Arsip Kategori: Sejarah

Secercah Harapan di Penghujung Kegelapan

Pengepungan dan Penaklukan Algeciras – 28 Juli 1369

Pengepungan ini adalah upaya pada masa Emir Muhammad V dari Granada untuk merebut kota Al-Hadra Al-Yazirat dari tangan Kerajaan Castile. Kota ini dikenal oleh pasukan nasrani Reconquista sebagai Algeciras.

An3PdNiLX-agIDSmwsD_oSSHzDZp7FuzBnJ67O96uoo2

Pengepungan ini hanya berlangsung selama 3 hari dimana Emir Muhammad V memperoleh kemenangan dalam merebut kembali Algecira yg dulu merupakan kota kaum muslimin. Kota penting ini dikuasai oleh Raja Alfonso XI dari Castile sejak direbutnya dari pihak Maroko setelah dikepung selama dua tahun lamanya, 1342-1344.

Betapa pentingnya selat Jabal Tariq ini bagi kedua belah pihak yg sedang memperebutkan Semenanjung Iberia. Selat ini menjadi semakin penting mengingat kaum muslimin mendapatkan bantuan dari entitas kekuatan yg berasal dari al-Maghrib di Afrika Utara.

Kota ini merupakan yg pertama kali dibangun oleh Tariq ibn Ziyad, sang penakluk Visigothic Hispania/Iberia, di semenanjung ini. Sepanjang abad ke-13 hingga ke-14 kota ini dikendalikan oleh pemimpin Granada maupun Maroko (al-Maghrib). Pengepungan serta penaklukan kota Algeciras oleh Alfonso XI menjadikan Kerajaan castile pemegang kendali atas Selat Jabal Tariq (Gibraltar).

Pada hari Sabtu 22 Dzul Hijjah 770 Hijriah (28 Juli 1369) Emir Muhammad V datang mrmbawa pasukan dalam jumlah yg banyak mengepung Algeciras dengan membangun banyak menara-kepung serta menutup rapat semua celah masuk ke kota. Algeciras pada waktu itu terdiri dari dua bagian kota yg dipisahkan oleh Sungai Río de la Miel. Setiap bagian kota memiliki dinding pertahanan kota serta menara pertahanannya sendiri. Efek dari pengepungan periode sebelumnya adalah banyak bagian dari pertahanan yg masih hancur atau sangat rapuh. Kedatangan pasukan Granada ini cukup mendadak sehingga kaum nasrani terburu-buru dalam memperbaikinya.

Berkali-kali pendadakan memenangkan pertempuan, tidak boleh bosan untuk dicatat.

Upaya perbaikan yg dipercepat ini memang tidak sekuat dibandingkan banguan aslinya ketika dibangun oleh Tariq. Oleh karena itu, misalnya, gerbang utama (Puerta del Fonsario) yg pernah paling parah menderita kerusakan ketika dikepung Alfonso XI kini dibangun dengan adukan pengeras kelas rendah. Jeleknya kualitas pertahanan serta sedikitnya pasukan penjaga di Algeciras membuat serangan kaum muslimin dari arah utara menyebabkan kerusakan yg hebat.

Kemampuan seorang pemimpin militer adalah mengetahui persis kekuatan pasukannya, lalu mengarahkan kekuatan tersebut untuk menghantam titik terlemah dari lawan dengan segenap daya serta dalam waktu yg sekejut-kejutnya.

Serangan kaum muslimin tersebut dirahkan secara khusus pada al-Binya (Villa Nueva), yaitu kota bagian selatan. Pasukan yg digelar oleh Muhammad V membangun banyak alat penghancur pertahanan kota, telah juga menyiapkan tangga serbu berukuran tinggi, serta memiliki keberanian yg terlatih untuk menyerbu kota. Kota bagian selatan ini jatuh pada tanggal 30 Juli dan seluruh prajurit dan penduduk yg mengangkat senjata menjadi korban. Efek hukuman tegas serta kekalahan telak ini mendorong pasukan yg berada di kota bagian utara untuk buru-buru menyerahkan senjatanya. Dari sekian banyak mesin perang yg disiapkan oleh Emir Muhammad V hanya sebagian saja yg dipakai; lainnya lebih berfungsi sebagai alat penggentar.

Perang tidak selalu simetris, efek psikologis tidak boleh diabaikan ketika tujuan hendak dicapai dalam waktu yg terbatas; maka metode penggentaran dapat dipakai sebagai upaya membuat palagan menjadi asimetrik.

