Kebahagiannya adalah Kebahagiaan Kami

Sampailah anakku di tempat tujuan, yaitu Istanbul, Turki. Mereka berlima sampai di bandara sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sesampainya di Istanbul, mereka langsung membeli kartu perdana seluler dan memesan taksi dan menuju apartemen tempat mereka akan tinggal.

Apartemen Tempat Tinggal Hafshah dan kawan-kawan

Mereka akan tinggal sementara di apartemen tersebut atau mungkin selamanya selama studi di Turki tergantung nanti mendapatkan di mana universitasnya.

Sampai di apartemen sekitar pukul 24.00. Mereka langsung beres-beres dan bersiap untnk istirahat beberapa jam sampai waktu shubuh tiba pukul 03.00.

Jadi mereka punya waktu sekitar 3 jam untuk sekedar melepas penat setelah dalam perjalanan Indonesia – Qatar – Turki yang memakan waktu sekitar 13 jam.

Silakan baca juga: Bagaimana memilih sekolah yang terbaik?

Mereka tinggal di apartemen yang cukup baik, berfasilitas lengkap dan sangat strategis.

Mereka tidak perlu lagi mencuci pakaian, mencuci bekas makan, piring gelas dan lain-lain karena sudah ada abla yang siap melakukan semuanya. Abla (bukan jablay ya) adalah sebutan kakak untuk asisten rumah tangga perempuan. Sedangkan untnk laki-laki sebutannya abi.

Silakan lihat-lihat: SDIT Wirausaha Indonesia

Sewa apartemen cukup murah, yaitu sekitar Rp. 2.5 juta yang jika dibagi 5 orang menjadi Rp. 500.000. Lokasi apartemen sangat strategis karena letaknya di tengah-tengah kota Istanbul bagian asia. Disamping itu ada fasilitas kolam renang yang bisa digunakan kapan pun mau. Bandingkan dengan apartemen di Jakarta, sepertinya jauh lebih mahal.

Jika mau ke mall atau ke kampus cukup dengan berjalan kaki beberapa menit sampai. Oya jika mau ke eropa, cukup naik bus sekitar 40 menitan. Dekat ya?

Makanan di sana juga cukup murah. Makan kentang dan roti di IKEA harganya sekitar Rp.18 ribu. Jika di Kota Jakarta atau Cikarang mungkin sekitar 50 ribuan harganya.

Lingkungan di sana cukup nyaman dengan cuaca mirip di puncak Bogor. Lalu lintas cukup lengang untuk ukuran kota besar di sana. Semoga mereka betah dan dapat menggapai impiannya. Amiin.

Satu Nasehat untuk Anakku

Banyak sudah nasehat yang kami jejalkan untuk anakku jauh-jauh hari sebelum keberangkatan ke Turki.

Dari mulai urusan menjaga kesehatan, menjaga kebersihan diri, makan tepat waktu, manajemen belajar dan manajemen diri. Maklum dia akan pergi ke sebuah negeri yang jauh dari orang tua dan sanak saudara.

Ketika sampai bandara niat hati ingin memberikan seabrek nasehat untuk anakku. Alih-alih memberikan petuah bejibun, eh malah mata ini jadi berkaca-kaca seolah setiap kata yang saya ucapkan menjadi jalan mudah untuk menangis seperti emaknya.

Baru ngomong dua patah kata, mata ini langsung terasa panas, air mata sudah ngembeng dan siap untuk tertumpah.

Akhirnya, mau tidak mau saya harus irit nasehat. Daripada harus nangis tersedu sedan seperti emaknya? Apa kata dunia… haha

Akhirnya, saya hanya memberikan satu nasehat pamungkas, singkat dan padat, “Hafshah ingatlah, kamu harus mampu mengatur diri sendiri di negeri orang”. “Iya bi”, jawabnya sambil menahan air mata yang akan tumpah di kelopak matanya.

Hanya itu yang bisa saya katakan, itu pun dengan susah payah sambil mengatur nafas yang tersengal.

Silakan baca juga: Pilih-pilih sekolah?

Kuliah di Turki, Impiannya Lima Tahun yang Lalu

Semalam kami packing untuk yang terakhir kalinya. Ya hal ini untuk memastikan semua barang-barang keperluan selama di Turki masuk ke dalam kedua koper dan satu tas jinjing.

Mulai dari pakaian rumahan, pakaian musim dingin, pakaian untuk aktifitas kuliah, sandal, sepatu, bumbu-bumbu, sabun, shampoo dan dokumen-dokumen pendukung studi kami pastikan masuk ke dalam koper dan tidak ada yang ketinggalan.

