Arsip Kategori: Opiniku

Partai pro Islam dan Partai pro Maksiat

Tahukah anda?

Ada partai yang ingin membuat undang-undang mengenai pelarangan prostitusi dan elgebete, itu PKS.

Ada pula partai yang dengan sekuat tenaga ingin agar prostitusi dan elgebete beredar luas di negeri ini, itu partai… (tahu sendiri ya)

Ada partai yang ingin syariah berlaku utk kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi ada partai yang dengan sekuat tenaga menghadang dan menolaknya.

Ada partai yang pro umat, ada pula partai yang pro maksiat. Itu fakta yang tidak terbantahkan.

Ironisnya, ada sebagian umat Islam yang dengan bangga mengatakan: HAROM DEMOKRASI, TAPI DISAAT YG SAMA MENJILAT PENGUASA.

Pilih caleg dari PKS

Serba-Serbi Menyekolahkan Anak

Beberapa waktu yang lalu, ada teman curhat. Anaknya disuruh pulang oleh pengurus pondok dikarenakan belum lunas spp selama dua bulan. Padahal jarak pondok ke rumah sejauh ratusan kilometer.

Teman ini menyesalkan kebijakan pesantren karena tidak memahami kondisi keuangannya yang sedang morat marit karena usahanya yang sedang mengalami penurunan omzet.

Ini bagaimana sih, lembaga pendidikan Islam kok tega banget. Katanya Islam kok begini, gumamnya.

Saya sendiri pernah mengalaminya. Saya tertunda 4 tahun untuk wisuda S2 dikarenakan memiliki tunggakan berbagai jenis biaya pendidikan pasca sarjana.

Sebetulnya siapa sih yang salah? Menurut saya tidak ada yang salah.

Lembaga pendidikan Islam juga ingin agar operasional lembaganya berjalan dengan baik. Lembaga pendidikan Islam juga harus membayar gaji guru dan seluruh biaya-biaya tepat waktu.

Lembaga pendidikan Islam juga berupaya memberikan sistem pendidikan yang terbaik dengan sarana dan pra sarana yang memadai dan itu semua modal utamanya adalah keberlangsungan dana yang hampir seluruhnya berasal dari siswa.

Sebagai pengelola lembaga pendidikan Islam, kami juga sangat kelabakan jika pembayaran spp hanya mencapai rata2 60% setiap bulannya, sedangkan yang 40% menunggak pembayaran.

Bahkan ada beberapa siswa yang berhutang sampai 7 juta. Kok bisa? Iya karena hampir setiap bulan tidak membayar spp. Ketika ditagih, orang tuanya bilang “tega amat sih sama teman sendiri”.

Sekitar tahun 2009 saya juga terpaksa menyekolahkan anak pertama dan kedua di sekolah gratis. Hal ini dikarenakan menyekolahkan anak di sekolah swasta cukup memberatkan ketika itu. Tidak masalah, daripada memiliki hutang yang entah kapan kita bisa membayarnya ke sekolah swasta.

Oleh karenanya, di sekolah yang kami kelola sekarang, anak yatim tidak mampu kami bebaskan dari segala pungutan biaya.

Penjajahan, Sejarah yang Terus Berulang

Sejak ratusan tahun yang lalu, hal yang paling ditakuti para penjajah adalah persatuan umat Islam. Oleh karenanya, mereka melakukan segala cara agar kaum muslimin tidak bisa melakukan konsolidasi persatuan yang akibatnya bisa ditebak, yaitu membangun agenda bersama, yaitu mengusir penjajah dari negeri ini.

Cara yang sangat populer untuk mencegah persatuan itu adalah dengan cara memecah belah antar kekuatan umat atau kita biasa menyebutnya dengan “devide et impera”.

Ternyata penjajahan tidak berakhir begitu saja pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tahun-tahun berikutnya setelah merdeka negara-negara penjajah yaitu Belanda, Inggris dan sekutunya berupaya menjajah kembali negeri ini. Sampai dengan tahun 1950 yang ditandai dengan Konferensi Meja Bundar, baru penjajahan secara resmi berakhir, itu pun Belanda masih belum berlapang dada sepenuh hati untuk melepaskan negara jajahannya merdeka.

Yakinkah anda, penjajahan negara-negara barat atas negara miskin semisal Indonesia sudah berakhir? Saya tidak yakin. Sebagaimana diyakini banyak pihak, saat ini negara-negara miskin dijajah dalam wajahnya yang baru yaitu yang disebut dengan tatanan dunia baru. Yaitu penjajahan secara ekonomi, politik dan budaya.

