Arsip Tag: Dua Keimanan

Dua Keimanan

Pada dasarnya, baik kami maupun umat kami, sama-sama beriman pada prinsip ini. Bedanya, keimanan mereka terbius dan tertidur lelap dalam jiwa mereka. Mereka tidak ingin menaati hukumnya dan melaksanakan tuntutannya. Sebaliknya, keimanan Ikhwan selalu bergelora, berkobar, kuat dan hidup dalam jiwa.

Bermunajad kepada Alloh

Kami dan orang lain dapat merasakan sebuah fenomena psikologis mengagumkan dalam jiwa kita -orang-orang Timur, yaitu bahwa kita sering mengimani sebuah fikrah, yang ketika dibicarakan dengan orang lain, terkesan seolah-olah fikrah itu dapat menghancurkan gunung, mengurus jiwa dan harta, membuat tahan uji menghadapi berbagai kesulitan dan berani melawan berbagai tantangan hingga kita mendapat kemenangan bersamanya atau ia menang bersama kita.

Tetapi, ketika gelora retorika itu reda dan semua orang lupa terhadap keimanannya dan lalai pada fikrahnya. Ia tidak berfikir untuk mengamalkannya dan tidak berniat jihad di jalanny, meski dengan selemah-lemah jihad. Bahkan terkadang kelalaian itu bertambah, hingga membuatnya melakukan hal yang bertabrakan dengan fikrahnya, baik sadar atau tidak sadar.

Bukankah anda akan tertawa heran, ketika melihat seorang tokoh pemikir, aktivis, dan ilmuan, yang dalam rentang waktu dua jam menjadi atheis bersama orang-orang atheis, sekaligus ahli ibadah bersama ahli ibadahnya.

Sikap pengecut, kealpaan, kelengahan, tidur, atau katakan apa saja yang anda mau, adalah pemicu kami untuk berupaya menghidupkan “prinsip kami”. Yaitu prinsip yang telah diterima oleh jiwa kaum yang kami cintai.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halamanĀ 23-24