Category Archives: Opiniku

Salah Satu Episode dalam Hidupku, Menjadi Sopir Taksi

Saya pernah jadi sopir taksi, tepatnya taksi blubed pool Narogong. Itu tahun 2009 awal. Cukup singkat saya menjadi sopir taksi, hanya sekitar satu bulanan, yaitu di bulan Mei.

Walaupun cuma satu bulan, rasanya cukup bagi saya untuk menyelami dan merasakan manis pahitnya menjadi pengemudi taksi.

Untuk bisa menjadi pengemudi taksi, saya harus mengikuti serangkaian tes, diantaranya tes mengemudi dengan nyaman. Berikutnya tes rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan.

Alhamdulillah saya lolos tes dan harus mengikuti training di pusat pelatihan pengemudi taksi selama tiga hari di blubed pool Halim.

Ada sekitar 30 an calon pengemudi yang mengikuti sesi pelatihan selama tiga hari. Dalam sesi pembukaan pelatihan, mentor mewanti-wanti kami untuk mengikuti pelatihan ini dengan penuh kesungguhan, serius dan tanpa absen. Jika ada abaen, maka harus ada pengganti hari sejumlah hari yang absen tersebut. Keren ya…

Di sana kami dilatih untuk menjadi pengemudi taksi yang profesional dan mencintai pekerjaannya.

Kami diajari bagaimana menerima tamu. Tamu adalah sebutan penumpang untuk blubed. SOP menerima tamu diajarkan dengan detail. Mulai dari senyum, sapaan, dan membukakan pintu taksi serta membawakan bawaan tamu.

Kami diajarkan juga bagaimana tips-tips agar tamu kami ‘ketagihan’ kita sopiri. Salah satu caranya adalah, disamping kita harus melayaninya dengan baik dan sopan, kita juga perlu memberikan layanan tambahan misalnya memutarkan lagu kesukaan tamu dan menawarkan permen ke tamu.

Bagaimana tips menghindari macet di jalan-jalan Jakarta juga diajarkan kepada kami para calon pengemudi taksi profesional.

Selesai pelatihan, hari pertama kami mengemudi taksi dengan cara tandem. Yaitu kami mengemudi taksi dengan diikuti oleh sopir senior. Kami nyetir taksi menyusuri jalan-jalan di Jakarta selama seharian. Tujuan terjauh adalah Bandara Soetta. Asyik juga.

Hari pertama bekerja sebagai sopir taksi, selama tiga hari pertama kerja, kami diajak meeting dan ngopi pagi oleh pimpinan pool. Kami diajak beramah-tamah dan teknis mengemudi dengan baik, benar dan memperoleh setoran yang maksimal. Oya penghasilan sopir taksi adalah berdasarkan komisi dari setiap setoran yang dihasilkan hari itu.

Hari keempat bekerja, kami benar-benar sudah harus mempraktekkan ilmu yang selama ini diperoleh selama pelatihan, yaitu menjadi pengemudi taksi yang profesional.

Kami mengambil taksi dari pool pukul 04.00 dan mengembalikan ke pool lagi paling lambat pukul 24.00 tepat dan jika lewat akan kena denda. Sebelum masuk mengembalikan mobil di pool, kendaraan harus diisi bensin secara penuh di pom bensin yang bekerja sama dengan pool taksi.

Masuk ke pool kendaraan akan dicek body dan dicuci, barulah kita bisa meletakkan kendaraan kita di tempat yang sudah ditentukan.

Baca juga: Bagaimana memilih sekolah yang terbaik?

Nggak Ngoyo dalam Mencari Rezeki?

Saya pernah datang ke tukang cukur rambut. Tentu saja niatnya mau potong rambut saya yang sudah mulai memanjang.

Sesampainya di sana apa yang saya dapatkan? Kios tukang cukur sudah dibuka, sebagai tanda sang empunya usaha sudah siap menerima konsumen pertamanya di hari itu.

12 Meme kocak potong rambut bakal bikin kamu ngekek!

Tetapi apa yang terjadi?

