Category Archives: Pendidikan Anak

6 Alasan Memilih SDIT Wirausaha Indonesia

Setidaknya ada 6 alasan kenapa SDIT Wirausaha Indonesia patut dijadikan pilihan untuk bersekolah bagi putra-putri bapak dan ibu, yaitu:

Pertama, sekolah sudah Terakreditasi A. Akreditasi dengan predikat A berarti Unggul, baik dalam kualitas proses kegiatan belajar mengajar, kualitas guru dan kualitas sarana-prasarana yang dimiliki sekolah.

Kedua, guru yang profesional, ramah dan penyayang kepada seluruh siswanya. Seluruh guru disamping sudah memiliki kualifikasi keguruan, juga sudah dibekali dengan sarana peningkatan kemampuannya melalui berbagai pelatihan, workshop, seminar dan beberapa sarana lainnya untuk menunjang kompetensinya sebagai guru.

Ketiga, ruang belajar yang nyaman. Seluruh ruang belajar sudah dilengkapi AC yang memungkinkan kegiatan belajar-mengajar dilakukan dengan nyaman.

Keempat, sarana dan prasarana yang lengkap. SDIT Wirausaha Indonesia memiliki sarana seperti perpustakaan, UKS, Labaoratorium, Lapangan olah raga yang terletak di lantai 3, sarana interaksi siswa dan lain-lain.

Kelima, biaya yang sangat terjangkau. Dengan semua sarana dan kualitas sekolah yang ada, SDIT Wirausaha Indonesia merupakan satu-satunya sekolah di kawasan ini yang berbiaya amat terjangkau, sehingga memudahkan para orang tua siswa dalam memilih sekolah berkualitas dengan kemampuan keuangan yang memadai.

Keenam, lokasi sekolah yang sangat mudah dijangkau, baik dengan berjalan kaki, bersepeda maupun kendaraan roda dua. Hal ini sangat penting mengingat banyaknya orang tua yang sibuk untuk mengantar siswa, sehingga memungkinkan siswa bisa dengan leluasa berjalan kaki dan bersepeda dalam perjalanan ke sekolah tanpa ada rasa khawatir dari orang tua.



Kenapa Memilih SDIT Wirausaha Indonesia?

Bulan Oktober adalah momen paling menyibukkan bagi para orang tua yang akan mendaftakan anak-anaknya di sekolah dasar islam terpadu. Di bulan itu para orang tua sibuk memilih sekolah mana yang pas untuk pembelajaran putra dan putrinya. Berbeda dengan sekolah dasar negeri yang perhelatan penerimaan siswa barunya pada bulan Mei – Juni setiap tahunnya.

Penerimaan sekolah swasta khususnya sekolah dasar islam terpadu dimulai bulan Oktober sampai dengan bulan Januari tahun berikutnya. Itu pun terkadang bulan Nopember pendaftaran sudah ditutup dikarenakan kuota yang tersedia sudah penuh.

Nah, bagi orang tua yang sedang memilih-milih sekolah, ada baiknya mempertimbangkan untuk mendaftarkan anak-anaknya di SDIT Wirausaha Indonesia. Kenapa? Ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa sekolah yang beralamat di Jalan Nakula Raya No.1-4 Perum. Grand Cikarang City Blok C9 yang biasa disebut dengan SWI ini menjadi tujuan atau destinasi pemilihan sekolah bagi putra-putrinya.

Alasan pertama, sekolah sudah TERAKREDITASI A. Akreditasi sekolah adalah penilaian yang dilakukan oleh pemerintah yang menunjukkan mengenai kualitas sekolah, baik dari sisi standar pengelolaan sekolah, kualitas guru, sistem pembelajaran, kompetensi lulusan, sarana dan prasarana sekolah.

Alasan kedua, biaya yang sangat terjangkau. Jika dibandingkan dengan SDIT lainnya dalam satu kawasan perumahan, sekolah ini relatif lebih murah dari sisi pembiayaannya. Misalnya untuk biaya uang pangkal, sekolah ini menerapkan batas pelunasan yang menjadi dasar besaran uang pangkal. Contoh: jika orang tua sanggup melunasi uang pangkal di bulan Oktober, maka cukup membayar 7.5 juta saja dan seterusnya. Jadi orang tua tinggal memilih mau besaran uang pangkal berapa dan bulan apa kesanggupan untuk melunasinya.

