Arsip Kategori: Opiniku

6 Alasan Memilih SDIT Wirausaha Indonesia

Setidaknya ada 6 alasan kenapa SDIT Wirausaha Indonesia patut dijadikan pilihan untuk bersekolah bagi putra-putri bapak dan ibu, yaitu:

Pertama, sekolah sudah Terakreditasi A. Akreditasi dengan predikat A berarti Unggul, baik dalam kualitas proses kegiatan belajar mengajar, kualitas guru dan kualitas sarana-prasarana yang dimiliki sekolah.

Kedua, guru yang profesional, ramah dan penyayang kepada seluruh siswanya. Seluruh guru disamping sudah memiliki kualifikasi keguruan, juga sudah dibekali dengan sarana peningkatan kemampuannya melalui berbagai pelatihan, workshop, seminar dan beberapa sarana lainnya untuk menunjang kompetensinya sebagai guru.

Ketiga, ruang belajar yang nyaman. Seluruh ruang belajar sudah dilengkapi AC yang memungkinkan kegiatan belajar-mengajar dilakukan dengan nyaman.

Keempat, sarana dan prasarana yang lengkap. SDIT Wirausaha Indonesia memiliki sarana seperti perpustakaan, UKS, Labaoratorium, Lapangan olah raga yang terletak di lantai 3, sarana interaksi siswa dan lain-lain.

Kelima, biaya yang sangat terjangkau. Dengan semua sarana dan kualitas sekolah yang ada, SDIT Wirausaha Indonesia merupakan satu-satunya sekolah di kawasan ini yang berbiaya amat terjangkau, sehingga memudahkan para orang tua siswa dalam memilih sekolah berkualitas dengan kemampuan keuangan yang memadai.

Keenam, lokasi sekolah yang sangat mudah dijangkau, baik dengan berjalan kaki, bersepeda maupun kendaraan roda dua. Hal ini sangat penting mengingat banyaknya orang tua yang sibuk untuk mengantar siswa, sehingga memungkinkan siswa bisa dengan leluasa berjalan kaki dan bersepeda dalam perjalanan ke sekolah tanpa ada rasa khawatir dari orang tua.



Menyiapkan Generasi Bangsa Yang Jujur, Wujud Cinta NKRI

Sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus bangsa selalu berusaha dengan keras untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa tercinta ini. Ungkapan di atas seharusnya tidak saja hanya bisa diucapkan atau sekedar dijadikan slogan saja.

Akan tetapi kita harus bertekad dengan keras bahwa kita akan sungguh-sunguh mendarmabaktikan hidup kita untuk kejayaan agama dan bangsa ini.

Tidak jujur adalah bukti tidak cinta Indonesia. Korupsi adalah wujud nyata benci negeri ini. Mengeruk kekayaan alam untuk diri dan kelompoknya adalah wujud keserakahan dan tidak cinta bangsa ini.

Jujur dalam berkarya adalah salah satu cara kita mengisi kemerdekaan negeri ini yang sudah susah payah diperjuangkan oleh para pejuang dengan darah dan air mata.

Kami bersama jajaran pimpinan Sekolah Wirausaha Indonesia berusaha dengan sekuat tenaga untuk membangun generasi penerus bangsa yang cinta Indonesia dan cinta agama.

Merdeka !!!

Tantangan Membangun Lembaga Pendidikan Islam (2)

Tahun 2014 adalah masa ‘keterpurukan’ lembaga pendidikan ini. Semoga ini adalah titik nadhir roda kehidupan yang menghinggapi lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia, yang pada tahun-tahun berikutnya tidak akan ada lagi penurunan melainkan maju melesat ke arah yang lebih baik.

Bagaimana tidak, lembaga ini mendalami beberapa persoalan yang amat berat ketika itu, yaitu: Pertama, keluarnya 19 siswa yang beberapa diantaranya adalah anak sahabat saya. Hal ini membuat saya teramat sedih, walau tidak menyalahkan. Kedua, pengurus masjid melarang aktifitas siswa untuk shalat dhuha, shalat dhuhur di masjid dan pembelajaran Al-Qur’an. Aneh juga sih, ibadah kok dilarang, persis ormas yang ono yang hoby nya melarang-larang ibadah hanya gara-gara beda kelompok.

