Bukan Engkau yang Mencari Rezeki, tapi Rezekilah yang Mencarimu

Pulang kantor, mampir dulu beli titipan orang rumah. Kali ini dititipin ketoprak. Akhrnya ketemu gerobak ketoprak, kok ini gerobak kosong ga ada orang yang jaga.

Gerobak Ketoprak
Gerobak Ketoprak

“Pak, ini tukangnya mana pak?” Tanyaku ke tukang kue cucur di sebelahnya.

“Oh, lagi sholat maghrib Pak. Dah dari tadi, bentar lagi datang”, jawabnya.

Sehubungan ini pesanan orang rumah, terpaksalah menunggu agak lama, kalo untuk diri sendiri mah sudah saya tinggal langsung.

Tak berapa lama datanglah tukang ketoprak tersebut. “Beli ketoprak Pak satu”. Ucapku. Entah mengapa, tiba-tiba berubah pikiran, “dua deh Pak”.

Kemudian datanglah beberapa orang yang antri ngin beli ketoprak. Entah darimana mereka, tadi saya menunggu sendiri ga ada orang lain, tiba-tiba mereka datang memesan ketoprak.

Masya Allah, tidak sedikit pedagang yang rela meninggalkan sholat demi menjaga dagangannya yang belum tentu ada orang yang beli. Apalagi jika pelanggan sedang ramai. Atau mungkin pegawai-pegawai kantoran, rela menunda-nunda sholat bahkan meninggalkan sholat hanya karena alasan sibuk kerja, meeting dan lain sebagainya. Mereka (dan juga kita) seakan lupa kalo Allah lah yang mengatur rezeki.

Tukang ketoprak ini, dengan yakinnya meninggalkan jualannya untuk sholat, seakan-akan ia lari meninggalkan rezekinya, sekembalinya dari sholat ternyata rezeki datang bak lebah mengerumuni bunga. Bahkan Allah pun menggerakkan hati saya sendir untuk membeli lebih dari yang seharusnya.

Berdoa Agar Hutang Lunas
Berdoa

Sungguh benar perkataanmu wahai Nabi ku: “Kalau anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya” (HR. Ibnu Hibban No.1084)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hambaNya yang selalu bertakwa, yang selalu mengutamakanNya di atas dunia dan seisinya. Amiin.

Wakaf Tunai Pembangunan Gedung SDIT Wirausaha Indonesia

Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia

Kebersamaan Itu, Tidak Sekedar Retorika

Suatu ketika, adak kawan yang keceplosan. Beliau mengatakan: “Ah, saya mau nyekolahin anakku di SWI nanti ajah kalo gedungnya sudah megah”.

Gedung sekolah SWI
Gedung sekolah SWI

Saya bilang : “Kalau sekolah ini gedungnya sudah megah, mungkin anak ente tidak diterima di sini. Kenapa? Jangankan nanti, sekarang saja dalam kondisi gedung sekolah yang masih sederhan murid sudah penuh. Bagaimana nanti kalau gedung sudah megah, sangat mungkin rebutan untuk masuk sekolah ini. Hanya siswa yang memenuhi kualifikasi tertentu yang bisa diterima di sekolah ini, karena keterbatasan kelas”.

Kawans…

  • Kalau merasa kita adalah orang-orang yang memiliki fikroh yang sama, kenapa rasa kebersamaan itu tidak kita semaikan sejak sesuatu itu belum sempurna?
  • Rasa kebersamaan itu justru harus ditumbuhkan sejak awal, bukan ketika sesuatu itu sudah dianggap melewati keadaan susah payah.
  • Kebersamaan itu harus dibuktikan. Bukan sekedar retorika pidato, slogan pemanis ceramah mabit atau kajian gabungan.

Semoga kita makin cerdas dalam berjamaah…

–Selamat menerima raport bagi Siswa SDIT Wirausaha Indonesia

Wahai Orang Tua, Berhentilah Memanjakan Anak

Suatu ketika, kami kedatangan beberapa orang tua murid yang mengaku perwakilan dari beberapa orang tua murid lainnya. Mereka protes berjamaah.

Anak kreatif
Anak kreatif

Apa pasal?