Tatanan dunia baru yang digagas oleh negara-negara barat memungkinkan negara-negara miskin yang berada di belahan selatan bumi dapat dieksploitasi secara habis-habisan oleh negara-negara rakus dan serakah tanpa sisa. Di eksploitasi tetapi tidak berasa, hebat kan.

Lihat saja, perusahaan-perusahaan dari negara mana saja yang saat ini menguasai cadangan batu bara, emas, minyak bumi dan barang tambang lainnya?

Lihat saja, negara mana yang selalu menjadi aktor dan sponsor peperangan di berbagai negara atas nama memerangi terorisme?

Oleh karenanya, sangat tidak heran jika aksi 212 yang agenda utamanya adalah persatuan umat, akan mereka gagalkan dengan segala upaya, baik halus maupun kasar.

Semoga Alloh SWT selalu melindungi kita. Amiin.

Pejuang, Penjajah dan Penghianat

Perjuangan menegakkan dan mempertahankan kebenaran selalu mendapati halangan dan rintangan yang tidak kecil. Pada masa perjuangan memerdekakan negeri ini, penjajah men-cap para pejuang dengan sebutan “ektsrimis”. Kata ekstrimis menurut penjajah sama artinya dengan penjahat yang harus dilenyapkan dari muka bumi.

Tidak sedikit warga pribumi yang nyinyir dengan kelompok pejuang ini bahkan mereka juga rela menjadi barisan tentara belanda atau menjadi mata-mata penjajah untuk mengetahui posisi dan kekuatan persinil dan logistik yang dimiliki pejuang.

Jadi, para pejuang kemerdekaan menghadapi dua musuh utama, yaitu PENJAJAH belanda dan pribumi PENGHIANAT. Betapa berat perjuangan. Tidak heran, Belanda mampu melanggengkan kuku penjajahannya di bumi Nusantara selama 350 tahun.

Sejarah selalu terulang kembali, ada pejuang, penjajah dan penghianat. Pertanyaannya adalah, kita berada di posisi yang mana?

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Korps_Marechaussee_te_Voet

PKS Berjanji Menghapus Pajak Motor

Geli ya, pro-kontra janji PKS menghapus pajak motor jika PKS menang pemilu. Yang kontra ini mungkin jenis manusia yang sok-sok an peduli negara. Padahal paham juga kagak masalah urusan pendapatan negara😂.

Andai kebijakan ini bisa dilaksanakan, yang untung tentu saja rakyat juga. Bayangkan ada berapa puluh juta rakyat yang terbebas dari urusan ini. Sekali-kali rakyat merasakan untung, apa salah? Rakyat jangan diperas melulu dengan seabrek pungutan pajak ini-itu. Yuk mikir yang enak.

Inilah kerennya PKS. PKS selalu membangun dialog dan diskusi mengenai konsep dan narasi mengenai kebijakan publik yang akan digulirkan PKS. Hal inilah salah satu yang membuat saya jatuh hati dan selalu memilih PKS sejak pemilu 1999.

Selain itu, saya juga sangat suka dengan para kadernya yang terkesan memiliki pendidikan yang baik, loyal dan tidak brangasan seperti partai sebelah yang sedikit-sedikit rusuh.

Sejak dulu PKS selalu membangun budaya dialog dengan berbagai kalangan.

Aku Pilih PKS no.8, kamu?

 

PKS, Benteng Terakhir Umat di Parlemen

Tahukah anda? Jika sesuatu itu dinggap tidak ada, atau jika pun dianggap ada tapi sebatas pelengkap penderita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka manusia seluruhnya akan cuek bebek.

Tetapi, jika sesuatu itu dianggap akan mengancam status quo, maka arah panah akan menuju sesuatu itu. PKS adalah partai kecil, tetapi banyak pihak yang berupaya meniadakan wujud dan perannya dalam jagad demokrasi Indonesia.

Kenapa? Karena PKS adalah benteng terakhir umat di Parlemen…

Reuni 212 2018 (3)

Subhanalloh, tdk henti-hentinya rasa ini selalu bersyukur dan terharu. Betapa kami merindukan kejayaan Islam hadir di negeri kami.

Tidak ada yg mustahil jika keimanan yang berbicara. Ada sepasang suami istri yang berangkat dari Solo menggunakan sepeda motor, semalam sampai di Masjid Cut Meutia sedang melepas lelah.

