Memiliki Impian yang ‘Gila’ 2

Ketika mendirikan sekolah ini, kami dalam kondisi ekonomi yang sangat minus. Jadi kalau ada orang mengatakan: “Saya memulai dari nol”, itu masih sangat mendingan.

Saya memulai bangkit dari keterpurukan bukan dari “nol” lagi tapi dari “minus” besar. Tahun 2008 saya menjual rumah di Perumahan Wahana Harapan sebesar 85 juta. Rumah tersebut saya jual buru-buru karena khawatir keburu dilelang bank karena sudah tidak sanggup membayar cicilan bank BRI. Sehingga harganya pun jauh dari harga normal. Ketika itu harga pasaran rumah saya sekitar 120 jutaan.

Pada tahun 2009 rumah saya yang sudah saya tempati sejak tahun 2000, atau hampir 10 tahun. Rumah itu menyimpan saksi dimulainya sejarah kehidupan keluarga kecil saya. Di rumah itu pula kami mulai memiliki anak, yaitu Hafshah, Rahman dan Faiq. Rumah dan lingkungannya sudah seperti kampung halaman, 10 tahun gitu lho.

Rumah itu juga saya jual dengan terburu-buru karena sudah tidak punya lagi sumber pendapatan untuk membayar angsuran Bank BPR. Pada tahun yang sama, saya juga sudah menjual motor saya, sehingga tersisa motor Honda Legenda 2 yang menemani dan membantu kami┬ádalam melakukan aktifitasnya, dari mulai mengantar Hafshah sekolah di SDIT Attaqwa, mengantar Rahman sekolah di SD Negeri Setiaasih, mengantar istriku tercinta bekerja di SDIT Mentari Indonesia dan menemaniku ‘jalan-jalan’ mencari pekerjaan yang tidak pernah kunjung datang panggilannya atas puluhan surat lamaran yang sudah saya layangkan.

Tiap hari saya mengantar dan menjemput istri tercinta ke tempat kerjanya yaitu sebagai guru di SDIT Mentari Indonesia. Ketika itu saya suka berkhayal untuk memiliki SDIT.

Gila nggak sih, dalam kondisi ekonomi yang carut marut, saya berani mengimpikan untuk memiliki sesuatu yang bagi orang kaya pun belum tentu berani sekdar berangan-angan. Jangankan orang miskin, orang kaya saja sangat jarang yang memiliki keinginan untuk memiliki sekolah. Jangankan mengurus perizinan, mengelola sekolah apalagi modal yang harus digelontorkan pun gila-gilaan harus besar.

Lha saya, miskin, jobless, anak tiga, hutang banyak dan dalam kondisi keputus asaan yang cukup dalam, tapi masih sempat-sempatnya mengimpikan untuk memiliki sekolah…

Lanjut ya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *