Arsip Kategori: Opiniku

Loh Kok PKS yang Dibully?

Lagi rameh neh…

PKS berkoalisi dengan partai berbasis massa Islam, PKB. Konon partai ini memiliki basis masa kuat di Jawa Timur.

Di tengah jalan, PDIP gabung. Di media, PKS habis dibully, dicap tidak konsisten dengan spirit Pilkada DKI.

Sedangkan berkoalisi dengan partai-partai lain juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya sesungguhnya cukup paham bagaimana para pimpinan PKS membangun strategi pemenangan pilkada.

Saya ini cuma simpatisan, apa pun yang diputuskan PKS saya yakin sudah melalui istikhoroh dan musyawarah dengan pihak-pihak yang berkompeten. Dan saya selalu mendukung apa pun keputusannya.

Saya juga tidak mau sok ikut-ikutan menganalisa, apalagi menghakimi strategi yang ditempuh oleh para qiyadah PKS. Beliau-beliau sangat paham strategi nasional bahkan internasional, sedangkan kita cuma tahu urusan lokal, itu pun ala kadarnya.

Begitu ya? Wong urip emang rumit.

Merasakan Sejuknya AC Lagi

Tidak sedikit yang menyangka rumah saya bagus, perabotan lengkap dan mahal, kamar tidur nyaman ber AC. Nggak salah juga sih mereka menyangka seperti itu. Maklum, konon katanya saya memiliki tampang wong sugih hehe. Semoga doa mereka Alloh SWT ijabah. Amiin.

Padahal kenyataannya rumah ku tipe 36 di perumahan RSS (alhamdulillah punya rumah walau ngutang, mohon doanya tahun depan lunassss). Televisiku model tabung 12 inchi, magic com tutupnya sudah sudah rusak, maklum sudah kemakan usia sehingga agar bisa menutup dengan sempurna, harus dikasih pemberat berupa layah atau glithu.

Rumah ku ber AC? Iya juga ber AC… setidaknya mulai hari ini. Karena mulai hari ini tukang pasang AC sudah berbaik hati memasangkan alat penyejuk ruangan untuk rumah ku yang mungil dan sederhana ini. Kami baru merasakan sejuknya rumah kembali sejak tahun 2009. Tahun 2009 adalah tahun terakhir kami merasakan sejuknya rumah ber AC.

Kok?

Iya, pada tahun itu kami terpaksa harus menjual AC demi menyambung hidup keluarga. Termasuk juga menjual kulkas, meja, kursi, sofa, tempat tidur dan lain-lain. Berikhtiar agar kami bisa makan.

Kembali ke AC…

Kami menggunakan sarana penyejuk ruangan setelah vakum selama 9 tahun. Lama juga ya. Sudah berapa kali anak-anak merengek minta dibelikan AC agar tidurnya tidak gembrobyos kepanasan.

Kali ini kami lihat betapa Faiq dan Hulwah merasakan kebahagiaan dengan hadirnya alat penyejuk ruangan di kamarnya dan kamarku, satu AC utk dua kamar. Semoga membawa berkah. Amiin.

 

Suka Makanan Gosong

Umumnya orang suka dengan makanan yang dimasak secara sempurna yang dalam proses memasaknya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya gosong dan lain-lain.

Tapi tidak bagi saya. Entah kenapa saya suka dengan masakan atau makanan gosong.

Pada suatu ketika ibuku memasak nasi dengan cara ngeliwet. Karena suatu keperluan ke warung atau api nya kegedean, nasi yang sedang dimasak tersebut gosong. Betapa panik ibuku menyaksikan nasinya gosong. Tapi tidak bagi saya, saya malah seneng dengan kondisi nasi liwet yang gosong.

Jika sudah begini, biasanya saya yang menghabiskan nasi yang gosong terbut. Pernah juga pedagang bubur ayam yang keheranan karena saya menyukami bubur ayam yang gosong. Biasanya bubur yang terlanjur gosong harus dibuang. Untuk kali ini tidak, karena saya siap untuk memakan bubur ayam yang gosong tersebut.

Dan masih banyak lagi aneka makanan yang saya sukai jika makanan tersebut gosong.

Aneh tapi nyata… kata orang hehe

Ikhtiar Memaksimalkan Potensi Kreatif dan Inovatif Siswa

Pendidikan memiliki tugas besarnya, yaitu yang pertama, pendidikan menyiapkan generasi yang mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Yang kedua pendidikan menyiapkan agar mereka mampu mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dengan cara-cara yang baru.

Melalui hal yang pertama, siswa belajar untuk memahami kondisi dan pola yang ada disekitar mereka. Sedangkan yang kedua mendorong siswa untuk berkreasi dan berinovasi. Dua fungsi tersebut harus dioperasikan secara seimbang. Pengembangan pendidikan melalui model entrepreneur menjadi alternatif yang sesuai dengan dua fungsi pendidikan tersebut karena sangat menekankan pada pembentukan perilaku untuk menciptakan dan berinovasi.

Pendidikan entrepreneur akan menjadi jalur baru bagi siswa untuk mempunyai potensi dalam berkreasi dan berinovasi. Siswa akan mempunyai jiwa eksplorasi untuk mencari peluang dan berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal baru. Di masyarakat sudah ada contoh nyata kalau ada orang-orang biasa yang dapat menciptakan sesuatu dan hasil ciptaannya diakui oleh masyarakat.
Oleh karena itu salah satu kegiatan yang bisa mengasah potensi kreasu dan inovasi adalah Entrepreneurs Day yang digagas dan diselenggarakan oleh SDIT Wirausaha Indonesia.

Mensyukuri Nikmat Umur ke 45

Alhamdulillaah… Usiaku kemarin genap 45 tahun. Seperempat populasi rambutku sdh mulai bersinar putih.

Saya berupaya selalu belajar, belajar & belajar dlm meniti hidup ini. Sekalipun dlm proses pembelajaran itu bnyk ketidaksempurnaan.

Ketika mengalami fase kebangkrutan, kami belajar untuk tetap bersyukur. Ketika mengalami fase kelaparan, kami belajar. Ketika mengalami kebangkitan dari keterpurukan, kami jg belajar. Ketika mengalami kebahagiaan, kami jg belajar berbagi dg sesama.

Dalam hidup, kita bukan menunggu badai utk segera berlalu, tetapi, kita harus bisa menari ditengah gemuruh badai. Kita harus pandai bersyukur & menikmati ujian hidup yg Alloh SWT berikan.

Alloh sungguh Maha bijak dan Maha tahu kebutuhan manusia.

Di usiaku yg mulai berjalan 46 tahun ini, saya tetap berupaya utk tetap belajar menjadi manusia yg berguna bagi manusia lainnya.

Dg belajar, insya Alloh kita akan terhindar dari kebodohan, kesombongan, keangkuhan, dan perasaan merasa pintar sendiri.

#terimakasih_yaa_Allooh

Kewirausahaah Untuk Anak, Perlukah?

Tidak sedikit yg menanyakan: “Sekolah tingkat dasar kok diajarin kewirausahaan, anak2 diajari dagang donk, emang perlu dan sudah waktunya?”

Saya jawab: Kewirausahaan itu banyak dimensinya, diantaranya kreatifitas, inovasi dan perdagangan.
Kewirausahaan utk siswa level SD adalah membangun kemandirian pada anak dan menumbuhkan kreatifitas pada setiap perilaku anak.
Jadi, pada level ini anak tdk diajari berdagang, ilmu berdagang ada bab tersendiri khususnya pada level SMA atau sederajat.
Fokus pelajaran kewirausahan pada anak adalah: bagaimana agar anak bisa menciptakan sesuatu, dimana sesuatu itu bisa berguna bagi diri dan lingkungannya.
Insya Alloh, walloohu a’lam.

Persekusi Ibadah

Fenomena penolakan yang dilakukan berkali-kali oleh ormas tertentu sepertinya bukan hal yang baru. Kenapa?

Dalam banyak kejadian pada level yang lebih kecil, seringkali suatu masjid dilarang oleh jamaah tertentu ketika mau mengadakan acara tertentu. Ini hal yang sudah amat biasa. Padahal kegiatannya juga kegiatan yang bersifat umum, misalnya kajian Al-Qur’an, kajian tauhid dan lain-lain.

Mereka tidak peduli, apakah suatu kegiatan itu mendatangkan pahala. Yang mereka pedulikan adalah manakalah kegiatan itu bukan kelompoknya yang mengadakan, maka harus dibubarkan.

Repot yah… Trus apa sebenarnya apa yang mereka cari di dunia ini? Bukannya pahala yang dicari?

Mahal dan Capek

Mendirikan partai itu mahal dan capek banget loh. Mengikuti kontestasi Pilkada itu mahal dan capek loh. Kenapa sih kita bikin partai dan mengikuti perlombaan pilkada?

Sedangkan masyarakat lebih suka disuap 10 rebu – 15 rebu untuk memilih di TPS. Sedangkan masyarakat tidak percaya program dan kepribadian. Sedangkan masyarakat hanya tahu bahasa uang yang ada di depan mata?

Apa lebih baik kita bubarkan saja partai dan mengelola ormas, sebagaimana yang sudah kita lakukan sejak dulu hingga kini?

Jika kita mau mencari aman, tentu cukuplah kita mengelola amal-amal usaha pendidikan dan perdagangan. Mengelola seminar dan workshop tentang mengelola negara cara islami sambil memaki harokah lain: “hei nggak nyunah lo, hai nggak ngikutin nubuwah lo, woi demokrasi haram lo.. bla bla bla”.

Jika kita mau cari nikmat, maka lebih baik kita menikmati kemapanan di singgasana kesejahteraan sembari ikut menonton ketidakadilan, ketidakberdayaan rakyat di tengah-tengah pengelola negara yang semakin merajalela jahatnya.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang hanya ingin memperkaya diri dan kelompoknya. Dengan cara apapun, tidak peduli etika, tidak peduli cara halal atau cara haram, tidak peduli bangsa dan rakyat semakin sekarat.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang rela menjadi kacung negara asing yang ingin mengeruk kekayaan negeri ini yang begitu berlimpah.

