Category Archives: Keluarga

Taman Wisata Pohon Miring

Hari ini Ahad (15/9/19) kami berwisata ke Taman Wisata Pohon Miring. Lokasi wisata ini terletak di desa Pancawati, Kabupaten Karawang.

Perjalanan dari Cikarang ke lokasi wisata pohon miring sekitar 1 jam.

Sebelum ke lokasi wisata kami terlebih dahulu ke rumah Eko dan di sana sudah menunggu Umam bersama anak dan istrinya.

Rumah Eko ini dekat dengan lokasi wisata pohon miring, hanya sekitar 20 menit dari sana.

Rencananya, kami akan berwisata bersama keluarga Eko dan keluarga Umam. Total ada sekitar 12 orang.

Kami berangkat dengan dua mobil. Sampai di lokasi pukul 10 an.

Lokasi wisata dari jalan raya provinsi sekitar 8 kilometer. Dari jalan provinsi masuk jalan kabupaten, dari sana kita melalui jalan yg tidak beraspal menuju lokasi.

Sampai di lokasi kami langsung membayar parkir 10.000 per mobil. Ad sekitar 15 mobil di sana, sedangkan motor terparkir sekitar 50 an.

Turun dari mobil, kami langsung berhamburan menuju pohon miring, karena terus terang saja, saya penasaran dengan penampakan pohon miring tersebut.

Dan benar saja, ada ribuan pohon berjejer rapi dan berpenampakan fisik yang miring. Di sana juga banyak arena permainan untuk anak-anak. Ada kereta, ada lempar tangkas dan lain-lain.

Warung-warung yang menjajakan aneka makanan berderet rapi tidak jauh dari lokasi.

Suasananya lumayan adem dan cukup ramai pengunjung. Beberapa pengunjung datang dengan mobil bak terbuka. Sesampainya di lokasi langsung makan bersama. Asyik banget.

Pulang dari wisata pohon miring kami langsung menuju rumah makan Pepes Jambal Haji Emin. Lokasinya tidak jauh dari wisata pohon miring, perjalanan sekitar 15 menit saja. Rumah makan ini dikenal masakan pepes ikannya yang sangat lezat.

Dan benar saja pepes ikannya sangat enak dan lezat apalagi ditambah lalapan dedaunan, kacang panjang muda, terong dan pete rebus, woow nikmat sekali. Sambelnya juga enak, pedasnya pas.

Selesai makan bersama, kami langsung menuju ke rumah Eko kembali.

Demikian, alhamdulillah kami hari ini bisa membahagiakan keluarga kami dengan wisata yang murah meriah.

Baca juga: Bagaimana memilih sekolah?

Belum Pernah Bepergian ke Luar Negeri

Saya belum pernah bepergian yang jauh. Satu-satunya bepergian saya yang agak jauh adalah ketika wisata ke Pulau Tidung pada pertengahan Juni 2019 lalu.

Maret 2018 seharusnya ke Mekkah dan Madinah

Sesuai jadwal, bulan Maret 2018 seharusnya saya bersama istri dan ibu mertua berangkat umrah. Seluruh biaya sudah lunas di bulan Desember 2017. Paspor sudah dibuat, bahkan ibu mertua sudah suntik vaksin meningitis.

Tapi qadarullah, Allah SWT punya rencana lain. Direktur utama perusahaan travel umrah tempat kami mendaftar ditangkap polisi.

Apa tips memilih sekolah?

Mau melihat-lihat sekolah?

Sejak mendengar kabar itu, kami langsung menyadari bahwa kami tertunda untuk berangkat umrah, entah sampai kapan. Yang jelas, Allah SWT belum menghendaki kepergian kami ke tanah suci.

Sesekali menanyakan ke pihak perwakilan yang mendaftarkan umrah, jawabannya belum jelas. Ya sudah. Ini pasti yang terbaik.

