Arsip Kategori: Opiniku

Kenapa Perekonomian Dikuasai Bangsa Lain?

Apa yang menyebabkan perekonomian kita dikuasai oleh bangsa lain?

Karena bangsa kita sejak puluhan tahun yang lalu tidak mau atau kurang tertarik untuk membangun perkonomian. Karena membangun usaha itu sangat identik dengan jatuh bangun sebuah usaha. Dalam bayangan kita, membangun usaha itu identik dengan capek sepanjang waktu. Padahal tidak seperti itu. Membangun usaha itu capek di 2-3 tahun pertama, selanjutnya kita sudah bisa menikmati kesuksesan kecil kita, sebelum menjelma menjadi sukses besar.

Apalagi Kita ini sudah lama dininabobokan dengan anggapan bahwa  menjadi priyayi lebih terhormat dibanding menjadi pengusaha. Maka tidak heran anak keturunan bangsa kita lebih tertarik untuk melamar pekerjaan dibanding membangun peluang pekerjaan. Kita lebih bangga ketik bekerja di sebuah perusahaan besar dengan seabrek fasilitas, ketimbang membangun dari awal sebuah usaha kecil. 

Lingkungan kita bahkan sangat tidak mendukung jika anak-anaknya menekun usaha. Kadang-kadang muncul ledekan, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya malah membuka usaha kecil-kecilan. Kita juga terkadung nyaman dg anggapan bahwa menjadi karyawan itu lebih nyaman dibanding menjadi pemilik usaha.

Alhamdulillah, ada pribumi bangsa ini yg saat ini menjadi pengusaha besar. Sebut saja misalnya: keluarga kalla, keluarga bakrie, keluarga ct dan lain-lain. Walaupun jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan jumlah penduduk pribumi Indonesia.

Ketidaksiapan kita mengelola ekonomi menyebabkan perekonomian kita dikuasai oleh bangsa yang siap.

Tidak usah jauh-jauh, coba saja kita lihat, siapa pemilik toko di pasar-pasar dan pusat keramaian yang terdekat dari tempat tinggal kita. Pasti kita dengan mudah bisa menjawabnya.

Ada anggapan bahwa mereka maju karena mereka berbuat curang, menipu dan lain-lain tentu saja tidak sepenuhnya benar. Yang curang jelas pasti ada, sebagaimana kita juga ada yg curang dalam menjalankan usaha. Yang jujur juga banyak sebagaimana kita juga banyak pengusaha yang jujur.

Jadi, kondisi perekonomian kita hari ini sebaiknya disikapi dengan bijak dan sadari diri. Mulai hari ini sebaiknya mulai berfikir, mau melakukan apa ke depan. Jika kita sudah lelah berwirausaha yang selalu gagal, minimal anak-anak kita didekatkan pada upaya-upaya agar mereka kelak menjadi seorang wirausahawan yang sukses.

Jadilah wirausaha yang mandiri dengan modal dan kemampuan yg kita miliki. Janganlah selalu mengharap stimulus dan bantuan dari program pemerintah. Jika ada bantuan pemerintah kita terima, dan itu bersifat tambahan bukan pokok.

Yuuk berwirausaha

Dwifungsi ABRI

Dahulu pada zaman orde baru, kita sangat anti dengan dwifungsi ABRI.

Dwifungsi ABRI secara sederhana dalam prakteknya adalah pimpinan tentara bisa menjadi pemimpin atau pejabat publik, baik presiden, gubernur maupun bupati termasuk mendapatkan jatah anggota DPR RI.

Sehingga tidak heran, jabatan gubernur dan bupati yang berasal dari tentara sudah biasa. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat menginginkan perubahan. Masyarakat ketika itu menginginkan kepemimpinan sipil.

Tetapi, saat ini ternyata kepemimpin sipil tdk membawa perubahan yang signifikan. Tetap saja korupsi merajalela, perekonomian tidak kunjung membaik, pembangunan biasa saja, KKN yang dulu ingin diberantas, kini semakin merajalela.

Kepemimpinan sipil juga sering menjadi ajang keributan antar kelompok masyarakat dan ketidakteraturan tidak kunjung selesai. Berbeda dengan pemimpin militer yang terbiasa ditempa dengan pola pelatihan kepemimpinan yang keras melahirkan kepemimpinan yang terkenal berwibawa, mampu mengambil keputusan yang sulit dan berdisiplin tinggi.

Tentu saja tidak semua pemimpin sipil memiliki tipikal buruk. Tidak sedikit pemimpin sipil yang memiliki seabrek berprestasi, lihat saja kang Aher, pak Irwan Prayitno dan lain-lain.

Yang menarik untuk dicermati, faktanya sampai hari ini masyarakat masih merindukan pensiunan jenderal menjadi presiden, apalagi dengan melihat pengalaman pahit 4 tahun terakhir. Lihat saja bursa capres dan cawapres tidak jauh-jauh dari pensiunan jenderal.

Sukses dengan Cara Gratisan?

