Arsip Tag: Sikap Kami Terhadap Berbagai Isme

Sikap Kami Terhadap Berbagai Isme

Sikap kami terhadap berbagai isme yang kini merajalela, mencabik-cabik hati, dan mengacaukan pikiran, adalah menimbangnya dengan timbangan dakwah kami. Yang sesuai dengan dakwah kami, akan kami sambut. Sedangkan yang tidak sesuai, maka kami berlepas diri darinya. Kami percaya bahwa dakwah kami bersifat universal dan integral.

Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna
Buku Majmu’atur Rasail

NASIONALISME

Banyak orang terpesona dengan seruan nasionalisme atau paham

kebangsaan, khususnya di Timur. Sebab bangsa-bangsa Timur benar-benar merasakan kejahatan Barat. Bangsa-bangsa Timur merasakan sakitnya penjajahan Barat yang dipaksakan.

Dan, sekarang mereka sedang berusaha membebaskan diri dari penjajahan dengan segenap kemampuan, kekuatan, keuletan, jihad dan ketegaran. Tentu saja yang demikian itu baik dan indah. Tapi menjadi tidak baik dan indah, manakala anda berusaha memahamkan masyarakat, yang notabene muslim, bahwa nasionalisme dalam Islam lebih sempurna, bersih, mulia dan cerdas daripada yang dikumandangkan orang-orang Barat dan ditulis orang-orang Eropa.

NASIONALISME KERINDUAN

Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyeruan adalah cinta tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya. Nasionalisme semacam ini, adalah hal yang telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahkan oleh Islam.

NASIONALISME KEBEBASAN DAN KEHORMATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putranya, maka kami bersama mereka dalam hal itu. Sebab Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya. Lihatlah firman Allah SWT.,

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (An-Nisa: 141)

 NASIONALISME KEMASYARAKATAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan memimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka kami juga sepakat dengan mereka. Karena Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi SAW bersabda: “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

NASIONALISME PEMBEBASAN

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah pembebasan negara-negara dan kepemimpinan dunia, maka Islam telah mewajibkan hal tersebut dan mengarahkan para pembebas pada pemakmuran yang paling afdhal serta pembebasan yang paling berkah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT.,

“Dan perangilah meraka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk /allah belaka…” (Al-Baqarah: 193)

NASIONALISME KEPARTAIAN

Tapi jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme itu adalah memecah belah umat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, memendam dendam, mencaci, melempar tuduhan, dan saling membuat tipu daya. Juga mendukung sistem buatan manusia yang dipandu syahwat, diformat ambisi duniawi, dan ditafsirkan sesuai kepentingan pribadi. Sehingga musuh leluasa memanfaatkan semua itu untuk kepentingannya, bebas mengobarkan api permusuhan, memecah belah umat dalam kebenaran, menyatukan mereka dalam kebatilan, merintangi terjadinya hubungan serta kerja sama antar bagian umat dengan bagian yang lain, dimana hubungan hanya boleh terjalin dan berhimpun atas dasar nasionalisme ini, hingga umat hanya memperhatikan organisasi atau negerunya dan tidak berkumpul, kecuali orang-orang yang sekelompok dengannya.

Nasionalisme seperti itu adalah nasionalisme palsu yang tidak membawa kebaikan, baik bagi penyerunya maupun bagi masyarakat luas.

BATASAN NASIONALISME KAMI

Perbedaan antara kami dengan mereka adalah, bahwa kami menganggap batas nasionalisme adalah akidah, sementara mereka menganggap batasnya adalah teritorial negara dan batas-batas geografis. Bagi kami, setiap jengkal tanah yang dihuni muslim yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’, adalah tanah air kami yang behak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan dan jihad demi kebaikannya.

Sementara para penyeru nasionalisme murni tidak seperti itu. Perharian mereka hanya pada urusan wilayah terbatas dan sempit di bumi ini.

Sumber: Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, halaman 30-37