Arsip Kategori: Majmuatur Rasail

Dua Keimanan

Pada dasarnya, baik kami maupun umat kami, sama-sama beriman pada prinsip ini. Bedanya, keimanan mereka terbius dan tertidur lelap dalam jiwa mereka. Mereka tidak ingin menaati hukumnya dan melaksanakan tuntutannya. Sebaliknya, keimanan Ikhwan selalu bergelora, berkobar, kuat dan hidup dalam jiwa.

Bermunajad kepada Alloh

Kami dan orang lain dapat merasakan sebuah fenomena psikologis mengagumkan dalam jiwa kita -orang-orang Timur, yaitu bahwa kita sering mengimani sebuah fikrah, yang ketika dibicarakan dengan orang lain, terkesan seolah-olah fikrah itu dapat menghancurkan gunung, mengurus jiwa dan harta, membuat tahan uji menghadapi berbagai kesulitan dan berani melawan berbagai tantangan hingga kita mendapat kemenangan bersamanya atau ia menang bersama kita.

Tetapi, ketika gelora retorika itu reda dan semua orang lupa terhadap keimanannya dan lalai pada fikrahnya. Ia tidak berfikir untuk mengamalkannya dan tidak berniat jihad di jalanny, meski dengan selemah-lemah jihad. Bahkan terkadang kelalaian itu bertambah, hingga membuatnya melakukan hal yang bertabrakan dengan fikrahnya, baik sadar atau tidak sadar.

Bukankah anda akan tertawa heran, ketika melihat seorang tokoh pemikir, aktivis, dan ilmuan, yang dalam rentang waktu dua jam menjadi atheis bersama orang-orang atheis, sekaligus ahli ibadah bersama ahli ibadahnya.

Sikap pengecut, kealpaan, kelengahan, tidur, atau katakan apa saja yang anda mau, adalah pemicu kami untuk berupaya menghidupkan “prinsip kami”. Yaitu prinsip yang telah diterima oleh jiwa kaum yang kami cintai.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 23-24

Menuju Solusi

Saudaraku, ketahui dan belajarlah, bahwa kondisi suatu umat dalam hal kuat, lemah, remaja, tua, sehat dan sakit sama persis dengan keadaan seorang manusia.

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

Terkadang seseorang terlihat kuat, bugar, dan sehat, tapi tiba-tiba saja ia kelihatan terserang penyakit dan badannya yang kuat digerogoti penyakit. Ia selalu mengeluh dan merintih, hingga ia tertoling oleh rahmat Allah melalui dokter dan ahli medis profesional yang mengetahui letak penyakit, piawai dalam mendiagnosa dan menganalisa jenis penyakit, kemudian dengan tulus melakukan pengobatan.

Kejadian-kejadian zaman sekarang membawa sesuatu yang dapat mengancam eksistensinya, meretakkan bangunannya, dan virus penyakit menggerogoti aspek-aspek kekuatannya.

  1. Secara politik, umat mendapat musibah penjajahan.
  2. Dalam bidang ekonomi, umat terserang penyakit riba yang sudah tersebar di seluruh tingkatan masyarakatnya, serta dominasi perusahaan-perusahaan asing atas sumber pendapatan dan kekayaan alamnya.
  3. Dalam bidang pemikiran, umat terserang kerancuan, nyeleneh, pemurtadan dan atheisme yang meruntuhkan akidahnya dan menghancurkan idealisme dalam jiwa rakyatnya.
  4. Dalam bidang sosial, ia terserang budaya hedonisme, dekadensi moral, pelepasan nilai-nilai kemuliaan yang diwarisi dari generasi pendahulu yang cemerlang.
  5. Dalam bidang kejiwaan, ia dijangkiti keputusasaan yang membinasakan, kemalasan yang mematikan, sikap pengecut yang memalukan, kerendahan yang menghinakan, sifat banci yang mewabah, serta egoisme yang menghambat tangan untuk berkarya, menghalangi jiwa untuk berkorban dan menyeret umat keluar dari barisan mujahidin menuju barisan orang-orang yang lengah dan lalai.

Saudaraku, inilah diagnosa Ikhwanul Muslimin atas penyakit-penyakit umat ini.

Inilah yang ikhwan lakukan untuk menyembuhkan umat dari penyakit tersebut, hingga kesehatan dan keremajaan umat yang telah hilang kembali seperti sedia kala.

Pertama; Manhaj yang benar. Ikhwan menemukannya dalam Kitab Allah, Sunah Rasul-Nya dan hukum-hukum Islam yang dipahami oleh kaum Muslimin sebagaimana adanya.

Kedua; Aktivis yang beriman. Itulah sebabnya Ikhwanul Muslimin berusaha menerapkan agama Allah yang telah mereka pahami dengan tidak mengenal kelelahan dan kelembekan. Alhamdulillah, mereka selalu yakin dengan fikrah mereka, tenang dengan tujuan mereka, percaya pada dukungan Allah.

Ketiga; Pemimpin yang tegas dan terpercaya.  Ini pun telah ditemukan oleh Ikhwanul Muslimin. Mereka selalu taat kepada pemimpin mereka dan bekerja di bawah benderanya.

 

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 54-64

 

Sikap Kami Terhadap Berbagai Isme

Sikap kami terhadap berbagai isme yang kini merajalela, mencabik-cabik hati, dan mengacaukan pikiran, adalah menimbangnya dengan timbangan dakwah kami. Yang sesuai dengan dakwah kami, akan kami sambut. Sedangkan yang tidak sesuai, maka kami berlepas diri darinya. Kami percaya bahwa dakwah kami bersifat universal dan integral.

