Pro dan Kontra Maulid Nabi Muhammad SAW

Kita dapati di media sosial, perdebatan tentang peringatan Maulid Nabi ﷺ. Ada yang melarang secara mutlak, apa pun isi dan bentuknya, ada pula yang membolehkan secara mutlak, dan ada pula yang membolehkan dengan perincian dan syarat-syarat. Bahkan perdebatan tersebut tidak jarang menyulut permusuhan, caci maki, saling tuduh, dan tabdi’, tafsiq, satu sama lain.

Ini bukanlah perdebatan baru, jika abad ini adalah abad 15 Hijriyah, maka perselisihan ini sudah terjadi sejak belasan abad yang lalu, khususnya setelah tiga abad terbaik. Pihak yang pro dan kontra sama-sama sepakat bahwa haflah ini tidak ada pada masa Nabi, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Bahkan mereka juga sepakat tentang memuliakan Rasulullah ﷺ, kapan pun, tidak harus menunggu momen 12 Rabi’ul Awal. Tetapi, mereka tidak sepakat kapankah haflah maulid itu muncul? Sebagian ada yang menguatkan bahwa ini dimulai dan diinisiatifkan Syiah Daulah Fathimiyyah, ada pula yang mengatakan pada masa Shalahuddin Al Ayyubi, ada yang mengatakan dimunculkan oleh Malik Muzhafar Abu Sa’id bin Zainuddin (ini yang dikuatkan oleh Imam As Suyuthi), dan versi lainnya, dan seterusnya. Selain itu, -dan ini yang paling menyita energi kita- mereka juga tidak sepakat tentang keabsahannya, boleh atau tidak, seperti yang kami sebutkan di atas.

Berikut ini adalah pandangan dua kelompok tersebut.

Pertama. Pihak Yang Melarang dan Alasan-Alasannya

Para ulama yang melarang memiliki sejumlah alasan, di antaranya:

1⃣ Peringatan maulid Nabi ﷺ tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Sebagaimana ini diakui pula oleh pihak yang membolehkan. Padahal mereka lebih layak melakukan itu sebab kecintaan mereka, ittiba’nya mereka kepada Nabi ﷺ, serta ilmunya, melebihi manusia-manusia setelahnya.

2⃣ Lau kaana khairan lasabaquuna ilaih – seandainya itu baik niscaya mereka akan mendahului melakukannya. Ini kaidahnya. Jika memang acara Maulid itu baik, kenapa bisa luput kebaikan ini dari generasi terbaik umat ini? Tidak mungkin mereka tidak mengenal kebaikan walau sekecil apa pun, apalagi sampai melewatinya begitu saja. Jika maulid tidak ada pada masa itu, itu menunjukkan memang itu tidak dipandang baik oleh mereka.

3⃣ Agama ini telah sempurna, sebagaimana firmanNya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan atasmu nikmatKu, dan Aku ridha Islam adalah agama bagi kamu. (QS. Al Maidah: 3)

Jadi, apa pun yang dahulunya bukan bagian dari agama, maka selamanya dia bukan bagian dari ajaran agama. Tidak seorang pun berhak memasukkannya sebagai bagian dari agama. Sebab kesempurnaan agama ini telah final, tidak dibutuhkan lagi penambahan walau dipandang baik oleh manusia.

4⃣ Rasulullah ﷺ melarang kita untuk mengada-ada urusan agama. Umumnya para pelaku acara Maulid menganggap ini adalah peringatan keagamaan. Maka, jika itu dianggap bagian dari agama maka mereka wajib mendatangkan dalil, jika tidak ada maka tertolak. Sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ) رواه البخاري ومسلم

Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam urusan kami ini (yakni Islam), berupa apa-apa yang bukan darinya, maka itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Aqwaal Para Ulama Yang Melarang

Berikut ini adalah perkataan para ulama yang melarang peringatan Maulid Nabi ﷺ.

1⃣ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau berkata:

وللنبي صلى الله عليه وسلم خطب وعهود ووقائع في أيام متعددة: مثل يوم بدر، وحنين، والخندق، وفتح مكة، ووقت هجرته، ودخوله المدينة، وخطب له متعددة يذكر فيها قواعد الدين. ثم لم يوجب ذلك أن يتخذ أمثال تلك الأيام أعيادًا. وإنما يفعل مثل هذا النصارى الذين يتخذون أمثال أيام حوادث عيسى عليه السلام أعيادًا، أو اليهود، وإنما العيد شريعة، فما شرعه الله اتبع. وإلا لم يحدث في الدين ما ليس منه.
وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيمًا. والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرًا. ولو كان هذا خيرًا محضا، أو راجحًا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمًا له منا، وهم على الخير أحرص.

