Arsip Tag: SDIT Wirausaha Indonesia

Tempat Pendaftaran SWI Pertama Kali

Sebagai sekolah yang belum memiliki gedung, kami sebagai pengelola sekolah tentu saja bingung. Iya bingung menentukan di mana tempat yang akan digunakan untuk memulai pendaftaran murid baru.

Aneh ya, mau menerima pendaftaran siswa baru kok bingung. Lagian tidak memiliki gedung kok nekad mendirikan sekolah? Begitu mungkin gumam-an dan ketidakmengertian banyak orang yang menyaksikan kenekadan kami mengelola sekolah tanpa gedung.

Di mana-mana, orang yang mendirikan sekolah ya membangun gedung sekolah nya dahulu, baru kemudian memasang spanduk penerimaan murid baru. Lah ini, gedung sekolah belum kelihatan sudah nekad bikin sekolah. ‘Gila’.

Ini dia penampakan tempat pendaftaran murid baru SDIT Wirausaha Indonesia Tahun Pelajaran 2012/2013. Kami membayar sewa toko ini untuk 6 bulan, alhamdulillah baru dipakai selama satu bulan, kami mendapatkan ruko untuk disewa selama satu tahun di Blok F1R No.33.

Visitasi Akreditasi SDIT Wirausaha Indonesia

Alhamdulillah, sampai pada perjalanan yang amat bersejarah bagi sekolah kami. Persiapan akreditasi sekolah dasar untuk yang pertama kali. Suatu fase yang membuat kami akan terus berbenah untuk menjadi lebih baik lagi ke depan.

Proses visitasi akreditasi diwarnai dengan suasana keakraban, keramahtamahan dan persahabatan serta penularan ilmu oleh para pejabat visitasi yang sudah senior kepada kami para guru yang masih sangat junior.

Kami sangat berterima kasih sekali atas kesempatan yang teramat berharga ini. Sukses untuk semua. Mohon doanya agar kami menjadi lebih baik.

Di Sekolah ini, Anak Yatim Tidak Perlu Membayar

Gedung Sekolah

Akhir tahun ini sekolah-sekolah swasta sudah mulai berancang-ancang untuk hajat tahunan, yaitu penerimaan peserta didik baru. Pun di sekolah kami. Kami sudah menyiapkan berbagai perlengkapan untuk menyambut datangnya calon siswa baru.

Banyak yang bertanya mengenai biaya. Kami selalu mengatakan bahwa masalah biaya, kami pastikan bahwa di sekolah biaya yang terrendah khususnya jika dibandingkan dengan sekolah Islam di kawasan yang sama.

Bahkan untuk anak yatim, kami gratiskan alias tidak perlu membayar biaya sepeser pun baik untuk uang pangkal, uang kegiatan tahunan maupun SPP dan biaya ekstrakurikuler.  Mereka hanya kami minta untuk fokus belajar dan belajar.

Kami bahkan sangat bersyukur dan bangga jika ada anak yatim yang bersekolah di sekolah kami. Kenapa? Karena kami berkeyakinan, merekalah yang menjadikan keberkahan dan kemajuan sekolah ini dapat dirasakan hingga saat ini.

Kelas Khusus Anak Inklusi

Di sekolah ini ada kelas khusus untuk anak-anak inklusi. Kelas ini beranggotakan 6 siswa yang merupakan anak-anak berkebutuhan khusus.

Kelas ini diampu oleh satu orang guru kelas, kelas ber Ac dan hanya belajar dari pukul 07.00 sampai pukul 11.00. Siswa lain pulangnya pukul 14.00/15.00.

Kelas ini kami adakan karena banyaknya permintaan dari org tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, sementara sangat jarang sekolah mau menerimanya dengan berbagai alasan.

Para orang tua siswa inklusi ini merasa bersyukur anaknya bisa diterima di sekolah sebagaimana anak-anak lainnya bersekolah.

