Arsip Kategori: Opiniku

Dirgahayu PKS

DIRGAHAYU PKS

Tidak terasa… 18 tahun sudah.

Teringat ketika menghadiri deklarasi Partai Keadilan di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Lama…

IMG_20160215_120340-1

Aku naik bus PPD tingkat no 508 dari Kayumanis. Ketika itu aku masih kuliah semester 7.

Engkau mampu menjungkir-balikkan adagium: “politik itu kotor”. Adagium yg sengaja dihembuskan oleh kaum sekuler agar orang baik dan ulama menjauhi panggung pengelolaan negara.

Ada yg berharap, ada pula yg berusaha membusukkan partai ini.

Semoga tetap istiqomah…

#dirgahayupks, 20 hari lagi

Aku dan PKS

Saya bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sejak masih kuliah, yaitu sejak tahun 1998. Alhamdulillah sampai sekarang masih setia. Sudah 18 tahun, tidak terasa.

ais1

Saya tidak pernah terpikir dan tergoda untuk pindah ke partai lain yang baru dideklarasikan, sekalipun ada iming-imingnya.

Di partai ini, saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah seorang jundi yang siap menerima perintah tanpa reserve dari para qiyadah.

Saya hanya salah satu batu-bata dari sekian juta batu-bata yg menopang kokoh berdiri tegaknya PKS.

Bagi saya, partai hanya salah satu cara menegakkan Islam di Indonesia. Banyak cara lain, tetapi untuk bisa berkesempatan mengelola negara di Indonesia, hanya dengan mesin partai.

Banyak produk Undang-undang, Peraturan Daerah dan peraturan lainnya, adalah hasil negosiasi dengan para aktivis Islam yang masuk dalam partai dakwah ini.

Selamat milad ke 18 tahun. Semoga PKS tetap berkhidmad untuk rakyat.

Ais Zakiyudin
Sekretaris DPC Cikarang Utara PeriodeĀ  2015-2018

Editor : Zaenuri

Kebersamaan Itu, Tidak Sekedar Retorika

Suatu ketika, adak kawan yang keceplosan. Beliau mengatakan: “Ah, saya mau nyekolahin anakku di SWI nanti ajah kalo gedungnya sudah megah”.

Gedung sekolah SWI
Gedung sekolah SWI

Saya bilang : “Kalau sekolah ini gedungnya sudah megah, mungkin anak ente tidak diterima di sini. Kenapa? Jangankan nanti, sekarang saja dalam kondisi gedung sekolah yang masih sederhan murid sudah penuh. Bagaimana nanti kalau gedung sudah megah, sangat mungkin rebutan untuk masuk sekolah ini. Hanya siswa yang memenuhi kualifikasi tertentu yang bisa diterima di sekolah ini, karena keterbatasan kelas”.

Kawans…

  • Kalau merasa kita adalah orang-orang yang memiliki fikroh yang sama, kenapa rasa kebersamaan itu tidak kita semaikan sejak sesuatu itu belum sempurna?
  • Rasa kebersamaan itu justru harus ditumbuhkan sejak awal, bukan ketika sesuatu itu sudah dianggap melewati keadaan susah payah.
  • Kebersamaan itu harus dibuktikan. Bukan sekedar retorika pidato, slogan pemanis ceramah mabit atau kajian gabungan.

Semoga kita makin cerdas dalam berjamaah…

–Selamat menerima raport bagi Siswa SDIT Wirausaha Indonesia

Umat Islam harus Bersinergi

Urusan umat Islam itu bukan sekedar urusan khilafah atau politik semata.

Urusan umat sangat kompleks. Dari mulai urusan politik, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, manajemen pemerintahan dari pusat sampai daerah, bahkan sampai tingkat Rt dan Rw.

Harusnya kita semua menyadari, apapun cara yang kita gunakan dalam memperjuangkan menegakkan kalimat yang Haq, harus bersinergi satu dengan yang lain. HARUS BERSATU PADU. Bukan saling menjegal karena merasa dirinya paling benar.

Saya rasa kita sependapat, bahwa semua elemen perjuangan umat Islam yang saat ini ada, belum mencapai apa yang dinamakan ‘kesempurnaan pencapaian’.

Contoh:

  • PKS, yang berjuang lewat jalur parpol. Apakah sudah mencapai apa yang diinginkan sesuai platform perjuangannya? Belum. Kapan? Tidak tahu.
  • HTI, yang berjuang menegakkan khilafah. Apakah sudah mencapai apa yang diinginkan? Belum. Kapan? Tidak tahu.
  • Muhammadiyah, yang berjuang melalui jalur pendidikan, apakah sudah mencapai apa yang diinginkan? Belum. Kapan? Tidak tahu.
  • NU, Persis dan lain-lain yang berjuang sesuai keyakinan dan kemampuannya.

Sukses-sukses kecil pasti sudah pernah dicapai sesuai dengan target-target organisasi mereka. Tapi sukses besar sesuai dengan agenda dan platform perjuangan? Tentu belum sepenuhnya tercapai.

Contohlah lebah

Lebah ketika membangun rumah, dimulai dari berbagai sudut yang berbeda dan dilakukan oleh banyak lebah secara bergotong royong.

Tiap lebah bertanggung jawab untuk membangun rumahnya dari tiap sudut yang berbeda-beda.

Lebah sedang membangun rumahnya

Hingga pada akhirnya, masing-masing lebah bertemu di tengah dan rumahnya terbangun secara utuh tanpa cacat sedikitpun.

Rumah lebah yang berbentuk heksagonal itu terbentuk dengan sempurna. Padahal lebah tidak pernah mengukur luas bangunan rumah yang menjadi tanggung jawabnya.

Masa siih manusia tidak bisa mencontoh lebah…