Belum Pernah Bepergian ke Luar Negeri

Saya belum pernah bepergian yang jauh. Satu-satunya bepergian saya yang agak jauh adalah ketika wisata ke Pulau Tidung pada pertengahan Juni 2019 lalu.

Maret 2018 seharusnya ke Mekkah dan Madinah

Sesuai jadwal, bulan Maret 2018 seharusnya saya bersama istri dan ibu mertua berangkat umrah. Seluruh biaya sudah lunas di bulan Desember 2017. Paspor sudah dibuat, bahkan ibu mertua sudah suntik vaksin meningitis.

Tapi qadarullah, Allah SWT punya rencana lain. Direktur utama perusahaan travel umrah tempat kami mendaftar ditangkap polisi.

Apa tips memilih sekolah?

Mau melihat-lihat sekolah?

Sejak mendengar kabar itu, kami langsung menyadari bahwa kami tertunda untuk berangkat umrah, entah sampai kapan. Yang jelas, Allah SWT belum menghendaki kepergian kami ke tanah suci.

Sesekali menanyakan ke pihak perwakilan yang mendaftarkan umrah, jawabannya belum jelas. Ya sudah. Ini pasti yang terbaik.

Oleh karena tidak pernahnya kami melakukan perjalanan jauh, apalagi ke luar negeri itulah, bagi kami sesuatu yang sangat ajaib jika sekarang anakku pergi merantau ke negeri orang. Dia merantau ke negara Turki demi menempuh studi untuk memperoleh kesarjanaannya.

Jadi, kepergian putri pertama kami menjadi teramat spesial dikarenakan menjadi anakku satu-satunya saat ini dan pertama kalinya dalam sejarah keluarga kami.

Tentu saja kami berharap kepergian anak pertama ku menjadi jalan bagi adik-adiknya untnk bisa kuliah di luar negeri juga. Bisa ke negara yang sama atau mungkin ke negara lain yang berbeda sesuai impian mereka.

Barokallah untuk anakku.

Kebahagiannya adalah Kebahagiaan Kami

Sampailah anakku di tempat tujuan, yaitu Istanbul, Turki. Mereka berlima sampai di bandara sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sesampainya di Istanbul, mereka langsung membeli kartu perdana seluler dan memesan taksi dan menuju apartemen tempat mereka akan tinggal.

Apartemen Tempat Tinggal Hafshah dan kawan-kawan

Mereka akan tinggal sementara di apartemen tersebut atau mungkin selamanya selama studi di Turki tergantung nanti mendapatkan di mana universitasnya.

Sampai di apartemen sekitar pukul 24.00. Mereka langsung beres-beres dan bersiap untnk istirahat beberapa jam sampai waktu shubuh tiba pukul 03.00.

Jadi mereka punya waktu sekitar 3 jam untuk sekedar melepas penat setelah dalam perjalanan Indonesia – Qatar – Turki yang memakan waktu sekitar 13 jam.

Silakan baca juga: Bagaimana memilih sekolah yang terbaik?

Mereka tinggal di apartemen yang cukup baik, berfasilitas lengkap dan sangat strategis.

Mereka tidak perlu lagi mencuci pakaian, mencuci bekas makan, piring gelas dan lain-lain karena sudah ada abla yang siap melakukan semuanya. Abla (bukan jablay ya) adalah sebutan kakak untuk asisten rumah tangga perempuan. Sedangkan untnk laki-laki sebutannya abi.

Silakan lihat-lihat: SDIT Wirausaha Indonesia

Sewa apartemen cukup murah, yaitu sekitar Rp. 2.5 juta yang jika dibagi 5 orang menjadi Rp. 500.000. Lokasi apartemen sangat strategis karena letaknya di tengah-tengah kota Istanbul bagian asia. Disamping itu ada fasilitas kolam renang yang bisa digunakan kapan pun mau. Bandingkan dengan apartemen di Jakarta, sepertinya jauh lebih mahal.

Jika mau ke mall atau ke kampus cukup dengan berjalan kaki beberapa menit sampai. Oya jika mau ke eropa, cukup naik bus sekitar 40 menitan. Dekat ya?

Makanan di sana juga cukup murah. Makan kentang dan roti di IKEA harganya sekitar Rp.18 ribu. Jika di Kota Jakarta atau Cikarang mungkin sekitar 50 ribuan harganya.

Lingkungan di sana cukup nyaman dengan cuaca mirip di puncak Bogor. Lalu lintas cukup lengang untuk ukuran kota besar di sana. Semoga mereka betah dan dapat menggapai impiannya. Amiin.

Satu Nasehat untuk Anakku

Banyak sudah nasehat yang kami jejalkan untuk anakku jauh-jauh hari sebelum keberangkatan ke Turki.

Dari mulai urusan menjaga kesehatan, menjaga kebersihan diri, makan tepat waktu, manajemen belajar dan manajemen diri. Maklum dia akan pergi ke sebuah negeri yang jauh dari orang tua dan sanak saudara.

Ketika sampai bandara niat hati ingin memberikan seabrek nasehat untuk anakku. Alih-alih memberikan petuah bejibun, eh malah mata ini jadi berkaca-kaca seolah setiap kata yang saya ucapkan menjadi jalan mudah untuk menangis seperti emaknya.

Baru ngomong dua patah kata, mata ini langsung terasa panas, air mata sudah ngembeng dan siap untuk tertumpah.

Akhirnya, mau tidak mau saya harus irit nasehat. Daripada harus nangis tersedu sedan seperti emaknya? Apa kata dunia… haha

Akhirnya, saya hanya memberikan satu nasehat pamungkas, singkat dan padat, “Hafshah ingatlah, kamu harus mampu mengatur diri sendiri di negeri orang”. “Iya bi”, jawabnya sambil menahan air mata yang akan tumpah di kelopak matanya.

Hanya itu yang bisa saya katakan, itu pun dengan susah payah sambil mengatur nafas yang tersengal.

Silakan baca juga: Pilih-pilih sekolah?