Setelah mengucap salam, saya langsung menyapa,
“Mas mau potong rambut”. “Nanti ya pak” ujar si mas nya tanpa menoleh ke arah saya sambil asyik main hape. Saya bingung, ada konsumen kok tidak segera dilayani dengan baik, malah dicuekin. Weleh-weleh.

Setelah menunggu sekitar 10 menitan, ada temannya yang datang dan rupanya partner dia di kios tersebut. Dia dengan sopan menyapa, menanyakan keperluan dan segera melayani saya dengan baik, sopan dan sepertinya sudah paham bagaimana melayani konsumennya dengan baik.

Teman, agar usaha kita mendapatkan sambutan dari masyarakat dan konsumen kita, sudah sewajarnya kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyenangkan dan membahagiakan setiap konsumen yang datang. Caranya adalah dengan melayaninya sesuai dengan standar pelayanan usaha kita dan tentunya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Bukan malah mencueki calon konsumen.

Barangkali maksud si tukang cukur rambut ini adalah berniat untuk ‘tidak ngoyo’ dalam mencari rizki.

Tidak ngoyo dalam mencari rizki memang sudah seharusnya dalam pengertian kita meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan rizki sesuai takaran walaupun kita tidak harus ngoyo dan mati-matian dalam menjemput rizki.

Akan tetapi, tidak ngoyo itu bukan berarti ditunjukkan dengan perilaku di depan konsumen yang sudah datang.

Tidak ngoyo itu bukanlah perilaku malas atau cuek, tetapi sikap dalam hati yang bersamaan dengak sikap tawakkal yang meyakini bahwa urusan kita pasti dijamin oleh Allah SWT, manusia hanya berikhtiar dengan amal yang terbaik.

Seharusnya, kita tidak salah kaprah dalam menerapkan sikap tidak ngoyo dalam mencari rizki yang halal. Bisa-bisa konsumen yang menjadi jalan rizki kita akan kabur dan kapok untuk datang, seperti saya misalnya.

Sampai saat ini saya malas untuk datang ke tempat semula, apalagi yang bersangkutan masih kerja di sana. Lebih baik saya potong rambut di tempat lain yang memang sangat menginginkan datangnya konsumen.

Monggi silakan baca juga: Sekolah yang layak menjadi pilihan

Biaya Hidup yang Semakin Naik

Memangnya pernah ada biaya hidup yang semakin menurun? Sepertinya belum pernah ada ya? Tapi kalau biaya hidup semakin ke sini semakin naik, itu sudah jamak.

Artinya, biaya hidup semakin naik adalah sesuatu yang sudah biasa dan sudah berlangsung dari zaman ke zaman, dari satu rezim ke rezim yang lain. Apalagi sekarang, konon harga bbm sudah naik, iuran bpjs juga dipastikan naik.

Tinggal bagaimana kita mensikapi semua kenaikan biaya hidup tersebut. Lah bagaimana nggak pusing, biaya hidup semakin naik, sementara gaji tidak naik-naik, sementara usaha tidak ada peningkatan laba dan lain-lain.

Apa saja yang ada di luar diri kita tidak bisa kita kendalikan, maka yang bisa kita kendalikan adalah apa-apa yang ada dalam diri kita. Misalnya, sikap, rencana ke depan dan keputusan yang akan kita ambil dan lain-lain.

Tinggal minta sama Allah agar kita selalu dimampukan untuk membeli apa pun berapa pun harga yang harus dibayar. Allah Mahakaya.

Baca juga:

6 Alasan Memilih SDIT Wirausaha Indonesia

Setidaknya ada 6 alasan kenapa SDIT Wirausaha Indonesia patut dijadikan pilihan untuk bersekolah bagi putra-putri bapak dan ibu, yaitu:

Pertama, sekolah sudah Terakreditasi A. Akreditasi dengan predikat A berarti Unggul, baik dalam kualitas proses kegiatan belajar mengajar, kualitas guru dan kualitas sarana-prasarana yang dimiliki sekolah.

Kedua, guru yang profesional, ramah dan penyayang kepada seluruh siswanya. Seluruh guru disamping sudah memiliki kualifikasi keguruan, juga sudah dibekali dengan sarana peningkatan kemampuannya melalui berbagai pelatihan, workshop, seminar dan beberapa sarana lainnya untuk menunjang kompetensinya sebagai guru.

Ketiga, ruang belajar yang nyaman. Seluruh ruang belajar sudah dilengkapi AC yang memungkinkan kegiatan belajar-mengajar dilakukan dengan nyaman.

Keempat, sarana dan prasarana yang lengkap. SDIT Wirausaha Indonesia memiliki sarana seperti perpustakaan, UKS, Labaoratorium, Lapangan olah raga yang terletak di lantai 3, sarana interaksi siswa dan lain-lain.

Kelima, biaya yang sangat terjangkau. Dengan semua sarana dan kualitas sekolah yang ada, SDIT Wirausaha Indonesia merupakan satu-satunya sekolah di kawasan ini yang berbiaya amat terjangkau, sehingga memudahkan para orang tua siswa dalam memilih sekolah berkualitas dengan kemampuan keuangan yang memadai.

Keenam, lokasi sekolah yang sangat mudah dijangkau, baik dengan berjalan kaki, bersepeda maupun kendaraan roda dua. Hal ini sangat penting mengingat banyaknya orang tua yang sibuk untuk mengantar siswa, sehingga memungkinkan siswa bisa dengan leluasa berjalan kaki dan bersepeda dalam perjalanan ke sekolah tanpa ada rasa khawatir dari orang tua.



Menyiapkan Generasi Bangsa Yang Jujur, Wujud Cinta NKRI

Sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus bangsa selalu berusaha dengan keras untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa tercinta ini. Ungkapan di atas seharusnya tidak saja hanya bisa diucapkan atau sekedar dijadikan slogan saja.

Akan tetapi kita harus bertekad dengan keras bahwa kita akan sungguh-sunguh mendarmabaktikan hidup kita untuk kejayaan agama dan bangsa ini.

Tidak jujur adalah bukti tidak cinta Indonesia. Korupsi adalah wujud nyata benci negeri ini. Mengeruk kekayaan alam untuk diri dan kelompoknya adalah wujud keserakahan dan tidak cinta bangsa ini.

Jujur dalam berkarya adalah salah satu cara kita mengisi kemerdekaan negeri ini yang sudah susah payah diperjuangkan oleh para pejuang dengan darah dan air mata.

Kami bersama jajaran pimpinan Sekolah Wirausaha Indonesia berusaha dengan sekuat tenaga untuk membangun generasi penerus bangsa yang cinta Indonesia dan cinta agama.

Merdeka !!!

Tantangan Membangun Lembaga Pendidikan Islam (2)

Tahun 2014 adalah masa ‘keterpurukan’ lembaga pendidikan ini. Semoga ini adalah titik nadhir roda kehidupan yang menghinggapi lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia, yang pada tahun-tahun berikutnya tidak akan ada lagi penurunan melainkan maju melesat ke arah yang lebih baik.

Bagaimana tidak, lembaga ini mendalami beberapa persoalan yang amat berat ketika itu, yaitu: Pertama, keluarnya 19 siswa yang beberapa diantaranya adalah anak sahabat saya. Hal ini membuat saya teramat sedih, walau tidak menyalahkan. Kedua, pengurus masjid melarang aktifitas siswa untuk shalat dhuha, shalat dhuhur di masjid dan pembelajaran Al-Qur’an. Aneh juga sih, ibadah kok dilarang, persis ormas yang ono yang hoby nya melarang-larang ibadah hanya gara-gara beda kelompok.

Ketiga, cibiran dari lingkungan sekitar karena gedung sekolah yang tidak kunjung dibangun, bahkan muncul anjuran yang isinya larangan untuk bersekolah di lembaga ini karena pemiliknya dianggap tidak mampu membangun gedung sekolah. “Nggak punya duit kok bikin sekolah”, begitu kira-kira isi nyinyirannya. Ini juga bikin terenyuh. Ya Alloh.