“Rasululullah ﷺ telah melakukan berbagai peristiwa penting dalam sejarah beliau, seperti khutbah-khutbah dan perjanjian-perjanjian beliau pada hari Badar, Hunain, Khandaq, Fathu Makkah, Hijrah, Masuk Madinah. Beliau pun memiliki berbagai khutbah yang mengandung banyak kaidah-kaidah agama. Lalu, hari-hari seperti itu tidak sepantasnya dijadikan sebagai perayaan. karena yang melakukan seperti itu adalah Umat Nasrani yang menjadikan peristiwa yang dialami ‘Isa ‘Alaihissalam adalah sebagai perayaan, atau juga dilakukan Yahudi. Hari raya merupakan bagian dari syariat, maka apa yang disyariatkan Allah itulah yang diikuti, kalau tidak maka sama saja telah membuat sesuatu yang baru dalam agama.

Maka apa yang dilakukan oleh sebagian orang,
[1/23/2016, 02:51] +62 812-8867-2890:

Berikut perkataan Imam Ad Dimyathi Asy Syafi’i:

ورحم الله القائل وهو حافظ الشام شمس الدين محمد بن ناصر حيث قال إذا كان هذا كافرا جاء ذمه وتبت يداه في الجحيم مخلدا أتى أنه في يوم الإثنين دائما يخفف عنه للسرور بأحمد فما الظن بالعبد الذي كان عمره بأحمد مسرورا ومات موحدا قال الحسن البصري قدس الله سره وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لأنفقته على قراءة مولد الرسول
قال الجنيدي البغدادي رحمه الله من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالإيمان
قال معروف الكرخي قدس الله سره من هيأ لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان في أعلى عليين

Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan –dia adalah Haafizh Syamsuddin Muhammad bin Naashir – ketika berkata: jika hal ini terjadi pada orang kafir (yakni Abu Lahab) yang telah dicela dan dibinasakan kedua tangannya di neraka yang abadi, bahwa dia (Abu Lahab) diringankan siksaannya pada setiap hari senin karena kebahagiaan dengan memujinya (kelahiran nabi, red), maka apalagi dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya berbahagia dengan kelahirannya dan dia mati dalam keadaan bertauhid.

Berkata Al Hasan Al Bashri -semoga Allah mensucikan rahasianya: “Ingin sekali aku seandainya memiliki emas semisal gunung Uhud, akan aku infaq-kan kepada orang yang membacakan Maulid Ar Rasul.”

Berkata Al Junaid Al Baghdadi Rahimahullah: “Barangsiapa yang menghadiri Maulid Ar Rasul dan mengagungkan kedudukannya, maka dia telah beruntung dengan keimanannya.”

Berkata Ma’ruf Al Karkhi Rahimahullah –semoga Allah mensucikan rahasianya: “Barangsiapa menyediakan makanan, mengumpulkan saudara-saudara, menyiapkan lampu, memakai pakaian baru, memakai wangian dan menghias dirinya untuk mengagungkan kelahiran Rasul, maka kelak di hari kiamat Allah akan mengumpulkannya bersama orang-orang pada barisan pertama dari golongan para nabi, dan dia akan ditempatkan di `Illiyyin yang paling tinggi.” (I’anatuth Thalibin, 3/364)

Lalu Imam Abu Bakar Ad Dimyathi juga mengutip dari imam lainnya:

وقال الإمام اليافعي اليمنى من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
وقال السري السقطي من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول
وقد قال عليه السلام من أحبني كان معي في الجنة قال سلطان العارفين جلال الدين السيوطي في كتابه الوسائل في شرح الشمائل ما من بيت أو مسجد أو محلة قرىء فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم الا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم قال وما من مسلم قرىء في بيته مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر
Berkata Imam Al Yafi’i Al Yamani: “Barangsiapa mengumpulkan teman-temannya, mempersiapkan hidangan, menyediakan tempat, melakukan kebaikan untuk maulid Nabi dan semua itu menjadi sebab pembacaan maulid Rasul, maka di hari kiamat kelak Allah akan membangkitkannya bersama orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan kaum shalihin. Dan kelak ia akan berada di surga-surga yang penuh kenikmatan”.