Mereka ini sesungguhnya memiliki kecerdasan tertentu, hanya saja kita perlu kesabaran untuk mengeksplorasi sisi kecerdasan yang dimiliki si anak khusus ini.

Gedung Sekolah

Sekedar informasi, tahun ini kami meluluskan siswa untuk pertama kalinya. Diantara mereka terdapat siswa inklusi dan mendapatkan peringkat 1 utk test masuk jenjang SMP Islam pavorit. Alhamdulillah.

Semoga sekolah ini semakin berkembang, maju dan berkah sehingga banyak masyarakat yg merasakan semangat pengabdian dari sekolah ini.

Alasan Mendirikan Sekolah Wirausaha untuk Usia Dini

Apa sih sebenarnya yang melatarbelakangi saya mendirikan sekolah wirausaha yang diperuntukkan bagi anak-anak?

Sejak tahun 2009 saya mengajar matkul Entrepreneurship di sebuah perguruan tinggi swasta. Setiap semester saya berupaya melahirkan wirausaha baru yang bahan bakunya adalah mahasiswa.

Caranya adalah, utk mendapatkan nilai ujian akhir semester (UAS), mahasiswa harus membuat usaha kelompok. Mahasiswa dalam hal ini ‘dipaksa’ untuk memiliki usaha. Jika tidak membuat usaha, otomatis tidak mendapatkan nilai UAS. Ngeri-ngeri sedap dong.

Dari usaha ini ada mahasiswa yang serius menggarap usahanya setelah tugas selesai bahkan setelah lulus. Ini prosentasenya sangat sedikit, cuma sekitar 1-2% dari total mahasiswa di kelas saya. Sedangkan yang 98-99% tidak meneruskan usahanya setelah tugas selesai, apalagi setelah lulus. Mahasiswa jenis terakhir ini membuat usaha hanya sekedar gugur kewajiban untuk mendapatkan nilai dan tidak berminat menekuni dunia bisnis.

Dari sana saya mengambil kesimpulan: membangun jiwa wirausaha tidak bisa instan, harus dimulai sejak dini, seperti menanamkan benih-benih keimanan dalam hatinya.

Nah terkait dengan pendidikan kewirausahaan untuk anak-anak, tidak sedikit calon orang tua murid yang menanyakan, di sekolah wirausaha ini apakah anak-anak akan diajari berdagang?

Saya sering menjelaskan bahwa ada perbedaan mengajarkan kewirausahaan untuk orang dewasa dan mengajarkan kewirausahaan untuk anak-anak.

Untuk orang dewasa, kewirausahaan diajarkan bagaimana cara berdagang yang secara cepat dapat menghasilkan keuntungan.

Sedangkan untuk anak, titik beratnya adalah bagaimana agar anak bisa mandiri, kreatif dan inovatif. Mengajarkan wirausaha utk anak tidak selalu identik dg berdagang.

Bagi dunia anak, berdagang itu urusan nomor 35 karena mudah dipelajari ilmunya. Yang terpenting adalah bagaimana agar anak-anak terbiasa kreatif, yang dengan kreatifitasnya itu mampu menghasilkan suatu benda yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Kreatif dan inovatif merupakan nyawa dalam membangun usaha kedepannya. Kreatif dan inovatif lan yang mempu merubah suatu barang yang tadinya tidak atau kurang bermanfaat menjadi sangat bermanfaat dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Suatu benda ketika belum tersentuh tangan kreatif mungkin nilainya hanya sekitar 50 ribu, akan tetapi ketika sudah tersentuh tangan-tangan kreatif akan bernilai jutaan.

Ketika kita kreatif, ditambah ilmu berdagang, maka keuntungan akan datang dengan sendirinya dan belipat ganda.

#tkit_bunaya_kreatifa
#sdit_wirausaha_indonesia
#mandiri_kreatif_inovatif

Sengsara Membawa Nikmat

Ada kejadian yg menyedihkan kami saat itu.

Istriku tetiba dipecat sebagai guru di suatu SDIT dibilangan pondok ungu.

Istriku dipecat tanpa ada selembar SP pun diterimanya. Kami bingung dan sedihh. Kenapa istriki dipecat? Apa karena sedang hamil?

Mungkinkah istriku buru-buru dipecat agar hilang kewajiban yayasan untuk memberikan cuti melahirkan selama 3 bulan dengan tetap memberikan upah?

Sejak saat itu, timbul tekad saya utk mendirikan sekolah. Dimana di sekolah itu istri saya bukan saja menjadi guru, tetapi menjadi kepala sekolahnya.

Alhamdulillah wa syukurilah… Setahun kemudian cita-cita tersebut terwujud. Alloohu Akbar.

SDIT Wirausaha Indonesia: Dasar Pemikiran Pendirian dan Realitasnya

Dasar Pemikiran

Pemikiran yang mendasari saya mendirikan SDIT Wirausaha Indonesia adalah banyaknya keluhan dari teman-teman (termasuk saya hehe) yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang muatan keIslamannya baik, tetapi biayanya cukup tinggi untuk ukuran karyawan swasta.

Sementara, menyekolahkan anak di sekolah negeri muatan agamanya sangat kurang. Waktu belajar sangat singkat, contoh: kelas I masuk pukul 07.00 pulang pukul 09.00.

Akhirnya, teman-teman (termasuk juga saya) dengan sangat terpaksa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Sebuah pilihan yang tidak mudah dan bikin sedih.

Dari sanalah, saya mulai memikirkan bagaimana mendirikan sekolah Islam yang berkualitas, tetapi dengan biaya yang relatif bisa dijangkau oleh komunitas teman-teman.

Akhirnya, saya beserta tiga orang lainnya (Dadang Muhtari, Lartono dan Sufajar Butsianto) mendirikan Yayasan Sekolah Wirausaha Indonesia (YSWI) pada tahun 2011. Melalui yayasan inilah kami mendirikan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wirausaha Indonesia pada tahun 2012. Sekolah ini mulai menerima siswa pada Tahun Pelajaran 2012/2013.

Gedung Sekolah?

Sekolah ini awalnya belum memiliki gedung sendiri. Kami menyewa ruko (alhamdulillah) dengan harga sewa murah. Perlu diketahui bahwa, sekolah ini didirikan bukan oleh kumpulan pengusaha kaya atau orang-orang yang memiliki aset yang banyak. Seperti sekolah tetangga, yang gedung sekolahnya sudah berdiri megah, baru menerima siswa.

TAHUN 2012
Gedung sekolah yang pertama kali, Sewa Ruko dengan biaya murah

Sekolah ini didirikan oleh kami, orang-orang biasa yang berpenghasilan rata-rata. Upaya kami adalah, sekolah ini mendapatkan siswa dahulu, baru sedikit-demi sedikit membangun dan memiliki gedung yang representatif.

20-okt16c
Gedung sekolah saat ini, penyempurnaan fisik berlanjut

Sekalipun secara ekonomi kami memiliki kemampuan finansial yang rendah, tetapi kami memiliki tekad dan kemauan yang kuat yakni: “Harus ada lembaga pendidikan Islam berkualitas berbiaya relatif terjangkau”. Itulah motto yang selalu saya tanamkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang menjadi impian saya, yaitu sekolah ini menjadi tempat membangun dan bersemainya fikrah anak-anak kami, ternyata tidak semudah yang diangankan.

Kenapa?

Ternyata banyak teman-teman saya yang tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ini. Mereka lebih suka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang memiliki gedung megah, sekalipun secara fikroh masih dipertanyakan.

Apa sebabnya? Seribu alasan bisa dengan mudah dicari. Mulai dari keterbatasan sarana-prasarana, manajemen pengelolaan sekolah dan lain-lain, yang sesungguhnya hal itu bisa dimusyawarahkan jika ada kemauan dari para pihak.