Alasan ketiga, lokasi sekolah yang sangat mudah dijangkau. Sekolah ini berada di Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, artinya lokasi ini bisa dengan mudah dijangkau oleh para siswa yang tinggal di perumahan Grand Cikarang City sendiri dan perumahan sekitar seperti perumahan Central Park, perumahan Puri Mutiara Indah, perumahan Bumi Citra Lestari dan wilayah kampung Kali Ulu dan Kampung Walahir dan sekitarnya.

Alasan keempat, ruang belajar yang nyaman dan dilengkapi pendingin udara (AC). Untuk memberikan rasa nyaman siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, sekolah memberikan fasilitas yang dapat menunjang kenyamanan yang pada akhirnya diharapkan siswa dengan mudah menyerap semua ilmu yang diberikan oleh guru.

Alasan kelima, kepala sekolah, guru-guru dan karyawan yang profesional dan ramah. Para guru tidak saja menguasai sistem pembelajaran yang baik, tapi juga sangat ramah dan sayang kepada seluruh siswa.

Demikian sekelumit mengenai alasan kenapa harus memilih bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia. Sekolah ini mungkin bukan yang terbaik, tetapi berusaha memberikan yang terbaik bagi siswa dan orang tua murid.

Alasan Mendirikan Sekolah Wirausaha untuk Usia Dini

Apa sih sebenarnya yang melatarbelakangi saya mendirikan sekolah wirausaha yang diperuntukkan bagi anak-anak?

Sejak tahun 2009 saya mengajar matkul Entrepreneurship di sebuah perguruan tinggi swasta. Setiap semester saya berupaya melahirkan wirausaha baru yang bahan bakunya adalah mahasiswa.

Caranya adalah, utk mendapatkan nilai ujian akhir semester (UAS), mahasiswa harus membuat usaha kelompok. Mahasiswa dalam hal ini ‘dipaksa’ untuk memiliki usaha. Jika tidak membuat usaha, otomatis tidak mendapatkan nilai UAS. Ngeri-ngeri sedap dong.

Dari usaha ini ada mahasiswa yang serius menggarap usahanya setelah tugas selesai bahkan setelah lulus. Ini prosentasenya sangat sedikit, cuma sekitar 1-2% dari total mahasiswa di kelas saya. Sedangkan yang 98-99% tidak meneruskan usahanya setelah tugas selesai, apalagi setelah lulus. Mahasiswa jenis terakhir ini membuat usaha hanya sekedar gugur kewajiban untuk mendapatkan nilai dan tidak berminat menekuni dunia bisnis.

Dari sana saya mengambil kesimpulan: membangun jiwa wirausaha tidak bisa instan, harus dimulai sejak dini, seperti menanamkan benih-benih keimanan dalam hatinya.

Nah terkait dengan pendidikan kewirausahaan untuk anak-anak, tidak sedikit calon orang tua murid yang menanyakan, di sekolah wirausaha ini apakah anak-anak akan diajari berdagang?

Saya sering menjelaskan bahwa ada perbedaan mengajarkan kewirausahaan untuk orang dewasa dan mengajarkan kewirausahaan untuk anak-anak.

Untuk orang dewasa, kewirausahaan diajarkan bagaimana cara berdagang yang secara cepat dapat menghasilkan keuntungan.

Sedangkan untuk anak, titik beratnya adalah bagaimana agar anak bisa mandiri, kreatif dan inovatif. Mengajarkan wirausaha utk anak tidak selalu identik dg berdagang.

Bagi dunia anak, berdagang itu urusan nomor 35 karena mudah dipelajari ilmunya. Yang terpenting adalah bagaimana agar anak-anak terbiasa kreatif, yang dengan kreatifitasnya itu mampu menghasilkan suatu benda yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Kreatif dan inovatif merupakan nyawa dalam membangun usaha kedepannya. Kreatif dan inovatif lan yang mempu merubah suatu barang yang tadinya tidak atau kurang bermanfaat menjadi sangat bermanfaat dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Suatu benda ketika belum tersentuh tangan kreatif mungkin nilainya hanya sekitar 50 ribu, akan tetapi ketika sudah tersentuh tangan-tangan kreatif akan bernilai jutaan.

Ketika kita kreatif, ditambah ilmu berdagang, maka keuntungan akan datang dengan sendirinya dan belipat ganda.

#tkit_bunaya_kreatifa
#sdit_wirausaha_indonesia
#mandiri_kreatif_inovatif

Kurikulum Kewirausahaan untuk Anak

Tantangan terbesar dalam membangun sekolah wirausaha yang diperuntukkan untuk anak  usia dini adalah membangun kurikulum yang kompatibel dengan dunia anak.