Persoalan ini membuat saya cukup membuat air mata saya meleleh jatuh, terutama untuk persoalan yang kedua. Bagaimana tidak, keberadaan masjid salah satu sebabnya adalah karena ada campur tangan saya pribadi selaku pencari donatur dari timur tengah. Termasuk lokasi masjid ini pun saya yang mengusulkan, dengan catatan kami akan meminjam masjid untuk kegiatan ibadah anak sebelum kami memiliki fasilitas gedung sekolah yang memadai. Dan hal ini sudah saya uraikan dengan terang benderang kepada para pengurus Rt, Rw dan panitia pembangunan masjid. Maka disepakati lokasi pembangunan masjid persis berada di depan SDIT Wirausaha Indonesia yang sebelumnya memiliki lokasi yang sempit dan nyempil.

Salahs satu hal yang membuat saya sedih adalah, pada saat anak-anak sedang shalat dhuha diusir-usir oleh orang ini. Pernah juga suatu ketika ada acara pertemuan orang tua pada hari sabtu di masjid, seorang pemimpin lingkungan (bukan pengurus masjid) dengan sengaja menggulung karpet yang sedang diduduki oleh kepala sekolah dan beberapa orang tua siswa. Allohu Akbar, sedihhh, sampai segitunya.

Tapi hal itu lah justru yang membuat saya berpasrah diri hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saya berharap dengan kepasrahan saya yang total itu akan membuat Allah SWT segera menurunkan pertolonganNya untuk memulai pembangunan gedung sekolah idaman ini.

Alhamdulillah pada pertengahan tahun 2015 kami memulai pembangunan. Awal dimulai pembangunan adalah pembuatan tembok keliling dengan pondasi siap tingkat. Proyek pertama diperkirakan memakan biaya sekitar 60 jutaan, padahal saya hanya memiliki dana tunai sekitar 15 jutaan. Masih jauh dari total biaya yang dibutuhkan.

Tapi mau bagaimana lagi, pembangunan harus segera dimulai. Apalagi pagar sebelah barat juga sudah hampir roboh, sangat jelek dipandang mata. Seperti gedung sekolah yang tidak terurus dan hal ini akan menambah senang para nyinyirun.

Alhamdulillah, pembangunan dimulai bulan Juni 2015, selesai bulan September 2015 dan total menghabis dana sekitar 85 jutaan. Inilah pembangunan tahap pertama dari total tujuh tahap pembangunan sampai selesai. Kelak pembangunan gedung selesai bulan Oktober 2018, bertepatan dengan pelaksanan akreditasi yang menghasilkan nilai A atau Unggul.

Tantangan Membangun Lembaga Pendidikan Islam (1)

Membangun lembaga pendidikan Islam khususnya dalam hal ini adalah setingkat sekolah dasar merupakan hal yang memiliki tantangan yang cukup besar. Saya mengatakan ini adalah “tantangan” untuk menggantikan kata “sulit” atau “susah” sebagaimana banyak orang mengatakannya.

Kenapa saya mengatakan tantangan yang cukup besar? Iya karena pada kenyataannya tidak semua orang mau dan mampu menghadapi tantangan sedemikian besar tersebut.

Jangankan orang lain yang tidak tahu menahu mengenai perkembangan lembaga pendidikan ini. Dari empat orang pendiri yayasan ini, dua orang mengundurkan diri dengan alasannya masing-masing. Sedangkan satu orang yang masih bersama saya sampai saat ini pernah menyarankan untuk membubarkan sekolah ini pada tahun 2014.

Apa pasal? Karena beliau tidak memiliki bayangan dana untuk membangun gedung sekolah yang nilainya tidak cukup ratusan juta rupiah. Dalam perhitungan sahabat saya ini, tidak mungkin bisa membangun gedung sekolah yang nilainya ketika itu diperkirakan akan menelan biaya sekitar 1,4 miliar. Sedangkan kami hanya karyawan biasa yang hanya mengandalkan penghasilan bulanan yang hanya cukup untuk membiaya kebutuhan keluarga sendiri.

Dalam diskusi yang dilakukan antara saya dan satu teman yang tersisa dalam kepengurusan yayasan, beliau mengungkapkan idenya untuk melakukan moratorium pendaftaran siswa baru. Dengan kata lain beliau menginginkan pembubaran lembaga yang sudah didirikan pada bulan September tahun 2011 ini.

