Manajer

Semua manajer bekerja dalam sebuah organiasasi dimana sekelompok orang yang bekerja bersama dan berkoordinasi dalam pekerjaan-pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan atau hasil organisasi di masa yang akan datang.

Membangun sistem
Membangun sistem

Keluasan arti seorang manajer diuraikan secara lebih konkret sebagai berikut :

  • Orang dalam organisasi yang memiliki tanggung jawab atas hasil dari satu atau lebih orang lain. Tanggung jawab utama seorang manajer adalah memfasilitasi suatu organisasi dalam mencapai kinerja tinggi melalui pemanfaatan semua sumber daya, baik tenaga manusia maupun material.
  • Manajer adalah kepada siapa bawahan melapor. Orang-orang dalam organiasasi yaitu manajer dan bawahan adalah merupakan sumber daya manusia yang sangat penting dalam organisasi.
  • Manajer merupakan orang yang bertugas untuk menggunakan sumber daya material seperti: informasi, teknologi, bahan baku, fasilitas dan uang untuk memproduksi barang dan jasa yang dapat ditawarkan organisasi kepada para pelanggan.

Henry Mintzberg mengemukakan bahwa, manajer harus dapat menyelesaikan tugas-tugasnya melalui orang lain. Jika para bawahan bekerja dengan baik, maka organisasi pun akan memiliki konerja yang baik dan sebaliknya, jika bawahan tidak bekerja dengan baik, maka kinerja organisasi pun juga tidak baik. Bawahan akan bekerja dengan baik tergantung bagaimana manajer melakukan tugas-tugas kepemimpinannya.

Tugas Manajer

Seorang manajer dikatakan telah bekerja secara efektif apabila ia menggunakan sumber daya yang ada dalam organisasi dengan cara-cara yang dapat mencapai hasil kinerja yang tinggi dan tingkat kepuasan yang tinggi bagi orang-orang yang mengerjakan tugas-tugas yang dibutuhkan. Hal ini diperlukan karena, tanpa kepuasan kinerja yang baik akan sulit dipertahankan dalam jangka yang panjang.

Semua manajer menghadapi tugas dan tantangan yang sama dalam mengejar efektivitas organisasi yang dipimpinnya. Para manajer mensupervisi bawahan yang secara bersama-sama membentuk sebuah unit kerja dan pada saat bersamaan mereka melapor kepada para manajer yang lebih tinggi tingkatannya.

Mareka melaporkan kepada atasannya terhadap bagaimana peran mereka masing-masing dijalankan atau bagaimana mereka mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang telah dibebankan kepada mereka. Mereka melaporkan mengenai kinerja unit kerja yang mereka pimpin. Tugas manajerial merupakan tugas yang penuh dengan ketidakpastian, perubahan, interupsi, dan kegiatan terfragmentasi.

Para manajer melakukan tugas yang beragam. Sebagai gambaran, dalam satu hari seorang manajer mungkin harus membuat keputusan mengenai desain produk baru, mengatasi keluhan antara bawahannya, menulis laporan kepada atasan, mengkoordinasikan usaha patungan dengan seorang kolega di luar negeri, membentuk satuan tugas untuk menyelidiki suatu permasalahan dan menangani keresahan buruh.

Untuk menjalankan tugas-tugasnya, para manajer haruslah memiliki keterampilan yang memungkinkannya menjalankan tugas secara baik (Gomez-Mejia, et al, 2005:13), yaitu :

  • Keterampilan Strategis. Keterampilan ini berkaitan dengan bagaimana manajer menilai lingkungan, perumusan strategi perusahaan, pemetaan tujuan strategis, menetapkan misi, impelemntasi strategi dan kesesuaian sumber daya manusia.
  • Keterampilan Tugas. Menetapkan prioritas tujuan, menyusun rencana aksi dan implementasi, bekerja melalui struktur organisasi, mengelola waktu secara efisien dan lain-lain.
  • Keterampilan Orang. Manajer melakukan pendelegasian wewenang, mempengaruhi orang lain, memotivasi bawahan, menangani konflik, manajemen lintas budaya, kerjasama tim yang heterogen dan lain-lain.
  • Keterampilan Kesadarandiri. Manajer harus bisa melakukan penyesuaian diri, memahami prasangka pribadi dan pengendalian internal.

Manajer juga harus siap dihujani dengan surat, dering telepon, dan pihak-pihak yang ingin menemuinya. Manajer harus mampu  melakukan pengambilan keputusan secara cepat dan menyiapkan rencana dalam waktu yang sangat terbatas.  Membuat keputusan yang kritis di bawah tekanan yang berat dan mampu melaksanakannya dengan baik merupakan salah satu sumber kepuasan yang sebenarnya. Para pakar dan para eksekutif yang berhasil menyatakan bahwa manajer yang efektif merupakan kombinasi dari pelaksanaan ilmu pengetahuan dan seni mengatur.