Ketiga, cibiran dari lingkungan sekitar karena gedung sekolah yang tidak kunjung dibangun, bahkan muncul anjuran yang isinya larangan untuk bersekolah di lembaga ini karena pemiliknya dianggap tidak mampu membangun gedung sekolah. “Nggak punya duit kok bikin sekolah”, begitu kira-kira isi nyinyirannya. Ini juga bikin terenyuh. Ya Alloh.

Persoalan ini membuat saya cukup membuat air mata saya meleleh jatuh, terutama untuk persoalan yang kedua. Bagaimana tidak, keberadaan masjid salah satu sebabnya adalah karena ada campur tangan saya pribadi selaku pencari donatur dari timur tengah. Termasuk lokasi masjid ini pun saya yang mengusulkan, dengan catatan kami akan meminjam masjid untuk kegiatan ibadah anak sebelum kami memiliki fasilitas gedung sekolah yang memadai. Dan hal ini sudah saya uraikan dengan terang benderang kepada para pengurus Rt, Rw dan panitia pembangunan masjid. Maka disepakati lokasi pembangunan masjid persis berada di depan SDIT Wirausaha Indonesia yang sebelumnya memiliki lokasi yang sempit dan nyempil.

Salahs satu hal yang membuat saya sedih adalah, pada saat anak-anak sedang shalat dhuha diusir-usir oleh orang ini. Pernah juga suatu ketika ada acara pertemuan orang tua pada hari sabtu di masjid, seorang pemimpin lingkungan (bukan pengurus masjid) dengan sengaja menggulung karpet yang sedang diduduki oleh kepala sekolah dan beberapa orang tua siswa. Allohu Akbar, sedihhh, sampai segitunya.

Tapi hal itu lah justru yang membuat saya berpasrah diri hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saya berharap dengan kepasrahan saya yang total itu akan membuat Allah SWT segera menurunkan pertolonganNya untuk memulai pembangunan gedung sekolah idaman ini.

Alhamdulillah pada pertengahan tahun 2015 kami memulai pembangunan. Awal dimulai pembangunan adalah pembuatan tembok keliling dengan pondasi siap tingkat. Proyek pertama diperkirakan memakan biaya sekitar 60 jutaan, padahal saya hanya memiliki dana tunai sekitar 15 jutaan. Masih jauh dari total biaya yang dibutuhkan.

Tapi mau bagaimana lagi, pembangunan harus segera dimulai. Apalagi pagar sebelah barat juga sudah hampir roboh, sangat jelek dipandang mata. Seperti gedung sekolah yang tidak terurus dan hal ini akan menambah senang para nyinyirun.

Alhamdulillah, pembangunan dimulai bulan Juni 2015, selesai bulan September 2015 dan total menghabis dana sekitar 85 jutaan. Inilah pembangunan tahap pertama dari total tujuh tahap pembangunan sampai selesai. Kelak pembangunan gedung selesai bulan Oktober 2018, bertepatan dengan pelaksanan akreditasi yang menghasilkan nilai A atau Unggul.

Tantangan Membangun Lembaga Pendidikan Islam (1)

Membangun lembaga pendidikan Islam khususnya dalam hal ini adalah setingkat sekolah dasar merupakan hal yang memiliki tantangan yang cukup besar. Saya mengatakan ini adalah “tantangan” untuk menggantikan kata “sulit” atau “susah” sebagaimana banyak orang mengatakannya.

Kenapa saya mengatakan tantangan yang cukup besar? Iya karena pada kenyataannya tidak semua orang mau dan mampu menghadapi tantangan sedemikian besar tersebut.

Jangankan orang lain yang tidak tahu menahu mengenai perkembangan lembaga pendidikan ini. Dari empat orang pendiri yayasan ini, dua orang mengundurkan diri dengan alasannya masing-masing. Sedangkan satu orang yang masih bersama saya sampai saat ini pernah menyarankan untuk membubarkan sekolah ini pada tahun 2014.

Apa pasal? Karena beliau tidak memiliki bayangan dana untuk membangun gedung sekolah yang nilainya tidak cukup ratusan juta rupiah. Dalam perhitungan sahabat saya ini, tidak mungkin bisa membangun gedung sekolah yang nilainya ketika itu diperkirakan akan menelan biaya sekitar 1,4 miliar. Sedangkan kami hanya karyawan biasa yang hanya mengandalkan penghasilan bulanan yang hanya cukup untuk membiaya kebutuhan keluarga sendiri.