Berkata As Sari As Suqthi, bahwa siapa yang bermaksud menuju tempat yang di dalamnya dibacakan Maulid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka dia telah menuju taman di antara taman-taman surga, karena tidak ada yang mendorong dia ketempat itu kecuali karena kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘Alahis wa Salam: barangsiapa yang mencintaiku maka dia bersamaku di surga. Sulthanul ‘Arifin, Al Imam Jalaluddin As Suyuthi berkata dalam kitabnya Al Wasaail Fi Syarh Asy Syamaail berkata: “Tidaklah sebuah rumah, atau masjid, atau tanah yang tandus, di dalamnya dibacakan Maulid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan malaikat mengelilingi mereka yang ada di tempat itu, dan Allah meratakan rahmatNya, meliputi sekeliling mereka dengan cahaya yakni Jabril, Mikaail, Israafil, Qurbaail, ‘Aynaail, dan mereka berbaris, berada di tepi dan mendekat, dan mendoakan apa-apa saja yang menjadi sebab dibacakannya Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia berkata: “Tidaklah seorang muslim yang di rumahnya dibacakan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan akan Allah angkat masa pacekliknya, wabah, kebakaran, penyakit, musibah bencana, amarah, dengki, pandangan mata jahat, pencurian terhadap pemilik rumah tersebut. Jika dia wafat Allah Ta’ala akan mudahkan keluarnya ruh baginya menjawab Munkar dan Nakir, dan dia ditempatkan sebagai orang yang benar di sisi Allah, Sang Pemiliki Kekuasaan.” (Ibid, 3/365)

7⃣ Al Imam Al Haafizh Al Qasthalani Rahimahullah

Beliau berkata:

من جواز الاحتفال بالمولد النبوي بما هو مشروع لا منكر فيه

Diantara kebolehan mengadakan acara maulid nabi adalah dengan perbuatan-perbuatan yang masyru’ (sesuai syariat), bukan perbuatan yang munkar … (Mawahib Al Laduniyah, 1/148)

Jadi, jika isinya masyru’ (sesuai syariat) menurut Beliau boleh, sedangkan jika isinya diisi kemungkaran maka tidak boleh.

8⃣ Al Imam Al Haafizh Zainuddin Al ‘Iraqi Rahimahullah

Beliau mengatakan:

إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت، فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الشهر الشريف، ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها، فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجب

“Sungguh melakukan perayaan (walimah) dan memberikan makan disunnahkan pada setiap waktu, apalagi jika padanya disertai dengan kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada bulan yang mulia ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan bahkan diwajibkan” (Ad Durar As Saniyah, Hal. 19)

Demikian. Masih banyak lagi para ulama yang membolehkan, seperti Syaikh Mutawalli Asy Sya’rawi, Syaikh Hasanain Makhluf, Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Ahmad Asy Syurbasyi, Syaikh ‘Athiyah Saqr, Syaikh Al Qaradhawi, dan lain-lain.

Lalu, Bagaimana?

Sebagaimana perbedaan dan perselisihan lainnya, maka ambil-lah sikap toleran dan lapang. Silahkan ambil dan yakini pendapat yang kita anggap lebih kuat dan lebih dekat dengan dalil, tapi jangan ingkari saudara kita yang berbeda. Jika beradu dalil dan argumentasi, maka pada sudut pandang masing-masing pihak akan merasa dirinya yang paling benar. Itu tentunya tidak akan menyelesaikan masalah. Maka, tetap bersaudara, jangan berpecah, kita masih bisa berjalan bersama pada bagian-bagian pokok agama ini yang memang kita memiliki pandangan yang sama. Sebab masalah ini sudah didebatkan lebih dari seribu tahun lamanya, yang para imam pun bersepakat untuk tidak sepakat.

Syaikh Dr. Umar bin Abdullah Kamil berkata:

لقد كان الخلاف موجودًا في عصر الأئمة المتبوعين الكبار : أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد والثوري والأوزاعي وغيرهم . ولم يحاول أحد منهم أن يحمل الآخرين على رأيه أو يتهمهم في علمهم أو دينهم من أجل مخالفتهم .

“Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya. Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan terhadap keilmuan mereka, atau terhadap agama mereka, lantaran perselisihan itu.” (Dr. Umar bin Abdullah Kamil, Adab Al Hiwar wal Qawaid Al Ikhtilaf, hal. 32. Mauqi’ Al Islam)

Imam Hasan Al Banna Rahimahullah menjelaskan:

إذ إن أصول الإسلام آيات وأحاديث وأعمال تختلف في فهمها وتصورها العقول و الأفهام ، لهذا كان الخلاف واقعاً بين الصحابة أنفسهم ومازال كذلك، وسيظل إلى يوم القيامة، وما أحكم الإمام مالك ـ رضي الله عنه ـ حين قال لأبي جعفر وقد أراد أن يحمل الناس على الموطأ: “إن أصحاب رسول الله ص تفرقوا في الأمصار وعند كل قوم علم، فإذا حملتهم على رأي واحد تكون فتنة”، وليس العيب في الخلاف ولكن العيب في التعصب للرأي والحجر على عقول الناس وآرائهم، هذه النظرة إلى الأمور الخلافية جمعت القلوب المتفرقة على الفكرة الواحدة، وحسب الناس أن
[1/23/2016, 02:51] +62 812-8867-2890: baik karena menyerupai tradisi Nasrani yang memperingati kelahiran ‘Isa ‘Alaihissalam, baik karena cinta dan memuliakan Rasulullah ﷺ, maka Allah akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad itu, tapi tidak atas bid’ah dengan menjadikan maulid nabi sebagai hari raya. Padahal manusia berselisih tentang kapan hari lahirnya. Sesungguhnya ini tidak dilakukan para salaf, padahal mereka punya alasan untuk melakukannya dan tidak ada halangan untuk melakukannya jika memang itu baik. Seandainya itu baik, bersih, dan argumentatif, niscaya para salaf lebih berhak melakukannya dibanding kita. Sebab mereka adalah generasi yang paling kuat cinta dan pemuliaaanya kepada Rasulullah ﷺ dibanding kita, dan mereka sangat bersemangat dalam mengerjakan kebaikan. (Iqtidha Shirathal Mustaqim, 2/123)

2⃣Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh Rahimahullah

Beliau berkata:

لاشك أن الإحتفال بمولد النبي صلى الله عليه وسلم من البدع المحدثة في الدين، بعد أن انتشر الجهل في العالم الإسلامي وصار للتضليل والإضلال والوهم والإيهام مجال، عميت فيه البصائر وقوي فيه سلطان التقليد الأعمى، وأصبح الناس في الغالب لا يرجعون إلى ما قام الدليل على مشروعيته، وإنما يرجعون إلى ما قاله فلان وارتضاه علان، فلم يكن لهذه البدعة المنكرة أثر يذكر لدى أصحاب رسول الله ولا لدى التابعين وتابعيهم، وقد قال صلى الله عليه وسلم ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة ”

Tidak ragu lagi bahwa acara maulid Nabi ﷺ termasuk bid’ah baru dalam agama, setelah menyebarnya kebodohan di dunia Islam, merebaknya kesesatan dan khayalan, yang membutakan mata dan menguatkan taklid buta. Umumnya manusia tidak merujuk kepada dalil-dalil yang mensyariatkannya, tapi mereka hanya mengikuti perkataan si Fulan dan si Alan. Tidak pernah ada bid’ah munkarah ini dalam atsar para sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan pengikutnya. Padagal Nabi ﷺ telah bersabda: “Peganglah sunahku dan sunah khulafa ar rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku, peganglah itu dan gigitlah dengan geraham kalian, takutlah terhadap perkara-perkara yang baru, sebab setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” (Fatawa wa Rasail, 3/54)

3⃣ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah

Beliau berkata:

نعم الاحتفال بالموالد بدعة، فلا يجوز الاحتفال بالموالد، لا مولد النبي صلى الله عليه وسلم، ولا غيره، لأن الرسول صلى الله عليه وسلم، قال: «إياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة » وقال عليه الصلاة والسلام: في خطبة يوم الجمعة: «أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة » والاحتفال بالموالد بدعة، ما فعله الرسول صلى الله عليه وسلم، ولا أصحابه رضي الله عنهم وأرضاهم، ويكفي المؤمن التأسي بسنته صلى الله عليه وسلم، والسير على منهاجه وعدم الإحداث فمحبة النبي صلى الله عليه وسلم ليست بالبدع، ولكن باتباع طريقه عليه الصلاة والسلام، وامتثال أوامره، وترك نواهيه

Ya, acara maulid itu bid’ah, tidak boleh mengadakan acara maulid-maulid, baik itu maulid Nabi ﷺ dan yang lainnya, karena Nabi ﷺ bersabda: “Takutlah terhadap perkara-perkara yang baru, sebab setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.” Juga sabdanya saat khutbah Jumat: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruknya perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap bid’ah itu sesat.” Acara maulid itu bid’ah, dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, para sahabatnya Radhiallahu ‘Anhum, dan cukuplah seorang mu’min mengikuti sunahnya dan berjalan di atas manhajnya, dan menghilangkan perkara-perkara yang baru. Mencintai Nabi ﷺ bukanlah dengan melakukan bid’ah, tapi dengan mengikuti jalannya ﷺ, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. (Fatawa Nur ‘Ala Ad Darb, 3/42)

Dan, masih banyak lagi dari para ulama yang melarangnya, semisal Imam Fakihani, Imam Asy Syuqairi, Syaikh Shalih Al Fauzan, Syaikh Utsaimin, dan lainnya.

