Arsip Kategori: Opiniku

Berwirausaha Itu Penting Loh

Saking pentingnya berwirausaha, sejak pertama kali merantau ke jakarta tahun 1992 an saya sudah belajar berwirausaha.

Sejak saya mulai bekerja dan kuliah, saya juga nyambi usaha. Apa saja yang bisa saya lakukan dengan modal kecil yang saya miliki, dengan peluang yang tersedia saat itu.

Saat itu saya jualan majalah Hidayatulloh, Sabili, Ummi, Annida, Al-Izzah dan Tarbawi. Konsumen terbesarnya adalah para buruh teman-teman kerja.

Saya juga jualan buku-buku islam. Hal ini saya lakukan dengan cara bekerja sama dengan Toko Buku I’tishom yang terletak di bilangan pemuda, Jakarta Timur. Kami bekerja sama dengan cara ambil buku sejumlah yang saya mau dan saya membayar buku-buku yang terjual. Berwirausaha itu mengAsyikkan loh.

Alhamdulillah, dari hasil berjualan buku dan majalah, saya bisa membeli buku-buku kuliah. Berjualan buku dan majalah saya lakoni dari tahun 1994 sampai tahun 1999 an.

Saya juga pernah jualan baju, usaha rental mobil, jualan ayam goreng, dan simpan pinjam syariah.

Itu semua saya jalankan karena menyadari betul bahwa pada saatnya manusia itu akan tua dan akan sangat berkurang kemampuannya dalam bekerja.

Suatu saat nanti saya memiliki passive income yang dapat menjamin kehidupan di dunia khususnya dalam hal masalah keuangan. Ini adalah impian saya, semoga terkabul.

Serba-Serbi Ujian Sekolah

Siapa ya yang paling deg-degan menghadapi ujian akhir sekolah?

Pasti siswa yang akan melaksanakan ujian. Siapa lagi? Orang tua. Siapa lagi? Kepala sekolah.

Nah, Kepala sekolah ini sedang mempertaruhkan jabatannya atas kesuksesan seluruh anak didiknya dalam menempuh ujian. Jika peserta didiknya lulus semua, amanlah dia dan sekolahnya.

Bagaimana jika ada yang tidak lulus? Ini akan menjadi masalah besar. Pertaruhan masa depan sekolah. Makanya segala cara (tentu cara yang baik dan tidak melanggar hukum) dilakukan demi suksesnya ujian akhir.

Salah satu caranya adalah jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ujian akhir. Yaitu pada saat penerimaan siswa baru. Sekolah-sekolah pavorit memberlakukan pola yang amat ketat dalam penerimaan siswa barunya. Test masuk sekolah menjadi momok dan sesuatu hal yang sulit utamanya bagi anak-anak yang tingkat kecerdasannya biasa-biasa saja.

Hanya anak-anak super saja yang bisa masuk sekolah tersebut. Benar-benar hanya bibit unggul yang bisa masuk sekolah ini.

Sekolah-sekolah ini memang keren, sudah biaya sekolahnya tinggi, bisa memilih siswa yang paling cerdas pula. Dari 500 yang mendaftar, mungkin hanya 100 an yang diterima. Benar2 siswa pilihan. Sekolah ini adalah dambaan para orang tua.

Hasilnya, ketika ujian akhir bisa dipastikan LULUS SEMUA dengan nilai terbaik. Nama sekolah semakin berkibar, sang kepala sekolah bisa kipas-kipas lega.

Hal berbeda dialami sekolah yang lain. Bisa jadi mereka menerima siswa hasil muntahan dari sekolah dambaan umat. Siapa saja bisa masuk sepanjang masih ada kuota.

Test masuk bukan penghalang siapapun masuk sekolah ini, karena pada hakikatnya test masuk sekedar test kompetensi yang bertujuan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa ketika awal masuk suatu sekolah.

Ketika tiba pelaksanaan ujian akhir sekolah, sang kepala sekolah harus memutar otak agar peserta didiknya LULUS SEMUA. Berbagai cara ditempuh, dari mulai try out, mewajibkan siawa mengikuti bimbel, les privat dan lain-lain.

Apakah akan lulus semua? Kita lihat saja nanti, semoga lulus semua.

SELAMAT MENEMPUH UJIAN UTK ANAK-ANAKKU, SUKSES UNTUK KALIAN SEMUA BAIK YANG BISA SAJA MAUPUN YANG BIBIT UNGGUL

Bus Tingkat sebagai Sarana Keliling Ibukota

Awal-awal merantau ke Jakarta di tahun 1992 an, saya sering naik bus PPD tingkat sebagai sarana keliling ibukota. Sudah tentu naiknya di tingkat atas dan duduk paling depan.

Maklum anak udik, ngeliat bus tingkat begitu emejing, bawaannya pengen naik bus melulu. Termasuk ketika menghadiri deklarasi Partai Keadilan di Masjid Al-Azhar Kebayoran Lama  saya naik bus tingkat untuk menuju lokasi.

Memang Asyik jika baik bus tingkat ini, apalagi duduk paling depan. Karena kita bisa melihat pemandangan indahnya kota impian, bisa melihat gedung pencakar langit dari dekat dan dapat melihat dari dekat kesibukan denyut nadi kota paling sibuk di negeri ini.

Ketika belum mendapatkan pekerjaan, saya sering meluangkan waktu berkeliling kota nai bus ini. Biasanya saya naik dari jalan pramuka pasar genjing, sampai balik lagi ke pasar genjing.

Proses Hidup Manusia

Perjalanan hidup manusia sesungguhnya merupakan rangkaian suatu proses menuju proses yang lain. Apakah proses itu bernama kesusahan, kesenangan, ataupun pencapaian. Itu semua adalah bentuk proses.

Setiap manusia akan menjalani semua proses itu. Hanya saja, ada manusia yang mengeluh dengan semua proses yang dialami baik susah maupun senang. Diberikan kesenangan ia tidak bersyukur, diberikan kesusahan ia mengeluh.

Ada juga manusia yang enjoy dan menikmati semua proses yang hinggap dalam hidupnya. Termasuk ketika kesusahan menyapa salah satu episode dalam hidupnya, dia akan berkata, alhamdulillah. Ia pandai menari dikala badai datang menerjang. Selelu bersyukur apapun kondisi yang menimpanya.

Tugas manusia dalam menjalani hidup ini pada hakikatnya hanya dua: ikhtiar dan berdoa. Itu saja. Itu adalah pengejawantahan makna ibadah.

Loh Kok PKS yang Dibully?

Lagi rameh neh…

PKS berkoalisi dengan partai berbasis massa Islam, PKB. Konon partai ini memiliki basis masa kuat di Jawa Timur.

Di tengah jalan, PDIP gabung. Di media, PKS habis dibully, dicap tidak konsisten dengan spirit Pilkada DKI.

Sedangkan berkoalisi dengan partai-partai lain juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya sesungguhnya cukup paham bagaimana para pimpinan PKS membangun strategi pemenangan pilkada.

Saya ini cuma simpatisan, apa pun yang diputuskan PKS saya yakin sudah melalui istikhoroh dan musyawarah dengan pihak-pihak yang berkompeten. Dan saya selalu mendukung apa pun keputusannya.

Saya juga tidak mau sok ikut-ikutan menganalisa, apalagi menghakimi strategi yang ditempuh oleh para qiyadah PKS. Beliau-beliau sangat paham strategi nasional bahkan internasional, sedangkan kita cuma tahu urusan lokal, itu pun ala kadarnya.

Begitu ya? Wong urip emang rumit.

Kewirausahaah Untuk Anak, Perlukah?

Tidak sedikit yg menanyakan: “Sekolah tingkat dasar kok diajarin kewirausahaan, anak2 diajari dagang donk, emang perlu dan sudah waktunya?”

Saya jawab: Kewirausahaan itu banyak dimensinya, diantaranya kreatifitas, inovasi dan perdagangan.
Kewirausahaan utk siswa level SD adalah membangun kemandirian pada anak dan menumbuhkan kreatifitas pada setiap perilaku anak.
Jadi, pada level ini anak tdk diajari berdagang, ilmu berdagang ada bab tersendiri khususnya pada level SMA atau sederajat.
Fokus pelajaran kewirausahan pada anak adalah: bagaimana agar anak bisa menciptakan sesuatu, dimana sesuatu itu bisa berguna bagi diri dan lingkungannya.
Insya Alloh, walloohu a’lam.

Persekusi Ibadah

Fenomena penolakan yang dilakukan berkali-kali oleh ormas tertentu sepertinya bukan hal yang baru. Kenapa?

Dalam banyak kejadian pada level yang lebih kecil, seringkali suatu masjid dilarang oleh jamaah tertentu ketika mau mengadakan acara tertentu. Ini hal yang sudah amat biasa. Padahal kegiatannya juga kegiatan yang bersifat umum, misalnya kajian Al-Qur’an, kajian tauhid dan lain-lain.

Mereka tidak peduli, apakah suatu kegiatan itu mendatangkan pahala. Yang mereka pedulikan adalah manakalah kegiatan itu bukan kelompoknya yang mengadakan, maka harus dibubarkan.

Repot yah… Trus apa sebenarnya apa yang mereka cari di dunia ini? Bukannya pahala yang dicari?

Mahal dan Capek

Mendirikan partai itu mahal dan capek banget loh. Mengikuti kontestasi Pilkada itu mahal dan capek loh. Kenapa sih kita bikin partai dan mengikuti perlombaan pilkada?

Sedangkan masyarakat lebih suka disuap 10 rebu – 15 rebu untuk memilih di TPS. Sedangkan masyarakat tidak percaya program dan kepribadian. Sedangkan masyarakat hanya tahu bahasa uang yang ada di depan mata?

Apa lebih baik kita bubarkan saja partai dan mengelola ormas, sebagaimana yang sudah kita lakukan sejak dulu hingga kini?

Jika kita mau mencari aman, tentu cukuplah kita mengelola amal-amal usaha pendidikan dan perdagangan. Mengelola seminar dan workshop tentang mengelola negara cara islami sambil memaki harokah lain: “hei nggak nyunah lo, hai nggak ngikutin nubuwah lo, woi demokrasi haram lo.. bla bla bla”.

Jika kita mau cari nikmat, maka lebih baik kita menikmati kemapanan di singgasana kesejahteraan sembari ikut menonton ketidakadilan, ketidakberdayaan rakyat di tengah-tengah pengelola negara yang semakin merajalela jahatnya.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang hanya ingin memperkaya diri dan kelompoknya. Dengan cara apapun, tidak peduli etika, tidak peduli cara halal atau cara haram, tidak peduli bangsa dan rakyat semakin sekarat.

Faktanya, di luar sana banyak pihak yang rela menjadi kacung negara asing yang ingin mengeruk kekayaan negeri ini yang begitu berlimpah.

Maka tidak heran, korupsi semakin merajalela disaat lembaga anti korupsi dibentuk. Narkoba semakin merajalela disaar lembaga anti narkoba dibuat. Jual beli jabatan merajalela disaat lembaga pengelola badan usaha dibikin.

Yuuk kita tutup mata, tutup telinga dan tidak peduli dengan semua jeritan dan tangisan rakyat yang semakin menggema di seantero negeri ini.

Memaknai Sebuah Kekalahan

Pendahuluan

Kekalahan dalam sebuah pertandingan bukan hal yang memalukan, apalagi merasa “kelar hidup lo”. Sebab, satu fase kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses yang akan melahirkan kemenangan, kesuksesan dan kejayaan.

Pahami Ilmu Input-Output

Kekalahan merupakan salah satu tangga dalam sebuah proses. Sebab, kekalahan merupakan output atas input-input yang selama ini kita lakukan. Inputnya “apa” akan menghasilkan output “apa” pula. Output akan melahirkan sekecil atau sebesar input yang dilakukan. Dengan kata lain, besarnya output yang dihasilkan bergantung besar atau kecilnya input.

Menariknya adalah, output merupakan sebuah kepastian yang Alloh SWT berikan kepada hambaNya. Hukum sebab akibat atau sunnatullah berlaku tetap dan pasti. Jika inputnya itu-itu saja, maka bisa diPASTIkan outputnya juga itu-itu saja. Contoh1: jika kita melempar bola bekel sebesar tekanan tertentu ke lantai, maka akan menghasilkan lentingan sebesar lepasan tertentu ke atas. Contoh2: jika kita menjatuhkan sebuah benda, pasti jatuhnya ke bawah bukan ke atas.

Input

Mari kita berhitung, apa saja input yang selama PKS ini berdiri dilakukan? Baksos, peduli kebakaran, peduli banjir, pengobatan gratis, bazar murah kebutuhan pokok, bazar pakaian baru/layak pakai. Apalagi? Ini belum termasuk pola rekrutmen kader yang cenderung stagnan dan pemeliharaan kader yang begitu-begitu saja.

Output

Sejak pemilu tahun 2004, suara PKS secara nasional cenderung mengalami stagnasi, bahkan turun secara prosentase. Jika pun ada kenaikan secara kuantitas suara, jumlahnya tidak signifikan. Sejak PKS mengikuti kontestasi pemilukada Kabupaten Bekasi tahun 2007 sampai hari ini, suara PKS (dan koalisi) cenderung stagnan, dua kali mengalami kekalahan.

Yang kita butuhkan dari sebuah kekalahan adalah bukan justifikasi dan apologi, bahwa kita partai dakwah, yang kita cari bukan semata suara, tetapi bla bla bla… Raihlah kemenangan sejati, yaitu pahala dari Alloh SWT. Truus, kalau kita bukan cari kemenangan pada kontestasi pemilu atau pilkad,a ngapain kita repot-repot ikut pemilu?

Yang dibutuhkan dari sebuah kekalahan adalah evaluasi secara menyeluruh atas input-input yang selama ini kita lakukan, yang hasil akhir dari evaluasi itu adalah: LOMPATAN BESAR yang akan dilakukan sebagai input-input baru ke depan. Inputan lama tetap dilakukan dengan porsi tertentu, tetapi LOMPATAN BESAR harus dilakukan dengan porsi besar dan terukur.