Buku Teori dan Praktek Manajemen

 

Dua Keimanan

Pada dasarnya, baik kami maupun umat kami, sama-sama beriman pada prinsip ini. Bedanya, keimanan mereka terbius dan tertidur lelap dalam jiwa mereka. Mereka tidak ingin menaati hukumnya dan melaksanakan tuntutannya. Sebaliknya, keimanan Ikhwan selalu bergelora, berkobar, kuat dan hidup dalam jiwa.

Bermunajad kepada Alloh

Kami dan orang lain dapat merasakan sebuah fenomena psikologis mengagumkan dalam jiwa kita -orang-orang Timur, yaitu bahwa kita sering mengimani sebuah fikrah, yang ketika dibicarakan dengan orang lain, terkesan seolah-olah fikrah itu dapat menghancurkan gunung, mengurus jiwa dan harta, membuat tahan uji menghadapi berbagai kesulitan dan berani melawan berbagai tantangan hingga kita mendapat kemenangan bersamanya atau ia menang bersama kita.

Tetapi, ketika gelora retorika itu reda dan semua orang lupa terhadap keimanannya dan lalai pada fikrahnya. Ia tidak berfikir untuk mengamalkannya dan tidak berniat jihad di jalanny, meski dengan selemah-lemah jihad. Bahkan terkadang kelalaian itu bertambah, hingga membuatnya melakukan hal yang bertabrakan dengan fikrahnya, baik sadar atau tidak sadar.

Bukankah anda akan tertawa heran, ketika melihat seorang tokoh pemikir, aktivis, dan ilmuan, yang dalam rentang waktu dua jam menjadi atheis bersama orang-orang atheis, sekaligus ahli ibadah bersama ahli ibadahnya.

Sikap pengecut, kealpaan, kelengahan, tidur, atau katakan apa saja yang anda mau, adalah pemicu kami untuk berupaya menghidupkan “prinsip kami”. Yaitu prinsip yang telah diterima oleh jiwa kaum yang kami cintai.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 23-24

Tingkatan dan Peranan Manajemen

Tingkatan Manajemen

Teoretikus manajemen, Robert N.Antony memberikan nama untuk pembagian tiga tingkat manajemen utama, yaitu puncak, menengah dan rendah. Para mananjer di puncak hierarki organisasi, seperti presiden dan wakil presiden seringkali disebut berada pada tingkat perencanaan strategis (strategic planning level), mengakui adanya fakta bahwa keputusan mereka seringkali akan memiliki dampak pada keseluruhan organisasi selama bertahun-tahun kemudian.

Membangun sistem
Membangun sistem

Manajer tingkat menengah meliputi manajer regional, direktur produk dan kepala divisi. Pada tingkatan ini disebut tingkat kendali manajemen (management control level). Hal ini dikarenakan manajer tingkat menengah memiliki tanggung jawab untuk menjalankan rencana dan memastikan tercapainya tujuan. Manajemen tingkat ini disebut juga tingkat taktis.

Manajer tingkat rendah meliputi kepala departemen, penyelia dan pimpinan proyek. Tingkat terendah ini disebut tingkat kendali operasional (operational control level). Hal ini dikarenakan di sinilah operasi perusahaan benar-benar terjadi.

 Peranan Manajemen

Agar organisasi dapat survive dan berkembang, maka ia harus mencapai tujuan-tujuannya. Memproduksi barang dan jasa memenuhi permintaan pasar melibatkan usaha bersama dari banyak orang. Usaha bersama ini harus dikoordinasikan dan dikelola pada banyak tingkatan yang berbeda, yaitu di dalam organisasi, antar organisasi, pada tingkatan nasional dan internasional.

Sebuah usaha bisnis dengan akses ke bahan baku, mesin, dana dan tenaga kerja akan gagal apabila tidak disertai unsur terpenting, yaitu kemampuan untuk menggunakan sumber daya tersebut secara efisien. Tidak sedikit perusahaan yang mengalami kegagalan sebagai akibat dari salah urus atau mismanajemen. Kondisi tersebut sebagian disebabkan karena tidak mumpuninya perencanaan, kurangnya wawasan atau pandangan masa depan dan mungkin saja nasib yang tidak mujur. Namun, kunci dari semua itu adalah sumber daya hanya bisa digunakan secara proporsional oleh manajer yang efektif.

Oleh karenanya, peranan dari manajemen senantiasa dipandang penting dan menonjol dalam bisnis dan masyarakat. Semua organisasi bertanggung jawab kepada orang atau pihak tertentu, apakah para pemilik (pemegang saham), kalangan masyarakat tertentu atau masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, dipastikan akan ada orang atau pihak yang pada akhirnya menilai baik atau tidaknya kinerja suatu organisasi.

