Arsip Kategori: Pendidikan Anak

Alasan Mendirikan Sekolah Wirausaha untuk Usia Dini

Apa sih sebenarnya yang melatarbelakangi saya mendirikan sekolah wirausaha yang diperuntukkan bagi anak-anak?

Sejak tahun 2009 saya mengajar matkul Entrepreneurship di sebuah perguruan tinggi swasta. Setiap semester saya berupaya melahirkan wirausaha baru yang bahan bakunya adalah mahasiswa.

Caranya adalah, utk mendapatkan nilai ujian akhir semester (UAS), mahasiswa harus membuat usaha kelompok. Mahasiswa dalam hal ini ‘dipaksa’ untuk memiliki usaha. Jika tidak membuat usaha, otomatis tidak mendapatkan nilai UAS. Ngeri-ngeri sedap dong.

Dari usaha ini ada mahasiswa yang serius menggarap usahanya setelah tugas selesai bahkan setelah lulus. Ini prosentasenya sangat sedikit, cuma sekitar 1-2% dari total mahasiswa di kelas saya. Sedangkan yang 98-99% tidak meneruskan usahanya setelah tugas selesai, apalagi setelah lulus. Mahasiswa jenis terakhir ini membuat usaha hanya sekedar gugur kewajiban untuk mendapatkan nilai dan tidak berminat menekuni dunia bisnis.

Dari sana saya mengambil kesimpulan: membangun jiwa wirausaha tidak bisa instan, harus dimulai sejak dini, seperti menanamkan benih-benih keimanan dalam hatinya.

Nah terkait dengan pendidikan kewirausahaan untuk anak-anak, tidak sedikit calon orang tua murid yang menanyakan, di sekolah wirausaha ini apakah anak-anak akan diajari berdagang?

Saya sering menjelaskan bahwa ada perbedaan mengajarkan kewirausahaan untuk orang dewasa dan mengajarkan kewirausahaan untuk anak-anak.

Untuk orang dewasa, kewirausahaan diajarkan bagaimana cara berdagang yang secara cepat dapat menghasilkan keuntungan.

Sedangkan untuk anak, titik beratnya adalah bagaimana agar anak bisa mandiri, kreatif dan inovatif. Mengajarkan wirausaha utk anak tidak selalu identik dg berdagang.

Bagi dunia anak, berdagang itu urusan nomor 35 karena mudah dipelajari ilmunya. Yang terpenting adalah bagaimana agar anak-anak terbiasa kreatif, yang dengan kreatifitasnya itu mampu menghasilkan suatu benda yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Kreatif dan inovatif merupakan nyawa dalam membangun usaha kedepannya. Kreatif dan inovatif lan yang mempu merubah suatu barang yang tadinya tidak atau kurang bermanfaat menjadi sangat bermanfaat dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Suatu benda ketika belum tersentuh tangan kreatif mungkin nilainya hanya sekitar 50 ribu, akan tetapi ketika sudah tersentuh tangan-tangan kreatif akan bernilai jutaan.

Ketika kita kreatif, ditambah ilmu berdagang, maka keuntungan akan datang dengan sendirinya dan belipat ganda.

#tkit_bunaya_kreatifa
#sdit_wirausaha_indonesia
#mandiri_kreatif_inovatif

Kurikulum Kewirausahaan untuk Anak

Tantangan terbesar dalam membangun sekolah wirausaha yang diperuntukkan untuk anak  usia dini adalah membangun kurikulum yang kompatibel dengan dunia anak.

Tidak mudah, karena belum ada atau belum banyak referensi yang tersedia. Jadi mau tidak mau harus membangun kurikulum kewirausahaan sendiri yang dimulai dari nol besar.

Dimulai dengan diskusi dengan para ahli anak, ahli pendidikan dan sercing-sercing internet, akhirnya terbitlah buku Kewirausahaan 1-6, yang diajarkan kepada siswa kelas 1 sampai kelas 6.

Apakah sudah cukup? Belum.