Ada yang menggadaikan sepeda motornya demi membiayai perjalanan ke monas, ada pula yang mencarter pesawat demi berkumpul dalam suasana fenomenal di monas.

Allohu Akbar

Ini masalah keimanan, bukan urusan politik praktis. Bagi para nyinyirun, urusan ini pasti diluar nalar logika mereka. Biarlah mereka berfikir dan berbicara dengan kadar pengetahuannya.

Biarlah kami dianggap tolol, semoga Alloh menerima seluruh pengorbanan kami menuju kebangkitan Islam dan umat Islam.

Reuni 212 2018 (1)

AlQuran iman kami
AlQuran pedoman kami
AlQuran petunjuk kami
AQuran satukan kami

Jika mendengar mars aksi bela islam, kelopak mata ini langsung panas, air mata meleleh tak terbendung, tumpah, bahagia mengharu biru. Lebay ahh, kata alnyinyirun.

Kok bisa? Padahal cuma lagu.

Inilah mungkin rasa yang teraduk bersama getaran hati yang merindukan sesuatu yang baik berlaku di negeri tercinta ini.

Bagi kamu-kamu yang tidak pernah hadir apalagi yang amat benci dengan acara 411 dan 212, mungkin acara ini adalah sesuatu yang mubadzir dan memuakkan sehingga harus dinyinyir dan dihalangi sebisa mungkin walau melukai hati nurani kamu sendiri.

Bayangkan, ada upaya persatuan dari umat suatu agama, kamu kok benci sampai ke ubun-ubun, memangnya salahnya dimana?

Coba kamu pikir dengan jernih, hukum dibagian mana yang menyatakan persatuan umat yang sedang digalang oleh para ulama pemberani adalah sebuah kesalahan dan kejahatan?

Lebih aneh lagi, yang nyinyir dan benci adalah orang-orang yang mengaku muslim. Lah yang non-muslim aja banyak yang mendukung kok… aneh bin ajaib kan.

Masih terngiang, aksi 212 yg begitu monumental dan bersejarah yg mampu menumbangkan kesombongan penguasa jakarta yang didukung kekuatan raksasa di belakangnya.

PKS, bagian dari Hidup Saya

Bagi saya, PKS adalah bagian dari sejarah hidup yang sulit terpisahkan.

Jika umur saya sekarang 46 tahun, dengan umur pks yang sudah 20 tahun, berarti saya membersamai pks pada umur 26 tahun, ketika itu belum menikah dan masih kuliah.

Ketika anak masih berumur beberapa bulan sudah rajin diajak demo di kedubes amrik, al azhar dan beberapa tempat lain. Sampai demonstrasi menjadi seperti rihlah keluarga.

Yah walaupun keberadaan saya cuma sebagai simpatisan ecek-ecek dan pelengkap penderita doang😁. Itu pun sudah bikin bangga. Kayaknya sudah bisalah disebut sebagai politisi kawakan kali yah.

Dengan umur pks yang sudah 20 tahunan dan masih mendapatkan hasil yang begitu-begitu aja, saya pikir ada yang salah dalam pengelolaan organisasi ini. Apalagi saat ini ada kasus osan osin, di sini rajin berikrar, di sana rajin deklarasi.

Saya ulangi ya, di sini rajin berikrar, di sana rajin deklarasi.

Nanti ada yang berkilah, dakwah adalah sepanjang hayat, tidak bisa diukur dengan waktu. Saya tidak sedang bicara dakwah nya, tetapi tentang sebuah organisasi yang mengalami stagnasi dalam waktu yang cukup lama. Dakwah dan organisasi dua hal yang berbeda.

Nanti mungkin ada yang bertanya, memangnya ente sudah berkontribusi apa terhadap jamaah? Ini pertanyaan mirip pertanyaan cebong.

Kadang heran juga, politikus kawakan  kayak gini ketika diskusi di beberapa grup wa, dengan mudahnya diakhiri kata-kata sakti: “Sudahi obrolan ini, kita fokus pada kerja pemenangan…” alamaaak, berat nian hidup ini😁. Masa siih gegara diskusi politik, sebuah partai jadi terhalang kemenangannya, dzolim banget tuh yang berdiskusi.

Siapa yang paling bertanggung jawab atas maju mundurnya sebuah organisasi? Pimpinan, baru anak buah.