Ternyata anak-anaknya ngambek dan menangis, karena tidak mendapatkan piala lomba agustusan yang diselenggarakan oleh sekolah. Padahal semua siswa sudah mendapatkan snack dan minum yang dibungkus rapi layaknya hadiah ulang tahun.

Tapi masih tetap meminta piala seperti temannya yang juara lomba. Mereka mengusulkan: bagaimana kalau sekolah membuatkan piala untuk seluruh siswa, kami siap membayar ongkos pembuatan piala tersebut.

Akhirnya, dengan bijak saya katakan kepada orang tua:

  • Memangnya kenapa kalau anak-anak kita menangis hanya gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?
  • Bukankah sangat baik mendidik kepada anak-anak kita bahwa, tidak semua keinginannya tercapai dengan sangat mudah?
  • Segala sesuatu harus diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang tidak ringan
  • Lebih baik anak menangis sekarang, daripada menangis setelah dewasa karena mengalami kegagalan hidup yang disebabkan oleh kebiasaan orang tua memanjakan anak-anaknya dari waktu ke waktu.

Sesungguhnya, dengan memanjakannya, kita sudah merampas masa depan anak-anak kita.

Biarlah anak-anak kita bisa menikmati susah payah dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali waktu biarkan anak-anak kita hanya menonton temannya jajan.

Yang terpenting adalah, ketika dewasa kelak, anak-anak kita menjadi orang sukses yang bertanggung jawab. Dia paham kewajiban sosial atas lingkungan di sekitarnya.

Di Rumahku Ada Cinta

“Taman punya kita berdua. Tak lebar luas, kecil saja. Satu tak kelihatan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah”.

Itulah penggalan puisi Chairil Anwal, 1943, tentang rumahnya yang disebut taman. Taman hati. Taman hidup. Sempit ruangnya, tapi cinta membuatnya jadi teras cukup lapang dalam dada. Cinta membuatnya nyaman dihuni.

Rumah cinta
Rumah cinta

Kenyamanan. Itu rahasia jiwa yang diciptakan cinta: maka kita mampu bertahan memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh.

Cinta menciptakan kenyamanan yang bekerja menyerap semua emosi negatif masuk ke dalam serat-serat jiwa melalui himpitan peristiwa kehidupan. Luka-luka emosi yang kita alami sepanjang jalan kehidupan ini hanya mungkin dirawat di sana: dalam rumah cinta.

Dalam rumah cinta itu kita menemukan sistem perlindungan emosi yang ampuh. Mary Carolyn Davies mengungkapkannya dengan manis:

“Ada sebuah tembok yang kuat di sekelilingku yang melindungiku, dibangun dari kata-kata yang kau ucapkan padaku”.

Jiwa yang terlindung akan cepat bertumbuh dan berbuah. Sederhana saja. Karena hakikat cinta selamanya hanya satu: memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa. Melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika kita terus menerus memberi maka kita akan terus menerus menerima.

Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Seperti pohon: pada mulanya ia menyerap matahari dan air, untuk kemudian mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya: buahnya keindahan.

Dalam rumah yang penuh cinta itu kita menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh. Itu sebabnya rumah yang begitu seperti menghadirkan syurga dalam kehidupan kita. Rumah itu pasti utuh dan abadi. Adakah doa cinta yang lebih agung daripada apa yang diajarkan sang Rasul kepada kita di malam pertama saat kita meletakkan dasar bangunan hubungan jiwa yang abadi? Letakkan tangan kananmu di atas ubun-ubun istrimu, lalu ucapkan doa ini dengan lebut:

“Ya Allah, aku mohon kepada Mu kebaikan perempuan ini dan semua kebaikan yang tercipta bersama penciptanya”.

— Anis Matta–

 

 

Amerika Itu Negeri Muslim yang Hilang (2)

Colombus, Sang Pewaris Templar

Christopher Colombus sebenarnya bukan penemu daratan besar ini, pun bukan pula Laksamana Cheng Ho yang 70 tahun tiba lebih dulu di Amerika ketimbang Colombus.

Lima abad sebelum Colombus tiba, para pelaut Islam dari Granada dan Afrika Barat, sudah menjejakkan kaki di daratan-benua yang masih perawan dan hanya ditinggali suku-suku asli yang tersebar di beberapa bagiannya.