Manajer puncak dari suatu organisasi tentunya dengan bantuan manajer umum dan para ahli mengendalikan arah dari organisasi agar dapat mencapai tujuan dengan sebaik mungkin. Hal ini terutama sekali ketika organisasi sedang menghadai masa-masa sulit. Manajemen memiliki peranan amat penting karena ia merupakan kunci bagi tercapainya keberhasilan organisasi. Kualitas dari manajemen  menjadi pertimbangan penting pada saat dilakukan penilaian atas kelayakan usaha, tingkat kepercayaan dan prospek sebuah organisasi bisnis. Harga saham merupakan salah satru cerminan keberhasilan sebuah manajemen perusahaan publik.

Manajemen, sebuah Prinsip yang Mendunia

Tidak berlebihan kiranya apabila dikataka bahwa prinsip-prinsip yang diterapkan dalam manajemen merupakan prinsip yang bersifat universal. Ia dapat diterapkan pada semua jenis organisasi, baik organisasi yang berorientasi pada laba seperti perusahaan maupun organisasi yang bersifat nirlaba seperti organisasi olahraga, lembaga keagamaan, rumah sakit, atau yayasan sosial dan juga untuk berbagai tingkatan organisasi.

Tugas-tugas manajer berbeda dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Hal ini dikarenakan setiap organisasi membutuhkan penggunaan pengetahuan tertentu, berada dalam lingkungan kerja dan lingkungan politik yang berlainan dan penggunaan atau kebutuhan teknologi yang berbeda. Henry Fayol, seorang perintis bidang ilmu manajemen menyatakan bahwa “semua manajer harus memiliki karakteristik tertentu, seperti kualitas fisik dan mental yang positif serta pengetahuan tertentu yang berhubungan pekerjaan yang khusus”. BC.Forbes menekankan pentingnya persyaratan atau kualifikasi pribadi yang lebih khusus. Faktor-faktor semangat, kesungguhan maksud, kepercayaan diri, dan keyakinan akan manfaat diri merupakan karakteristik pokok dari para manajer yang meraih keberhasilan dalam karier mereka. Fayol dan Forbes sepakat bahwa unsur-unsur dasar dari keberhasilan manajemen dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi.

Manajemen

Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata[1].

Membangun sistem
Membangun sistem

Menurut James A.F. Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan[2].

Menurut R.W.Griffin (1997:5-6), manajemen adalah serangkaian kegiatan –termasuk perencanaa dan pembuatan keputusan, pengorganisasian, pimpinan dan pengendalian- yang diarahkan pada sumber daya organisasi (tenaga kerja, keuangan, fisik, dan informasi) yang bertujuan untuk mencapai sasaran organisasi dengan cara yang efisien dan efektif[3].

Mary Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut definisi ini manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaannya. Manajer tidak mengerjakan sendiri semua tugas-tugasnya[4].

Luther Gulick mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja  bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan[5].

Sekalipun sampai sekarang belum ada kesepakatan universal mengenai definisi manajemen, kita dapat mendefinisikan manajemen secara lebih sederhana dimana, manajemen adalah bagaimana manajer menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Bagaimana manajer memilih tujuan yang tepat melalui serangkaian proses pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sementara efektif merupakan sejauh mana personil yang ada melakukan pekerjaan dengan benar melalui serangkaian kegiatan pengawasan yang sistematis dan berkesinam-bungan.

Para pemikir manajemen kontemporer menyatakan bahwa manajemen mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu :

  • Manajemen merupakan sebuah proses atau serangkaian kegiatan saling berkaitan dan berkelanjutan.
  • Manajemen menyangkut dan memusatkan bagaimana mencapai tujuan-tujuan organisasi.
  • Dalam mencapai tujuannya, manajemen melakukan pekerjaan bersama, melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya.

 Empat fungsi dasar yang selalu dilakukan oleh proses manajemen, yaitu :

