Arsip Tag: Uniknya Bermu’amalah dengan Ikhwah

Uniknya Bermu’amalah dengan Ikhwah

Bermuamalah dengan ikhwah itu unik. Bagaimana tidak unik, Harga minta semurah-murahnya, diskon minta sebesar-besarnya. Masih tidak puas, pembayaran minta selambat-lambatnya.

Coba saja jika bermuamalah dengan orang lain. Semakin tinggi harga semakin bonafid, semakin besar diskon semakin merasa terhina, semakin cepat melunasi pembayaran semakin merasa terpercaya.

Ternyata banyak ikhwah yang TIDAK MENDUKUNG usaha ikhwah lainnya. Kok tidak mendukung? Bukannya harusnya mendukung demi kemaslahatan bersama? Iya tidak mendukung, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Contoh, ketika seorang ikhwah membuka warung, ikhwah lainnya tidak merasa berkewajiban untuk membeli di warung tersebut. Padahal jika seorang ikhwah membaik perekonomiannya, maka akan membantu ikhwah lainnya yang dalam kesulitan.

Contoh lainnya. Ketika seorang ikhwah mendirikan sekolah yang tujuannya adalah untuk menyemaikan dan menjaga fikroh anak-anak ikhwah, justru banyak ikhwah yang tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Alasannya? Klasik. Dari mulai keterbatasan sarana dan prasarana, pengelolaan yang dianggap kurang profesional dan alasan lainnya.

Jika kita telisik lebih jauh, keterbatasan sarana-prasarana… ya iyyalah, namanya juga sekolah baru, masih banyak yang harus dibenahi dari sebuah sekolah yang dibangun ditengah berbagai keterbatasan pemiliknya. Pengelolaan yang dianggap kurang professional… ya iyyalah, namanya juga baru mengelola sekolah, masih banyak ilmu yang belum dimiliki untuk mengelola sebuah sekolah.

Bukankan kita juga sering membuat permakluman jika bermuamalah dengan orang lain? Kenapa kita kehabisan alasan untuk memberikan pemakluman lebih kepada sekolah atau bisnis ikhwah lainnya?

Allah SWT menjadi saksi… sekalipun dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas, sekolah milik ikhwah telah mendukung keberadaan dakwah dan jamaah. Sekolah ikhwah menjadi saksi bertumbuh, berkembang dan menggeliatnya dakwah. Mulai dari pelaksanaan halaqoh rutin, musran, syuro-syuro dpra, syuro-syuro dpc dan syuro-syuro pemenangan dakwah lainnya. Memang belum besar kontribusi sekolah ikhwah untuk dakwah ini, tapi sudah memberikan warna, ketimbang hanya mengeluh.

Di sinilah sesungguhnya ikhwah diuji untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama bertahun-tahun ditarbiyah. Justru di sinilah ikhwah seharusnya tertantang untuk membesarkan lembaga sekolah yang keberadaannya menjadi lembaga dakwah yang mampu menyemaikan “Muwashofat Tarbawiyah”.

Apakah jika sekolah ini terus membesar, ikhwah akan rugi? Sangat naïf jika ada yang mengatakan demikian, karena faktanya, sejak lembaga ini lahir sudah memberikan kontribusi terbaiknya untuk dakwah.

Coba dech dicek… sekalipun sarana dan prasarana sekolah idaman ikhwah ini sudah sangat memadai, apakah kita bisa menggunakannya untuk halaqoh, syuro dpra, syuro dpc, syuro pemenangan pemilu, pelatihan saksi? Tentu tidak. Karena pemilik sekolah ini bukanlah pihak yang mendukung dakwah dan jamaah ini. Yang dia kenal hanyalah berbisnis. Anak antum sekolah, bayar, beres.

Ilustrasi manfaat sekolah

  • Sekolah milik umum :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah (itu saja)
  • Sekolah milik ikhwah :  bayar SPP, benefitnya adalah anak lancar bersekolah. Apa benefit lainnya? -Benefit lainnya adalah:  anak tertarbiyah sejak dini, -sarana sekolah bisa digunakan untuk keperluan musyawarah-musyawarah untuk kemenangan dakwah

Keterbatasan sarana dan prasarana seharusnya tidak membuat ikhwah patah arang, karena sunnatulloh sebuah perjuangan tentu membutuhkan proses. Toh, keterbatasan sarana-prasarana ini tidak berpengaruh terhadap prestasi siswa yang belajar di dalamnya. Toh keterbatasan sarana-prasarana tidak mengkerdilkan potensi-potensi kebaikan yang dimiliki siswa.

Justru siswa sejak dini sudah dikenalkan dengan taribiyah, sebuah sarana dakwah yang sudah dirasakan manisnya oleh para ikhwah. Jika kita mau bersabar sedikiiit saja, insya Alloh sarana dan prasarana sekolah semakin tahun semakin baik. Jadi ruginya di mana jika menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ikhwah?

Jika ikhwah saja tidak sudi menyekolahkan anak-anaknya di sekolah milik ikhwah, siapa dong yang akan percaya dengan sekolah ini. Siapa dong yang akan membesarkan sekolah ikhwah? Akan sebegitu beruntungnyakah ikhwah, jika sekolah milik ikhwah bubar?

Hanya untuk direnungkan bagi yang mau berfikir… bukan hanya befikir untuk diri sendiri, tetapi berfikir dalam kerangka keummatan.