Biaya Hidup yang Semakin Naik

Memangnya pernah ada biaya hidup yang semakin menurun? Sepertinya belum pernah ada ya? Tapi kalau biaya hidup semakin ke sini semakin naik, itu sudah jamak.

Artinya, biaya hidup semakin naik adalah sesuatu yang sudah biasa dan sudah berlangsung dari zaman ke zaman, dari satu rezim ke rezim yang lain. Apalagi sekarang, konon harga bbm sudah naik, iuran bpjs juga dipastikan naik.

Tinggal bagaimana kita mensikapi semua kenaikan biaya hidup tersebut. Lah bagaimana nggak pusing, biaya hidup semakin naik, sementara gaji tidak naik-naik, sementara usaha tidak ada peningkatan laba dan lain-lain.

Apa saja yang ada di luar diri kita tidak bisa kita kendalikan, maka yang bisa kita kendalikan adalah apa-apa yang ada dalam diri kita. Misalnya, sikap, rencana ke depan dan keputusan yang akan kita ambil dan lain-lain.

Tinggal minta sama Allah agar kita selalu dimampukan untuk membeli apa pun berapa pun harga yang harus dibayar. Allah Mahakaya.

Baca juga:

Merenda Hari Menuju 10 September 2019

Beberapa hari ini saya dan istri sedang memikirkan hal yang cukup berat yang belum pernah dipikirkan sebelum-sebelumnya. Maklum kamibelum punya pengalaman untuk hal ini. Ya kami memikirkan rencana kepergian putri pertama kami ke luar negeri. Sesuatu yang luar biasa bagi kami saat ini.

Anak ini sejak lulus sekolah dasar langsung masuk pesantren dan kini sudah lulus setelah selama 6 tahun menempuh pendidikan di sana. Artinya praktis sejak umur 12 tahun kami sudah berpisah dan hanya bertemu dua bulan sekali dan pulang setiap enam bulan.

Setelah tiga bulan kami bersama lagi di rumah selepas lulus dari pesantren, ada rencana kepergian ke negeri orang, yaitu ke Turky. Keberangkatan ke Turky rencananya tanggal 10 September 2019. Dia akan berada di Turky untuk lima tahun, satu tahun pertama untuk belajar bahasa Turky, empat tahun masa kuliah S-1.

Rencana kepergian ke luar negeri bukan tidak pernah terpikirkan, bahkan ini adalah impian si anak dan kami orang tuanya.

Tidak terbayang, kami akan berpisah lagi entah untuk waktu berapa lama. Secara hitungan hanya lima tahun, tetapi kita tidak tahu, mungkin ada peluang kuliah S-2 ? Atau mungkin menikah dan menetap di sana? Wallohu a’lam.

Doa kami selalu menyertaimu nak, baik-baiklah membawa diri dan ingatlah hanya Allah subhanahu wa ta’ala tempat sebaik-baik bergantung dan meminta pertolongan, apalagi di negeri orang dimana orang tua dan sanak saudara mu jauh dari mu.

Sepenggal Kisah di Tonjong

Ahad, 25 Agustus 2019 adalah hari yang amat dinanti kami sekeluarga. Ya, kami berkesempatan untuk mengunjungi dua anak bujang kami di pesantren Darul Fikri, Tonjong, Brebes.

Anak-anakku, Muhammad Izzuddin Abdurrahman & Muhammad Faiq Muntashir. Hari ini adalah hari yang sangat Ummi nanti. Karena hari ini adalah jadwal penjengukan perdana bagi kalian di pondok pesantren Darul Fiqri. Ummi rasanya ingin sekali memeluk kalian. Alhamdulillah kesampaian juga ummi memeluk kalian. Sebagai curahan kasih dan rindu Ummi padamu.

Masih terbayang dalam ingatan Ummi saat kalian masih dalam buaian dan pelukan Ummi. Rasanya semua di dunia ini tak sebanding dengan kebahagiaan yang ummi rasakan. Anak-anakku, kalianlah anugerah terbesar dan terindah dalam hidup ummi.

Masih ingatkah kalian anak-anakku, saat kita selalu bersama sepanjang waktu, seolah tak terpisahkan. Ummi ingat semua kelucuan dan kenakalanmu yang tak pernah mampu sedikitpun membuat Ummi bisa marah kepadamu. Waktu begitu cepat berlalu, saat saat kita bisa bersama mulai berkurang.

Tanpa terasa kalian telah tumbuh semakin besar dan semakin terlihat istimewa di mata ummi. Ummi selalu bangga pada kalian, karena kalian adalah permata hatiku.

Kini kalian telah tumbuh menjadi pemuda pemuda yang tampan. Terbersit rasa bangga di hati Ummi. Subhanallah betapa besar karunia dan berkah yang diberikan oleh Allah kepada Ummi. Tak pernah putus ummi bersyukur dan berdoa, agar kalian selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin.

