Arsip Tag: Tahan Banting

Suka Duka Membangun Sekolah2

Dalam setiap rapat sekolah yang dihadiri oleh para orang tua siswa, pertanyaan pertama yang mereka sampaikan adalah, kapan gedung mulai dibangun? Kami selalu menjawab, insya Alloh gedung ini akan dibangun, bapak/ibu berdoa saja. Pun termasuk ketika kepala sekolah menanyakan ke saya, kapan gedung akan dibangun? Berdoa saja, itu jawaban singkat atau jawaban sakti saya demi meredam pertanyaan lanjutan.

Murid Angkatan Pertama 2012/2013

Saya sendiri pun jika ditanya akan bingung, kapan akan membangun gedung sekolah? Lah untuk membangun gedung sekolah yang sekarang  ini membutuhkan biaya sekitar 1,5 – 2 miliar, duit darimana? Untuk biaya operasional sekolah saja sering kelabakan, untuk membayar gaji guru aja kadang telat beberapa hari.

Saya tidak tahu, duit darimana untuk membangun gedung sekolah yang memerlukan biaya ber em-em. Saya hanya punya keyakinan, bahwa pasti Alloh subhanahu wa ta’ala akan membangunkan gedung sekolah ini, entah dengan cara bagaimana dan seperti apa, terserah Alloh sajalah.

Suatu ketika saya ditanya oleh bapak mertua, Is berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun gedung sekolah kamu? Saya  jawab, sekitar 1,5 miliar Ba. Aba balik bertanya, duit darimana sebanyak itu? Saya jawab dengan spontan, dari Alloh Ba. Aba terlihat manggut-manggut. Habis, saya mau jawab apa? Selain menyandarkan semua kepada Alloh SWT.

Akan tetapi, keyakinan saya ini tentu tidak bisa dipahami oleh semua pihak di sekolah ini, termasuk pengurus yayasan dan para orang tua murid. Ada pengurus yayasan yang kemudian sangat pasif, ada juga  orang tua yang berbondong-bondong mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah ini dan mendaftarkan anaknya ke sekolah lain yang gedungnya sudah bagus.

Apa alasan orang tua memindahkan anak2nya? Banyak alasan dikemukakan. Ada yang cerita anaknya sakit-sakitan setelah sekolah di sekolah ini, ada yang beralasan sekolah tidak menyediakan antar jemput siswa, ada yang beralasan kurikulumnya tidak sesuai dan masih banyak alasan yang sesungguhnya ujung-ujungnya jika ditelisik lebih jauh adalah karena gedung sekolah ini belum terbangun.

Pada tahun pelajaran 2013/2014 kami memiliki siswa di dua kelas, yaitu kelas 1 dan kelas 2 dengan total jumlah  49 siswa.  Puncak keluarnya siswa besar-besaran adalah di tahun 2014. Di tahun itulah puncak ketidaksabaran para orang tua murid dengan kondisi sekolah ini. Maka tidak heran, pada tahun pelajaran berikutnya 2014/2015 total siswa untuk tiga kelas, yaitu 1, 2 dan 3 hanya berjumlah 47 siswa. Penurunan dan pemerimaan jumlah siswa yang sangat drastis. Siswa lama tinggal 40 siswa, sedangkan penerimaan siswa baru hanya 7 siswa.

Yang lebih menyayat hati adalah diantara siswa yang keluar itu ada anak dari sahabat-sahabat saya. Saya baru memahami, ternyata sahabat-sahabat saya juga tidak percaya dengan saya sebagai pengelola sekolah ini. Itulah realita hidup, kadang tidak semuanya menyenangkan. Tetapi justru sesuatu yang tidak menyenangkan itu akan membawa kita pada kondisi totalitas kepasrahan hanya kepada Alloh, bukan kepada yang lain.

Hal inilah yang dimaksud dengan mental yang tahan banting, tidak boleh cengeng, tidak boleh memble menghadapi kenyataan pahit, bahwa banyak orang termasuk sahabat yang tidak mempercayai kita sebagai pelaku usaha.