Suku Indian
Suku Indian

Imigran Muslim pertama di daratan ini tiba sekira tahun 900 hingga setengah abad kemudian pada masa Dinasti Umayyah. Salah satunya bernama Khasykhasy Ibn Sain Ibnu Aswad dari Cordoba. Orang-orang Islam inilah yang mendakwahkan Islam pertama kalipada suku-suku asli Amerika. Sejumlah suku Indian Amerika pun telah memeluk Islam saat itu. Suku-suku itu antara lain suku Iroquois dan Alqonquin.

Suku Cherokee
Suku Cherokee

Stelah jatuhnya Granada pada 1492, disusul inquisition yang dilakukan terhadap kaum Muslimin dan Yahudi di Spanyol, maka imigran gelombang kedua tiba di Amerika pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Raja Spanyol, Carlos V, di tahun 1539 sempat mengeluarkan larangan bagi Muslim Spanyol untuk hijrah ke Amerika.

Bahkan, menurut prasasti berbahasa Arab  yang ditemukan di Mississipi Valey dan Arizona, dikatakan jika orang-orang Islam datang ke daratan ini juga membawa gajah dari Afrika.

Colombus sendiri baru datang ke “Amerika” di akhir abad ke-15 Masehi ketika benua itu sudah didiami Muslimin Indian. Dalam ekspedisi pertamanya, Colombus dibantu dua nahkoda Muslim bersaudara: Martin Alonzo Pizon yang memimpin kapal Pinta dan Vicente Yenez Pizon yang ada di kapal Nina. Keduanya kerabat sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abuzayan Muhammad II (1362-1366).

Bahkan, Colombus sendiri, di dalam catatan perjalanannya, menulis bahwa pada hari Senin, 21 Oktober 1492, ketika berlayar di dekat Gibara di tenggara pantai Kuba, dia mengaku melihat sebuah masjid dengan menaranya yang tinggi yang berdiri di atas puncak bukit yang indah.

Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan jika berabad sebelum Colombus tiba di Amerika, sekolah-sekolah Islam sudah tersebar di banyak wilayah, antara lain di Valley of Fire, Allan Springs, Logomarsino, Keyhole, Canyon, Washoe, Mesa Verde di Colorado, Hickison, Summit Pass di Nevada, Mimbres Valley di Mexico, dan Tipper Canoe-Indiana.

Hal ini dikuatkan dengan temuan nama-nama Islam di berbagai kota besar di Amerika Serikat. Di tengah kota Los Angeles terdapat daerah bernama Alhambra, juga nama Teluk El-Morro dan Alamitos. Juga nama-nama seperti Andalusia, Aladdin, Alla, Albani, Alameda, Almansor, Almar, Amber, Azure dan La Habra.

Di tengah Amerika, dari selatan hingga Illionis, terdapat nama-nama kota kecil seperti Albany, Atalia, Andalusia, Tullahoma dan Lebanon. Di negara bagian Washington juga ada nama daerah Salem. Di Karibia, kata yang juga berasal dari kata Arab., terdapat nama Jamaika dan Kuba, yang berasal dari bahasa Arab “Quba”. Ibukota Kuba, Havana juga berasal dari bahasa Arab “La Habana”.

Seorang sejarawan bernama Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada 484 dan di Kanada ada 81.

Dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, nama keduanya juga telah ditorehkan para pionir Muslim di tanah Amerika jauh sebelum Colombus lahir. Nama Mecca ada di Indiana, lalu Medina ada di Idaho, Tenesse, Texas, Ontario-Canada. Bahkan, di Illionis, ada kota kecil bernama Mahomet yang berasal dari nama Muhammad.