Ada yang menyentak saya. Sebelum tidur Hafshah memberitahukan bahwasanya setelah bongkar-bongkar buku sekolahnya, lima tahun yang lalu atau tepatnya ketika dia masih kelas 2 MTs ternyata dia sudah mengimpikan untuk bisa study ke Turki.

Setidaknya ada tiga macam dokumen objek yang menjadi afirmasi atas impian tersebut. Yang pertama, gambar Hafshah dan tulisan Turki ditulis tangan di sebuah kertas buku pelajaran. Yang kedua, ada peta dunia dimana peta Turki dilingkari dengan spidol. Sedangkan yang ketiga, foto bersama teman-temannya dimana di atas kepala masing-masing ditulis negara impian masing-masing. Teman-temannya ada yang menulis Madinah, Pakistan sedangkan Hafshah menulis Turki di atas kepalanya.

Amazing… dan ternyata benar, hari ini impian itu sudah terwujud. Hari ini kami mengantarnya menuju Istambul, Turki untuk melanjutkan kuliah.

Ketika impian ditancapkan, maka dia akan menemui kita seiring dengan perjalanan waktu. Impianlah yang akan menuntun kita menuju apa yang dicita-citakan.

Maka benar adanya sebuah ungkapan yang menyatakan, “Kamu akan Mendapatkan Sebesar Impian mu“. Maka janganlah takut untuk bermimpi. Gantungkan impian mu, Allah lah yang akan mewujudkan impian mu itu.

Selamat belajar di negeri orang nak. Doa orang tua mu dan orang-orang yang mencintai mu selalu menyertai desah nafas mu.

Silakan baca: Apa kelebihan SWI Islamic School?

Berangkat ke Turki

Hari ini Selasa (10/9/19) pukul 02.00 kami berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantar anak pertama kami, Hafshah Mar’atu Shaliha.

Kami berangkat bersama dengan rombongan keluarga Audi, anak ustadz Adih Amin yang juga akan berangkat ke sana. Dari keluarga saya sendiri ada saya, istri, Hafshah, Hulwah, Badi dan Husni.

Total ada 5 mobil konvoi menuju bandara. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, jalanan lancar dan tenang. Sampai di bandara pukul 04.20 dan kami segera bersiap untuk menunaikan ibadah shalat shubuh berjamaah di mushalla bandara.

Selesai shalat kami langsung menuju lantai 3 gate B dan C untuk persiapan chek in dan pertemuan dengan pemandu keberangkatan ke Turki, yakni Teh Anis dan dua orang yang juga akan berangkat study ke Turki. Jadi total yang akan berangkat ada 4 orang plus teh Anis menjadi 5 orang.

Teh Anis ini merupakan mahasiswa kedokteran di salah satu universitas di Istambul. Dalam hal ini kami sangat berterima kasih kepada Teh Anis yang telah membantu pemberangkatan anak kami ke Turki. Disamping Teh Anis, ada Fayyad dan Hanif yang merupakan pelajar beasiswa di Istambul dan sebentar lagi masuk kuliah yang juga sangat membantu keberangkatan anak-anak kami.

Mereka mengurus seluruh akomodasi penerbangan, dari pembelian tiket, pembuatan visa, persiapan dokumen studi dan lain-lain. Dalam hal ini kami sangat terbantu sekali. Alhamdulillah.

Pukul 06.00 mereka berlima berkenalan dan melakukan pertemuan singkat untuk pembagian tiket, visa dan penyamaan persepsi. Maklum mereka belum saling mengenal satu sama lain sehingga mereka harus saling memahami sebelum berangkat ke negeri orang nun jauh di sana.

Pukul 06.15 mulai chek in kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menit. Setelah itu kami berkesempatan untuk saling melepas haru, berpelukan dan untaian nasihat dari para orang tua kepada anak-anaknya. Istri saya sendiri tidak bisa menahan air mata menyaksikan kenyataan bahwa anak pertamanya akan meninggalkannya ke tempat yang jauh dan dalam waktu yang cukup lama.

Karena hanya kesempatan sebelum ke pemeriksaan imigrasi lah kami memiliki kesempatan terakhir sebelum terbang. Setelah masuk ke pemeriksaan imigrasi, kami benar-benar harus merelakan kepergian mereka ke negeri orang.

Pukul 07.40 an anak-anak kami menuju pintu pemeriksaan imigrasi. Air mata benar-benar tidak bisa tertahan dan benar saja langsung tumpah bersamaan dengan punggung mereka mulai tidak kelihatan karena antrian para calon penumpang yang lain.