Ternyata tidak mudah mengumpulkan teman-teman satu fikroh untuk membangun komunitas bersama dalam suka dan duka. Mungkin inilah gambaran umat Islam pada umumnya. Sangat sulit untuk bersatu dan memiliki impian bersama. Kita lebih suka nafsi-nafsi dan lebih sering mengikuti kemauan individual dibanding membangun kepentingan dan kebersamaan ikhwah. Walloohu a’lam.

Realitas Saat Ini

Saya realisitis saja, bagaimanapun sekolah ini memerlukan siswa dalam jumlah yang cukup agar bisa beroperasi secara mandiri tanpa menggantungkan dari pihak lain. Sekolah ini harus menjadi tempat bersemainya fikroh kebaikan anak-anak, siapapun orang tuanya, yang penting dia muslim dan tentunya mau menyekolahkan anaknya di sekolah ini.

Program unggulan

Saat ini kami sedang mengikhtiarkan sebuah PROGRAM UNGGULAN, yang insya Alloh dengannya kita semua yang terlibat mewujudkan program ini, akan ketularan keberkahan dan ridho-Nya, yaitu:

  • Program Tahfidz Al-Qur’an Khusus. Program tahfidz kelas khusus ini memiliki target hafalan 1.5 juz setiap tahun setiap siswanya. Jadi, jika siswa kelas 5 mengikuti program ini, maka pada saat lulus insya Alloh siswa memiliki hafalan 4-6 juz. Jika siswa kelas 4 mengikuti program ini, akan lebih banyak lagi hafalan yang bisa dicapai.
  • Program Mentoring. Program ini bertujuan untuk menguatkan akidah, ibadah dan akhlak siswa. Output dari program ini insya Alloh terwujud dalam 10 karakteristik siswa SDIT Wirausaha Indonesia.
  • Program Pembibitan Wirausaha sejak dini. Program ini sudah sejak awal berdirinya sekolah ini digulirkan. Tujuan dari program ini adalah membangun jiwa wirausaha pada diri anak-anak dan diharapkan menjadi pengusaha muslim yang hafidz akan menjadi paradigma yang utama dalam mencari ma’isyah nantinya setelah dewasa.

Yaa Alloh, berikanlah kekuatan kepada kami untuk mewujudkan cita-cita luhur ini. Aamiin.

 

 

Seminar Parenting: “Mengenali dan Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak”

SDIT Wirausaha Indonesia (SWI) menggelar seminar parenting secara berkala untuk membekali para orang tua murid cara mendidik anak-anak mereka, khususnya cara mengenali dan mengatasi kesulitan belajar, Sabtu (15/10/16) Jam 08 – 10 pagi.

dscn3644

Seminar dilaksanakan di kampus SWI, Jl. Nakula Raya No.1-4 Perumahan Grand Cikarang City Blok C9, Bekasi, diikuti oleh 150 orang tua murid. Hadir sebagai pemateri, Zahra Zakaria, S.Pd, MM (Orthopaedagog dan Konsultan Pendidikan Anak).

Dalam kata sambutannya, Kepala SDIT Wirausaha Indonesia, Nur Komariah, S.Pd.I, MM, menegaskan bahwa mengenali dan mencari sebab kesulitan belajar anak sangat penting.

“Orang tua harus bisa menggali kendala yang dihadapi oleh anak-anak kita ketika dalam masa-masa usia sekolah, dengan mengerti permasalahan mereka kita akan tergerak untuk mencarikan solusi,” katanya.

“Seminar yang kita adakan sebulan sekali dengan narasumber yang berbeda-beda ini sebagai upaya membantu para orang tua, agar mereka memahami hal tersebut,” pungkas kepsek SWI.

Kegiatan seminar parenting diawali dengan pentas siswa SDIT Wirausaha Indonesia, antara lain penampilan Tahfidz Al-Quran, baris-berbaris, tilawah Al-Quran, sambutan oleh Kepala Sekolah, acara inti dan diakhiri deng an pembagian doorprize dan doa penutup.