Berjalan Pagi di Desa Danaraja

Hari Senin (26/8/2019) kami berkesempatan untuk berjalan-jalan menyusuri jalan yang menghubungkan antara desa Jembayat ke desa Danaraja dan desa-desa di sekitarnya.

Jalan ini merupakan jalan satu-satunya yang memungkinkan warga desa Danaraja dan sekitarnya ke pasar dan kota kecamatan. Maka tidak heran jika kondisi jalan ini sangat aktif dan ramai apalagi pada jam-jam di siang hari.

Baru pada malam hari lewat pukul 19.00 ke atas jalan sudah mulai sepi seiring dengan para penghuni rumah masuk ke dalam peraduannya.

Silakan baca juga: SDIT Wirausaha Indonesia

Ke Tanah Suci yang Tertunda

Ternyata punya uang tidak menjadi jaminan seseorang bisa berangkat umrah. Bagaimana tidak, bulan Desember 2017 saya membayar lunas biaya umrah untuk 3 orang yakni saya, istri dan ibu mertua. Kami sudah membayar lunas biaya umrah Rp. 67.5 juta atau masing-masing membayar Rp.22.5 juta, dengan fasilitas pesawat garuda/saudi arlines dan hotel bintang 5.

Eh tahu-tahu pada bulan Januari 2018 (atau Februari, saya lupa), dirut perusahaan travel umroh tempat saya mendaftar ditangkap polisi dengan tuduhan menggelapkan dana jamaah.

Antara percaya dan tidak. Apakah beliau benar-benar menyelewengkan dana ummat atau tidak, wallohu a’lam. Yang pasti, sikap yang harus saya ambil adalah: ini takdir atau kehendak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus kami terima dengan lapang dada. Apa pun ceritanya, tetap saja ini ujian dari Alloh SWT untuk kami sekeluarga.

Siapa yang tidak miris dengan belum berangkatnya kami ke tanah suci. Berkunjung ke tanah suci adalah impian setiap mukmin, termasuk saya, istri dan terlebih ibu mertua yang sudah sangat sepuh. Beliau sejak mudanya sangat ingin pergi ke tanah suci, akan tetapi ketika semua syarat terpenuhi seperti paspor, suntik meningitis dan pelunasan biaya, ternyata Allah SWT berkehendak lain.

Kami sedih, tetapi harus tetap mengedepankan prasangka baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah pasti sudah menyiapkan pengganti terbaik atas tertundanya kami berangkat umrah. Amiin.

Silakan lihat berita lain: https://swi.sch.id/2019/08/19/penerimaan-peserta-didik-baru-tahun-pelajaran-2020-2021/

Mengenang Masa Sekolah Dasar 1980 an

Di sela-sela acara menjenguk anak di pesantren, kami sekeluarga jalan-jalan pagi menyusuri jalan yang menghubungkan antara desa Jembayat, desa Danaraja dan sekitarnya.

Jalan dan suasana pedesaan itu adalah suasana yang penuh dengan kenangan bagi saya. Apalagi di jalan itulah sekolah dasar tempat kami bsersekolah berada, yaitu SD Negeri Jembayat 4.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, kami berfoto di depan Sekolah Dasar Negeri Jembayat 4. Seolah hadir kembali suasana hampir 40 tahun yang telah berlalu.

Terkenang saat kami jajan di pelataran samping gedung sekolah. Jajan cendol, jajan bubur pincuk plus masin, jajan ondal-andil dan lain-lain. Sebuah kenangan indah.

Di sini saya bersyukur masih diberikan umur panjang dan berkesempatan mengunjungi tempat bersejarah dalam kehidupan saya ini.

Lihat juga: SDIT Wirausaha Indonesia

Menjenguk Anak di Pesantren

25 Agustus 2019 adalah hari dimana kami para orang tua diizinkan menjenguk anak-anak kami di pesantren. Letak takhosus pesantren tempat anak-anak kami cukup jauh dari tempat tinggal kami. Kami tinggal di Cikarang, sedangkan mereka ditempatkan di Tonjong, Brebes.

Sekalipun jauh, alhamdulillah sangat dekat dengan rumah orang tua saya. Perjalanan hanya 1 jam dari rumah orang tua ke pesantren.

Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang kampung pada tanggal 24 Agustus di hari Sabtu. Kami menginap semalam di rumah orang tua, kemudian paginya kami bersama berangkat ke pesantren. Dikarenakan jauhnya itulah para oang tua santri banyak bermalam di penginapan obyek wisata Guci.

Rasa kangen yang membuncah membuat kami seolah tidak sabar ingin segera bertemu mereka. Maklum di pesantren ini kami hanya diizinkan untuk bertemu mereka dua bulan sekali. Apalagi anak kami ada dua di sana, Rahman dan Faiq. Rahman masuk ke pesantren untuk level SMA, sedangkan Faiq level SMP.

Rasa kangen bercampur senang dan haru membuat kami seolah selalu ingin membersamai mereka di pondok. Walaupun pada akhirnya, kami harus rela berpisah setelah 2-3 jam bercengkerama dan melepas kangen.

Para orang tua lain ada yang membawa anaknya ke tempat wisata dan menginap satu malam di penginapan. Karena pesantren memang membolehkan orang tua untuk membawa anak-anaknya satu malam saja. Sedangkan kami tidak memungkinkan untuk membawa mereka dikarenakan mobil sudah penuh sesak. Hal ini dikarenakan ibu, adik dan beberapa ponakan ikut dalam satu mobil, jadi sudah penuh sesak.

Alhamdulillah, semoga mereka menjadi anak sholeh dan menjadi penerang kubur orang tuanya. Amiin.

Lihat juga: SDIT Wirausaha Indonesia