Pukul 08.15 kami berpamitan kepada keluarga ustadz Adih Amin untuk segera meninggalkan bandara lebih dahulu. Karena memang urusan di bandara sudah tidak ada lagi. Kami tinggal menunggu kabar persiapan dan penerbangan menuju Qatar. Kabarnya di Qatar mereka akan transit sekitar 3 jam dan akan sampai di Turki sekitar pukul 01.00 WIB atau pukul 20.00 waktu Turki.

Semoga mereka mendapatkan apa yang diimpikan. Doa kami selalu menyertai mu nak…

Silakan baca juga: Apa yang menjadi pertimbangan orang tua memasukkan ke sebuah sekolah?

Berpamitan ke Nenek di Kalibata

Hari ini Ahad (8/9/19) adalah H-2 keberangkatan Hafshah Mar’atu Shaliha ke Turki yang insya Allah pada hari Selasa (10/9/19).

Untuk menggapai keberhasilan dan keberkahan ananda Hafshah, kami mengajak untuk sowan ke nenek tercinta, ibu Hj. Siti Hodijah di Jakarta Selatan.

Berangkat dari Cikarang pukul 08.15 alhamdulillah jalanan lancar dan sampai di Kalibata pukul 9.20.

Sampai di kediaman nenek, Hafshah langsung bercerita perihal rencana keberangkatannya ke negeri orang, yakni ke Turki.

Nenek mendoakan, semoga apa yang diimpikan tercapai dengan baik. Amiin, amiin ya Robbal ‘alamiin.

Silakan baca juga: Apa yang menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah?

Ceria Bersama Anak Yatim

Hari ini tidak biasanya. Kami bersiap-siap menuju kolam renang Kasih Cinta di daerah Cikarang Utara.

Ya hari ini Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia mengagendakan acara berenang bersama anak yatim, khususnya anak yatim yang bersekolah di SDIT Wirausaha Indonesia dan beberapa anak yatim dari sekolah lain yang diajak oleh guru SWI.

Seperti diketahui bahwa di SWI Islamic School ada siswa anak yatim yg bersekolah di sini. Mereka mendapatkan fasilitas bersekolah tanpa membayar biaya apa pun.

Nah pada hari ini Sabtu (7/9/19) kami mengajak mereka bersenang-senang menikmati suasana kolam renang nan asri. Kami ajak mereka bergembira ceria ria dan bahagia bersama guru dan keluarga pimpinan yayasan.

Disela-sela acara renang, siswa yatim menerima pembagian uang saku, snack dan makan siang. Alhamdulillah hari ini diwarnai dg kebahagiaan mereka. Semoga mereka selalu merasakan hal yang sama di hari-hari lainnya juga.

Kami berharap, dengan kebahagiaan yang mereka terima, yayasan, sekolah dan pimpinan yayasan dan sekolah mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Amiin.

Silakan baca juga: Tips memilih sekolah

Pekerjaanku: Mengelola Lembaga Pendidikan Dasar Islam

Tahun 2011-Sekarang

Saya mengelola lembaga pendidikan dasar, yaitu sekolah dasar islam terpadu. Pada tahun 2011 kami bersama-sama dengan teman satu perumahan mendirikan sebuah yayasan. Dimana melalui yayasan tersebut kami mendirikan sekolah dasar islam terpadu di daerah Cikarang Utara.

Jangan sampai salah memilih sekolah untuk si buah hati

Dalam mengelola lembaga inilah saya mencurahkan segenap tenaga dan pemikiran demi kemajuan sekolah ini. Awalnya kami mengontrak sebuah toko yang digunakan sebagai tempat penerimaan atau pendaftaran siswa baru.

baru.

Tahun 2013

Karena tidak ada yang mendaftar, kami mengontrak sebuah ruko sebagai tempat pendaftaran dan sarana kegiatan belajar mengajar. Alhamdulillah kami menyewa dengan harga yang cukup murah, yaitu 13 juta per tahun dan pembayarannya dapat diangsur sebanyak dua kali. Padahal ketika itu, ruko di sebelah harga sewanya berkisar antara 20 – 25 juta per tahun. Kami menyewa ruko hanya satu tahun.

Pada tahun 2013 sekolah kami pindahkan ke ‘gedung’ milik sendiri. Kami membeli rumah secara KPR sebanyak 6 unit. Lokasi sekolah yang dimaksud adalah berupa rumah yang direnovasi sedikit dan digunakan untuk kegiatan sekolah.

Tahun 2019

Rumah ini mulai dibongkar dan dibangun secara bertahap mulai pertengahan tahun 2015. Baru pada tahun 2018 pembangunan sekolah selesai dengan baik dan menjadi gedung sekolah yang representatif. Alhamdulillah.