Oleh karena tidak pernahnya kami melakukan perjalanan jauh, apalagi ke luar negeri itulah, bagi kami sesuatu yang sangat ajaib jika sekarang anakku pergi merantau ke negeri orang. Dia merantau ke negara Turki demi menempuh studi untuk memperoleh kesarjanaannya.

Jadi, kepergian putri pertama kami menjadi teramat spesial dikarenakan menjadi anakku satu-satunya saat ini dan pertama kalinya dalam sejarah keluarga kami.

Tentu saja kami berharap kepergian anak pertama ku menjadi jalan bagi adik-adiknya untnk bisa kuliah di luar negeri juga. Bisa ke negara yang sama atau mungkin ke negara lain yang berbeda sesuai impian mereka.

Barokallah untuk anakku.

Kebahagiannya adalah Kebahagiaan Kami

Sampailah anakku di tempat tujuan, yaitu Istanbul, Turki. Mereka berlima sampai di bandara sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sesampainya di Istanbul, mereka langsung membeli kartu perdana seluler dan memesan taksi dan menuju apartemen tempat mereka akan tinggal.

Apartemen Tempat Tinggal Hafshah dan kawan-kawan

Mereka akan tinggal sementara di apartemen tersebut atau mungkin selamanya selama studi di Turki tergantung nanti mendapatkan di mana universitasnya.

Sampai di apartemen sekitar pukul 24.00. Mereka langsung beres-beres dan bersiap untnk istirahat beberapa jam sampai waktu shubuh tiba pukul 03.00.

Jadi mereka punya waktu sekitar 3 jam untuk sekedar melepas penat setelah dalam perjalanan Indonesia – Qatar – Turki yang memakan waktu sekitar 13 jam.

Silakan baca juga: Bagaimana memilih sekolah yang terbaik?

Mereka tinggal di apartemen yang cukup baik, berfasilitas lengkap dan sangat strategis.

Mereka tidak perlu lagi mencuci pakaian, mencuci bekas makan, piring gelas dan lain-lain karena sudah ada abla yang siap melakukan semuanya. Abla (bukan jablay ya) adalah sebutan kakak untuk asisten rumah tangga perempuan. Sedangkan untnk laki-laki sebutannya abi.

Silakan lihat-lihat: SDIT Wirausaha Indonesia

Sewa apartemen cukup murah, yaitu sekitar Rp. 2.5 juta yang jika dibagi 5 orang menjadi Rp. 500.000. Lokasi apartemen sangat strategis karena letaknya di tengah-tengah kota Istanbul bagian asia. Disamping itu ada fasilitas kolam renang yang bisa digunakan kapan pun mau. Bandingkan dengan apartemen di Jakarta, sepertinya jauh lebih mahal.

Jika mau ke mall atau ke kampus cukup dengan berjalan kaki beberapa menit sampai. Oya jika mau ke eropa, cukup naik bus sekitar 40 menitan. Dekat ya?

Makanan di sana juga cukup murah. Makan kentang dan roti di IKEA harganya sekitar Rp.18 ribu. Jika di Kota Jakarta atau Cikarang mungkin sekitar 50 ribuan harganya.

Lingkungan di sana cukup nyaman dengan cuaca mirip di puncak Bogor. Lalu lintas cukup lengang untuk ukuran kota besar di sana. Semoga mereka betah dan dapat menggapai impiannya. Amiin.

Satu Nasehat untuk Anakku

Banyak sudah nasehat yang kami jejalkan untuk anakku jauh-jauh hari sebelum keberangkatan ke Turki.

Dari mulai urusan menjaga kesehatan, menjaga kebersihan diri, makan tepat waktu, manajemen belajar dan manajemen diri. Maklum dia akan pergi ke sebuah negeri yang jauh dari orang tua dan sanak saudara.

Ketika sampai bandara niat hati ingin memberikan seabrek nasehat untuk anakku. Alih-alih memberikan petuah bejibun, eh malah mata ini jadi berkaca-kaca seolah setiap kata yang saya ucapkan menjadi jalan mudah untuk menangis seperti emaknya.