  • Perencanaan. Perencanaan (planning) berkaitan dengan pemilihan tugas-tugas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi, memberikan cara bagaimana tugas-tugas tersebut harus dilakukan dan memberikan indikasi mengenai kapan hal-hal tersebut dilaksanakan. Kegiatan perencanaan ini difokuskan pada pencapaian tujuan. Melalui perencanaan, para manajer menetapkan secara jelas apa yang harus dikerjakan organisasi agar dapat berhasil. Perencanaan organisasi menyangkut keberhasilan organisasi dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
  • Pengorganisasian. Pengorganisasian (organizing) adalah penyerahan tugas-tugas sebagaimana ditetapkan dalam perencanaan kepada berbagai individu atau kelompok di dalam organisasi. Jadi, organisasi menciptakan sebuah mekanisme untuk mengubah rencana menjadi tindakan. Orang-orang di dalam organisasi diberikan penugasan yang dapat menyumbang pada tercapainya tujuan. Tugas-tugas tersebut diatur sehingga hasil kerja individu menyumbang pada keberhasilan bagian-bagian, yang kemudian menyumbang pada keberhasilan divisi-divisi, dan pada akhirnya menyumbang pada keberhasilan secara keseluruhan dari organisasi.
  • Pengarahan. Pengarahan (directing) dan disebut pula dengan istilah penggerakan (actuating), pemotivasian (motivating), penuntunan (leading), atau pemberian pengaruh (influencing), berkaitan dengan orang-orang yang ada di dalam organisasi. Pengarahan adalah proses yang menuntun kegiatan-kegiatan dari para anggota organisasi kearah tujuan yang selayaknya, yaitu arah yang membantu organisasi bergerak menuju pencapaian tujuan.
  • Pengendalian. Pengendalian (controlling) adalah fungsi manajemen di mana para manajer menghimpun informasi untuk mengukur kinerja dari organisasi, membandingkan kinerja yang terjadi dengan standar kinerja yang telah ditetapkan, dan menentukan apakah organisasi harus dimodifikasi guna memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pengendalian ini merupakan proses yang terus berkelanjutan dan bertujuan mencari cara-cara untuk meningkatkan produksi melalui modifikasi organisasi.

[1] Terry, George F. dan Leslie W.Rue. 2001. Dasar-dasar Manajemen Cetakan Kedelapan. Jakarta : PT.Bumi Aksara. Hlm.3

[2] Handoko, T.Hani. 2003. Manajemen Cetakan Kedelapanbelas Edisi 2. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta. Hlm.8

[3] Sebagaimana dikutip oleh : Puspopranoto, Sawaldjo. 2006. Manajemen Bisnis; Konsep, Teori dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit PPM. Hlm.99

[4] Handoko, T.Hani. 2003. Manajemen Cetakan Kedelapanbelas Edisi 2.

Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta. Hlm.10

[5] Handoko, T.Hani. 2003. Manajemen Cetakan Kedelapanbelas Edisi 2.

Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta. hlm.11

Organisasi

Organisasi adalah “sekumpulan orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama”[1]. Dalam sebuah organisasi memungkinkan orang-orang dapat melaksanakan pekerjaannya yang jauh lebih besar daripada apabila hanya diraih sendirian.

Organisasi
Membangun sistem

Setiap organisasi setidaknya memiliki tiga unsur utama dalam pengelolaannya, yaitu :

  • Maksud, yaitu organisasi memiliki tujuan untuk memproduksi barang atau jasa yang bernilai atau bermanfaat bagi pelanggannya.

Untuk membuktikan keberadaan suatu organisasi, organisasi memproduksi barang dan / atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan atau rekanannya.

  • Pembagian kerja, yaitu organisasi memberikan tugas yang berbeda atas setiap orang yang mana mereka bertindak baik secara perseorangan dan / atau secara kelompok.

Orang-orang dalam organisasi melakukan banyak tugas yang berbeda, jika digabungkan semua pekerjaan tersebut secara bersama, maka harus menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas. Pembagian kerja merupakan sebuah proses pemecahan tugas-tugas besar dan penugasan tugas-tugas yang lebih kecil kepada tiap individu atau tiap kelompok. Pembagian kerja ini tentunya harus dikoordinasikan satu sama lain agar bisa mewujudkan maksud-maksud bersama yang sudah direncanakan oleh organisasi.

  • Hierarki wewenang, yaitu dalam organisasi mengatur tingkatan-tingkatan posisi setiap orang dengan wewenang yang semakin meningkat.

Cara untuk merealisasikan pembagian tugas-tugas untuk tiap individu atau kelompok adalah hierarki wewenang, yaitu pengaturan para pimpinan di berbagai level atau jenjang kepemimpinan dengan kewenangan yang semakin besar dari bawah ke atas.

Hierarki wewenang ini harus menjelaskan pertanggung-jawaban kinerja untuk setiap karyawan kepada pimpinan yang lebih tinggi tingkatannya. Wewenang seorang pimpinan adalah untuk memberikan tugas-tugas dan mengarahkan kegiatan bawahan dengan cara yang dapat mendukung terwujudnya maksud organisasi.

Apa yang Dikerjakan Organisasi

Menurut J.R.Schermerhorn, Jr, organisasi merupakan “sebuah sistem terbuka yang berinteraksi dengan lingkungannya dalam proses yang berkelanjutan dari transformasi masukan sumber daya menjadi keluaran produk jadi dan jasa” [2].

Dalam kaitan peranan dari umpan balik pelanggan amat penting. Tanpa kesediaan pelanggan untuk menggunakan produk yang dihasilkan organisasi, maka dalam jangka panjang akan sulit untuk memperoleh keanekaragaman masukan sumber daya yang dibutuhkan guna tetap bertahan dalam bisnis.