Tentunya buku ini masih banyak kekurangan yg harus diperbaiki di sana sini. Perbaikan ini membutuhkan waktu karena kami akan menerima masukan dari berbagai pihak, baik orang tua siswa, masyarakat umum maupun dari pihak dinas terkait.

Beberapa sekolah islam sudah meminta izin untuk menggunakan buku ini, tetapi mohon maaf buku ini belum bisa digunakan oleh sekolah lain. Hal ini terkai dengan beberapa hal, yaitu perbaikan atas konten buku itu sendiri dan sistem penerbitan buku.

Kedepan saya berharap semoga buku ini bisa dipergunakan oleh siswa-siswa selain siswa SDIT Wirausaha Indonesia agar jiwa kewirausahaan bisa ditanamkan untuk generasi penerus bangsa. Agar prosentase pengusaha di negeri ini mencapai dua digit. Amiin.

Seminar Parenting: “Mengenali dan Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak”

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) menggelar seminar parenting secara berkala untuk membekali para orang tua murid cara mendidik anak-anak mereka, khususnya cara mengenali dan mengatasi kesulitan belajar, Sabtu (15/10/16) Jam 08 – 10 pagi.

dscn3644

Seminar dilaksanakan di kampus SWI, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, Bekasi, diikuti oleh 150 orang tua murid. Hadir sebagai pemateri, Zahra Zakaria, S.Pd, MM (Orthopaedagog dan Konsultan Pendidikan Anak).

Dalam kata sambutannya, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia, Nur Komariah, S.Pd.I, MM, menegaskan bahwa mengenali dan mencari sebab kesulitan belajar anak sangat penting.

“Orang tua harus bisa menggali kendala yang dihadapi oleh anak-anak kita ketika dalam masa-masa usia sekolah, dengan mengerti permasalahan mereka kita akan tergerak untuk mencarikan solusi,” katanya.

“Seminar yang kita adakan sebulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda ini sebagai upaya membantu para orang tua, agar mereka memahami hal tersebut,” pungkas kepsek SWI.

Kegiatan seminar parenting diawali dengan pentas siswa SDIT Wirausaha Indonesia, antara lain penampilan Tahfidz Al-Quran, baris-berbaris, tilawah Al-Quran, sambutan oleh Kepala Sekolah, acara inti dan diakhiri deng an pembagian doorprize dan doa penutup.

Wahai Orang Tua, Berhentilah Memanjakan Anak

Suatu ketika, kami kedatangan beberapa orang tua murid yang mengaku perwakilan dari beberapa orang tua murid lainnya. Mereka protes berjamaah.

Anak kreatif
Anak kreatif

Apa pasal?

Ternyata anak-anaknya ngambek dan menangis, karena tidak mendapatkan piala lomba agustusan yang diselenggarakan oleh sekolah. Padahal semua siswa sudah mendapatkan snack dan minum yang dibungkus rapi layaknya hadiah ulang tahun.

Tapi masih tetap meminta piala seperti temannya yang juara lomba. Mereka mengusulkan: bagaimana kalau sekolah membuatkan piala untuk seluruh siswa, kami siap membayar ongkos pembuatan piala tersebut.

Akhirnya, dengan bijak saya katakan kepada orang tua:

  • Memangnya kenapa kalau anak-anak kita menangis hanya gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?
  • Bukankah sangat baik mendidik kepada anak-anak kita bahwa, tidak semua keinginannya tercapai dengan sangat mudah?
  • Segala sesuatu harus diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang tidak ringan
  • Lebih baik anak menangis sekarang, daripada menangis setelah dewasa karena mengalami kegagalan hidup yang disebabkan oleh kebiasaan orang tua memanjakan anak-anaknya dari waktu ke waktu.

Sesungguhnya, dengan memanjakannya, kita sudah merampas masa depan anak-anak kita.

Biarlah anak-anak kita bisa menikmati susah payah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali waktu biarkan anak-anak kita hanya menonton temannya jajan.

Yang terpenting adalah, ketika dewasa kelak, anak-anak kita menjadi orang sukses yang bertanggung jawab. Dia paham kewajiban sosial atas lingkungan di sekitarnya.