Maka tidak heran, korupsi semakin merajalela disaat lembaga anti korupsi dibentuk. Narkoba semakin merajalela disaar lembaga anti narkoba dibuat. Jual beli jabatan merajalela disaat lembaga pengelola badan usaha dibikin.

Yuuk kita tutup mata, tutup telinga dan tidak peduli dengan semua jeritan dan tangisan rakyat yang semakin menggema di seantero negeri ini.

Memaknai Sebuah Kekalahan

Pendahuluan

Kekalahan dalam sebuah pertandingan bukan hal yang memalukan, apalagi merasa “kelar hidup lo”. Sebab, satu fase kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses yang akan melahirkan kemenangan, kesuksesan dan kejayaan.

Pahami Ilmu Input-Output

Kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses. Sebab, kekalahan merupakan output atas input-input yang selama ini kita lakukan. Inputnya “apa” akan menghasilkan output “apa” pula. Output akan melahirkan sekecil atau sebesar input yang dilakukan. Dengan kata lain, besarnya output yang dihasilkan bergantung besar atau kecilnya input.

Menariknya adalah, output merupakan sebuah kepastian yang Alloh SWT berikan kepada hambaNya. Hukum sebab akibat atau sunnatullah berlaku tetap dan pasti. Jika inputnya itu-itu saja, maka bisa diPASTIkan outputnya juga itu-itu saja. Contoh1: jika kita melempar bola bekel sebesar tekanan tertentu ke lantai, maka akan menghasilkan lentingan sebesar lepasan tertentu ke atas. Contoh2: jika kita menjatuhkan sebuah benda, pasti jatuhnya ke bawah bukan ke atas.

Input

Mari kita berhitung, apa saja input yang selama PKS ini berdiri dilakukan? Baksos, peduli kebakaran, peduli banjir, pengobatan gratis, bazar murah kebutuhan pokok, bazar pakaian baru/layak pakai. Apalagi? Ini belum termasuk pola rekrutmen kader yang cenderung stagnan dan pemeliharaan kader yang begitu-begitu saja.

Output

Sejak pemilu tahun 2004, suara PKS secara nasional cenderung mengalami stagnasi, bahkan turun secara prosentase. Jika pun ada kenaikan secara kuantitas suara, jumlahnya tidak signifikan. Sejak PKS mengikuti kontestasi pemilukada Kabupaten Bekasi tahun 2007 sampai hari ini, suara PKS (dan koalisi) cenderung stagnan, dua kali mengalami kekalahan.

Yang kita butuhkan dari sebuah kekalahan adalah bukan justifikasi dan apologi, bahwa kita partai dakwah, yang kita cari bukan semata suara, tetapi bla bla bla… Raihlah kemenangan sejati, yaitu pahala dari Alloh SWT. Truus, kalau kita bukan cari kemenangan pada kontestasi pemilu atau pilkad,a ngapain kita repot-repot ikut pemilu?

Yang dibutuhkan dari sebuah kekalahan adalah evaluasi secara menyeluruh atas input-input yang selama ini kita lakukan, yang hasil akhir dari evaluasi itu adalah: LOMPATAN BESAR yang akan dilakukan sebagai input-input baru ke depan. Inputan lama tetap dilakukan dengan porsi tertentu, tetapi LOMPATAN BESAR harus dilakukan dengan porsi besar dan terukur.

Ingat! Kekalahan tidak membutuhkan justifikasi atau apologi, tetapi membutuhkan sebuah langkah nyata yang berbeda dan besar dari yang selama ini kita lakukan. Langkahnya apa, besarnya seperti apa, silahkan dimusyawarahkan pada level qiyadah.

Jika kita gagal dalam mengidentifikasi LOMPATAN BESAR, maka bersiap-siaplah partai ini bubar, karena di luar sana banyak pihak yang siap membumihanguskan partai ini dengan segudang alasan yang kita sama-sama mengetahuinya. KITA AKAN MENDAPATKAN SEBESAR IMPIAN KITA.

Tempe Mendoan

Sehabis pulang ngisi liqoan, mencari-cari makanan di tempat lauk. Mata ini spontan tertuju pada tempe mendoan. Saya tanya istri, dari umam kata istriku.

tempe

Jadi teringat kebiasaan 6 tahun silam, tepatnya tahun 2010.

Ketika itu saya rutin beberapa hari dalam seminggu menjemput istri yang pulang ngajar dari BSI sekitar pukul 19 an sekalian beli mendoan.

Faiq selalu pesan ke saya ketika saya mau menjemput uminya. “Abi beli mentoan ya”. Dia bilang mendoan bkn dg “d” tapi dg “t”.

Ada dua kebahagiaan ketika membeli mendoan pada saat itu. Pertama, bahagia karena sebentar lagi ketemu istri. Kedua, bahagia karena sebentar lagi kita akan makan makanan yg paling nikmat, mendoan.

Kami sekeluarga seolah tak sabar ingin segera menikmati tempe mendoan yg barusan dibeli.

Nikmaat sekali rasanya.