Hal ini dapat dimaklumi mengingat menurut pandangan organisasi sebagai suatu sistem terbuka, pelanggan ditempatkan sebagai faktor yang sangat menentukan.

 

Bentuk Organisasi

Banyak bentuk kepemilikan organisasi atau perusahaan. Pemilihan bentuk kepemilikan organisasi merupakan keputusan manajemen yang amat penting. Hal ini disebabkan bentuk kepemilikan usaha yang dipilih dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan atau kegagalan usaha yang dijalankan.

Diperlukan usaha-usaha untuk memilih bentuk organisasi dan kepemilikan yang terbaik sesuai dengan tujuan atau arah organisasi yang dibentuk. Kita harus melakukan analisis dan mempertimbangkan kelebihan dan kerugian dari setiap bentuk organisasi. Keputusan yang dibuat biasanya ditentukan atas dasar beberapa kriteria umum, sebagai berikut :

  • Jenis usaha. Perusahaan yang akan didirikan bergerak dibidang pabrikasi (manufaktur), perdagangan, atau jasa.
  • Ruang lingkup operasional. Hal ini menyangkut volume usaha dan luas wilayah yang dilayani.
  • Jumlah modal. Ketersediaan modal yang dimiliki oleh pendiri perusahaan untuk pengembangan awal dan perluasan.
  • Resiko. Maksudnya adalah sejauh mana ketersediaan pemilik untuk memikul kewajiban pribadi atas kewajiban perusahaan.
  • Tingkat pengendalian. Sampai sejauh mana pemilik menghendaki pengendalian langsung kepada karyawannya.
  • Pembagian keuntungan seperti apa yang dikehendaki oleh para pemilik usaha.
  • Umur. Berapa lama umur perusahaan yang dikehendaki pemilik perusahaan.

Macam-macam bentuk organisasi dan kepemilikan usaha dapat dibedakan atas :

  • Perusahaan perseorangan (sole proprietorship).
  • Perkongsian (general partnership).
  • Perkongsian terbatas (limited partnership).
  • Korporasi (corporations).
  • Usaha patungan (joint venture).
  • Sindikat (sindicates).
  • Koperasi (cooperatives).

Organisasi dan Lingkungannya

Dalam kerangka manajemen modern, organisasi dipandang sebagai sebuah sistem terbuka[3]. Sebuah organisasi dipengaruhi dan memengaruhi lingkungan di mana organisasi berada.

Lingkungan organisasi dapat dibedakan atas lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal meliputi faktor-faktor yang ada di dalam organisasi yang berpengaruh terhadap manajemen organisasi, sedangkan lingkungan eksternal terdiri atas faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi dari luar batas organisasi.  Lingkungan eksternal dari sebuah organisasi pada umumnya dibedakan atas lingkungan umum yang meliputi faktor-faktor ekonomi, sosial-budaya, politik-hukum, teknologi dan alam sekitar dan  lingkungan khusus -atau bisa juga disebut lingkungan tugas- yang meliputi pemasok, pelanggan, pesaing, pembuat peraturan dan serikat pekerja. Lingkungan internal meliputi faktor-faktor seperti visi-misi, budaya perusahaan, gaya manajemen, kebijakan organisasi, karyawan, hubungan antar divisi dan organisasi informal.

Perspektif dari lingkungan internal dan lingkungan eksternal dalam hubungannya dengan organisasi dapat digambarkan sebagai berikut :

  • Lingkungan internal berpengaruh langsung terhadap tingkat kemampuan dalam proses yang meliputi ketiga subsistem yang ada di dalam sistem organisasi, yaitu masukan (input), transformasi dan keluaran (output).
  • Lingkungan eksternal sebagai sumber untuk pemasok dari sumber daya dan konsumen dari output. Seberapa besar lingkungan ini –termasuk berbagai elemen dan kekuatan di dalamnya- dapat mendukung organisasi akan membawa dampak terhadap operasi dan kinerja organisasi. Hubungan baik antara organisasi dengan para pemasok akan lebih menjamin kelancaran masuknya sumber daya yang dibutuhkan dan pelanggan yang merasa puas akan mendukung permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan oleh organisasi.

Lingkungan Umum

Keberadaan organisasi tidak akan lepas dari kondisi-kondisi lingkungan yang melingkupinya. Lingkungan umum (general environment) terdiri dari kondisi-kondisi latar belakang dalam lingkungan eksternal yang dapat berpengaruh besar terhadap kegiatan operasional dari sebuah organisasi.

  • Elemen ekonomi, yaitu keadaan umum dari perekonomian yang berkaitan dengan inflasi, konvertibilitas mata uang, suku bungan perbankan, penghasilan per kapita, produk domestic bruto, kebijakan moneter dan fiskal, sistem perpajakan, penduduk, pengangguran, tingkat upah dan indikator-indikator ekonomi lainnya tentunya yang berkaitan.
  • Elemen hukum-politik, yaitu ideology politik, partai dan organisasi politik, bentuk pemerintahan, hukum, undang-undang dan peraturan pemerintah yang mempengaruhi transaksi bisnis, perjanjian dengan Negara lain, hak paten, merek dagang dan lain-lain.
  • Elemen teknologi, yaitu kondisi umum dari pengembangan dan tersedianya teknologi di dalam lingkungan, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan.
  • Elemen lingkungan alam, yaitu kondisi umum dari alam dan kondisi lingkungan fisik.

Kondisi dalam lingkungan umum tersebut banyak berbeda antara satu Negara dengan Negara yang lainnya. Perbedaan ini akan sangat dirasakan oleh perusahaan yang beroperasi dalam skala internasional. Para manajer yang berhasil dari perusahaan ini dapat memahami berbagai perbedaan ini dan membentu organisasi dalam membuat penyesuaian operasional yang diperlukan.

Lingkungan Khusus

Lingkungan khusus (specific environment) ini terdiri atas organisasi, kelompok dan perorangan yang aktual dengan siapa sebuah organisasi harus berinteraksi agar dapat beroperasi dan berkembang. Lingkungan ini adalah bagian-bagian lingkungan sebagai konsekuensi langsung bagi perusahaan karena beroperasi dari waktu ke waktu. Lingkungan ini seringkali disebut juga sebagai lingkungan tugas (task environment), lingkungan ini berbeda untuk setiap organisasi, tergantung pada situasi dan domain operasi yang unit dari organisasi.

Begian-bagian penting dalam lingkungan khusus dari sebuah organisasi meliputi, sebagai berikut :

  • Pelanggan, yaitu kelompok, individu dan organisasi konsumen atau nasabah tertentu yang membeli barang dari organisasi dan/atau menggunakan jasanya.
  • Pemasok, yaitu pemberi sumber daya manusia, informasi, dan keuangan serta bahan mentah tertentu yang dibutuhkan oleh organisasi untuk beroperasi.
  • Pesaing, yaitu organisasi tertentu yang menawarkan barang dan jasa yang sama atau serupa kepada kelompok konsumen atau nasabah yang sama.
  • Pembuat peraturan, yaitu badan-badan atau perwakilan-perwakilan pemerintah tertentu pada tingkat lokal (tingkat kabupaten, daerah (tingkat propinsi) dan pusat (nasional) sebagai penegak hukum dan peraturan yang berpengaruh terhadap kegiatan operasional organisasi.
  • Serikat pekerja, yaitu organisasi yang menghimpun para pekerja untuk memperjuangkan aspirasi para anggotanya.

[1] Puspopranoto, Sawaldjo. 2006. Manajemen Bisnis; Konsep, Teori dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit PPM. Hlm.96.

[2] Sebagaimana dikutip oleh Puspopranoto, Sawaldjo. 2006. Manajemen Bisnis; Konsep, Teori dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit PPM. Hlm.97.

[3] Puspopranoto, Sawaldjo. 2006. Manajemen Bisnis; Konsep, Teori dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit PPM. Hlm.46.

Menuju Solusi

Saudaraku, ketahui dan belajarlah, bahwa kondisi suatu umat dalam hal kuat, lemah, remaja, tua, sehat dan sakit sama persis dengan keadaan seorang manusia.

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

Terkadang seseorang terlihat kuat, bugar, dan sehat, tapi tiba-tiba saja ia kelihatan terserang penyakit dan badannya yang kuat digerogoti penyakit. Ia selalu mengeluh dan merintih, hingga ia tertoling oleh rahmat Allah melalui dokter dan ahli medis profesional yang mengetahui letak penyakit, piawai dalam mendiagnosa dan menganalisa jenis penyakit, kemudian dengan tulus melakukan pengobatan.

Kejadian-kejadian zaman sekarang membawa sesuatu yang dapat mengancam eksistensinya, meretakkan bangunannya, dan virus penyakit menggerogoti aspek-aspek kekuatannya.

  1. Secara politik, umat mendapat musibah penjajahan.
  2. Dalam bidang ekonomi, umat terserang penyakit riba yang sudah tersebar di seluruh tingkatan masyarakatnya, serta dominasi perusahaan-perusahaan asing atas sumber pendapatan dan kekayaan alamnya.
  3. Dalam bidang pemikiran, umat terserang kerancuan, nyeleneh, pemurtadan dan atheisme yang meruntuhkan akidahnya dan menghancurkan idealisme dalam jiwa rakyatnya.
  4. Dalam bidang sosial, ia terserang budaya hedonisme, dekadensi moral, pelepasan nilai-nilai kemuliaan yang diwarisi dari generasi pendahulu yang cemerlang.
  5. Dalam bidang kejiwaan, ia dijangkiti keputusasaan yang membinasakan, kemalasan yang mematikan, sikap pengecut yang memalukan, kerendahan yang menghinakan, sifat banci yang mewabah, serta egoisme yang menghambat tangan untuk berkarya, menghalangi jiwa untuk berkorban dan menyeret umat keluar dari barisan mujahidin menuju barisan orang-orang yang lengah dan lalai.

