Amal Usaha dan Kontribusinya untuk Lingkungan

Ketika sekolah ini pindah ke lokasi baru, yakni di blok C, sekolah ini langsung memberikan kontribusi aktif bagi warga sekitar sekolah. Hal yang pertama kami lakukan adalah melaksanakan program Tebar Qurban Sekolah di lingkungan sekitar sekolah. Ketika itu tahun 2012, yaitu jauh sebelum adanya masjid di lingkungan.

Di lingkungan sekolah ini, saya memprakarsai pembentukan empat rukun tetangga (RT). Warga merasa sangat bersyukur karena saya memiliki inisiatif mengundang warga untuk membentuk kepengurusan RT. Karena selama ini mereka saling menunggu adanya musyawarah warga untuk membentuk kepengurusan RT. Setelah kepengurusan RT terbentuk, mereka secara mandiri melakukan pemilihan Ketua RW dan membentuk kepengurusan RW.

Setelah terbentuknya kepengurusan RT dan RW, warga semakin bisa memberdayakan diri.

Dikarenakan di lingkungan blok C belum ada masjid, atas inisiatif saya dan keinginan warga untuk memiliki sarana ibadah, mereka melakukan musyawarah untuk membentuk kepanitiaan pembangunan masjid.

Hanya saja, setahun setelah pembentukan kepanitiaan, sarana ibadah warga belum juga terwujud. Mereka kesulitan mencari dukungan dana untuk keperluan pembangunan masjid tersebut. Dalam kurun satu tahun, kas panitia menunjukkan angka Rp. 6 jutaan.

Saya mengajak musyawarah panitia pembangunan masjid dan jajaran pengurus Rt Rw dan saya kembali berinisiatif untuk: memindahkan lokasi masjid (semula musholla) dari lokasi yang kurang strategis ke lokasi yang cukup strategis, yakni posisinya di depan sekolah saya dan saya menawarkan diri untuk mencari donatur timur tengah untuk membantu mempercepat terwujudnya sarana ibadah idaman warga.

Setidaknya, jika donatur timur tengah bisa kami gandeng, maka kami bisa secepatnya mulai melaksanakan pembangunan masjid. Hal ini dikarenakan bantuan dari donatur sekitar 65 persen dari total biaya pembangunan masjid.

Masjid pun sudah mulai jadi, tetapi belum tersambung listrik. Sedangkan kondisi keuangan panitia sangat menipis, belum lagi panitia memiliki hutang material. Ketua panitia meminta kepada saya untuk menghibahkan salah satu sambungan listrik sekolah untuk masjid. Saya pun mengiyakan. Setelah itu saya juga menyerahkan tiga gulung sajadah panjang dan uang sebesar Rp. 4 juta untuk membantu pembelian material yang masih kurang.

Akhirnya, warga blok C kini memiliki masjid sendiri. Yang tadinya warga harus pergi ke masjid yang cukup jauh untuk melakukan shalat berjamaah, kini masjid selangkah dari rumah.

Ujian

Alloh SWT berkehendak lain dari apa yang saya bayangkan selama ini. Ternyata ada beberapa elemen warga yang amat membenci saya dan sekolah ini. Saya tidak tahu, kenapa mereka amat membenci saya dan sekolah ini.

Terbersit dalam pikiran saya: apa salah saya? apa salah sekolah ini? apakah sekolah ini keberadaannya merepotkan warga?

Walloohu a’lam. Padahal, sejak awal keberadaan sekolah ini sudah aktif memberikan kontribusi positif untuk lingkungan. Dari mulai penggunaan sarana sekolah untuk keperluan rapat warga, penggunaan sarana sekolah untuk keperluan pelaksanaan pemilu, sumbangan berupa tatakan lampu tiang dan lain-lain.

Ternyata, Alloh memiliki kehendak yang belum tentu sama dengan kehendak kita. Saya yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa kehendak Alloh SWT pasti jauh lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan kehendah hamba-Nya yang teramat lemah.

 

 

 

 

Uniknya Bermu’amalah dengan Ikhwah

Bermuamalah dengan ikhwah itu unik. Bagaimana tidak unik, Harga minta semurah-murahnya, diskon minta sebesar-besarnya. Masih tidak puas, pembayaran minta selambat-lambatnya.

Coba saja jika bermuamalah dengan orang lain. Semakin tinggi harga semakin bonafid, semakin besar diskon semakin merasa terhina, semakin cepat melunasi pembayaran semakin merasa terpercaya.

