Arsip Kategori: Tazkiyatun Nafs

Sumber Air Mata Keinsyafan

Mari kita mengambil air dari sumber mata air keinsafan agar hidup semakin tergugah.
Ketika airmata menderas membasahi wajah dan hati kita, ini pertanda hadirnya saraf insaf.

Pertobatan dan kesadaran yang puncak. Maka, di saat inilah segala sesuatu yang selama ini telah menggembok jiwa menjadi terbuka, menghasilkan ‘kekuatan’ yang siap untuk melejitkan potensi yang diri.

Sebijak mata air keinsafan, mari kita belajar dari pengalaman. Lantaran pengalaman mengajarkan. Menyajikan sesuatu yang terbaik untuk kita. Meski kita menjadi bodoh jika selalu menyimpan anggapan bahwa untuk mengambil pelajaran dari suatu pengalaman kita harus mengalaminya.

Bukankah Allah telah menjelaskan kisah masa lalu untuk kita jadikan pengajaran. Dan ketika Allah mengabarkan apa yang akan terjadi esok, bukankah itu rambu-rambu sekaligus cita yang diharapkan manusia?

Seperti kisah Umar bin Khaththab masuk Islam. Berwatak keras dan bertubuh tegap, ciri khas Umar. Tak heran sebelum masuk Islam kaum Muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya perang batin itu bergemuruh selalu, antara mengagungkan ajaran nenek moyang, senang hiburan dan mabuk-mabukan, dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum Muslimin dalam mempertahankan keyakinan.

Sejernih mata air keinsafan. Melihat adik perempuannya Fatimah dan sang suami Sa’ad bin Zaid memeluk Islam, naik pitamlah Umar. Namun dari sikap beringas Umar kepada dua anggota keluarganya itu pula tak lama kemudian pintu hidayah terbuka untuknya. Hatinya tergetar membaca kalam Ilahi yang lembarannya dipegang oleh Fatimah.

Umar bergegas seraya menggenggam pedang menemui Muhammad Saw. Setelah berada di hadapannya, bertanyalah Rasulullah seraya memegang baju dan gagang pedang Umar.
“Engkau, wahai Umar, akankah terus begini hingga kehinaan dan azab Allah diturunkan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ? Ya Allah inilah Umar bin Khaththab, kokohkanlah Islam dengannya.”

Derai airmata keinsafan terus mengalir di sudut-sudut mata Umar mendengar kalimat-kalimat yang terhunus untuknya. Hatinya terus bergejolak memastikan kebenarannya karena ia tahu yang berucap adalah Muhammad sang al-amin.

Sederas airmata keinsafan, Umar lalu berucap, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah.”

Sejernih mata air keinsafan. Sekasar tamparan dan tendangan Umar kepada orang-orang yang dicintainya tak mampu menundukkan keimanannya, bahkan ia sendiri tersadarkan. Sekeras Umar akhirnya luluh mendengar firman-Nya.

Maka dalam setiap perubahan yang terjadi pada manusia keinsafan adalah pintunya. Adapun airmata keinsafan menandainya. Inilah momentum seseorang akan bangkit dari keterpurukannya.

Seperti Khalid bin Walid tersadar dengan masa lalunya. Seperti ketertarikan para tukang sihir raja Fir’aun yang akhirnya beriman mengikuti Musa.

Seperti kita yang akan mengambil hikmah atas kesalahan-kesalahan masa lalu.

Kesalahan yang Berhikmah
Dalam aroma keinsafan, apa pun airmata yang menetes di jalan Tuhan ini terasa melegakan hati kita. Airmata apa pun di jalan Tuhan begitu berarti. Lantaran Tuhan menjadi sumber mata air kehidupan kita. Setetes tetapi bermakna. Setetes tetapi melepaskan dahaga.

Setetes tetapi membangkitkan jiwa. Membangunkan mereka yang tertidur makin tak terasa. Mendorong gairah mereka yang sedang gontai keletihan di jalan Tuhan. Bisa menghibur mereka yang sedang dirundung duka. Atau mengingatkan saat-saat seseorang mulai lengah dari tugasnya. Bahkan, bisa menjadi tempat rehat orang-orang yang sehat. Obat bagi yang sakit.

Tafsir jalan lain menuju kesuksesan dunia, berdampak akhirat yang sesungguhnya.
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.s. Ali Imran [3]: 139)

Sebijak mata air keinsafan, luka itu tetap ada, meski kesalahan harus bisa diambil hikmahnya.

