Tempe Mendoan

Sehabis pulang ngisi liqoan, mencari-cari makanan di tempat lauk. Mata ini spontan tertuju pada tempe mendoan. Saya tanya istri, dari umam kata istriku.

tempe

Jadi teringat kebiasaan 6 tahun silam, tepatnya tahun 2010.

Ketika itu saya rutin beberapa hari dalam seminggu menjemput istri yang pulang ngajar dari BSI sekitar pukul 19 an sekalian beli mendoan.

Faiq selalu pesan ke saya ketika saya mau menjemput uminya. “Abi beli mentoan ya”. Dia bilang mendoan bkn dg “d” tapi dg “t”.

Ada dua kebahagiaan ketika membeli mendoan pada saat itu. Pertama, bahagia karena sebentar lagi ketemu istri. Kedua, bahagia karena sebentar lagi kita akan makan makanan yg paling nikmat, mendoan.

Kami sekeluarga seolah tak sabar ingin segera menikmati tempe mendoan yg barusan dibeli.

Nikmaat sekali rasanya.

Sengsara Membawa Nikmat

Ada kejadian yg menyedihkan kami saat itu.

Istriku tetiba dipecat sebagai guru di suatu SDIT dibilangan pondok ungu.

Istriku dipecat tanpa ada selembar SP pun diterimanya. Kami bingung dan sedihh. Kenapa istriki dipecat? Apa karena sedang hamil?

Mungkinkah istriku buru-buru dipecat agar hilang kewajiban yayasan untuk memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan dengan tetap memberikan upah?

Sejak saat itu, timbul tekad saya utk mendirikan sekolah. Dimana di sekolah itu istri saya bukan saja menjadi guru, tetapi menjadi kepala sekolahnya.

Alhamdulillah wa syukurilah… Setahun kemudian cita-cita tersebut terwujud. Alloohu Akbar.

Aksi Bela Islam Jilid 4

Setelah 3 periode melakukan Aksi Bela Islam, kemarin kami berkumpul kembali di masjid Pondok Indah, mendengarkan tausiah dari Ustad Bachtiar Nasir. Tausiah kali ini tidak biasa. Semacam konferensi pers dari beliau menceritakan tentang before dan after Aksi Bela Islam.

20161104_144124

Saat beliau flash back menggambarkan kisah-kisah perjuangan yang dialami peserta dari berbagai kota, rasanya seperti berada didalam suasana itu kembali. Mesin waktu seolah diputar dan saya tiba-tiba masuk didalam kerumunan massa yang berteriak Allah akbar.. dan menangis lagi.. saat dibacakan sholawat Badar. Jamaah bergemuruh.

Berceritalah ustad tentang bagaimana perjuangan orang-orang Ciamis, yang sudah dipesankan bis-bis ditengah perjalanan agar mereka tidak kelelahan, tetapi mereka menolak. Alasannya, biarlah ini menjadi inspirasi bagi bangsa, menjadi energi bagi siapa saja untuk semakin semangat berjuang.

Berbeda dengan teman-teman dari Madura, saat mereka sudah membayar DP bis2 yang banyak, tiba-tiba ketika akan berangkat, pemilik bis mengembalikan uang DP dan membatalkan secara sepihak karena ditekan oleh penguasa setempat dan polisi.

Apa yang dilakukan rombongan bis asal Madura ini? Mereka bilang, “Kalo sampean ndak berangkat, bisnya kami bakar..”
Akhirnya bis-bis pun tetap berangkat seperti akad semula.

Itulah gaya yang berbeda sesuai daerah saat menghadapi tekanan penguasa. Namun intinya semua punya semangat sama. Bela agama..

Kini, semua itu telah berlalu. Perlakuan adil yang diharapkan masih belum nampak tanda-tandanya.
“Lalu apa yang harus kami lakukan ya ustad..?”
Ini yang menjadi pertanyaan para jamaah. Kami sudah siap jihad. Bahkan ada yang sudah memberikan surat wasiat kepada keluarganya, sekiranya harus mati.

Apa mau buat Aksi Bela Islam jilid 4 yang sama?
“Tidak..” kata ustad Bachtiar.
Kali ini beda..
Kita akan melakukan Revolusi!!
Sudah siapkah melakukan Revolusi?
Jamaah kembali bergemuruh. SIAAAPPP..!
Siap mati?
SIAPPP!!

“Yang mengatakan siap, saya minta berdiri..”
Semua jamaah berdiri! Tidak ada yang duduk.

Bulu kuduk saya berdiri. Merinding. Airmata terus berderai..

Ini luar biasa. Jamaah yang hadir di Masjid Pondok Indah ini bukan orang bodoh, bukan orang miskin. Rata2 jamaahnya orang kaya dan punya pangkat. Tapi mereka mau merelakan diri.

Ustad, seperti acara Closing On The Stage di acara2 seminar marketing, telah melakukan selling dengan sempurna, pikir saya.
Dan kemudian, beliau meminta jamaah duduk kembali.

“Revolusi kita kali ini tidak dengan kekerasan. Revolusi kita kali ini adalah dengan akhlaq dan menggalang kekuatan Islam melalui pembangunan.
Siapa saja yang mau menyumbangkan ide, tenaga dan harta. Seperti beberapa lalu saya didatangi oleh perkumpulan notaris Islam yang siap membantu para UKM mengurus usahanya, persatuan kru media film dan televisi untuk membuat film2 Islam, tontonan2 yang membangun, dll.
Inilah revolusi. Boikot semua yang berusaha merusak akhlaq bangsa hanya karena motif uang. Kembalikan pada khitohnya, sebagai mayoritas umat beragama yang ada di Indonesia…”

Ustad terus memberikan tausiahnya, motivasinya yang membakar.. sementara saya yang duduk dibelakang, telah mulai merenungi diri, “apa yang bisa aku sumbangkan untuk perjuangan ini..?”

Sofie Beatrix
Ibu rumah tangga
Writerpreneur