Sequoyah
Sequoyah

 

Suku-suku asli Amerika pun, kaum Muslim Indian, banyak yang nama sukunya berasal dari nama Arab, seperti: Apache, Anasazi, Arawak, Cherokee, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mohican, Mohawk, Nazca, Zulu dan Zuni. Bahkan, kepala suku Indian Cherokee yang terkenal, Se-quo-yah, yang menciptakan silabel huruf Indian yang disebut Cherokee Syllabari pada 1821 adalah seorang Muslim yang senantiasa mengenakan sorban, bukan ikat kepala dari bulu burung. (Riski Ridyasmara)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/amerika-itu-negeri-muslim-yang-hilang-1.htm

Amerika Itu Negeri Muslim yang Hilang (1)

Suatu malam ditingkahi rinai gerimis yang membasahi aspal jalan, saya melangkah masuk ke sebuah resto besar yang cukup terkenal di daerah elit kemang, Jakarta Selatan. Ba’da Isya itu saya ada janji bertemu dengan dua sahabat yang sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu muka, kecuali lewat media sosial saja.

Yang pertama seorang Chef selebritis yang lengannya dipenuhi tatto namun telah menyandang gelar haji dan sekarang tengah menekuni Islam dengan baik, bahkan sudah mengembalikan beberapa sahabatnya ke jalan Islam.

Yang kedua seorang lelaki muda yang punya karir cemerlang sebagai direktur utama sebuah perusahaan nasional-pribumi dengan jumlah karyawannya mencapai 16.000 orang. Keislamannya pun cukup baik. Keduanya cucu dari tokoh-tokoh nasional Indonesia di masa keemasan di zaman Bung Karno.

Sambil menyantap makanan, kami ngonrol ngalor-ngidul sambil ditingkahi gurauan. Tiba-tiba Chef yang aktif dalam komunitas motor besar itu bertanya kepada saya.

“Riz, elo kapan naik haji?”

Deg! Saya terdiam. Saya hanya nyengir dan malah bertanya kepada sahabat dirut yang satu lagi.

“Nah, kalo Mas sudah pernah ke Mekkah belum?”

Sang Dirut muda yang wajahnya sekilas mirip penyanyi Dian Pramana Putera itu tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya.

“Belum”

Chef bertubuh tinggi besar laiknya anak-anak motor besar itu berkata bijak, “Kalo ada kesempatan, pergilah ke Mekkah. Di sana dunia itu satu: Islam!”

Sambil bercanda saya berkata, “Saya ingin keliling Eropa dan Amerika dulu sebelum ke Mekkah, Chef…”

Kota New York
Kota New York

Dia malah tertawa, “Saya sudah keliling Amerika dan Eropa berkali-kali. Dan apa yang ada di sana? Di jalanan ramai New York misalnya, itu dipenuhi orang-orang berbagai warna. Bule nyaris tidak kelihatan. Orang Islam yang banyak di sana sekarang ini. Demikian juga kota-kota besar di Eropa. Islam itu dunia, Riz…”

Saya takjub mendengarnya. Chef itu meneruskan ceritanya tentang perjalanannya menyinggahi berbagai pelosok dunia. Juga peristiwa-peristiwa aneh di dalam kehidupannya. Wajar saja, karena sahabat saya yang satu ini dianugerahi Allah SWT kebisaan yang jarang sekali dimiliki manusia biasa. Dia mampu melihat “dunia lain”, bahkan mampu melakukan proyeksi astral.

Tak terasa jarum jam nyaris menyentuh puncak malam. Karena besok bukan hari libur, silaturahim ini saya sudahi. Kami pun berpisah dengan janji akan mengadakan pertemuan serupa tapi nanti di daerah Kuningan dimana Sang Dirut muda ini berkantor.

Dalam perjalanan pulang menembus gelapnya malam, saya terus memikirkan tentang Amerika, yang menurut pengamatan sahabat Chef saya tadi akan kembali menjadi negeri kaum Muslimin.

Ya, sebelum bernama Amerika (catatan: benua ini dinamakan “Amerika” oleh Columbus dengan mengambil nama temannya yang bernama Amerigo Vespucci), benua besar itu memang milik kaum Muslimin. Christoper Colombus pun mengakui hal itu dari catatan hariannya.

COLOMBUS, SANG PEWARIS TEMPLAR…

Zulfikar, Meraih Mimpi dengan Keterbatasan Fisik & Ejekan

Namanya Zulfikar Rakhmat, mahasiswa Indonesia berusia 22 tahun yang tengah melakukan penelitian doktoral di Universitas Manchester tentang dampak perkembangan negara Asia terhadap perkembangan politik di Timur Tengah.