Dalam diskusi yang dilakukan antara saya dan satu teman yang tersisa dalam kepengurusan yayasan, beliau mengungkapkan idenya untuk melakukan moratorium pendaftaran siswa baru. Dengan kata lain beliau menginginkan pembubaran lembaga yang sudah didirikan pada bulan September tahun 2011 ini.

Bagi beliau yang memang sejak awal tidak melakukan hal teknis mengenai marketing dan pemeliharaan hubungan dengan orang tua siswa, mungkin akan sangat dengan mudah melakukannya. Tetapi, bagaimana dengan saya dan istri yang sejak awal berkecimpung untuk memasarkan sekolah ini ke sekolah-sekolah TK dan para calon orang tua murid di beberapa perumahan dan dalam setiap presentasi kami selalu mengatakan gedung akan kami bangun dengan megah?

Apa reaksi para orang tua murid yang saat itu berjumlah 47 orang siswa jika tahu-tahu sekolah tempat anak-anaknya dibubarkan dengan alasan kami tidak mampu membangun gedung sekolah dan menyerah kalah? Bagi saya, tidak sesederhana itu kita mebubarkan sebuah sekolah seperti membubarkan usaha tahu krispi atau ayam goreng kaki lima gara-gara sepi pembeli.

Akhirnya, saya mengabaikan saran dari teman ini untuk membubarkan lembaga pendidikan yang sudah susah payah kami bangun dari nol. Bagi saya, saya tidak memiliki alternatif kecuali berjalan ke depan dengan tegap dan menatap masa depan yang cerah.

Tidak mudah memang, mengusahakan dana 1,4 miliar lebih untuk membangun sekolah. Segala cara saya tempuh demi mendapatkan dana untuk membangun sekolah. Dari mulai mencari investor, sampai mengajukan kredit ke perbankan. Hasilnya? NIHIL.

Investor, siapa yang mau membiayai sekolah yang dianggap tidak memiliki masa depan ini. Perbankan, kami tidak memiliki agunan cukup untuk mendapatkan pinjaman senilai miliaran.

Sedangkan dari sisi orang tua murid sudah mulai banyak yang ‘menggugat’ kami dengan menanyakan kapan pelaksanaan pembangunan gedung sekolah. Masa sekolah di rumah selama bertahun-tahun. Maklum kami menggunakan rumah sebagai sarana belajar sejak tahun 2013 sampai pertengahan tahun 2015.

Ketika saya ditanya hal itu, saya hanya menjawab, belum tahu. Insya Allah waktunya akan datang. Akan tetapi, tentu saja jawaban saya ini tidak bisa memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang datang bertubi-tubi ini. Bahkan banyak orang tua yang kecewa kemudian mengeluarkan anak-anaknya untuk dipindahkan ke sekolah sebelah yang gedungnya lebih representatif.

Saya hanya pasrah saja ketika 19 siswa dari 47 itu dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya. Apa mau dikata? Mereka juga tidak saya salahkan. Toh yang mereka tuntut adalah hal yang wajar, yaitu gedung sekolah yang representatif untuk anak-anak mereka. Hanya saja, diantara mereka ada yang sabar dan setia, ada pula yang tidak sabar dan ingin segera pindah ke sekolah lain.

Siswa lama 19 yang keluar, sedangkan tahun ajaran baru kami hanya mendapatkan 7 siswa. Jadi, angkatan pertama kami mendapatkan 28 siswa, angkatan kedua 31 siswa dan angkatan ketiga 7 siswa. Kelak siswa yang 28 menjadi 16, yang 31 menjadi 16 dan yang 7 menjadi 4 pada saat kelulusan kelas 6.

Jika ditanya, apakah saya sedih karena 19 siswa keluar? Banget, namanya juga manusia. Tetapi kesedihan tidak perlu berlama-lama apalagi berlarut-larut dalam kesedihan. Kejadian demi kejadian harus menjadi bahan introspeksi dan harus diambil hikmah. Yang penting adalah bagaimana kami membangun optimisme dalam hidup dan kehidupan ini.

… Berlanjut ke bagian 2

Senang Belajar Jarimatika

Orangtua siswa SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) pagi ini berkumpul di aula sekolah untuk mengikuti pelatihan Jarimatika SDIT Wirausana Indonesia yang beralamat di Perum. Grand Cikarang City Jl. Nakula Raya Blok C9 No.1-4 Kec. Cikarang Utara, Bekasi pada Sabtu (10/8/19) pagi.