Baru ngomong dua patah kata, mata ini langsung terasa panas, air mata sudah ngembeng dan siap untuk tertumpah.

Akhirnya, mau tidak mau saya harus irit nasehat. Daripada harus nangis tersedu sedan seperti emaknya? Apa kata dunia… haha

Akhirnya, saya hanya memberikan satu nasehat pamungkas, singkat dan padat, “Hafshah ingatlah, kamu harus mampu mengatur diri sendiri di negeri orang”. “Iya bi”, jawabnya sambil menahan air mata yang akan tumpah di kelopak matanya.

Hanya itu yang bisa saya katakan, itu pun dengan susah payah sambil mengatur nafas yang tersengal.

Silakan baca juga: Pilih-pilih sekolah?

Kuliah di Turki, Impiannya Lima Tahun yang Lalu

Semalam kami packing untuk yang terakhir kalinya. Ya hal ini untuk memastikan semua barang-barang keperluan selama di Turki masuk ke dalam kedua koper dan satu tas jinjing.

Mulai dari pakaian rumahan, pakaian musim dingin, pakaian untuk aktifitas kuliah, sandal, sepatu, bumbu-bumbu, sabun, shampoo dan dokumen-dokumen pendukung studi kami pastikan masuk ke dalam koper dan tidak ada yang ketinggalan.

Ada yang menyentak saya. Sebelum tidur Hafshah memberitahukan bahwasanya setelah bongkar-bongkar buku sekolahnya, lima tahun yang lalu atau tepatnya ketika dia masih kelas 2 MTs ternyata dia sudah mengimpikan untuk bisa study ke Turki.

Setidaknya ada tiga macam dokumen objek yang menjadi afirmasi atas impian tersebut. Yang pertama, gambar Hafshah dan tulisan Turki ditulis tangan di sebuah kertas buku pelajaran. Yang kedua, ada peta dunia dimana peta Turki dilingkari dengan spidol. Sedangkan yang ketiga, foto bersama teman-temannya dimana di atas kepala masing-masing ditulis negara impian masing-masing. Teman-temannya ada yang menulis Madinah, Pakistan sedangkan Hafshah menulis Turki di atas kepalanya.

Amazing… dan ternyata benar, hari ini impian itu sudah terwujud. Hari ini kami mengantarnya menuju Istambul, Turki untuk melanjutkan kuliah.

Ketika impian ditancapkan, maka dia akan menemui kita seiring dengan perjalanan waktu. Impianlah yang akan menuntun kita menuju apa yang dicita-citakan.

Maka benar adanya sebuah ungkapan yang menyatakan, “Kamu akan Mendapatkan Sebesar Impian mu“. Maka janganlah takut untuk bermimpi. Gantungkan impian mu, Allah lah yang akan mewujudkan impian mu itu.

Selamat belajar di negeri orang nak. Doa orang tua mu dan orang-orang yang mencintai mu selalu menyertai desah nafas mu.

Silakan baca: Apa kelebihan SWI Islamic School?

Berangkat ke Turki

Hari ini Selasa (10/9/19) pukul 02.00 kami berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantar anak pertama kami, Hafshah Mar’atu Shaliha.

Kami berangkat bersama dengan rombongan keluarga Audi, anak ustadz Adih Amin yang juga akan berangkat ke sana. Dari keluarga saya sendiri ada saya, istri, Hafshah, Hulwah, Badi dan Husni.

Total ada 5 mobil konvoi menuju bandara. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, jalanan lancar dan tenang. Sampai di bandara pukul 04.20 dan kami segera bersiap untuk menunaikan ibadah shalat shubuh berjamaah di mushalla bandara.

Selesai shalat kami langsung menuju lantai 3 gate B dan C untuk persiapan chek in dan pertemuan dengan pemandu keberangkatan ke Turki, yakni Teh Anis dan dua orang yang juga akan berangkat study ke Turki. Jadi total yang akan berangkat ada 4 orang plus teh Anis menjadi 5 orang.

Teh Anis ini merupakan mahasiswa kedokteran di salah satu universitas di Istambul. Dalam hal ini kami sangat berterima kasih kepada Teh Anis yang telah membantu pemberangkatan anak kami ke Turki. Disamping Teh Anis, ada Fayyad dan Hanif yang merupakan pelajar beasiswa di Istambul dan sebentar lagi masuk kuliah yang juga sangat membantu keberangkatan anak-anak kami.

Mereka mengurus seluruh akomodasi penerbangan, dari pembelian tiket, pembuatan visa, persiapan dokumen studi dan lain-lain. Dalam hal ini kami sangat terbantu sekali. Alhamdulillah.

Pukul 06.00 mereka berlima berkenalan dan melakukan pertemuan singkat untuk pembagian tiket, visa dan penyamaan persepsi. Maklum mereka belum saling mengenal satu sama lain sehingga mereka harus saling memahami sebelum berangkat ke negeri orang nun jauh di sana.

Pukul 06.15 mulai chek in kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menit. Setelah itu kami berkesempatan untuk saling melepas haru, berpelukan dan untaian nasihat dari para orang tua kepada anak-anaknya. Istri saya sendiri tidak bisa menahan air mata menyaksikan kenyataan bahwa anak pertamanya akan meninggalkannya ke tempat yang jauh dan dalam waktu yang cukup lama.

Karena hanya kesempatan sebelum ke pemeriksaan imigrasi lah kami memiliki kesempatan terakhir sebelum terbang. Setelah masuk ke pemeriksaan imigrasi, kami benar-benar harus merelakan kepergian mereka ke negeri orang.

Pukul 07.40 an anak-anak kami menuju pintu pemeriksaan imigrasi. Air mata benar-benar tidak bisa tertahan dan benar saja langsung tumpah bersamaan dengan punggung mereka mulai tidak kelihatan karena antrian para calon penumpang yang lain.

Pukul 08.15 kami berpamitan kepada keluarga ustadz Adih Amin untuk segera meninggalkan bandara lebih dahulu. Karena memang urusan di bandara sudah tidak ada lagi. Kami tinggal menunggu kabar persiapan dan penerbangan menuju Qatar. Kabarnya di Qatar mereka akan transit sekitar 3 jam dan akan sampai di Turki sekitar pukul 01.00 WIB atau pukul 20.00 waktu Turki.

Semoga mereka mendapatkan apa yang diimpikan. Doa kami selalu menyertai mu nak…

Silakan baca juga: Apa yang menjadi pertimbangan orang tua memasukkan ke sebuah sekolah?

Berpamitan ke Nenek di Kalibata

Hari ini Ahad (8/9/19) adalah H-2 keberangkatan Hafshah Mar’atu Shaliha ke Turki yang insya Allah pada hari Selasa (10/9/19).

Untuk menggapai keberhasilan dan keberkahan ananda Hafshah, kami mengajak untuk sowan ke nenek tercinta, ibu Hj. Siti Hodijah di Jakarta Selatan.

Berangkat dari Cikarang pukul 08.15 alhamdulillah jalanan lancar dan sampai di Kalibata pukul 9.20.

Sampai di kediaman nenek, Hafshah langsung bercerita perihal rencana keberangkatannya ke negeri orang, yakni ke Turki.

Nenek mendoakan, semoga apa yang diimpikan tercapai dengan baik. Amiin, amiin ya Robbal ‘alamiin.

Silakan baca juga: Apa yang menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah?

Ceria Bersama Anak Yatim

Hari ini tidak biasanya. Kami bersiap-siap menuju kolam renang Kasih Cinta di daerah Cikarang Utara.

Ya hari ini Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia mengagendakan acara berenang bersama anak yatim, khususnya anak yatim yang bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia dan beberapa anak yatim dari sekolah lain yang diajak oleh guru SWI.

Seperti diketahui bahwa di SWI Islamic School ada siswa anak yatim yg bersekolah di sini. Mereka mendapatkan fasilitas bersekolah tanpa membayar biaya apa pun.