FB_IMG_1449921455856

FB_IMG_1449921466789FB_IMG_1449921449795

Zulfikar sejak lahir mengalami “Ashpyxia Neonatal”, yaitu gangguan yang menyebabkannya tidak bisa lancar dan tidak dapat menggunakan kedua tangan untuk sejumlah hal termasuk menulis.

Sebelum melanjutkan S-2 dan kemudian saat ini S-3 di Manchester, Zulfikar meraih gelar sarjananya dengan predikat terbaik di Universitas Qatar.

“Karena saya tidak bisa menulis dengan tangan, saya harus bawa laptop kemana-mana. Tapi saya tidak pernah menganggap ini sebagai beban, jalani saja -pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membebani hambaNya melebihi kemampuan mereka”, kata Zulfikar.

“Mungkin terkadang gaya bicara saya yang gagap membuat orang yang baru saya temui agak kesulitan memahami, tetapi lagi-lagi selalu ada jalan untuk mengatasinya seperti mengulanginya atau menjelaskannya melalui email setelah pertemuan.”

“Saya mengalami berbagai macam bullying, seperti ditertawakan, diejek, dikunci di kamar mandi, gerakan tangan saya yang ‘aneh’ diperagakan di depan kelas dan lain-lain”, cerita Zulfikar tentang ejekan dan cemoohan yang ia terima saat masih tinggal di Indonesia.

Ejekan yang paling parah dialami adalah, “Ketika seseorang mempertanyakan kemampuan saya untuk mencapai mimpi yang saya miliki. Saat itu sempat memang saya malas untuk sekolah karena ‘takut’. Tetapi ayah saya selalu berpesan bahwa jika saya nggak mau sekolah, berarti saya membiarkan keterbatasan saya menang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah membuktikan bahwa kita tidak seperti apa yang mereka katakan dan lebih beraharga dari apa yang mereka tertawakan.

Pada usia 15 tahun, keluarganya pindag ke Qatar dan sejak itu “Tidak ada ‘bullying’ seperti yang saya dapati di Indonesia. Semua saling memberi dukungan dan tidak ada ‘rasa tidak percaya’ terhadap mimpi yang dimiliki seseorang. Mereka percaya bahwa dalam kondisi apapun seseorang bisa menggapai mimpinya jika ada semangat dan kerja keras.”

Selain politik Timur Tengah dan Asia, Zulfikar juga tertarik pada ilmu komputer dan jurnalistik, dengan pengalaman menulis artikel di sejumlah media.

Memiliki Impian yang ‘Gila’ 2

Ketika mendirikan sekolah ini, kami dalam kondisi ekonomi yang sangat minus. Jadi kalau ada orang mengatakan: “Saya memulai dari nol”, itu masih sangat mendingan.

Saya memulai bangkit dari keterpurukan bukan dari “nol” lagi tapi dari “minus” besar. Tahun 2008 saya menjual rumah di Perumahan Wahana Harapan sebesar 85 juta. Rumah tersebut saya jual buru-buru karena khawatir keburu dilelang bank karena sudah tidak sanggup membayar cicilan bank BRI. Sehingga harganya pun jauh dari harga normal. Ketika itu harga pasaran rumah saya sekitar 120 jutaan.

Pada tahun 2009 rumah saya yang sudah saya tempati sejak tahun 2000, atau hampir 10 tahun. Rumah itu menyimpan saksi dimulainya sejarah kehidupan keluarga kecil saya. Di rumah itu pula kami mulai memiliki anak, yaitu Hafshah, Rahman dan Faiq. Rumah dan lingkungannya sudah seperti kampung halaman, 10 tahun gitu lho.

Rumah itu juga saya jual dengan terburu-buru karena sudah tidak punya lagi sumber pendapatan untuk membayar angsuran Bank BPR. Pada tahun yang sama, saya juga sudah menjual motor saya, sehingga tersisa motor Honda Legenda 2 yang menemani dan membantu kami dalam melakukan aktifitasnya, dari mulai mengantar Hafshah sekolah di SDIT Attaqwa, mengantar Rahman sekolah di SD Negeri Setiaasih, mengantar istriku tercinta bekerja di SDIT Mentari Indonesia dan menemaniku ‘jalan-jalan’ mencari pekerjaan yang tidak pernah kunjung datang panggilannya atas puluhan surat lamaran yang sudah saya layangkan.