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

NASIONALISME

Banyak orang terpesona dengan seruan nasionalisme atau paham

kebangsaan, khususnya di Timur. Sebab bangsa-bangsa Timur benar-benar merasakan kejahatan Barat. Bangsa-bangsa Timur merasakan sakitnya penjajahan Barat yang dipaksakan.

Dan, sekarang mereka sedang berusaha membebaskan diri dari penjajahan dengan segenap kemampuan, kekuatan, keuletan, jihad dan ketegaran. Tentu saja yang demikian itu baik dan indah. Tapi menjadi tidak baik dan indah, manakala anda berusaha memahamkan masyarakat, yang notabene muslim, bahwa nasionalisme dalam Islam lebih sempurna, bersih, mulia dan cerdas daripada yang dikumandangkan orang-orang Barat dan ditulis orang-orang Eropa.

NASIONALISME KERINDUAN

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyeruan adalah cinta tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya. Nasionalisme semacam ini, adalah hal yang telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahkan oleh Islam.

NASIONALISME KEBEBASAN DAN KEHORMATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putranya, maka kami bersama mereka dalam hal itu. Sebab Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya. Lihatlah firman Allah SWT.,

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (An-Nisa: 141)

 NASIONALISME KEMASYARAKATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan memimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka kami juga sepakat dengan mereka. Karena Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi SAW bersabda: “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

NASIONALISME PEMBEBASAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah pembebasan negara-negara dan kepemimpinan dunia, maka Islam telah mewajibkan hal tersebut dan mengarahkan para pembebas pada pemakmuran yang paling afdhal serta pembebasan yang paling berkah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT.,

“Dan perangilah meraka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk /allah belaka…” (Al-Baqarah: 193)

NASIONALISME KEPARTAIAN

Tapi jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme itu adalah memecah belah umat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, memendam dendam, mencaci, melempar tuduhan, dan saling membuat tipu daya. Juga mendukung sistem buatan manusia yang dipandu syahwat, diformat ambisi duniawi, dan ditafsirkan sesuai kepentingan pribadi. Sehingga musuh leluasa memanfaatkan semua itu untuk kepentingannya, bebas mengobarkan api permusuhan, memecah belah umat dalam kebenaran, menyatukan mereka dalam kebatilan, merintangi terjadinya hubungan serta kerja sama antar bagian umat dengan bagian yang lain, dimana hubungan hanya boleh terjalin dan berhimpun atas dasar nasionalisme ini, hingga umat hanya memperhatikan organisasi atau negerunya dan tidak berkumpul, kecuali orang-orang yang sekelompok dengannya.

Nasionalisme seperti itu adalah nasionalisme palsu yang tidak membawa kebaikan, baik bagi penyerunya maupun bagi masyarakat luas.

BATASAN NASIONALISME KAMI

Perbedaan antara kami dengan mereka adalah, bahwa kami menganggap batas nasionalisme adalah akidah, sementara mereka menganggap batasnya adalah teritorial negara dan batas-batas geografis. Bagi kami, setiap jengkal tanah yang dihuni muslim yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’, adalah tanah air kami yang behak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan dan jihad demi kebaikannya.

Sementara para penyeru nasionalisme murni tidak seperti itu. Perharian mereka hanya pada urusan wilayah terbatas dan sempit di bumi ini.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 30-37

Empat Golongan Manusia

Yang kami inginkan dari umat adalah hendaknya mereka menjadi salah satu dari empat golongan terhadap dakwah kami:

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

Mukmin

Boleh jadi seorang yang meyakini dakwah kami, membenarkan perkataan kami, mengagumi prinsip-prinsip kami, dan menemukan padanya kebaikan yang dapat menenangkan jiwanya dan menentramkan nuraninya.

Kepada orang seperti ini kami mengajak untuk segera bergabung dan bekerja bersama kami, agar jumlah para mujahid semakin banyak, dan dengan suaranya, suara pada da’i akan semakin meninggi.

Orang yang Ragu

Boleh jadi ia belum mendapatkan kejelasan tentang kebenaran, dan belum mengenal makna keikhlasan, serta manfaat dibalik ucapan-ucapan kami.

Orang seperti ini kami biarkan bersama keraguannya. Disamping itu kami memberi saran kepadanya agar tetap berhubungan lebih dekat lagi dengan kami, memperhatikan kami dari dekat atau dari jauh, mengkaji tulisan-tulisan kami, mengunjungi pertemuan-pertemuan kami dan berkenalan dengan saudara-saudara kami. Setelah itu, insya Allah ia akan percaya  kepada kami. Memang begitulah keadaan orang-orang yang ragu dari kalangan pengikut rasul-rasul dahulu.

Orang Oportunis

Boleh jadi ia adalah sosok yang tidak mau memberikan dukungannya, kecuali setelah mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dan keuntungan yang dihasilkan dari pengorbanannya.

Kami katakan kepadanya, “Kasihanilah dirimu! Kami tidak menjanjikan apa-apa, kecuali pahala dari Allah, jika anda ikhlas. Juga surga, jika Allah mengetahui ada kebaikan pada diri anda.

Orang yang Arogan

Boleh jadi seseorang yang berprasangka buruk dan ragu-ragu kepada kami. Ia tidak melihat kami, kecuali dengan kacamata hitam pekat. Ia tidak berbicara tentang kami, kecuali dengan bahasa sinis dan membuat orang ragu. Dan ia tenggelam dalam kecongkakan, silau dalam keraguannya, dan tetap bertahan pada praduga-praduganya.

Untuk orang seperti ini, kami hanya memohon kepada Allah SWT agar memperlihatkan keapda kami dan kepadanya kebenaran sebagai kebenaran dan memberi rezeki kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi rezeki kepada kami untuk menjauhinya. Juga semoga Allah mengilhamkan kesadaran kepada kami semua.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 16-20.