Bagi beliau yang memang sejak awal tidak melakukan hal teknis mengenai marketing dan pemeliharaan hubungan dengan orang tua siswa, mungkin akan sangat dengan mudah melakukannya. Tetapi, bagaimana dengan saya dan istri yang sejak awal berkecimpung untuk memasarkan sekolah ini ke sekolah-sekolah TK dan para calon orang tua murid di beberapa perumahan dan dalam setiap presentasi kami selalu mengatakan gedung akan kami bangun dengan megah?

Apa reaksi para orang tua murid yang saat itu berjumlah 47 orang siswa jika tahu-tahu sekolah tempat anak-anaknya dibubarkan dengan alasan kami tidak mampu membangun gedung sekolah dan menyerah kalah? Bagi saya, tidak sesederhana itu kita mebubarkan sebuah sekolah seperti membubarkan usaha tahu krispi atau ayam goreng kaki lima gara-gara sepi pembeli.

Akhirnya, saya mengabaikan saran dari teman ini untuk membubarkan lembaga pendidikan yang sudah susah payah kami bangun dari nol. Bagi saya, saya tidak memiliki alternatif kecuali berjalan ke depan dengan tegap dan menatap masa depan yang cerah.

Tidak mudah memang, mengusahakan dana 1,4 miliar lebih untuk membangun sekolah. Segala cara saya tempuh demi mendapatkan dana untuk membangun sekolah. Dari mulai mencari investor, sampai mengajukan kredit ke perbankan. Hasilnya? NIHIL.

Investor, siapa yang mau membiayai sekolah yang dianggap tidak memiliki masa depan ini. Perbankan, kami tidak memiliki agunan cukup untuk mendapatkan pinjaman senilai miliaran.

Sedangkan dari sisi orang tua murid sudah mulai banyak yang ‘menggugat’ kami dengan menanyakan kapan pelaksanaan pembangunan gedung sekolah. Masa sekolah di rumah selama bertahun-tahun. Maklum kami menggunakan rumah sebagai sarana belajar sejak tahun 2013 sampai pertengahan tahun 2015.

Ketika saya ditanya hal itu, saya hanya menjawab, belum tahu. Insya Allah waktunya akan datang. Akan tetapi, tentu saja jawaban saya ini tidak bisa memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang datang bertubi-tubi ini. Bahkan banyak orang tua yang kecewa kemudian mengeluarkan anak-anaknya untuk dipindahkan ke sekolah sebelah yang gedungnya lebih representatif.

Saya hanya pasrah saja ketika 19 siswa dari 47 itu dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya. Apa mau dikata? Mereka juga tidak saya salahkan. Toh yang mereka tuntut adalah hal yang wajar, yaitu gedung sekolah yang representatif untuk anak-anak mereka. Hanya saja, diantara mereka ada yang sabar dan setia, ada pula yang tidak sabar dan ingin segera pindah ke sekolah lain.

Siswa lama 19 yang keluar, sedangkan tahun ajaran baru kami hanya mendapatkan 7 siswa. Jadi, angkatan pertama kami mendapatkan 28 siswa, angkatan kedua 31 siswa dan angkatan ketiga 7 siswa. Kelak siswa yang 28 menjadi 16, yang 31 menjadi 16 dan yang 7 menjadi 4 pada saat kelulusan kelas 6.

Jika ditanya, apakah saya sedih karena 19 siswa keluar? Banget, namanya juga manusia. Tetapi kesedihan tidak perlu berlama-lama apalagi berlarut-larut dalam kesedihan. Kejadian demi kejadian harus menjadi bahan introspeksi dan harus diambil hikmah. Yang penting adalah bagaimana kami membangun optimisme dalam hidup dan kehidupan ini.

… Berlanjut ke bagian 2

Senang Belajar Jarimatika

Orangtua siswa SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) pagi ini berkumpul di aula sekolah untuk mengikuti pelatihan Jarimatika SDIT Wirausana Indonesia yang beralamat di Perum. Grand Cikarang City Jl. Nakula Raya Blok C9 No.1-4 Kec. Cikarang Utara, Bekasi pada Sabtu (10/8/19) pagi.