Kedua. Pihak Yang Membolehkan dan Alasan-Alasannya

Pihak yang membolehkan mengutarakan sejumlah alasan, yakni sebagai berikut:

Al Quran Al Karim

Allah ﷻ berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. (QS.Yunus: 58)

Bagi seorang muslim, tentunya dengan sadar akan mengatakan bahwa karunia dan rahmat Allah ﷻ terbesar bagi umat manusia adalah kelahiran Nabi ﷺ, yang menjadi suluh hidayah bagi segenap manusia. Peringatakan maulid nabi ﷺ merupakan perwujudan kebahagiaan atas karunia terbesar tersebut.

Ayat lainnya:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Yusuf:111)

Kisah kehidupan Nabi ﷺ, sejak kelahirannya, perjuangannya, da’wahnya, sampai wafatnya adalah kisah dan potret terbaik kehidupan manusia. Maka, hal yang sangat baik mengambil pelajaran darinya. Maulid Nabi ﷺ adalah sarana untuk itu.

As Sunnah

Untuk dalil As Sunnah, kelompok yang membolehkan punya beberapa dalil:

▪Pertama. Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang shaum di hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)

Hadits ini menunjukkan bolehnya menapaktilasi dan menghormati hari lahirnya Nabi ﷺ dengan amal-amal kebaikan, sebab Nabi ﷺ sendiri yang menyontohkan. Beliau berpuasa di hari Senin, karena itulah hari dirinya dilahirkan.

▪Kedua. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم عاشوراء.
فقال: ” ما هذا؟ ” قالوا: يوم صالح، نجى الله فيه موسى وبني السرائيل من عدوهم، فصامه موسى فقال صلى الله عليه وسلم: ” أنا أحق بموسى منكم ” فصامه، وأمر بصيامه

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” mereka menjawab: “Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Maka, beliau pun beruasa dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Hadits ini menunjukkan kebolehan memperingati hari-hari bersejarah yang dilalui umat terdahulu dalam rangka mengambil pelajaran darinya, bahkan Nabi ﷺ mengisinya dengan ibadah. Hadits ini dijadikan dalil oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah tentang bolehnya acara Maulid Nabi ﷺ, dan diisi dengan amal kebaikan, sebagaimana yang akan kami sampaikan nanti.

▪Ketiga. Kisah peringanan siksaan bagi Abu Lahab setiap hari Senin lantaran dia bergembira saat hari kelahiran Nabi ﷺ, Abu Lahab menampakkan kegembiraannya dengan membebaskan budak bernama Tsuwaibah.

Imam Abu Bakar Ad Dimyathi Asy Syafi’i Rahimahullah:

ورحم الله القائل وهو حافظ الشام شمس الدين محمد بن ناصر حيث قال إذا كان هذا كافرا جاء ذمه وتبت يداه في الجحيم مخلدا أتى أنه في يوم الإثنين دائما يخفف عنه للسرور بأحمد فما الظن بالعبد الذي كان عمره بأحمد مسرورا ومات موحدا

Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan – yaitu Haafizh Syamsuddin Muhammad bin Naashir – ketika dia berkata: jika hal ini terjadi pada orang kafir (yakni Abu Lahab) yang telah dicela dan dibinasakan kedua tangannya di neraka yang abadi, bahwa dia (Abu Lahab) diringankan siksaannya pada setiap hari senin karena kebahagiaan dengan memujinya (kelahiran nabi, red), maka apalagi dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya berbahagia dengan kelahirannya dan dia mati dalam keadaan bertauhid. (I’anatuth Thalibin, 3/364)

Al Haafizh Syamsuddin Muhammad bin Naashir mengatakan kisah ini shahih. (Imam As Suyuthi, Al Hawi Lil Fatawi, 1/230)

Sederhananya, jika Abu Lahab saja yang memusuhi Nabi ﷺ, yang nerakanya abadi, mendapat keringanan setiap hari Senin karena kebahagiaannya menyambut kelahiran Nabi ﷺ, apalagi seorang muslim yang mencintainya sepanjang hayatnya, tentu dia lebih layak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *