Arsip Kategori: Pendidikan Anak

Seminar Parenting: “Mengenali dan Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak”

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) menggelar seminar parenting secara berkala untuk membekali para orang tua murid cara mendidik anak-anak mereka, khususnya cara mengenali dan mengatasi kesulitan belajar, Sabtu (15/10/16) Jam 08 – 10 pagi.

dscn3644

Seminar dilaksanakan di kampus SWI, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, Bekasi, diikuti oleh 150 orang tua murid. Hadir sebagai pemateri, Zahra Zakaria, S.Pd, MM (Orthopaedagog dan Konsultan Pendidikan Anak).

Dalam kata sambutannya, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia, Nur Komariah, S.Pd.I, MM, menegaskan bahwa mengenali dan mencari sebab kesulitan belajar anak sangat penting.

“Orang tua harus bisa menggali kendala yang dihadapi oleh anak-anak kita ketika dalam masa-masa usia sekolah, dengan mengerti permasalahan mereka kita akan tergerak untuk mencarikan solusi,” katanya.

“Seminar yang kita adakan sebulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda ini sebagai upaya membantu para orang tua, agar mereka memahami hal tersebut,” pungkas kepsek SWI.

Kegiatan seminar parenting diawali dengan pentas siswa SDIT Wirausaha Indonesia, antara lain penampilan Tahfidz Al-Quran, baris-berbaris, tilawah Al-Quran, sambutan oleh Kepala Sekolah, acara inti dan diakhiri deng an pembagian doorprize dan doa penutup.

Wahai Orang Tua, Berhentilah Memanjakan Anak

Suatu ketika, kami kedatangan beberapa orang tua murid yang mengaku perwakilan dari beberapa orang tua murid lainnya. Mereka protes berjamaah.

Anak kreatif
Anak kreatif

Apa pasal?

Ternyata anak-anaknya ngambek dan menangis, karena tidak mendapatkan piala lomba agustusan yang diselenggarakan oleh sekolah. Padahal semua siswa sudah mendapatkan snack dan minum yang dibungkus rapi layaknya hadiah ulang tahun.

Tapi masih tetap meminta piala seperti temannya yang juara lomba. Mereka mengusulkan: bagaimana kalau sekolah membuatkan piala untuk seluruh siswa, kami siap membayar ongkos pembuatan piala tersebut.

Akhirnya, dengan bijak saya katakan kepada orang tua:

  • Memangnya kenapa kalau anak-anak kita menangis hanya gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?
  • Bukankah sangat baik mendidik kepada anak-anak kita bahwa, tidak semua keinginannya tercapai dengan sangat mudah?
  • Segala sesuatu harus diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang tidak ringan
  • Lebih baik anak menangis sekarang, daripada menangis setelah dewasa karena mengalami kegagalan hidup yang disebabkan oleh kebiasaan orang tua memanjakan anak-anaknya dari waktu ke waktu.

Sesungguhnya, dengan memanjakannya, kita sudah merampas masa depan anak-anak kita.

Biarlah anak-anak kita bisa menikmati susah payah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali waktu biarkan anak-anak kita hanya menonton temannya jajan.

Yang terpenting adalah, ketika dewasa kelak, anak-anak kita menjadi orang sukses yang bertanggung jawab. Dia paham kewajiban sosial atas lingkungan di sekitarnya.