Sikap Kami Terhadap Berbagai Isme

Sikap kami terhadap berbagai isme yang kini merajalela, mencabik-cabik hati, dan mengacaukan pikiran, adalah menimbangnya dengan timbangan dakwah kami. Yang sesuai dengan dakwah kami, akan kami sambut. Sedangkan yang tidak sesuai, maka kami berlepas diri darinya. Kami percaya bahwa dakwah kami bersifat universal dan integral.

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

NASIONALISME

Banyak orang terpesona dengan seruan nasionalisme atau paham

kebangsaan, khususnya di Timur. Sebab bangsa-bangsa Timur benar-benar merasakan kejahatan Barat. Bangsa-bangsa Timur merasakan sakitnya penjajahan Barat yang dipaksakan.

Dan, sekarang mereka sedang berusaha membebaskan diri dari penjajahan dengan segenap kemampuan, kekuatan, keuletan, jihad dan ketegaran. Tentu saja yang demikian itu baik dan indah. Tapi menjadi tidak baik dan indah, manakala anda berusaha memahamkan masyarakat, yang notabene muslim, bahwa nasionalisme dalam Islam lebih sempurna, bersih, mulia dan cerdas daripada yang dikumandangkan orang-orang Barat dan ditulis orang-orang Eropa.

NASIONALISME KERINDUAN

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyeruan adalah cinta tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya. Nasionalisme semacam ini, adalah hal yang telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahkan oleh Islam.

NASIONALISME KEBEBASAN DAN KEHORMATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putranya, maka kami bersama mereka dalam hal itu. Sebab Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya. Lihatlah firman Allah SWT.,

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (An-Nisa: 141)

 NASIONALISME KEMASYARAKATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan memimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka kami juga sepakat dengan mereka. Karena Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi SAW bersabda: “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

NASIONALISME PEMBEBASAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah pembebasan negara-negara dan kepemimpinan dunia, maka Islam telah mewajibkan hal tersebut dan mengarahkan para pembebas pada pemakmuran yang paling afdhal serta pembebasan yang paling berkah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT.,

“Dan perangilah meraka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk /allah belaka…” (Al-Baqarah: 193)

NASIONALISME KEPARTAIAN

Tapi jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme itu adalah memecah belah umat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, memendam dendam, mencaci, melempar tuduhan, dan saling membuat tipu daya. Juga mendukung sistem buatan manusia yang dipandu syahwat, diformat ambisi duniawi, dan ditafsirkan sesuai kepentingan pribadi. Sehingga musuh leluasa memanfaatkan semua itu untuk kepentingannya, bebas mengobarkan api permusuhan, memecah belah umat dalam kebenaran, menyatukan mereka dalam kebatilan, merintangi terjadinya hubungan serta kerja sama antar bagian umat dengan bagian yang lain, dimana hubungan hanya boleh terjalin dan berhimpun atas dasar nasionalisme ini, hingga umat hanya memperhatikan organisasi atau negerunya dan tidak berkumpul, kecuali orang-orang yang sekelompok dengannya.

Nasionalisme seperti itu adalah nasionalisme palsu yang tidak membawa kebaikan, baik bagi penyerunya maupun bagi masyarakat luas.

BATASAN NASIONALISME KAMI

Perbedaan antara kami dengan mereka adalah, bahwa kami menganggap batas nasionalisme adalah akidah, sementara mereka menganggap batasnya adalah teritorial negara dan batas-batas geografis. Bagi kami, setiap jengkal tanah yang dihuni muslim yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’, adalah tanah air kami yang behak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan dan jihad demi kebaikannya.

Sementara para penyeru nasionalisme murni tidak seperti itu. Perharian mereka hanya pada urusan wilayah terbatas dan sempit di bumi ini.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 30-37

Empat Golongan Manusia

Yang kami inginkan dari umat adalah hendaknya mereka menjadi salah satu dari empat golongan terhadap dakwah kami:

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

Mukmin

Boleh jadi seorang yang meyakini dakwah kami, membenarkan perkataan kami, mengagumi prinsip-prinsip kami, dan menemukan padanya kebaikan yang dapat menenangkan jiwanya dan menentramkan nuraninya.

Kepada orang seperti ini kami mengajak untuk segera bergabung dan bekerja bersama kami, agar jumlah para mujahid semakin banyak, dan dengan suaranya, suara pada da’i akan semakin meninggi.

Orang yang Ragu

Boleh jadi ia belum mendapatkan kejelasan tentang kebenaran, dan belum mengenal makna keikhlasan, serta manfaat dibalik ucapan-ucapan kami.

Orang seperti ini kami biarkan bersama keraguannya. Disamping itu kami memberi saran kepadanya agar tetap berhubungan lebih dekat lagi dengan kami, memperhatikan kami dari dekat atau dari jauh, mengkaji tulisan-tulisan kami, mengunjungi pertemuan-pertemuan kami dan berkenalan dengan saudara-saudara kami. Setelah itu, insya Allah ia akan percaya  kepada kami. Memang begitulah keadaan orang-orang yang ragu dari kalangan pengikut rasul-rasul dahulu.

Orang Oportunis

Boleh jadi ia adalah sosok yang tidak mau memberikan dukungannya, kecuali setelah mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dan keuntungan yang dihasilkan dari pengorbanannya.

Kami katakan kepadanya, “Kasihanilah dirimu! Kami tidak menjanjikan apa-apa, kecuali pahala dari Allah, jika anda ikhlas. Juga surga, jika Allah mengetahui ada kebaikan pada diri anda.

Orang yang Arogan

Boleh jadi seseorang yang berprasangka buruk dan ragu-ragu kepada kami. Ia tidak melihat kami, kecuali dengan kacamata hitam pekat. Ia tidak berbicara tentang kami, kecuali dengan bahasa sinis dan membuat orang ragu. Dan ia tenggelam dalam kecongkakan, silau dalam keraguannya, dan tetap bertahan pada praduga-praduganya.

Untuk orang seperti ini, kami hanya memohon kepada Allah SWT agar memperlihatkan keapda kami dan kepadanya kebenaran sebagai kebenaran dan memberi rezeki kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi rezeki kepada kami untuk menjauhinya. Juga semoga Allah mengilhamkan kesadaran kepada kami semua.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 16-20.

Mencari Kebahagiaan

Seorang pemuda duduk dengan tatapan kosong di samping telaga. Dia sedang galau dan tidak bahagia.

“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.

Mencari kebahagiaan
Kebahagiaan

Anak muda itu menoleh sambil berkata. “Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berusaha mencari kebahagiaan, tapi tak kunjung ku dapatkan.” Keluh si anak muda dengan wajah muram.

“Di depan sana ada sebuah taman. Coba ke sana dan tangkap seekor kupu-kupu. Setelah itu aku jawab pertanyaanmu,” jawab si kakek.

Meski ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk.

Tiba di sana, dia takjub melihat taman indah dan kupu-kupu yang beterbangan.

Si pemudah mengendap-endap menuju sasarannya. Hap…! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap…! Lagi-lagi gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rumput, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.

Si kakek berkata, “Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari kesana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?”

“Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan kecantikannya memenuhi alam semesta ini. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.”

“Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan. Ia tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah baik-baik, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.”

Kakek itu mengangkat tanggannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Kebahagiaan sesungguhnya tidak jauh, dia ada di setiap hati yang selalu bersyukut. Tidak perlu mencari biarkan dia “datang” sendiri.

 

Kisah Inspiratif dari Teman UGM

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang begiku sangat inspiratif.

Guru / dosen sedang mengajar
Guru / dosen sedang mengajar

Tahun 90 an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan, sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak”, jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak”.

“Tapi jadi dosen itu kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub”. Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.”

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas  guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi”.

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati”.

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna “Tidak ada Ilah selain Alloh” yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Wakaf Tunai Pembangunan Gedung SDIT Wirausaha Indonesia

Kasih Sayang Ibu kepada Anaknya

Seorang anak marah dengan ibunya dan meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karen lapar.

Ibu dan anak
Ibu dan anak

Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya,

“Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”

“Ya, tetapi aku tidak membawa uang”, jawab anak itu dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan memberimu gratis semangkuk bakmi”, jawab di pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nak?” Tanya di pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yang baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri membuatkau marah hingga aku pergi meninggalkan rumah, karena sepertinya ibuku sudah tidak peduli lagi padaku. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku”.

Pemilik kedai itu berkata, “Nak, mengapa kau berfikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu… Ibumu telah memasak bakmi, nasi, merawatmu dan lain-lain sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya”.

Anak itu kaget mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berfikir tentang hal itu?”

Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam”.

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Hikmah cerita…

Kadang kita akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya pada kita. Namun, kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja…

Mengapa Aku Menjadi Orang yang Sangat Miskin?

Ada seorang yang miskin bertanya pada sang guru bijak, “Mengapa aku menjadi orang yang sangat miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup?”

Berdoa Agar Hutang Lunas
Berdoa

Sang guru menjawab, “Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi kepada orang lain”.

“Tapi saya tidak punya apapun untuk diberikan kepada orang lain?”

“Sebenarnya engkau masih punya banyak untuk engkau berikan pada orang lain.”

“Apakah itu, guru bijak?”

Sadang guru menjawab:

  1. Dengan mulut yang engkau punya, engkau bisa berikan senyuman dan pujian
  2. Dengan mata yang engkau punya, engkau bisa memberikan tatapan yang lembut
  3. Dengan telinga yang engkau punya, engkau bisa memberikan perhatian
  4. Dengan wajah yang engkau punya, engkau bisa memberikan kerahaman
  5. Dengan tangan yang engkau punya, engkau bisa memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain yang membutuhkan dan masih banyak lagi.

Jadi sesungguhnya kamu bukanlah miskin, hanya saja engkau tidak pernah mau memberi pada orang lain.

Itulah yang menyebabkan orang lain juga tidak pernah mau memberikan apapun pada dirimu. Engkau akan terus seperti ini jika engkau tidak mau memberi dan berbagi pada orang lain dan siapapun.

Pulanglah dan berbagilah pada orang lain dari apa yang masih engkau punya, agar orang lain juga mau berbagi denganmu”.

Memberi tidak ditentukan oleh seberapa besar atau kecil, tapi berdasarkan kebutuhan. Kebencian tidak ditentukan oleh seberapa dalam atau dangkalnya, tapi berdasarkan seberapa terlukanya orang tersebut.

Oleh karena itu, kita mesti berhati-hati terhadap apa yang kita ucapkan, apa yang kita perbuat sehari-hari, jangan pernah meremehkan perbuatan baik yang kecil, namun jangan melakukan perbuatan buruk sekecil apapun.

Muhammad ‘Imaduddin Badi’uzzaman, Anakku yang ke-5

Hari Rabu tanggal, 23 Desember 2015 bertepatan dengan tanggal, 11 Rabiul Awal 1437 Hijriyah anakku yang ke-5 lahir ke dunia fana ini. Muhammad ‘Imaduddin Badi’uzzaman kami beri nama.

Badi bersama Abinya
Badi bersama Abinya
Keluarga Bahagiaku, 26 Desember 2015
Keluarga Bahagiaku, 26 Desember 2015

Arti nama: ‘Imaduddin = tiang agama, Badi’uzzaman = masa keindahan.

Semoga anak ini menjadi pemimpin kaum muslimin, penghafal Al-Qur’an dan penerang kubur kedua orang tuanya. Amin yaa Robbal ‘Aalamiin.

Bukan Engkau yang Mencari Rezeki, tapi Rezekilah yang Mencarimu

Pulang kantor, mampir dulu beli titipan orang rumah. Kali ini dititipin ketoprak. Akhrnya ketemu gerobak ketoprak, kok ini gerobak kosong ga ada orang yang jaga.

Gerobak Ketoprak
Gerobak Ketoprak

“Pak, ini tukangnya mana pak?” Tanyaku ke tukang kue cucur di sebelahnya.

“Oh, lagi sholat maghrib Pak. Dah dari tadi, bentar lagi datang”, jawabnya.

Sehubungan ini pesanan orang rumah, terpaksalah menunggu agak lama, kalo untuk diri sendiri mah sudah saya tinggal langsung.

Tak berapa lama datanglah tukang ketoprak tersebut. “Beli ketoprak Pak satu”. Ucapku. Entah mengapa, tiba-tiba berubah pikiran, “dua deh Pak”.

Kemudian datanglah beberapa orang yang antri ngin beli ketoprak. Entah darimana mereka, tadi saya menunggu sendiri ga ada orang lain, tiba-tiba mereka datang memesan ketoprak.

Masya Allah, tidak sedikit pedagang yang rela meninggalkan sholat demi menjaga dagangannya yang belum tentu ada orang yang beli. Apalagi jika pelanggan sedang ramai. Atau mungkin pegawai-pegawai kantoran, rela menunda-nunda sholat bahkan meninggalkan sholat hanya karena alasan sibuk kerja, meeting dan lain sebagainya. Mereka (dan juga kita) seakan lupa kalo Allah lah yang mengatur rezeki.

Tukang ketoprak ini, dengan yakinnya meninggalkan jualannya untuk sholat, seakan-akan ia lari meninggalkan rezekinya, sekembalinya dari sholat ternyata rezeki datang bak lebah mengerumuni bunga. Bahkan Allah pun menggerakkan hati saya sendir untuk membeli lebih dari yang seharusnya.

Berdoa Agar Hutang Lunas
Berdoa

Sungguh benar perkataanmu wahai Nabi ku: “Kalau anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya” (HR. Ibnu Hibban No.1084)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hambaNya yang selalu bertakwa, yang selalu mengutamakanNya di atas dunia dan seisinya. Amiin.

Wakaf Tunai Pembangunan Gedung SDIT Wirausaha Indonesia

Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia

Kebersamaan Itu, Tidak Sekedar Retorika

Suatu ketika, adak kawan yang keceplosan. Beliau mengatakan: “Ah, saya mau nyekolahin anakku di SWI nanti ajah kalo gedungnya sudah megah”.

Gedung sekolah SWI
Gedung sekolah SWI

Saya bilang : “Kalau sekolah ini gedungnya sudah megah, mungkin anak ente tidak diterima di sini. Kenapa? Jangankan nanti, sekarang saja dalam kondisi gedung sekolah yang masih sederhan murid sudah penuh. Bagaimana nanti kalau gedung sudah megah, sangat mungkin rebutan untuk masuk sekolah ini. Hanya siswa yang memenuhi kualifikasi tertentu yang bisa diterima di sekolah ini, karena keterbatasan kelas”.

Kawans…

  • Kalau merasa kita adalah orang-orang yang memiliki fikroh yang sama, kenapa rasa kebersamaan itu tidak kita semaikan sejak sesuatu itu belum sempurna?
  • Rasa kebersamaan itu justru harus ditumbuhkan sejak awal, bukan ketika sesuatu itu sudah dianggap melewati keadaan susah payah.
  • Kebersamaan itu harus dibuktikan. Bukan sekedar retorika pidato, slogan pemanis ceramah mabit atau kajian gabungan.

Semoga kita makin cerdas dalam berjamaah…

–Selamat menerima raport bagi Siswa SDIT Wirausaha Indonesia

Wahai Orang Tua, Berhentilah Memanjakan Anak

Suatu ketika, kami kedatangan beberapa orang tua murid yang mengaku perwakilan dari beberapa orang tua murid lainnya. Mereka protes berjamaah.

Anak kreatif
Anak kreatif

Apa pasal?

Ternyata anak-anaknya ngambek dan menangis, karena tidak mendapatkan piala lomba agustusan yang diselenggarakan oleh sekolah. Padahal semua siswa sudah mendapatkan snack dan minum yang dibungkus rapi layaknya hadiah ulang tahun.

Tapi masih tetap meminta piala seperti temannya yang juara lomba. Mereka mengusulkan: bagaimana kalau sekolah membuatkan piala untuk seluruh siswa, kami siap membayar ongkos pembuatan piala tersebut.

Akhirnya, dengan bijak saya katakan kepada orang tua:

  • Memangnya kenapa kalau anak-anak kita menangis hanya gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?
  • Bukankah sangat baik mendidik kepada anak-anak kita bahwa, tidak semua keinginannya tercapai dengan sangat mudah?
  • Segala sesuatu harus diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang tidak ringan
  • Lebih baik anak menangis sekarang, daripada menangis setelah dewasa karena mengalami kegagalan hidup yang disebabkan oleh kebiasaan orang tua memanjakan anak-anaknya dari waktu ke waktu.

Sesungguhnya, dengan memanjakannya, kita sudah merampas masa depan anak-anak kita.

Biarlah anak-anak kita bisa menikmati susah payah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali waktu biarkan anak-anak kita hanya menonton temannya jajan.

Yang terpenting adalah, ketika dewasa kelak, anak-anak kita menjadi orang sukses yang bertanggung jawab. Dia paham kewajiban sosial atas lingkungan di sekitarnya.

Opini & Motivasi