah.

Coba dech dicek… sekalipun sarana dan prasarana sekolah idaman ikhwah ini sudah sangat memadai, apakah kita bisa menggunakannya untuk halaqoh, syuro dpra, syuro dpc, syuro pemenangan pemilu, pelatihan saksi? Tentu tidak. Karena pemilik sekolah ini bukanlah pihak yang mendukung dakwah dan jamaah ini. Yang dia kenal hanyalah berbisnis. Anak antum sekolah, bayar, beres.

Ilustrasi manfaat sekolah

  • Sekolah milik umum :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah (itu saja)
  • Sekolah milik ikhwah :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah. Apa benefit lainnya? -Benefit lainnya adalah:  anak tertarbiyah sejak dini, -sarana sekolah bisa digunakan untuk keperluan musyawarah-musyawarah untuk kemenangan dakwah

Keterbatasan sarana dan prasarana seharusnya tidak membuat ikhwah patah arang, karena sunnatulloh sebuah perjuangan tentu membutuhkan proses. Toh, keterbatasan sarana-prasarana ini tidak berpengaruh terhadap prestasi siswa yang belajar di dalamnya. Toh keterbatasan sarana-prasarana tidak mengkerdilkan potensi-potensi kebaikan yang dimiliki siswa.

Justru siswa sejak dini sudah dikenalkan dengan taribiyah, sebuah sarana dakwah yang sudah dirasakan manisnya oleh para ikhwah. Jika kita mau bersabar sedikiiit saja, insya Alloh sarana dan prasarana sekolah semakin tahun semakin baik. Jadi ruginya di mana jika menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ikhwah?

Jika ikhwah saja tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah milik ikhwah, siapa dong yang akan percaya dengan sekolah ini. Siapa dong yang akan membesarkan sekolah ikhwah? Akan sebegitu beruntungnyakah ikhwah, jika sekolah milik ikhwah bubar?

Hanya untuk direnungkan bagi yang mau berfikir… bukan hanya befikir untuk diri sendiri, tetapi berfikir dalam kerangka keummatan.