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan selain menyamakan konsep Jarimatika, juga dalam rangka mempererat tali silaturahmi khususnya antar orangtua siswa SWI dan pihak sekolah.

Suasana Belajar Jarimatika

Menurut bunda Hanna, salah seorang peserta pelatihan, hal ini sangatlah bermanfaat dan sangat berharap akan sering diadakan acara-acara yang seperti ini. “Seneng banget bisa bersilaturami dengan orang tua siswa lainnya dan mendapatkan ilmu”, tutur bunda Fathan .

Kegiatan pagi tadi berlangsung dengan baik dan bu Riko salah seorang pimpinan dan pemateri dari Fajar Utama Jawa Barat sangat bersemangat melihat antusias dari para peserta yang sudah hadir setengah jam sebelum acara dimulai.

Sumber: www.swi.sch.id

Qurban di Lingkungan SDIT Wirausaha Indonesia

Masjid Baitul Jannah adalah masjid yang beralamat di Perum. Grand Cikarang City Blok C9 tepat berada di depan SDIT Wirausaha Indonesia. Sebagaimana agenda tahunan yang biasa dilakukan, pada hari Ahad, 11/8/2019 (10 Dzulhijjah 1440H) pagi dilaksanakan pemotongan hewan qurban selepas pelaksanaan shalat Iedul Adha.

Ibu-ibu Menyiapkan Konsumsi

“Tahun ini panitia qurban menerima 4 ekor sapi dan 11 ekor kambing domba” ujar pak Erwin sebagai ketua panitia qurban. Ada pun distribusi hewan qurban adalah masyarakat yang membutuhkan di lingkungan sekitar.

Dalam Al-Qu’ran surat Al-Kautsar ayat 2, yang artinya : “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhan-mu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah mendekatkan diri kepada Allah)”. Dengan berqurban kita dilatih untuk peka dan peduli kepada sesama, terutama di lingkungan tempat kita berada.

Panitia dan warga masyarakat begitu bersemangat melaksanakan kewajibannya dari mulai persiapan sholat Idul Adha sampai pada pendistribusian daging kurban.

Dan yang tak kalah pentingnya ibu-ibu Blok C juga sangat rajin saling bahu membahu menyiapkan konsumsi untuk bapak-bapak yang terlihat lelah dan berkeringat. Sumber: www.swi.sch.id

Memulai Usaha, Kapan Dimulai?

Ketika sedang istirahat di sela-sela super training MR, kami berbincang akrab dengan teman satu kamar di kamar hotel sambil bersantai. Sebelumnya kami sudah ngobrol cukup panjang pada saat makan siang menganai usaha saya mendirikan sekolah dasar Islam.

Dia nanya, “Bagaimana awalnya bapak memulai usaha sekolah?”. Saya menjawab dengan kalimat singkat, “Disaat saya merasa penghasilan menjadi dosen itu mentok diangka 3 jutaan, sementara anak saya sudah 3 dan mulai bersekolah”.

Gedung Sekolah Tahun 2013

Berarti bapak memulai usaha disaat tidak memiliki cukup dana untuk memodali usaha dong? Iya. Kok bisa ya, memulai usaha dengan modal yang hampir tidak ada.

Saya balik bertanya, andai ketika itu saya memiliki penghasilan yang lumayan gede dan sangat cukup untuk kehidupan keluarga, apa iya saya akan memulai sebuah usaha? Belum tentu.

Itulah, keadaan manusia. Ketika memiliki penghasilan yang dirasa sangat cukup, dia tidak akan merasa perlu untuk membangun usaha, karena sudah berada di zona nyaman. Sebaliknya, walaupun dalam kondisi keterbatasan, dia memiliki tekad yang sangat kuat karena dia sudah tidak bisa mengharapkan perbaikan pendapatan di tempat kerjanya saat itu. Di sudah mentekadkan dan memikirkan masa depan keluarganya kelak.

Saat Masih Mengontrak, 2012

Maka, mulailah membangun usaha ditengah-tengah kesulitan keuangannya. Manusia hanya perlu punya mimpi yang besar, selanjutnya Allah lah yang akan mewujudkan impiannya itu.

Dinantikannya Peran Mahasiswa

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Kebangkitan suatu peradaban manusia dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya tidak dapat terlepas dari peran pemuda di dalamnya. Dalam sejarah berbagai peradaban, tidak bisa dipungkiri pemuda merupakan rahasia kebangkitan yang mengibarkan panji-panji kemenangannya. Maka peradaban Indonesia akan kembali bangkit dengan pemuda sebagai tonggak kebangkitannya. Allahuakbar!

”Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji panjinya.” (Hasan Al-Banna)

Mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang memiliki ciri khas tersendiri. Sejarah mencatat peran-peran signifikan dari pergerakan mahasiswa Indonesia dalam momentum-momentum besar yang terjadi di negeri ini. Dari zaman perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi saat ini mahasiswa memegang peranan penting bersama pergerakannya yang tak kenal henti.

“Setiap orang memiliki masa-masa kepahlawannya sendiri”  (Anis Matta)

Akan tetapi semua menjadi tidak berarti jika pemuda dalam hal ini mahasiswa diam saja. Sibuk dengan diri sendiri, angkuh, apatis, tidak peduli dengan keadaan bangsa ini minimal dengan masyarakat di sekitar rumahnya dan sombong hanya dengan titel mahasiswa yang menghiasi hatinya. Bangsa ini bak kehilangan nahkoda muda yang seharusnya menjadi pilar keadilan dan pejuang kebenaran.

Oleh sebab itu kini bangsa sedang menanti sepak terjang mahasiswa yang sangat diharapkan akan merubah bangsa ini menjadi lebih baik. Mahasiswa menjadi tumpuan berbagai pihak. Mahasiswa merupakan harapan bangsa, harapan masyarakat, harapan keluarga, dan harapan dunia.

Setidaknya ada 3 peran yang seharusnya dimiliki mahasiswa :

Pertama, mahasiswa memiliki peran sebagai intelektual akademisi. Ini memang tugas mahasiswa yang seharusnya dimiliki. Seorang mahasiswa intelektual akademisi selayaknya tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual saja, tapi juga kecerdasan spiritual. Sebagaimana kita tahu Indonesia banyak memiliki orang-orang pintar tapi sedikit memiliki orang-orang pintar bermoral. Akibatnya kerusakan terjadi dimana-mana karena segala sesuatu tidak diseimbangkan antara fikiran logika rasional dan spiritual kepada Allah SWT.

Kinilah saatnya mahasiswa menjadi motor penggerak dan pelopor kebangkitan bangsa. Dimulai dengan serius menimba ilmu, mengentalkan islam dalam hati, dan buktikan dengan amalan terbaik. Jangan hanya sibuk mengkritik orang tapi kritik lah diri sendiri apakah sudah baik diri ini mengemban amanah sebagai mahasiswa. Jangan sibuk menjelek-jelekan orang tapi lihat diri adakah keburukan yang hendaknya tidak ada pada diri kita sebagai pemuda harapan bangsa. InsyaAllah mahasiswa muslim intelektual akan menjadi solusi dari persoalan bangsa ini.

Kedua, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Mahasiswa yang berpendidikan akan menjadi faktor peubah dalam masyarakat kedepan. Apa yang dilakukan mahasiswa saat ini akan menjadi cerminan bangsa di masa yang akan datang. Jika saat ini mahasiswa berleha-leha, malas, dan urung belajar maka hasilnya akan berakibat buruk pada masa depan bangsa. Sebaliknya jika mahasiswa rajin, terus belajar, tiada henti berjuang membela keadilan dan kebenaran maka dapat ditebak kemudian, bangsa ini akan menjadi bangsa yang jaya.

Semua itu sekali lagi bermula dari diri kita masing-masing. Maukah kita menjadi agent of change menuju kebaikan ummat? Tentu tidaklah mudah menjadi agen perubahan di tengah gejolak multidimensi seperti saat ini. Tapi inilah perjuangannya. Semakin sulit cobaan yang Allah beri maka surga adalah jaminannya. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan ummatnya.

Ketiga, mahasiswa berperan sebagai calon pemimpin masa depan. Demi waktu yang terus-menerus menerjang tanpa ada yang mampu menghentikannya, maka regenerasi merupakan keniscayaan kehidupan. Demikian pula dengan kelangsungan kehidupan bangsa dan negara. Bangsa ini membutuhkan regenerasi, mengganti generasi terdahulu dengan generasi baru dengan semangat baru (arruhul jadiid). Disinilah mahasiswa disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Mahasiswa harus siap dengan segala tuntutan yang harus dimiliki untuk mengemban amanah sebagai calon pemimpin masa depan. Pemimpin bertakwa, berwawasan luas, dan memiliki kemampuan memimpin yang baik merupakan pemimpin harapan bangsa ini.

“Pemimpin suatu kaum adalah yang paling banyak memberikan pelayanan kepada mereka yang dipimpinnya.”
(Rasulullah Muhammad SAW)

In the short, kita sebagai mahasiswa muslim harus menyadari bahwa kita memiliki amanah yang harus dilaksanakan. Banyaknya amanah yang harus kita tanggung jangan sampai melunturkan semangat juang kita. Benarlah Hasan Al-Banna bahwa kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Maka yang harus kita lakukan adalah berjuang dengan perjuangan terbaik, beribadah dengan ibadah terbaik, dan beramal dengan amalan terbaik. Semua ini tidak akan berakhir sampai kita menginjakkan kaki di surga kelak. Amin.

Untukmu Allah, Rasulullah, dan Islam! Allahuakbar!

Wallahu a’lam bishshawab

Sumber:

https://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/dinantikannya-peran-mahasiswa-muslim.htm#.XIdefCgzbIU

Partai pro Islam dan Partai pro Maksiat

Tahukah anda?

Ada partai yang ingin membuat undang-undang mengenai pelarangan prostitusi dan elgebete, itu PKS.

Ada pula partai yang dengan sekuat tenaga ingin agar prostitusi dan elgebete beredar luas di negeri ini, itu partai… (tahu sendiri ya)

Ada partai yang ingin syariah berlaku utk kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi ada partai yang dengan sekuat tenaga menghadang dan menolaknya.

Ada partai yang pro umat, ada pula partai yang pro maksiat. Itu fakta yang tidak terbantahkan.

Ironisnya, ada sebagian umat Islam yang dengan bangga mengatakan: HAROM DEMOKRASI, TAPI DISAAT YG SAMA MENJILAT PENGUASA.

Pilih caleg dari PKS

Serba-Serbi Menyekolahkan Anak

Beberapa waktu yang lalu, ada teman curhat. Anaknya disuruh pulang oleh pengurus pondok dikarenakan belum lunas spp selama dua bulan. Padahal jarak pondok ke rumah sejauh ratusan kilometer.

Teman ini menyesalkan kebijakan pesantren karena tidak memahami kondisi keuangannya yang sedang morat marit karena usahanya yang sedang mengalami penurunan omzet.

Ini bagaimana sih, lembaga pendidikan Islam kok tega banget. Katanya Islam kok begini, gumamnya.

Saya sendiri pernah mengalaminya. Saya tertunda 4 tahun untuk wisuda S2 dikarenakan memiliki tunggakan berbagai jenis biaya pendidikan pasca sarjana.

Sebetulnya siapa sih yang salah? Menurut saya tidak ada yang salah.

Lembaga pendidikan Islam juga ingin agar operasional lembaganya berjalan dengan baik. Lembaga pendidikan Islam juga harus membayar gaji guru dan seluruh biaya-biaya tepat waktu.

Lembaga pendidikan Islam juga berupaya memberikan sistem pendidikan yang terbaik dengan sarana dan pra sarana yang memadai dan itu semua modal utamanya adalah keberlangsungan dana yang hampir seluruhnya berasal dari siswa.

Sebagai pengelola lembaga pendidikan Islam, kami juga sangat kelabakan jika pembayaran spp hanya mencapai rata2 60% setiap bulannya, sedangkan yang 40% menunggak pembayaran.

Bahkan ada beberapa siswa yang berhutang sampai 7 juta. Kok bisa? Iya karena hampir setiap bulan tidak membayar spp. Ketika ditagih, orang tuanya bilang “tega amat sih sama teman sendiri”.

Sekitar tahun 2009 saya juga terpaksa menyekolahkan anak pertama dan kedua di sekolah gratis. Hal ini dikarenakan menyekolahkan anak di sekolah swasta cukup memberatkan ketika itu. Tidak masalah, daripada memiliki hutang yang entah kapan kita bisa membayarnya ke sekolah swasta.

Oleh karenanya, di sekolah yang kami kelola sekarang, anak yatim tidak mampu kami bebaskan dari segala pungutan biaya.