Ada nggak sih, orang yang sukses tapi bermodal serba gratisan? Mungkin ada. Tetapi pada umumnya, kesuksesan apalagi sukses besar itu tidak bisa gratisan.

Ikut pelatihan wirausaha gratisan
Ikut pelatihan bikin web gratisan
Ikut pelatihan optimasi seo gratisan
Ikut pelatihan akuntansi gratisan
Ikut pelatihan manajemen gratisan

Sukses besar itu harus ditebus dengan harga dan pengorbanan yang tidak murah apalagi gratisan. Bentuk pengorbanan itu bisa dalam bentuk duit, waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan lain-lain.

Jadi, sukses besar bermodalkan serba gratisan itu sepertinya ngimpi di siang bolong. Yuuk siapkan pengorbanan terbaik kita untuk sukses kita di masa yang akan datang.

Berwirausaha Itu Penting Loh

Saking pentingnya berwirausaha, sejak pertama kali merantau ke jakarta tahun 1992 an saya sudah belajar berwirausaha.

Sejak saya mulai bekerja dan kuliah, saya juga nyambi usaha. Apa saja yang bisa saya lakukan dengan modal kecil yang saya miliki, dengan peluang yang tersedia saat itu.

Saat itu saya jualan majalah Hidayatulloh, Sabili, Ummi, Annida, Al-Izzah dan Tarbawi. Konsumen terbesarnya adalah para buruh teman-teman kerja.

Saya juga jualan buku-buku islam. Hal ini saya lakukan dengan cara bekerja sama dengan Toko Buku I’tishom yang terletak di bilangan pemuda, Jakarta Timur. Kami bekerja sama dengan cara ambil buku sejumlah yang saya mau dan saya membayar buku-buku yang terjual. Berwirausaha itu mengAsyikkan loh.

Alhamdulillah, dari hasil berjualan buku dan majalah, saya bisa membeli buku-buku kuliah. Berjualan buku dan majalah saya lakoni dari tahun 1994 sampai tahun 1999 an.

Saya juga pernah jualan baju, usaha rental mobil, jualan ayam goreng, dan simpan pinjam syariah.

Itu semua saya jalankan karena menyadari betul bahwa pada saatnya manusia itu akan tua dan akan sangat berkurang kemampuannya dalam bekerja.

Suatu saat nanti saya memiliki passive income yang dapat menjamin kehidupan di dunia khususnya dalam hal masalah keuangan. Ini adalah impian saya, semoga terkabul.

Serba-Serbi Ujian Sekolah

Siapa ya yang paling deg-degan menghadapi ujian akhir sekolah?

Pasti siswa yang akan melaksanakan ujian. Siapa lagi? Orang tua. Siapa lagi? Kepala sekolah.

Nah, Kepala sekolah ini sedang mempertaruhkan jabatannya atas kesuksesan seluruh anak didiknya dalam menempuh ujian. Jika peserta didiknya lulus semua, amanlah dia dan sekolahnya.

Bagaimana jika ada yang tidak lulus? Ini akan menjadi masalah besar. Pertaruhan masa depan sekolah. Makanya segala cara (tentu cara yang baik dan tidak melanggar hukum) dilakukan demi suksesnya ujian akhir.

Salah satu caranya adalah jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ujian akhir. Yaitu pada saat penerimaan siswa baru. Sekolah-sekolah pavorit memberlakukan pola yang amat ketat dalam penerimaan siswa barunya. Test masuk sekolah menjadi momok dan sesuatu hal yang sulit utamanya bagi anak-anak yang tingkat kecerdasannya biasa-biasa saja.

Hanya anak-anak super saja yang bisa masuk sekolah tersebut. Benar-benar hanya bibit unggul yang bisa masuk sekolah ini.

Sekolah-sekolah ini memang keren, sudah biaya sekolahnya tinggi, bisa memilih siswa yang paling cerdas pula. Dari 500 yang mendaftar, mungkin hanya 100 an yang diterima. Benar2 siswa pilihan. Sekolah ini adalah dambaan para orang tua.

Hasilnya, ketika ujian akhir bisa dipastikan LULUS SEMUA dengan nilai terbaik. Nama sekolah semakin berkibar, sang kepala sekolah bisa kipas-kipas lega.

Hal berbeda dialami sekolah yang lain. Bisa jadi mereka menerima siswa hasil muntahan dari sekolah dambaan umat. Siapa saja bisa masuk sepanjang masih ada kuota.

Test masuk bukan penghalang siapapun masuk sekolah ini, karena pada hakikatnya test masuk sekedar test kompetensi yang bertujuan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa ketika awal masuk suatu sekolah.

Ketika tiba pelaksanaan ujian akhir sekolah, sang kepala sekolah harus memutar otak agar peserta didiknya LULUS SEMUA. Berbagai cara ditempuh, dari mulai try out, mewajibkan siawa mengikuti bimbel, les privat dan lain-lain.

Apakah akan lulus semua? Kita lihat saja nanti, semoga lulus semua.