Lihat postingan lain: Sekolah penghafal Al-Qur’an dan Pembibit wirausaha

Pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Ummi di SDIT Wirausaha Indonesia

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) Jl. Nakula Raya No.1-4 Perum. Grand Cikarang City Blok C9 Karangraharja, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Ummi bagi siswa-siswinya hari Rabu (28/8/19) pagi.

Mengapa SWI ini sendiri mengambil langkah pembelajaran membaca al quran dengan metode Ummi, meskipun ada banyak metode membaca Al Quran seperti yang kita tahu? Karena kata Ummi diambil dari bahasa Arab yang berarti ibuku. Dengan pendekatan ini, pembelajaran diyakini bisa lebih efektif untuk mengajarkan cara membaca Al-Qur’an dengan beberapa metode, yakni metode belajar secara langsung, berulang-ulang, dan dengan penuh kasih sayang (direct, repetiton, affection).

“Mengawali sejak SWI ini berdiri, pembelajaran membaca Al Quran dengan metode ummi Foundation sudah mulai diterapkan. Hal ini seiring dengan pembekalan para pendidik untuk mengajarkan kepada anak-anak, ” ungkap Ais Zakiyudin sebagai ketua yayasan SWI.

“Adapun tahapan-tahapan dalam pembelajaran metode Ummi diantaranya :

  1. Pembukaan
  2. Apersepsi (pengulangan materi sebelumnya)
  3. Penanaman konsep (pokok bahasan)
  4. Pemahaman konsep
  5. Latihan
  6. Evaluasi
  7. Penutup

Menurut pemilik yayasan SWI, Ais Zakiyudin mengungkapkan bahwa strategi pembelajaran metode ummi melalui penanaman konsep belajar yang disertai oleh bahasa ibu insya Allah bisa menghasilkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

“Dikarenakan semua guru wajib mengajarkan metode Ummi, maka disinilah peran sekolah untuk mengembangkan mutu tenaga kependidikan melalui lembaga-lembaga pelatihan, agar dapat menerapkan pembelajaran yang berkualitas, dengan kualifikasi : guru menguasai dan paham penerapan metodologi Ummi serta sudah sertifikasi,” ujar salah seorang guru SWI. (Restu Kurniati)

Berjalan Pagi di Desa Danaraja

Hari Senin (26/8/2019) kami berkesempatan untuk berjalan-jalan menyusuri jalan yang menghubungkan antara desa Jembayat ke desa Danaraja dan desa-desa di sekitarnya.

Jalan ini merupakan jalan satu-satunya yang memungkinkan warga desa Danaraja dan sekitarnya ke pasar dan kota kecamatan. Maka tidak heran jika kondisi jalan ini sangat aktif dan ramai apalagi pada jam-jam di siang hari.

Baru pada malam hari lewat pukul 19.00 ke atas jalan sudah mulai sepi seiring dengan para penghuni rumah masuk ke dalam peraduannya.

Silakan baca juga: SDIT Wirausaha Indonesia

Ke Tanah Suci yang Tertunda

Ternyata punya uang tidak menjadi jaminan seseorang bisa berangkat umrah. Bagaimana tidak, bulan Desember 2017 saya membayar lunas biaya umrah untuk 3 orang yakni saya, istri dan ibu mertua. Kami sudah membayar lunas biaya umrah Rp. 67.5 juta atau masing-masing membayar Rp.22.5 juta, dengan fasilitas pesawat garuda/saudi arlines dan hotel bintang 5.

Eh tahu-tahu pada bulan Januari 2018 (atau Februari, saya lupa), dirut perusahaan travel umroh tempat saya mendaftar ditangkap polisi dengan tuduhan menggelapkan dana jamaah.

Antara percaya dan tidak. Apakah beliau benar-benar menyelewengkan dana ummat atau tidak, wallohu a’lam. Yang pasti, sikap yang harus saya ambil adalah: ini takdir atau kehendak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus kami terima dengan lapang dada. Apa pun ceritanya, tetap saja ini ujian dari Alloh SWT untuk kami sekeluarga.

Siapa yang tidak miris dengan belum berangkatnya kami ke tanah suci. Berkunjung ke tanah suci adalah impian setiap mukmin, termasuk saya, istri dan terlebih ibu mertua yang sudah sangat sepuh. Beliau sejak mudanya sangat ingin pergi ke tanah suci, akan tetapi ketika semua syarat terpenuhi seperti paspor, suntik meningitis dan pelunasan biaya, ternyata Allah SWT berkehendak lain.

Kami sedih, tetapi harus tetap mengedepankan prasangka baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah pasti sudah menyiapkan pengganti terbaik atas tertundanya kami berangkat umrah. Amiin.

Silakan lihat berita lain: https://swi.sch.id/2019/08/19/penerimaan-peserta-didik-baru-tahun-pelajaran-2020-2021/

Mengenang Masa Sekolah Dasar 1980 an

Di sela-sela acara menjenguk anak di pesantren, kami sekeluarga jalan-jalan pagi menyusuri jalan yang menghubungkan antara desa Jembayat, desa Danaraja dan sekitarnya.

Jalan dan suasana pedesaan itu adalah suasana yang penuh dengan kenangan bagi saya. Apalagi di jalan itulah sekolah dasar tempat kami bsersekolah berada, yaitu SD Negeri Jembayat 4.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, kami berfoto di depan Sekolah Dasar Negeri Jembayat 4. Seolah hadir kembali suasana hampir 40 tahun yang telah berlalu.

Terkenang saat kami jajan di pelataran samping gedung sekolah. Jajan cendol, jajan bubur pincuk plus masin, jajan ondal-andil dan lain-lain. Sebuah kenangan indah.

Di sini saya bersyukur masih diberikan umur panjang dan berkesempatan mengunjungi tempat bersejarah dalam kehidupan saya ini.

Lihat juga: SDIT Wirausaha Indonesia

Menjenguk Anak di Pesantren

25 Agustus 2019 adalah hari dimana kami para orang tua diizinkan menjenguk anak-anak kami di pesantren. Letak takhosus pesantren tempat anak-anak kami cukup jauh dari tempat tinggal kami. Kami tinggal di Cikarang, sedangkan mereka ditempatkan di Tonjong, Brebes.

Sekalipun jauh, alhamdulillah sangat dekat dengan rumah orang tua saya. Perjalanan hanya 1 jam dari rumah orang tua ke pesantren.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang kampung pada tanggal 24 Agustus di hari Sabtu. Kami menginap semalam di rumah orang tua, kemudian paginya kami bersama berangkat ke pesantren. Dikarenakan jauhnya itulah para oang tua santri banyak bermalam di penginapan obyek wisata Guci.

Rasa kangen yang membuncah membuat kami seolah tidak sabar ingin segera bertemu mereka. Maklum di pesantren ini kami hanya diizinkan untuk bertemu mereka dua bulan sekali. Apalagi anak kami ada dua di sana, Rahman dan Faiq. Rahman masuk ke pesantren untuk level SMA, sedangkan Faiq level SMP.

Rasa kangen bercampur senang dan haru membuat kami seolah selalu ingin membersamai mereka di pondok. Walaupun pada akhirnya, kami harus rela berpisah setelah 2-3 jam bercengkerama dan melepas kangen.

Para orang tua lain ada yang membawa anaknya ke tempat wisata dan menginap satu malam di penginapan. Karena pesantren memang membolehkan orang tua untuk membawa anak-anaknya satu malam saja. Sedangkan kami tidak memungkinkan untuk membawa mereka dikarenakan mobil sudah penuh sesak. Hal ini dikarenakan ibu, adik dan beberapa ponakan ikut dalam satu mobil, jadi sudah penuh sesak.

Alhamdulillah, semoga mereka menjadi anak sholeh dan menjadi penerang kubur orang tuanya. Amiin.

Lihat juga: SDIT Wirausaha Indonesia

6 Alasan Memilih SDIT Wirausaha Indonesia

Setidaknya ada 6 alasan kenapa SDIT Wirausaha Indonesia patut dijadikan pilihan untuk bersekolah bagi putra-putri bapak dan ibu, yaitu:

Pertama, sekolah sudah Terakreditasi A. Akreditasi dengan predikat A berarti Unggul, baik dalam kualitas proses kegiatan belajar mengajar, kualitas guru dan kualitas sarana-prasarana yang dimiliki sekolah.

Kedua, guru yang profesional, ramah dan penyayang kepada seluruh siswanya. Seluruh guru disamping sudah memiliki kualifikasi keguruan, juga sudah dibekali dengan sarana peningkatan kemampuannya melalui berbagai pelatihan, workshop, seminar dan beberapa sarana lainnya untuk menunjang kompetensinya sebagai guru.

Ketiga, ruang belajar yang nyaman. Seluruh ruang belajar sudah dilengkapi AC yang memungkinkan kegiatan belajar-mengajar dilakukan dengan nyaman.

Keempat, sarana dan prasarana yang lengkap. SDIT Wirausaha Indonesia memiliki sarana seperti perpustakaan, UKS, Labaoratorium, Lapangan olah raga yang terletak di lantai 3, sarana interaksi siswa dan lain-lain.

Kelima, biaya yang sangat terjangkau. Dengan semua sarana dan kualitas sekolah yang ada, SDIT Wirausaha Indonesia merupakan satu-satunya sekolah di kawasan ini yang berbiaya amat terjangkau, sehingga memudahkan para orang tua siswa dalam memilih sekolah berkualitas dengan kemampuan keuangan yang memadai.

Keenam, lokasi sekolah yang sangat mudah dijangkau, baik dengan berjalan kaki, bersepeda maupun kendaraan roda dua. Hal ini sangat penting mengingat banyaknya orang tua yang sibuk untuk mengantar siswa, sehingga memungkinkan siswa bisa dengan leluasa berjalan kaki dan bersepeda dalam perjalanan ke sekolah tanpa ada rasa khawatir dari orang tua.