Pada tanggal 31 Juli, Emir Muhammad V dan pasukannya parade masuk ke Villa Vieja pusat kota serta memberikan kebebasan bagi pasukan dan penduduknya utk keluar dari kota dengan membawa harta benda mereka. Katedral Algeciras yg dahulunya merupakan masjid kini dikembalikan fungsinya sebagai tempat sujud kepada Allah Ta’ala. Sang emir kemudian menempati benteng kuno Algeciras yg bernama Cerro de Matagorda. Dampak kemenangan ini pada moral penduduk Granada sungguh besar, ini terlihat dengan banyaknya penulisan sejarah atas peristiwa tersebut di pusat-pusat studi di Granada.

Kemenangan mendorong banyak pencatatan, sedangkan kekalahan mendorong sedikit saja. Pola seperti itu tidak selalu bijak, tapi itulah kenyataannya.

Setelah kota Algeciras diperbaiki dan garnizun pasukan ditempatkan, selama 10 tahun kota tersebut dikendalikan Granada secara strategik namun tidak pernah sampai ke titik kejayaan sebelumnya. Ketika Emirat Granada turun pamor militer dan kekuatan ekonominya, maka seiring itu pula peran Algeciras sebagai pangkal jembatan ke Afrika Utara perlahan berkurang hingga terhapus dari catatan sejarah.

Kemenangan sesaat tanpa perencanaan yg berkelanjutan dapat menggerus keunggulan strategik menjadi sebatas kemenangan taktis.

Di teluk Algeciras sebenarnya terdapat dua kota pelabuhan, yg satunya lagi adalah Jabal Tariq (Gibraltar). Secara alami, Gibraltar lebih mudah dibentengi daripada Algeciras yg membutuhkan pasukan penjaga utk pertahaannya seoanjang hampir 5 km. Sehingga tidak ada pilihan lagi setelah 10 tahun bahwa Algeciras harus ditinggalkan. Pada tahun 1379, kota berikut perbentengannya diluluhlantakkan agar tidak pernah lagi dapat dibangun maupun diduduki oleh Kerajaan Castile.

Agung Waspodo, mengagumi semangat juang dan ketidak-putusasaan Emir Muhammad V dari Granada di tengah kemunduran peradaban Andalusia yg sepertinya tidak terelakkan..

Depok, 28 Juli 2015, menjelang sore 646 tahun kemudian..

(Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP)

Amerika Itu Negeri Muslim yang Hilang (2)

Colombus, Sang Pewaris Templar

Christopher Colombus sebenarnya bukan penemu daratan besar ini, pun bukan pula Laksamana Cheng Ho yang 70 tahun tiba lebih dulu di Amerika ketimbang Colombus.

Lima abad sebelum Colombus tiba, para pelaut Islam dari Granada dan Afrika Barat, sudah menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali suku-suku asli yang tersebar di beberapa bagiannya.

Suku Indian
Suku Indian

Imigran Muslim pertama di daratan ini tiba sekira tahun 900 hingga setengah abad kemudian pada masa Dinasti Umayyah. Salah satunya bernama Khasykhasy Ibn Sain Ibnu Aswad dari Cordoba. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pertama kalipada suku-suku asli Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam saat itu. Suku-suku itu antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.

Suku Cherokee
Suku Cherokee

Stelah jatuhnya Granada pada 1492, disusul inquisition yang dilakukan terhadap kaum Muslimin dan Yahudi di Spanyol, maka imigran gelombang kedua tiba di Amerika pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Raja Spanyol, Carlos V, di tahun 1539 sempat mengeluarkan larangan bagi Muslim Spanyol untuk hijrah ke Amerika.

Bahkan, menurut prasasti berbahasa Arab  yang ditemukan di Mississipi Valey dan Arizona, dikatakan jika orang-orang Islam datang ke daratan ini juga membawa gajah dari Afrika.

Colombus sendiri baru datang ke “Amerika” di akhir abad ke-15 Masehi ketika benua itu sudah didiami Muslimin Indian. Dalam ekspedisi pertamanya, Colombus dibantu dua nahkoda Muslim bersaudara: Martin Alonzo Pizon yang memimpin kapal Pinta dan Vicente Yenez Pizon yang ada di kapal Nina. Keduanya kerabat sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abuzayan Muhammad II (1362-1366).

Bahkan, Colombus sendiri, di dalam catatan perjalanannya, menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika berlayar di dekat Gibara di tenggara pantai Kuba, dia mengaku melihat sebuah masjid dengan menaranya yang tinggi yang berdiri di atas puncak bukit yang indah.

Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan jika berabad sebelum Colombus tiba di Amerika, sekolah-sekolah Islam sudah tersebar di banyak wilayah, antara lain di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Mesa Verde di Colorado, Hickison, Summit Pass di Nevada, Mimbres Valley di Mexico, dan Tipper Canoe-Indiana.

Hal ini dikuatkan dengan temuan nama-nama Islam di berbagai kota besar di Amerika Serikat. Di tengah kota Los Angeles terdapat daerah bernama Alhambra, juga nama Teluk El-Morro dan Alamitos. Juga nama-nama seperti Andalusia, Aladdin, Alla, Albani, Alameda, Almansor, Almar, Amber, Azure dan La Habra.

Di tengah Amerika, dari selatan hingga Illionis, terdapat nama-nama kota kecil seperti Albany, Atalia, Andalusia, Tullahoma dan Lebanon. Di negara bagian Washington juga ada nama daerah Salem. Di Karibia, kata yang juga berasal dari kata Arab., terdapat nama Jamaika dan Kuba, yang berasal dari bahasa Arab “Quba”. Ibukota Kuba, Havana juga berasal dari bahasa Arab “La Habana”.

Seorang sejarawan bernama Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada 484 dan di Kanada ada 81.

Dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, nama keduanya juga telah ditorehkan para pionir Muslim di tanah Amerika jauh sebelum Colombus lahir. Nama Mecca ada di Indiana, lalu Medina ada di Idaho, Tenesse, Texas, Ontario-Canada. Bahkan, di Illionis, ada kota kecil bernama Mahomet yang berasal dari nama Muhammad.

Sequoyah
Sequoyah

 

Suku-suku asli Amerika pun, kaum Muslim Indian, banyak yang nama sukunya berasal dari nama Arab, seperti: Apache, Anasazi, Arawak, Cherokee, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mohican, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Bahkan, kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Se-quo-yah, yang menciptakan silabel huruf Indian yang disebut Cherokee Syllabari pada 1821 adalah seorang Muslim yang senantiasa mengenakan sorban, bukan ikat kepala dari bulu burung. (Riski Ridyasmara)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/amerika-itu-negeri-muslim-yang-hilang-1.htm

Amerika Itu Negeri Muslim yang Hilang (1)

Suatu malam ditingkahi rinai gerimis yang membasahi aspal jalan, saya melangkah masuk ke sebuah resto besar yang cukup terkenal di daerah elit kemang, Jakarta Selatan. Ba’da Isya itu saya ada janji bertemu dengan dua sahabat yang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu muka, kecuali lewat media sosial saja.

Yang pertama seorang Chef selebritis yang lengannya dipenuhi tatto namun telah menyandang gelar haji dan sekarang tengah menekuni Islam dengan baik, bahkan sudah mengembalikan beberapa sahabatnya ke jalan Islam.

Yang kedua seorang lelaki muda yang punya karir cemerlang sebagai direktur utama sebuah perusahaan nasional-pribumi dengan jumlah karyawannya mencapai 16.000 orang. Keislamannya pun cukup baik. Keduanya cucu dari tokoh-tokoh nasional Indonesia di masa keemasan di zaman Bung Karno.

Sambil menyantap makanan, kami ngonrol ngalor-ngidul sambil ditingkahi gurauan. Tiba-tiba Chef yang aktif dalam komunitas motor besar itu bertanya kepada saya.

“Riz, elo kapan naik haji?”

Deg! Saya terdiam. Saya hanya nyengir dan malah bertanya kepada sahabat dirut yang satu lagi.

“Nah, kalo Mas sudah pernah ke Mekkah belum?”

Sang Dirut muda yang wajahnya sekilas mirip penyanyi Dian Pramana Putera itu tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya.

“Belum”

Chef bertubuh tinggi besar laiknya anak-anak motor besar itu berkata bijak, “Kalo ada kesempatan, pergilah ke Mekkah. Di sana dunia itu satu: Islam!”

Sambil bercanda saya berkata, “Saya ingin keliling Eropa dan Amerika dulu sebelum ke Mekkah, Chef…”

Kota New York
Kota New York

Dia malah tertawa, “Saya sudah keliling Amerika dan Eropa berkali-kali. Dan apa yang ada di sana? Di jalanan ramai New York misalnya, itu dipenuhi orang-orang berbagai warna. Bule nyaris tidak kelihatan. Orang Islam yang banyak di sana sekarang ini. Demikian juga kota-kota besar di Eropa. Islam itu dunia, Riz…”

Saya takjub mendengarnya. Chef itu meneruskan ceritanya tentang perjalanannya menyinggahi berbagai pelosok dunia. Juga peristiwa-peristiwa aneh di dalam kehidupannya. Wajar saja, karena sahabat saya yang satu ini dianugerahi Allah SWT kebisaan yang jarang sekali dimiliki manusia biasa. Dia mampu melihat “dunia lain”, bahkan mampu melakukan proyeksi astral.

Tak terasa jarum jam nyaris menyentuh puncak malam. Karena besok bukan hari libur, silaturahim ini saya sudahi. Kami pun berpisah dengan janji akan mengadakan pertemuan serupa tapi nanti di daerah Kuningan dimana Sang Dirut muda ini berkantor.

Dalam perjalanan pulang menembus gelapnya malam, saya terus memikirkan tentang Amerika, yang menurut pengamatan sahabat Chef saya tadi akan kembali menjadi negeri kaum Muslimin.

Ya, sebelum bernama Amerika (catatan: benua ini dinamakan “Amerika” oleh Columbus dengan mengambil nama temannya yang bernama Amerigo Vespucci), benua besar itu memang milik kaum Muslimin. Christoper Colombus pun mengakui hal itu dari catatan hariannya.

COLOMBUS, SANG PEWARIS TEMPLAR…

Memiliki Impian yang ‘Gila’ 2

Ketika mendirikan sekolah ini, kami dalam kondisi ekonomi yang sangat minus. Jadi kalau ada orang mengatakan: “Saya memulai dari nol”, itu masih sangat mendingan.

Saya memulai bangkit dari keterpurukan bukan dari “nol” lagi tapi dari “minus” besar. Tahun 2008 saya menjual rumah di Perumahan Wahana Harapan sebesar 85 juta. Rumah tersebut saya jual buru-buru karena khawatir keburu dilelang bank karena sudah tidak sanggup membayar cicilan bank BRI. Sehingga harganya pun jauh dari harga normal. Ketika itu harga pasaran rumah saya sekitar 120 jutaan.

Pada tahun 2009 rumah saya yang sudah saya tempati sejak tahun 2000, atau hampir 10 tahun. Rumah itu menyimpan saksi dimulainya sejarah kehidupan keluarga kecil saya. Di rumah itu pula kami mulai memiliki anak, yaitu Hafshah, Rahman dan Faiq. Rumah dan lingkungannya sudah seperti kampung halaman, 10 tahun gitu lho.

Rumah itu juga saya jual dengan terburu-buru karena sudah tidak punya lagi sumber pendapatan untuk membayar angsuran Bank BPR. Pada tahun yang sama, saya juga sudah menjual motor saya, sehingga tersisa motor Honda Legenda 2 yang menemani dan membantu kami dalam melakukan aktifitasnya, dari mulai mengantar Hafshah sekolah di SDIT Attaqwa, mengantar Rahman sekolah di SD Negeri Setiaasih, mengantar istriku tercinta bekerja di SDIT Mentari Indonesia dan menemaniku ‘jalan-jalan’ mencari pekerjaan yang tidak pernah kunjung datang panggilannya atas puluhan surat lamaran yang sudah saya layangkan.

Tiap hari saya mengantar dan menjemput istri tercinta ke tempat kerjanya yaitu sebagai guru di SDIT Mentari Indonesia. Ketika itu saya suka berkhayal untuk memiliki SDIT.

Gila nggak sih, dalam kondisi ekonomi yang carut marut, saya berani mengimpikan untuk memiliki sesuatu yang bagi orang kaya pun belum tentu berani sekdar berangan-angan. Jangankan orang miskin, orang kaya saja sangat jarang yang memiliki keinginan untuk memiliki sekolah. Jangankan mengurus perizinan, mengelola sekolah apalagi modal yang harus digelontorkan pun gila-gilaan harus besar.

Lha saya, miskin, jobless, anak tiga, hutang banyak dan dalam kondisi keputus asaan yang cukup dalam, tapi masih sempat-sempatnya mengimpikan untuk memiliki sekolah…

Lanjut ya…

Memiliki Impian yang ‘Gila’ 1

Maksud ‘gila’ disini adalah, sesuatu yang sebagian besar orang tidak berani untuk melakukannya. Entah karena merasa saat ini tidak berdaya atau sesuatu yang dianggap mustahil lainnya. Jadi, ‘gila’ di sini maksudnya bukan edan atau tidak waras otaknya.

Gedung Sekarang, 2015

Bagaimana tidak gila. Ketika saya mendirikan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia (YSWI) pada bulan September 2011, untuk membayar biaya Akta Notaris saja saya tidak mampu. Kok bisa-bisanya mendirikan sekolah.

Tahun 2011 saya dalam kondisi hidup yang kembang kempis, bahkan seringkali kami merasakan lapar karena tidak ada makanan tersedia di rumah. Makanan tersedia setelah istri pulang kerja dan ngutang ke warung.

Bahkan saking tidak adanya makanan di rumah, anak saya yang paling kecil waktu itu, Faiq, kalo ada temannya jajan, dia hanya bisa membasahi tenggorokannya dengan air lurnya. Jangankan uang untuk jajan, uang untuk beli beras saja tidak ada. Untuk mendapatkan beras, kami harus berani ‘menahan malu’ untuk berhutang di warung dekat rumah.

Ketika itu, saya juga masih memiliki hutang yang menggunung akibat kesahalan usaha masa lalu.

Itulah gambaran dimana saya berani mendirikan sekolah, dalam kondisi keprihatinan yang luar biasa.

Lanjut ya…