Silakan baca juga: Yang menjadi pertimbangan orang tua memilih sekolah

Pekerjaanku: Dosen Manajemen dan Kewirausahaan

Tahun 2009-Sekarang

Bulan Mei 2009 saya diterima sebagai dosen matakuliah sistem informasi manajemen, entrepreneurship, akuntansi dasar dan entrepreneurship di sebuah perguruan tinggi swasta yang mempunyai puluhan cabang di seluruh Indonesia.

Total keseluruhan mahasiswa akademi yang kemudian berubah menjadi universitas pada tahun 2018 ini konon mencapai 60 ribu mahasiswa aktif. Keren ya.

Saya mulai aktif mengajar bulan September 2009.

Sebagai dosen, saya cukup rajin mengikuti berbagai kegiatan ilmiah. Dari mulai melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, membuat karya ilmiah yang diseminarkan, membuat karya ilmiah dan dibuat jurnal, menjadi peserta berbagai seminar atau workshop dan menulis buku-buku manajemen.

6 Alasan memilih sekolah ini

Yuuk sekolah di SDIT Wirausaha Indonesia

Berikut judul buku yang saya tulis:

  • Sistem Informasi Manajemen
  • Akuntansi Tingkat Dasar
  • Teori dan Praktek Manajemen
  • Manajemen Bisnis

Pekerjaanku: Mengelola Koperasi Karyawan

Tahun 1999-2003

Pada Tahun 1999, saya diangkat menjadi Ketua sekaligus Manajer sebuah koperasi karyawan yang anggotanya berasal dari dua perusahaan. Jumlah anggotanya sekitar 1500 an orang.

SWI Islamic School layak menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah bagi putra-putrinya

Rupanya, di pekerjaan ini saya mendapatkan tantangan yang cukup besar. Apa pasalnya? Hal ini dikarenakan, koperasi yang beralih kepemimpinanya kepada saya ini sudah dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

Kenapa dikatakan memprihatinkan? Karena kepercayaan anggota kepada pengelola koperasi sebelumnya sudah pada titik nadir. Hal ini dikarenakan koperasi ini mengalami kerugian, pelayanan yang dianggap buruk, sistem keuangan yang dianggap tidak transparan dan tidak jelas dalam kepengelolaan manajemennya.

Rekreasi pengurus koperasi ke Pantai Carita

Manajemen yang teramat buruk menyebabkan kepercayaan anggota pada titik yang paling rendah, ditambah lagi aset koperasi yang tidak jelas keberadaannya.

Dalam kondisi seperti itulah saya diangkat menjadi ketua sekaligus manajer dari lembaga milik karyawan ini.

Bagi saya, ini adalah tantangan yang teramat besar. Pekerjaan besarnya adalah mengembalikan kepercayaan anggota, membuat usaha ini untung, bekerja sama dengan perbankan dan diversifikasi usaha yang menguntungkan anggota.

Alhamdulillah, beberapa bulan setelah pembenahan manajemen koperasi karyawan, lembaga ini sudah mulai menunjukkan perkembangannya. Laba usaha sebesar 48 juta diperoleh setelah delapan bulan kami kelola. Berturut-turut koperasi ini mengalami keuntungan yang signifikan. Puncaknya adalah pada tahun terakhir saya menjadi ketua koperasi, yaitu tahun 2003. Saat itu koperasi membukukan keuntungan sebesar 300 jutaan, dengan total aset sekitar 1.5 miliar.

Tahun 1999 laba dan aset minus, tahun 2003 laba 300 juta, sedangkan aset 1.5 miliar. Sebuah peningkatan yang sangat baik.

Baca juga: SWI, pilihan tepat untuk pendidikan putra-putri Anda

Pekerjaanku: Mengurus Karyawan Tetap

Tahun 1996-1999

Saya bekerja di sebuah perusahaan yang sama, hanya saja kali ini yang saya urus adalah karyawan tetap perusahaan bagian produksi, khususnya mengolah dari bahan baku menjadi barang jadi besi yang siap jual.

Mengenal SDIT Wirausaha Indonesia

Setiap hari saya harus mencatat absensi masuk, pulang dan lembur karyawan dan membuat laporan. Laporan tersebut saya sampaikan ke bagian penggajian.

Selain itu, saya juga mengurus urusan perizinan dan cuti karyawan. Seringkali karyawan marah karena cutinya sudah habis padahal dia merasa belum menghabiskan jatah cutinya. Setelah ditelusuri, karyawan tersebut lupa kalau sudah menghabiskan sebagian atau seluruh jatah cutinya.

Mengurus manusia memang butuh kesabaran yang ekstra tinggi.

Baca juga: Alasan memilih SWI Islamic School

Opini & Motivasi