Bukan saja untuk pelakunya, bahkan untuk kita semuanya. Bahwa kesalahan‐kesalahan kecil itu tidak selalu kecil. Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka, kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

Jangan menangisi kesalahan. Menangislah lantaran kita terlambat mengambil sikap dalam menghadapi kesalahan.

Bertaubat dan segera menuju ampunan itulah jalan terbaik meraih kemuliaan.  (Ustadz Umar Hidayat M. Ag.)

Sumber: www.iman-islam.com

Menangis Bukan Karena Kita Lemah

Sahabat Surgaku…
Pernahkah kita menangis?
Sudahkah kita menangis hari ini?

Atau….
Betapa sulitnya kita menangis?

Atau….
Kita malu jika harus menangis?

Apakah hati kita mudah disentuh oleh keagungan Nya?

Apakah hati kita mudah trenyuh kala merasakan betapa besar kasih sayang Nya?

Menangislah karena mampu merasakan cinta kepada Nya.
Menangislah karena telah sering melalaikan Nya.
Dan menangislah karena kita mendurhaka pada Nya.

Menangis itu perlu, karena banyak hal yg harus kita tangisi.

Teringat kata yang terlontar hingga datang petaka.
Terlintas sikap tak layak ada hingga datangkan lara di jiwa.
Terbersit sesal kala berperilaku yang jauh dari norma.

Sentuh hatimu dengan mengingat khilafmu.
Sentuh hatimu dengan mengingat dosamu
Dan sentuh hatimu dengan mengingat segala alpamu.

Menangislah…
Curahkanlah segala rasa bersalahmu hanya pada Rabbmu.

Kita perlu menangis bukan karena lemahnya diri kita, namun kita menangis karena kita punya hati.

Dalam Al Isra ayat 109 Allah menyampaikan pesan,”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'”.

Dengan menangis akan menghadirkan kekhusyu’an.
Rasulullah pun menganjur kan kita menangis di banyak tempat dan momen.

1⃣ Pertama, pada saat membaca Al Quran.
Beliau bersabda,”Bacalah Al Quran dan menangislah. Jika engkau tidak menangis maka berpura-puralah menangis.” (HR. Tiemidzi)

2⃣ Kedua, pada saat rasa takut kita kepada Allah itu hadir.
Karena tangis kita akan memberi keselamatan. Beliau bersabda,”Dua jenis mata yang tidak disentuh oleh api neraka, mereka yang menangis karen takut kepada Allah dan mata yang piket malam di sabilillah.”

3⃣Ketiga, pada saat menyebut nama Nya dan menyendiri bersama Nya.
Rasulullah menyebutkan, bahwa satu golongan yg akan mendapat naungan Allah kelak pd hari kiamat adalah orang yg menyebut Allah dalam kesendirian, lalu kedua matanya berlinang air mata. (Mutafaq alaih)

4⃣ Keempat, saat kita mendapat nasihat-nasihat keimanan.
Seperti kata ‘irbadh bin Sariyah ra,”Rasulullah saw menasihati hati kami dengan sebuah nasihat yang membuat mata kami berderai air mata dan hati kami pun bergetar.”

5⃣ Kelima, ketika berada di waktu sore, setelah melampaui perjalanan hari dengan segala aktivitas.
Sepertin Adh Dhahhak bin Mazahim yg selalu menangis jika ia telah berada di sore hari. Saat ditanya,”Apa yang membuatmu menangis?”
Ia menjawab,”Aku tidak tahu, manakah diantara amalku yang terangkat ke langit hari ini.”

Dan kita wahai saudariku…
Pernahkah kita khawatir atas amal kita. Atau kita sudah merasa cukup dengan bekal yang akan kita bawa?

Merenungi sejenak sejarah perjalanan kita. Yakinkah kita dengan apa yang sudah kita lakukan? Sehingga kita bersantai dan berpangku tangan.

Bersegeralah kita mengevaluasi diri. Dan selalu memperbaharui niat karena Allah swt.

Keenam, saat kita tertinggal amalan utama. Sebagaimana Sa’ad bin Abdul Aziz rahimahumullah yg selalu menangis kala ketinggalan sholat berjamaah.

Kita menangis karena kita punya hati.
Kita menangis karena kita punya rasa empati.
Kita menangis karena ada duka dalam hati.
Kita menangis karena ada rasa takut pada Ilahi
Dan kita menangis lantaran beban berat yang tak mampu ditanggung sendiri.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang mampu mendekat pada Ilahi Rabi.

Dengan kerendahan hati kita mengabdi. Dan dengan air mata yang hadir karena cinta hakiki.

Begitulah Menanda cinta dengan Air mata lantaran besarnya cinta pada yang Maha Pecinta. (Ustadzah Rochma Yulika)