SELAMAT MENEMPUH UJIAN UTK ANAK-ANAKKU, SUKSES UNTUK KALIAN SEMUA BAIK YANG BISA SAJA MAUPUN YANG BIBIT UNGGUL

Bus Tingkat sebagai Sarana Keliling Ibukota

Awal-awal merantau ke Jakarta di tahun 1992 an, saya sering naik bus PPD tingkat sebagai sarana keliling ibukota. Sudah tentu naiknya di tingkat atas dan duduk paling depan.

Maklum anak udik, ngeliat bus tingkat begitu emejing, bawaannya pengen naik bus melulu. Termasuk ketika menghadiri deklarasi Partai Keadilan di Masjid Al-Azhar Kebayoran Lama  saya naik bus tingkat untuk menuju lokasi.

Memang Asyik jika baik bus tingkat ini, apalagi duduk paling depan. Karena kita bisa melihat pemandangan indahnya kota impian, bisa melihat gedung pencakar langit dari dekat dan dapat melihat dari dekat kesibukan denyut nadi kota paling sibuk di negeri ini.

Ketika belum mendapatkan pekerjaan, saya sering meluangkan waktu berkeliling kota nai bus ini. Biasanya saya naik dari jalan pramuka pasar genjing, sampai balik lagi ke pasar genjing.

Proses Hidup Manusia

Perjalanan hidup manusia sesungguhnya merupakan rangkaian suatu proses menuju proses yang lain. Apakah proses itu bernama kesusahan, kesenangan, ataupun pencapaian. Itu semua adalah bentuk proses.

Setiap manusia akan menjalani semua proses itu. Hanya saja, ada manusia yang mengeluh dengan semua proses yang dialami baik susah maupun senang. Diberikan kesenangan ia tidak bersyukur, diberikan kesusahan ia mengeluh.

Ada juga manusia yang enjoy dan menikmati semua proses yang hinggap dalam hidupnya. Termasuk ketika kesusahan menyapa salah satu episode dalam hidupnya, dia akan berkata, alhamdulillah. Ia pandai menari dikala badai datang menerjang. Selelu bersyukur apapun kondisi yang menimpanya.

Tugas manusia dalam menjalani hidup ini pada hakikatnya hanya dua: ikhtiar dan berdoa. Itu saja. Itu adalah pengejawantahan makna ibadah.

Loh Kok PKS yang Dibully?

Lagi rameh neh…

PKS berkoalisi dengan partai berbasis massa Islam, PKB. Konon partai ini memiliki basis masa kuat di Jawa Timur.

Di tengah jalan, PDIP gabung. Di media, PKS habis dibully, dicap tidak konsisten dengan spirit Pilkada DKI.

Sedangkan berkoalisi dengan partai-partai lain juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya sesungguhnya cukup paham bagaimana para pimpinan PKS membangun strategi pemenangan pilkada.

Saya ini cuma simpatisan, apa pun yang diputuskan PKS saya yakin sudah melalui istikhoroh dan musyawarah dengan pihak-pihak yang berkompeten. Dan saya selalu mendukung apa pun keputusannya.

Saya juga tidak mau sok ikut-ikutan menganalisa, apalagi menghakimi strategi yang ditempuh oleh para qiyadah PKS. Beliau-beliau sangat paham strategi nasional bahkan internasional, sedangkan kita cuma tahu urusan lokal, itu pun ala kadarnya.

Begitu ya? Wong urip emang rumit.

Kewirausahaah Untuk Anak, Perlukah?

Tidak sedikit yg menanyakan: “Sekolah tingkat dasar kok diajarin kewirausahaan, anak2 diajari dagang donk, emang perlu dan sudah waktunya?”

Saya jawab: Kewirausahaan itu banyak dimensinya, diantaranya kreatifitas, inovasi dan perdagangan.
Kewirausahaan utk siswa level SD adalah membangun kemandirian pada anak dan menumbuhkan kreatifitas pada setiap perilaku anak.
Jadi, pada level ini anak tdk diajari berdagang, ilmu berdagang ada bab tersendiri khususnya pada level SMA atau sederajat.
Fokus pelajaran kewirausahan pada anak adalah: bagaimana agar anak bisa menciptakan sesuatu, dimana sesuatu itu bisa berguna bagi diri dan lingkungannya.
Insya Alloh, walloohu a’lam.

Persekusi Ibadah

Fenomena penolakan yang dilakukan berkali-kali oleh ormas tertentu sepertinya bukan hal yang baru. Kenapa?

Dalam banyak kejadian pada level yang lebih kecil, seringkali suatu masjid dilarang oleh jamaah tertentu ketika mau mengadakan acara tertentu. Ini hal yang sudah amat biasa. Padahal kegiatannya juga kegiatan yang bersifat umum, misalnya kajian Al-Qur’an, kajian tauhid dan lain-lain.

Mereka tidak peduli, apakah suatu kegiatan itu mendatangkan pahala. Yang mereka pedulikan adalah manakalah kegiatan itu bukan kelompoknya yang mengadakan, maka harus dibubarkan.

Repot yah… Trus apa sebenarnya apa yang mereka cari di dunia ini? Bukannya pahala yang dicari?