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan selain menyamakan konsep Jarimatika, juga dalam rangka mempererat tali silaturahmi khususnya antar orangtua siswa SWI dan pihak sekolah.

Suasana Belajar Jarimatika

Menurut bunda Hanna, salah seorang peserta pelatihan, hal ini sangatlah bermanfaat dan sangat berharap akan sering diadakan acara-acara yang seperti ini. “Seneng banget bisa bersilaturami dengan orang tua siswa lainnya dan mendapatkan ilmu”, tutur bunda Fathan .

Kegiatan pagi tadi berlangsung dengan baik dan bu Riko salah seorang pimpinan dan pemateri dari Fajar Utama Jawa Barat sangat bersemangat melihat antusias dari para peserta yang sudah hadir setengah jam sebelum acara dimulai.

Sumber: www.swi.sch.id

Qurban di Lingkungan SDIT Wirausaha Indonesia

Masjid Baitul Jannah adalah masjid yang beralamat di Perum. Grand Cikarang City Blok C9 tepat berada di depan SDIT Wirausaha Indonesia. Sebagaimana agenda tahunan yang biasa dilakukan, pada hari Ahad, 11/8/2019 (10 Dzulhijjah 1440H) pagi dilaksanakan pemotongan hewan qurban selepas pelaksanaan shalat Iedul Adha.

Ibu-ibu Menyiapkan Konsumsi

“Tahun ini panitia qurban menerima 4 ekor sapi dan 11 ekor kambing domba” ujar pak Erwin sebagai ketua panitia qurban. Ada pun distribusi hewan qurban adalah masyarakat yang membutuhkan di lingkungan sekitar.

Dalam Al-Qu’ran surat Al-Kautsar ayat 2, yang artinya : “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhan-mu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah mendekatkan diri kepada Allah)”. Dengan berqurban kita dilatih untuk peka dan peduli kepada sesama, terutama di lingkungan tempat kita berada.

Panitia dan warga masyarakat begitu bersemangat melaksanakan kewajibannya dari mulai persiapan sholat Idul Adha sampai pada pendistribusian daging kurban.

Dan yang tak kalah pentingnya ibu-ibu Blok C juga sangat rajin saling bahu membahu menyiapkan konsumsi untuk bapak-bapak yang terlihat lelah dan berkeringat. Sumber: www.swi.sch.id

Memulai Usaha, Kapan Dimulai?

Ketika sedang istirahat di sela-sela super training MR, kami berbincang akrab dengan teman satu kamar di kamar hotel sambil bersantai. Sebelumnya kami sudah ngobrol cukup panjang pada saat makan siang menganai usaha saya mendirikan sekolah dasar Islam.

Dia nanya, “Bagaimana awalnya bapak memulai usaha sekolah?”. Saya menjawab dengan kalimat singkat, “Disaat saya merasa penghasilan menjadi dosen itu mentok diangka 3 jutaan, sementara anak saya sudah 3 dan mulai bersekolah”.

Gedung Sekolah Tahun 2013

Berarti bapak memulai usaha disaat tidak memiliki cukup dana untuk memodali usaha dong? Iya. Kok bisa ya, memulai usaha dengan modal yang hampir tidak ada.

Saya balik bertanya, andai ketika itu saya memiliki penghasilan yang lumayan gede dan sangat cukup untuk kehidupan keluarga, apa iya saya akan memulai sebuah usaha? Belum tentu.

Itulah, keadaan manusia. Ketika memiliki penghasilan yang dirasa sangat cukup, dia tidak akan merasa perlu untuk membangun usaha, karena sudah berada di zona nyaman. Sebaliknya, walaupun dalam kondisi keterbatasan, dia memiliki tekad yang sangat kuat karena dia sudah tidak bisa mengharapkan perbaikan pendapatan di tempat kerjanya saat itu. Di sudah mentekadkan dan memikirkan masa depan keluarganya kelak.

Saat Masih Mengontrak, 2012

Maka, mulailah membangun usaha ditengah-tengah kesulitan keuangannya. Manusia hanya perlu punya mimpi yang besar, selanjutnya Allah lah yang akan mewujudkan impiannya itu.