Tidak mudah, karena belum ada atau belum banyak referensi yang tersedia. Jadi mau tidak mau harus membangun kurikulum kewirausahaan sendiri yang dimulai dari nol besar.

Dimulai dengan diskusi dengan para ahli anak, ahli pendidikan dan sercing-sercing internet, akhirnya terbitlah buku Kewirausahaan 1-6, yang diajarkan kepada siswa kelas 1 sampai kelas 6.

Apakah sudah cukup? Belum.

Tentunya buku ini masih banyak kekurangan yg harus diperbaiki di sana sini. Perbaikan ini membutuhkan waktu karena kami akan menerima masukan dari berbagai pihak, baik orang tua siswa, masyarakat umum maupun dari pihak dinas terkait.

Beberapa sekolah islam sudah meminta izin untuk menggunakan buku ini, tetapi mohon maaf buku ini belum bisa digunakan oleh sekolah lain. Hal ini terkai dengan beberapa hal, yaitu perbaikan atas konten buku itu sendiri dan sistem penerbitan buku.

Kedepan saya berharap semoga buku ini bisa dipergunakan oleh siswa-siswa selain siswa SDIT Wirausaha Indonesia agar jiwa kewirausahaan bisa ditanamkan untuk generasi penerus bangsa. Agar prosentase pengusaha di negeri ini mencapai dua digit. Amiin.

Seminar Parenting: “Mengenali dan Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak”

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) menggelar seminar parenting secara berkala untuk membekali para orang tua murid cara mendidik anak-anak mereka, khususnya cara mengenali dan mengatasi kesulitan belajar, Sabtu (15/10/16) Jam 08 – 10 pagi.

dscn3644

Seminar dilaksanakan di kampus SWI, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, Bekasi, diikuti oleh 150 orang tua murid. Hadir sebagai pemateri, Zahra Zakaria, S.Pd, MM (Orthopaedagog dan Konsultan Pendidikan Anak).

Dalam kata sambutannya, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia, Nur Komariah, S.Pd.I, MM, menegaskan bahwa mengenali dan mencari sebab kesulitan belajar anak sangat penting.

“Orang tua harus bisa menggali kendala yang dihadapi oleh anak-anak kita ketika dalam masa-masa usia sekolah, dengan mengerti permasalahan mereka kita akan tergerak untuk mencarikan solusi,” katanya.

“Seminar yang kita adakan sebulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda ini sebagai upaya membantu para orang tua, agar mereka memahami hal tersebut,” pungkas kepsek SWI.

Kegiatan seminar parenting diawali dengan pentas siswa SDIT Wirausaha Indonesia, antara lain penampilan Tahfidz Al-Quran, baris-berbaris, tilawah Al-Quran, sambutan oleh Kepala Sekolah, acara inti dan diakhiri deng an pembagian doorprize dan doa penutup.

Wahai Orang Tua, Berhentilah Memanjakan Anak

Suatu ketika, kami kedatangan beberapa orang tua murid yang mengaku perwakilan dari beberapa orang tua murid lainnya. Mereka protes berjamaah.

Anak kreatif
Anak kreatif

Apa pasal?

Ternyata anak-anaknya ngambek dan menangis, karena tidak mendapatkan piala lomba agustusan yang diselenggarakan oleh sekolah. Padahal semua siswa sudah mendapatkan snack dan minum yang dibungkus rapi layaknya hadiah ulang tahun.

Tapi masih tetap meminta piala seperti temannya yang juara lomba. Mereka mengusulkan: bagaimana kalau sekolah membuatkan piala untuk seluruh siswa, kami siap membayar ongkos pembuatan piala tersebut.

Akhirnya, dengan bijak saya katakan kepada orang tua:

  • Memangnya kenapa kalau anak-anak kita menangis hanya gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?
  • Bukankah sangat baik mendidik kepada anak-anak kita bahwa, tidak semua keinginannya tercapai dengan sangat mudah?
  • Segala sesuatu harus diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang tidak ringan
  • Lebih baik anak menangis sekarang, daripada menangis setelah dewasa karena mengalami kegagalan hidup yang disebabkan oleh kebiasaan orang tua memanjakan anak-anaknya dari waktu ke waktu.

Sesungguhnya, dengan memanjakannya, kita sudah merampas masa depan anak-anak kita.

Biarlah anak-anak kita bisa menikmati susah payah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali waktu biarkan anak-anak kita hanya menonton temannya jajan.

Yang terpenting adalah, ketika dewasa kelak, anak-anak kita menjadi orang sukses yang bertanggung jawab. Dia paham kewajiban sosial atas lingkungan di sekitarnya.