Tiap hari saya mengantar dan menjemput istri tercinta ke tempat kerjanya yaitu sebagai guru di SDIT Mentari Indonesia. Ketika itu saya suka berkhayal untuk memiliki SDIT.

Gila nggak sih, dalam kondisi ekonomi yang carut marut, saya berani mengimpikan untuk memiliki sesuatu yang bagi orang kaya pun belum tentu berani sekdar berangan-angan. Jangankan orang miskin, orang kaya saja sangat jarang yang memiliki keinginan untuk memiliki sekolah. Jangankan mengurus perizinan, mengelola sekolah apalagi modal yang harus digelontorkan pun gila-gilaan harus besar.

Lha saya, miskin, jobless, anak tiga, hutang banyak dan dalam kondisi keputus asaan yang cukup dalam, tapi masih sempat-sempatnya mengimpikan untuk memiliki sekolah…

Lanjut ya…

Doa Melunasi Hutang Dibaca Sebelum Tidur

Doa ini adalah di antara doa bisa diamalkan khususnya bagi kita yang masih memiliki hutang dan berusaha untuk melunasinya. Doa ini dibaca sebelum tidur.

Berdoa Agar Hutang Lunas
Berdoa

Telah diceritakan dari Jarir dari Suhail, ia berkata: “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami apabila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklan berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan:

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Alloh, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Yaa Allah, Engkau lah yang awal sebelum Mu tidak ada sesuatu. Engkau lah yang terakhir, setelah Mu tidak ada sesuatu di atas Mu. Engkau lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari Mu. Lunasilah hutang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim No.2713)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa maksud utang dalam hadits tersebut adalah kewajiban pada Allah Ta’ala dan kewajiban terhadap hamba seluruhnya. Intinya mencakup segala macam kewajiban”. (Syarh Shahih Muslim, 17:33).

Juga dalam hadits di atas diajarkan adab sebelum tidur yaitu berbaring pada sisi kanan. Semoga bisa diamalkan dan Allah memudahkan segala urusan kita dan mengangkat kesulitan yang ada.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama tahun 1433H.

Kok ‘Rebutan Masjid’?

Bingung dengan judul diatas? Nggak usah bingung. Terkadang kejadian-kejadian di lingkungan sekitar itu membuat kita tersenyum sendiri.

Bermunajad kepada Alloh

Bagaimana tidak. Ketika masjid belum ada, masyarakat merindukan adanya tempat beribadah bersama, tempat yang bisa dijadikan sebagai sarana penguat silaturahim dan persatuan ummat.

Akan tetapi, justru ketika masjid sudah didirikan dengan susah payah, masjid menjadi sarana perpecahan diantara kelompok masyarakat.

Diantara pengurus DKM itu yang saling berebut pengaruh dalam memanfaatkan masjid. Pengurus yang satu memiliki agenda sesuai keinginan kelompoknya. Sementara kelompok pengurus yang lain juga memiliki agenda tensendiri.

Termasuk dalam membangun penambahan fasilitas masjid juga masing-masing kelompok melakukan penggalangan dana sendiri dan uang nya tidak mau digabung dengan kas masjid. Lucu ya. Maksudnya apa ya?

Entah apa niatnya. Akan tetapi, apabila niatnya semata-mata karena Alloh dan berfastabiqul khoirot, tentu tidak harus saling berebut pengaruh, apalagi kesannya seolah ingin diakui keberadaannya di tengah jamaah masjid.

Hal ini yang membuat saya ingin tertawa sendiri. Kelihatannya ingin memakmurkan masjid tapi, kesan yang tampak malah ingin menonjolkan kemampuan kelompoknya. Yang seperti ini, apakah mereka tidak sadar bahwa Alloh SWT tidak menyukainya? Melakukan sesuatu yang tidak ikhlas karenaNya semata.

Membangun keikhlasan memang tidak mudah. Perlu cara dan waktu yang panjang untuk bisa melakukannya dengan baik. Semoga kita menjadi orang yang selalu melakukan muhasabah dan introspeksi atas amalan-amalan kita.

Opini & Motivasi