Nah pada hari ini Sabtu (7/9/19) kami mengajak mereka bersenang-senang menikmati suasana kolam renang nan asri. Kami ajak mereka bergembira ceria ria dan bahagia bersama guru dan keluarga pimpinan yayasan.

Disela-sela acara renang, siswa yatim menerima pembagian uang saku, snack dan makan siang. Alhamdulillah hari ini diwarnai dg kebahagiaan mereka. Semoga mereka selalu merasakan hal yang sama di hari-hari lainnya juga.

Kami berharap, dengan kebahagiaan yang mereka terima, yayasan, sekolah dan pimpinan yayasan dan sekolah mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Amiin.

Silakan baca juga: Tips memilih sekolah

Mensykuri Nikmat Perjalanan ke-19 Tahun

Perayaan hari pernikahan yang ke-19 tahun kami lakukan dengan mengumpulkan sanak dan saudara untuk bersilaturahim, khususnya adik-adik dan orang tua (ibu) saya, pada hari Selasa (3/9/2019).

Kami berkumpul di tempat wisata sekaligus rumah makan lesehan Mang Ajo yang terletak di Karawang Barat.

Disamping kami menikmati suasana pedesaan di tempat tersebut, dari mulai menikmati fasilitas bermain outbond untuk anak-anak kami, juga kami bisa menikmati aneka masakan gurame bakar, ayam kampung bakar, sayur asem, tahu tempe, kangkung dan lain-lain.

Suasana keakraban begitu terasa dalam perhelatan sederhana ini. Inti dari acara ini adalah kami mensyukuri perjalanan penikahan kami yang ke 19 tahun. Susah senang, suka duka kami lalui bersama, saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.

19 tahun bukan perjalanan yang singkat, tetapi perjalanan cukup panjang yang bukan hanya manis kami rasakan, tetapi juga kami merasakan pahit getir dan asam manis pengalaman hidup.

Yang cukup spesial dari acara ini adalah bertepatan dengan kepergian anak pertama kami Hafshah Mar’atu Shaliha ke Turky tanggal 10 September 2019, insya Allah.

Semoga ke depan kami lebih baik lagi.

Silakan baca juga: Tips memilih sekolah keren

Menjaga Silaturahim, Menggapai Sejahtera

Hari ini saya dan keluarga melakukan serangkaian silaturahim ke daerah pondok ungu. Perjalanan dari Cikarang ke Bekasi memakan waktu sekitar 1.5 jam. Kami berangkat pukul 07.15, sampai pukul 8.45.

Keluarga pertama yang kami kunjungi adalah keluarga bapak H. Wasiun yang tinggal di Perumahan Pondok Ungu Permai. Disamping bersilaturahim, kami meminta petuah kepada beliau khususnya nasihat untuk putri kami yang akan berangkat ke Turky pada 10 September 2019.

Secara hubungan darah, bapak H. Wasiun adalah sepupu dari ibu saya. Banyak wejangan, motivasi dan inspirasi yang membuat kami merasakan semangat untuk menyekolahkan anak ke Turky. Alhamdulillah tanpa diduga beliau menitipkan uang dollar sebesar US 100.

Silaturahim berikutnya adalah ke rumah bapak Zaenal, kemudian ke rumah bapak Sularto dan berkunjung ke rumah bapak Subaryanto.

Mereka sangat antusias menerima kami sebagai mantan tetangga dan teman se pekerjaan, apalagi setelah selama 10 tahun kami berpisah, kami saat ini di Cikarang.

Pada silaturahim kali ini ada istimewa, yaitu kami berfoto di depan mantan rumah kami. Kami sekeluarga merasa sangat senang dan berbahagia dapat bersilaturahim ke teman-teman lama.

Silaturahim terakhir adalah ke rumah bapak Bayu. Disamping bersilaturahim, kami juga berbelanja pakaian untuk anak dan istri. Alhamdulillah pak Bayu adalah pengusaha toko pakaian muslimah yang sudah sukses.

Baca: Bersekolah di sekolah keren