Saudaraku, inilah diagnosa Ikhwanul Muslimin atas penyakit-penyakit umat ini.

Inilah yang ikhwan lakukan untuk menyembuhkan umat dari penyakit tersebut, hingga kesehatan dan keremajaan umat yang telah hilang kembali seperti sedia kala.

Pertama; Manhaj yang benar. Ikhwan menemukannya dalam Kitab Allah, Sunah Rasul-Nya dan hukum-hukum Islam yang dipahami oleh kaum Muslimin sebagaimana adanya.

Kedua; Aktivis yang beriman. Itulah sebabnya Ikhwanul Muslimin berusaha menerapkan agama Allah yang telah mereka pahami dengan tidak mengenal kelelahan dan kelembekan. Alhamdulillah, mereka selalu yakin dengan fikrah mereka, tenang dengan tujuan mereka, percaya pada dukungan Allah.

Ketiga; Pemimpin yang tegas dan terpercaya.  Ini pun telah ditemukan oleh Ikhwanul Muslimin. Mereka selalu taat kepada pemimpin mereka dan bekerja di bawah benderanya.

 

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 54-64

 

Sikap Kami Terhadap Berbagai Isme

Sikap kami terhadap berbagai isme yang kini merajalela, mencabik-cabik hati, dan mengacaukan pikiran, adalah menimbangnya dengan timbangan dakwah kami. Yang sesuai dengan dakwah kami, akan kami sambut. Sedangkan yang tidak sesuai, maka kami berlepas diri darinya. Kami percaya bahwa dakwah kami bersifat universal dan integral.

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

NASIONALISME

Banyak orang terpesona dengan seruan nasionalisme atau paham

kebangsaan, khususnya di Timur. Sebab bangsa-bangsa Timur benar-benar merasakan kejahatan Barat. Bangsa-bangsa Timur merasakan sakitnya penjajahan Barat yang dipaksakan.

Dan, sekarang mereka sedang berusaha membebaskan diri dari penjajahan dengan segenap kemampuan, kekuatan, keuletan, jihad dan ketegaran. Tentu saja yang demikian itu baik dan indah. Tapi menjadi tidak baik dan indah, manakala anda berusaha memahamkan masyarakat, yang notabene muslim, bahwa nasionalisme dalam Islam lebih sempurna, bersih, mulia dan cerdas daripada yang dikumandangkan orang-orang Barat dan ditulis orang-orang Eropa.

NASIONALISME KERINDUAN

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyeruan adalah cinta tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya. Nasionalisme semacam ini, adalah hal yang telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahkan oleh Islam.

NASIONALISME KEBEBASAN DAN KEHORMATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putranya, maka kami bersama mereka dalam hal itu. Sebab Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya. Lihatlah firman Allah SWT.,

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (An-Nisa: 141)

 NASIONALISME KEMASYARAKATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan memimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka kami juga sepakat dengan mereka. Karena Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi SAW bersabda: “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

NASIONALISME PEMBEBASAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah pembebasan negara-negara dan kepemimpinan dunia, maka Islam telah mewajibkan hal tersebut dan mengarahkan para pembebas pada pemakmuran yang paling afdhal serta pembebasan yang paling berkah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT.,

“Dan perangilah meraka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk /allah belaka…” (Al-Baqarah: 193)

NASIONALISME KEPARTAIAN

Tapi jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme itu adalah memecah belah umat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, memendam dendam, mencaci, melempar tuduhan, dan saling membuat tipu daya. Juga mendukung sistem buatan manusia yang dipandu syahwat, diformat ambisi duniawi, dan ditafsirkan sesuai kepentingan pribadi. Sehingga musuh leluasa memanfaatkan semua itu untuk kepentingannya, bebas mengobarkan api permusuhan, memecah belah umat dalam kebenaran, menyatukan mereka dalam kebatilan, merintangi terjadinya hubungan serta kerja sama antar bagian umat dengan bagian yang lain, dimana hubungan hanya boleh terjalin dan berhimpun atas dasar nasionalisme ini, hingga umat hanya memperhatikan organisasi atau negerunya dan tidak berkumpul, kecuali orang-orang yang sekelompok dengannya.

Nasionalisme seperti itu adalah nasionalisme palsu yang tidak membawa kebaikan, baik bagi penyerunya maupun bagi masyarakat luas.