Ingat! Kekalahan tidak membutuhkan justifikasi atau apologi, tetapi membutuhkan sebuah langkah nyata yang berbeda dan besar dari yang selama ini kita lakukan. Langkahnya apa, besarnya seperti apa, silahkan dimusyawarahkan pada level qiyadah.

Jika kita gagal dalam mengidentifikasi LOMPATAN BESAR, maka bersiap-siaplah partai ini bubar, karena di luar sana banyak pihak yang siap membumihanguskan partai ini dengan segudang alasan yang kita sama-sama mengetahuinya. KITA AKAN MENDAPATKAN SEBESAR IMPIAN KITA.

Aksi Bela Islam Jilid 4

Setelah 3 periode melakukan Aksi Bela Islam, kemarin kami berkumpul kembali di masjid Pondok Indah, mendengarkan tausiah dari Ustad Bachtiar Nasir. Tausiah kali ini tidak biasa. Semacam konferensi pers dari beliau menceritakan tentang before dan after Aksi Bela Islam.

20161104_144124

Saat beliau flash back menggambarkan kisah-kisah perjuangan yang dialami peserta dari berbagai kota, rasanya seperti berada didalam suasana itu kembali. Mesin waktu seolah diputar dan saya tiba-tiba masuk didalam kerumunan massa yang berteriak Allah akbar.. dan menangis lagi.. saat dibacakan sholawat Badar. Jamaah bergemuruh.

Berceritalah ustad tentang bagaimana perjuangan orang-orang Ciamis, yang sudah dipesankan bis-bis ditengah perjalanan agar mereka tidak kelelahan, tetapi mereka menolak. Alasannya, biarlah ini menjadi inspirasi bagi bangsa, menjadi energi bagi siapa saja untuk semakin semangat berjuang.

Berbeda dengan teman-teman dari Madura, saat mereka sudah membayar DP bis2 yang banyak, tiba-tiba ketika akan berangkat, pemilik bis mengembalikan uang DP dan membatalkan secara sepihak karena ditekan oleh penguasa setempat dan polisi.

Apa yang dilakukan rombongan bis asal Madura ini? Mereka bilang, “Kalo sampean ndak berangkat, bisnya kami bakar..”
Akhirnya bis-bis pun tetap berangkat seperti akad semula.

Itulah gaya yang berbeda sesuai daerah saat menghadapi tekanan penguasa. Namun intinya semua punya semangat sama. Bela agama..

Kini, semua itu telah berlalu. Perlakuan adil yang diharapkan masih belum nampak tanda-tandanya.
“Lalu apa yang harus kami lakukan ya ustad..?”
Ini yang menjadi pertanyaan para jamaah. Kami sudah siap jihad. Bahkan ada yang sudah memberikan surat wasiat kepada keluarganya, sekiranya harus mati.

Apa mau buat Aksi Bela Islam jilid 4 yang sama?
“Tidak..” kata ustad Bachtiar.
Kali ini beda..
Kita akan melakukan Revolusi!!
Sudah siapkah melakukan Revolusi?
Jamaah kembali bergemuruh. SIAAAPPP..!
Siap mati?
SIAPPP!!

“Yang mengatakan siap, saya minta berdiri..”
Semua jamaah berdiri! Tidak ada yang duduk.

Bulu kuduk saya berdiri. Merinding. Airmata terus berderai..

Ini luar biasa. Jamaah yang hadir di Masjid Pondok Indah ini bukan orang bodoh, bukan orang miskin. Rata2 jamaahnya orang kaya dan punya pangkat. Tapi mereka mau merelakan diri.

Ustad, seperti acara Closing On The Stage di acara2 seminar marketing, telah melakukan selling dengan sempurna, pikir saya.
Dan kemudian, beliau meminta jamaah duduk kembali.

“Revolusi kita kali ini tidak dengan kekerasan. Revolusi kita kali ini adalah dengan akhlaq dan menggalang kekuatan Islam melalui pembangunan.
Siapa saja yang mau menyumbangkan ide, tenaga dan harta. Seperti beberapa lalu saya didatangi oleh perkumpulan notaris Islam yang siap membantu para UKM mengurus usahanya, persatuan kru media film dan televisi untuk membuat film2 Islam, tontonan2 yang membangun, dll.
Inilah revolusi. Boikot semua yang berusaha merusak akhlaq bangsa hanya karena motif uang. Kembalikan pada khitohnya, sebagai mayoritas umat beragama yang ada di Indonesia…”

Ustad terus memberikan tausiahnya, motivasinya yang membakar.. sementara saya yang duduk dibelakang, telah mulai merenungi diri, “apa yang bisa aku sumbangkan untuk perjuangan ini..?”

Sofie Beatrix
Ibu rumah tangga
Writerpreneur