Ternyata banyak ikhwah yang TIDAK MENDUKUNG usaha ikhwah lainnya. Kok tidak mendukung? Bukannya harusnya mendukung demi kemaslahatan bersama? Iya tidak mendukung, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Contoh, ketika seorang ikhwah membuka warung, ikhwah lainnya tidak merasa berkewajiban untuk membeli di warung tersebut. Padahal jika seorang ikhwah membaik perekonomiannya, maka akan membantu ikhwah lainnya yang dalam kesulitan.

Contoh lainnya. Ketika seorang ikhwah mendirikan sekolah yang tujuannya adalah untuk menyemaikan dan menjaga fikroh anak-anak ikhwah, justru banyak ikhwah yang tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Alasannya? Klasik. Dari mulai keterbatasan sarana dan prasarana, pengelolaan yang dianggap kurang profesional dan alasan lainnya.

Jika kita telisik lebih jauh, keterbatasan sarana-prasarana… ya iyyalah, namanya juga sekolah baru, masih banyak yang harus dibenahi dari sebuah sekolah yang dibangun ditengah berbagai keterbatasan pemiliknya. Pengelolaan yang dianggap kurang professional… ya iyyalah, namanya juga baru mengelola sekolah, masih banyak ilmu yang belum dimiliki untuk mengelola sebuah sekolah.

Bukankan kita juga sering membuat permakluman jika bermuamalah dengan orang lain? Kenapa kita kehabisan alasan untuk memberikan pemakluman lebih kepada sekolah atau bisnis ikhwah lainnya?

Allah SWT menjadi saksi… sekalipun dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas, sekolah milik ikhwah telah mendukung keberadaan dakwah dan jamaah. Sekolah ikhwah menjadi saksi bertumbuh, berkembang dan menggeliatnya dakwah. Mulai dari pelaksanaan halaqoh rutin, musran, syuro-syuro dpra, syuro-syuro dpc dan syuro-syuro pemenangan dakwah lainnya. Memang belum besar kontribusi sekolah ikhwah untuk dakwah ini, tapi sudah memberikan warna, ketimbang hanya mengeluh.

Di sinilah sesungguhnya ikhwah diuji untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama bertahun-tahun ditarbiyah. Justru di sinilah ikhwah seharusnya tertantang untuk membesarkan lembaga sekolah yang keberadaannya menjadi lembaga dakwah yang mampu menyemaikan “Muwashofat Tarbawiyah”.

Apakah jika sekolah ini terus membesar, ikhwah akan rugi? Sangat naïf jika ada yang mengatakan demikian, karena faktanya, sejak lembaga ini lahir sudah memberikan kontribusi terbaiknya untuk dakwah.

Coba dech dicek… sekalipun sarana dan prasarana sekolah idaman ikhwah ini sudah sangat memadai, apakah kita bisa menggunakannya untuk halaqoh, syuro dpra, syuro dpc, syuro pemenangan pemilu, pelatihan saksi? Tentu tidak. Karena pemilik sekolah ini bukanlah pihak yang mendukung dakwah dan jamaah ini. Yang dia kenal hanyalah berbisnis. Anak antum sekolah, bayar, beres.

Ilustrasi manfaat sekolah

  • Sekolah milik umum :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah (itu saja)
  • Sekolah milik ikhwah :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah. Apa benefit lainnya? -Benefit lainnya adalah:  anak tertarbiyah sejak dini, -sarana sekolah bisa digunakan untuk keperluan musyawarah-musyawarah untuk kemenangan dakwah

Keterbatasan sarana dan prasarana seharusnya tidak membuat ikhwah patah arang, karena sunnatulloh sebuah perjuangan tentu membutuhkan proses. Toh, keterbatasan sarana-prasarana ini tidak berpengaruh terhadap prestasi siswa yang belajar di dalamnya. Toh keterbatasan sarana-prasarana tidak mengkerdilkan potensi-potensi kebaikan yang dimiliki siswa.

Justru siswa sejak dini sudah dikenalkan dengan taribiyah, sebuah sarana dakwah yang sudah dirasakan manisnya oleh para ikhwah. Jika kita mau bersabar sedikiiit saja, insya Alloh sarana dan prasarana sekolah semakin tahun semakin baik. Jadi ruginya di mana jika menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ikhwah?

Jika ikhwah saja tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah milik ikhwah, siapa dong yang akan percaya dengan sekolah ini. Siapa dong yang akan membesarkan sekolah ikhwah? Akan sebegitu beruntungnyakah ikhwah, jika sekolah milik ikhwah bubar?

Hanya untuk direnungkan bagi yang mau berfikir… bukan hanya befikir untuk diri sendiri, tetapi berfikir dalam kerangka keummatan.