BATASAN NASIONALISME KAMI

Perbedaan antara kami dengan mereka adalah, bahwa kami menganggap batas nasionalisme adalah akidah, sementara mereka menganggap batasnya adalah teritorial negara dan batas-batas geografis. Bagi kami, setiap jengkal tanah yang dihuni muslim yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’, adalah tanah air kami yang behak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan dan jihad demi kebaikannya.

Sementara para penyeru nasionalisme murni tidak seperti itu. Perharian mereka hanya pada urusan wilayah terbatas dan sempit di bumi ini.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 30-37

Empat Golongan Manusia

Yang kami inginkan dari umat adalah hendaknya mereka menjadi salah satu dari empat golongan terhadap dakwah kami:

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

Mukmin

Boleh jadi seorang yang meyakini dakwah kami, membenarkan perkataan kami, mengagumi prinsip-prinsip kami, dan menemukan padanya kebaikan yang dapat menenangkan jiwanya dan menentramkan nuraninya.

Kepada orang seperti ini kami mengajak untuk segera bergabung dan bekerja bersama kami, agar jumlah para mujahid semakin banyak, dan dengan suaranya, suara pada da’i akan semakin meninggi.

Orang yang Ragu

Boleh jadi ia belum mendapatkan kejelasan tentang kebenaran, dan belum mengenal makna keikhlasan, serta manfaat dibalik ucapan-ucapan kami.

Orang seperti ini kami biarkan bersama keraguannya. Disamping itu kami memberi saran kepadanya agar tetap berhubungan lebih dekat lagi dengan kami, memperhatikan kami dari dekat atau dari jauh, mengkaji tulisan-tulisan kami, mengunjungi pertemuan-pertemuan kami dan berkenalan dengan saudara-saudara kami. Setelah itu, insya Allah ia akan percaya  kepada kami. Memang begitulah keadaan orang-orang yang ragu dari kalangan pengikut rasul-rasul dahulu.

Orang Oportunis

Boleh jadi ia adalah sosok yang tidak mau memberikan dukungannya, kecuali setelah mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dan keuntungan yang dihasilkan dari pengorbanannya.

Kami katakan kepadanya, “Kasihanilah dirimu! Kami tidak menjanjikan apa-apa, kecuali pahala dari Allah, jika anda ikhlas. Juga surga, jika Allah mengetahui ada kebaikan pada diri anda.

Orang yang Arogan

Boleh jadi seseorang yang berprasangka buruk dan ragu-ragu kepada kami. Ia tidak melihat kami, kecuali dengan kacamata hitam pekat. Ia tidak berbicara tentang kami, kecuali dengan bahasa sinis dan membuat orang ragu. Dan ia tenggelam dalam kecongkakan, silau dalam keraguannya, dan tetap bertahan pada praduga-praduganya.

Untuk orang seperti ini, kami hanya memohon kepada Allah SWT agar memperlihatkan keapda kami dan kepadanya kebenaran sebagai kebenaran dan memberi rezeki kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi rezeki kepada kami untuk menjauhinya. Juga semoga Allah mengilhamkan kesadaran kepada kami semua.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 16-20.

Mencari Kebahagiaan

Seorang pemuda duduk dengan tatapan kosong di samping telaga. Dia sedang galau dan tidak bahagia.

“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.

Mencari kebahagiaan
Kebahagiaan

Anak muda itu menoleh sambil berkata. “Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berusaha mencari kebahagiaan, tapi tak kunjung ku dapatkan.” Keluh si anak muda dengan wajah muram.

“Di depan sana ada sebuah taman. Coba ke sana dan tangkap seekor kupu-kupu. Setelah itu aku jawab pertanyaanmu,” jawab si kakek.

Meski ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk.

Tiba di sana, dia takjub melihat taman indah dan kupu-kupu yang beterbangan.

Si pemudah mengendap-endap menuju sasarannya. Hap…! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap…! Lagi-lagi gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rumput, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.

Si kakek berkata, “Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari kesana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?”

“Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisiknya, biarkan kecantikannya memenuhi alam semesta ini. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.”

“Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan. Ia tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah baik-baik, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri.”

Kakek itu mengangkat tanggannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Kebahagiaan sesungguhnya tidak jauh, dia ada di setiap hati yang selalu bersyukut. Tidak perlu mencari biarkan dia “datang” sendiri.

 

Kisah Inspiratif dari Teman UGM

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang begiku sangat inspiratif.

Guru / dosen sedang mengajar
Guru / dosen sedang mengajar

Tahun 90 an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan, sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak”, jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak”.

“Tapi jadi dosen itu kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub”. Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.”

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas  guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi”.

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati”.

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna “Tidak ada Ilah selain Alloh” yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Wakaf Tunai Pembangunan Gedung SDIT Wirausaha Indonesia

Opini & Motivasi